PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA
V. POS DAN TELEMATIKA
3.4.7.3. Energi Dan Ketenagalistrikan
I. ENERGI
Ketergantungan pada minyak bumi masih cukup besar dan dengan mempertimbangkan cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh Indonesia serta sifat energi fosil yang tidak dapat diperbarui, maka ketergantungan pada minyak bumi harus segera diturunkan dan mengganti kedudukan minyak bumi dengan sumber energi alternatif lainnya sebagai salah satu langkah diversifikasi energi. Dengan demikian, jika tingkat produksi minyak bumi masih seperti saat ini dan penemuan cadangan baru tidak ada, maka cadangan minyak bumi tersebut akan habis dalam 10 tahun.
Jawa Timur mempunyai potensi minyak dan gas bumi yang cukup besar. Pemakaian gas alam sampai saat ini umumnya di dominasi oleh industri -
industri besar, dan pendistribusiannya sementara ini masih terbatas hingga daerah Probolinggo. Untuk metode pendistribusiannya dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan sistem botol ataupun dengan sistem jaringan pipa.
Sumber gas alam untuk memenuhi kebutuhan gas di Jawa Timur diambil dari daerah Pagerungan, Terang/Sirasun, Muriah, Wunut Sidoarjo dan S. Saubi. Hasil dari penambangan gas alam terdiri dari beberapa macam komposisi gas yaitu metana, etana, propana, butana serta gas - gas lain Dari beberapa tambang gas tersebut telah terdapat beberapa perusahaan yang menangani baik dari perusahaan domestik maupun perusahaan asing.
Potensi Energi Panas Bumi di Jawa Timur berdasarkan data Direktorat Jenderal Inventarisasi Sumber Daya Mineral tahun 2004 sebesar 1.144 Mwe, tersebar di beberapa Kabupaten seperti Pacitan, Ponorogo, Madiun, Mojokerto, Malang, Sumenep, Probolinggo, Banyuwangi, dll.
Energi terbarukan di Jawa Timur yang juga potensial sebagai sumber energi pembangkit listrik antara lain energi mikrohidro, gelombang dan surya.
Energi Terbarukan (Renewable) adalah energi yang dapat terus menerus dipakai dengan jumlah yang dapat diperbarui sehingga tidak pemah habis. Energi terbarukan yang dibahas sebagai energi input pembangkit listrik ada 7 yaitu air, angin, biomassa, biogas, panas bumi, matahari dan gelombang laut. Sumber energi biomassa bisa berupa sampah hasil pertanian dan sampah rumah tangga. Untuk sampah rumah tangga lebih ditekankan pada daerah perkotaan. Sebab masyarakat kota dikenal memiliki tingkat produksi sampah rumah tangga yang tinggi.
Saat ini sungai Brantas terdapat bendungan-bendungan yang telah beroperasi dan yang masih dalam rencana. Selain sebagai pengendalian banjir, irigasi, perikanan darat, pariwisata bendungan-bendungan tersebut merupakan sumber eneri air yang potensial, sehingga dapat difungsikan sebagai sarana pembangkit tenaga listrik.
A. SASARAN
Sasaran bidang pembangunan prasarana energi migas adalah pemenuhan kebutuhan energi (BBM) bagi masyarakat.
Sasaran pembangunan prasarana energi terbarukan sampai dengan tahun 2008 adalah pemanfaatan sumber energi terbarukan dari 5% menjadi sekitar sebesar 10%. Kenaikan 5% dari kondisi saat ini.
B. ARAH KEBIJAKAN
Kebijakan pembangunan energi diarahkan dalam rangka pemerataan dan pemenuhan distribusi energi yang tepat dan efisien khususnya pada bagian hilir, serta pengembangan dan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan.
C. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN
Untuk mewujudkan pembangunan energi di Jawa Timur, program yang dilaksanakan adalah :
a. Program Penguasaan, Pengembangan Migas, Batubara dan Energi Lainnya serta Aplikasi Teknologi Energi.
Program ini bertujuan untuk pencarian, penemuan dan penerapan energi baru dalam rangka diversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi konvensional. Kegiatan utama program ini antara lain adalah :
Kegiatan Utama :
1). Pengawasan kegiatan migas dan usaha jasa penunjang; 2). Pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan; Kegiatan Penunjang :
1). Melaksanakan konservasi energi, yaitu penggunaan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan;
II. KETENAGALISTRIKAN
Kebutuhan tenaga listrik daerah Jawa Timur dilayani dari energy transfer dari sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (JAMALI), dan PLTD yang dimiliki oleh PLN Distribusi Jawa Timur dengan kapasitas terpasang total 5.740 kW, yang digunakan pada isolated area tersebar (pu1au-pulau: Giligenting, Kangean, Mandangin, Sapeken, Sapudi, Talango, Perikanan, Tambak). Kapasitas ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan potensi kebutuhan listrik yang ada, sehingga diperlukan pasokan daya tambahan dengan melakukan sewa PLTD (Sapudi dan Perikanan) sebesar kapasitas terpasang total 2.300 kW. Pada tahun 2003 PLN Distribusi Jawa Timur melakukan pengendalian penyambungan baru akibat terbatasnya kondisi sistem ketenagalistrikan di Jawa Timur.
Desa berlistrik sampai dengan tahun 2004 berjumlah 8.334 desa dari jum1ah total desa sebanyak 8.443 desa. Berarti sudah 98,71 % desa di Jawa Timur yang terjangkau pasokan listrik, namun tingkat elektrifikasi atau rumah yang sudah terjangkau pasokan listrik baru 63%.
Di wilayah Jawa Timur, walaupun sampai saat ini potensi Pembangkit Skala Kecil (PSK) Tersebar masih kecil perlu dipertimbangkan keberadaan dan pertumbuhannya dalam tahun-tahun mendatang. Selain dari pada itu, melihat kondisi geografisnya, PSK Tersebar tersebut dapat digunakan sebagai substitusi program listrik perdesaan.
Potensi Pembangkit dengan Energi Terbarukan
Di Jawa Timur, telah banyak dilakukan studi tentang pembangkit listrik dengan energi altematif ( sumber energi terbarukan), misa1nya sampah. Namun sampai saat ini masih terkendala oleh biaya investasi dan harga jual tenaga listrik. Apabila harga jual tenaga listrik secara bisnis sudah membaik dan biaya investasi sudah dapat ditekan, maka pembangkit dengan sumber energi altematif ini akan dapat menambah pasokan daya kebutuhan listrik di Jawa Timur.
Dalam upaya pengurangan emisi, disamping penggunaan teknologi bersih lingkungan dan pengurangan pencemaran, penggunaan tenaga air perlu dioptimalkan. Pembangunan PLTA Kesamben (DAS Brantas) Malang sesuai studi
kelayakan tahun 1997 dengan kapasitas 37 MW produksi tenaga listrik sebesar 66 GWH per-tahun perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah untuk pembangunannya. Demikian juga PLTA Grindulu - Kali Grindulu Pacitan, yang sesuai Pre Feasibility Study tahun 1987 dengan kapasitas 16,28 MW.
Potensi pembangkit dengan sumber energi alternatif (non-konvensional) lainnya, misal : biomassa, tenaga surya, tenaga angin, microhidro, tenaga gelombang di masa mendatang dapat digunakan untuk daerah-daerah tertentu yang terpencil atau program listrik perdesaan.
A. SASARAN
Sasaran bidang pembangunan prasarana ketenagalistrikan adalah pemenuhan kebutuhan energi listrik penduduk pada daerah terpencil dan kepulauan.
Sasaran pembangunan ketenagalistrikan sampai tahun 2008 adalah pemenuhan ketenagalistrikan desa dari jumlah desa berlistrik sebanyak 8.334 desa atau 98,71% menjadi sekitar 8.364 desa atau 99,06%, naik sekitar 30 desa berlistrik.