• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

Dalam dokumen PHP File Tree Demo Bab III (Halaman 73-81)

PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA

3.4.2. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

Sektor industri merupakan sektor yang mengalami kontraksi paling berat pada saat krisis ekonomi tahun 1998. Kuatnya pengaruh faktor-faktor eksternal dan ketidaksiapan faktor internal di sektor Industri Pengolahan dalam menghadapi goncangan krisis ekonomi telah berdampak buruk pada kinerja sektor Industri sampai saat ini.

Kinerja sektor industri direpresentasikan melalui berbagai indikator antara lain pertama, jumlah (total) tenaga kerja yang menggambarkan kemampuan penyerapan tenaga kerja pada bagian produksi maupun lainnya dalam suatu perusahaan. kedua, nilai (total) output yang menggambarkan kemampuan produksi (barang dan jasa yang dihasilkan) suatu perusahaan, ketiga adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh perusahaan yang menggambarkan tingkat keuntungan (profitabilitas) suatu perusahaan.

Perkembangan Industri Manufaktur di Jawa Timur Tahun 2001 tercatat sebanyak 623.392 Unit Usaha, dari jumlah tersebut populasi terbanyak didominasi oleh Industri Kecil sebesar 97,76% atau sebanyak 609.421 Unit Usaha, kemudian disusul oleh Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan sebanyak 11.123 Unit Usaha (1,78%), sedangkan posisi ke tiga ditempati oleh Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka sebanyak 2.848 Unit Usaha atau 0,46%. Selanjutnya sampai tahun 2002 tercatat sebanyak 636.483 Unit Usaha dengan nilai investasi sebesar 11.384 milyar Rupiah, dengan nilai produksi sebesar 10.888 milyar Rupiah dan mampu menyerap 2.306.514 orang tenaga kerja. Tahun 2003 perkembangan Industri di Jawa Timur

tercatat sebanyak 642.848 unit usaha atau tumbuh sebesar 1% dari tahun 2002, dengan nilai investasi 11.498 milyar Rupiah, yang menghasilkan nilai produksi sebesar 11.106 milyar Rupiah dan mampu menyerap 2.341.112 orang tenaga kerja. Pada tahun 2004 unit usaha Industri tumbuh 1,41 persen atau menjadi 653.859 Unit Usaha dengan nilai investasi 12.238 milyar Rupiah, yang menghasilkan nilai produksi sebesar 11.775 milyar Rupiah dan mampu menyerap 2.404.922 orang tenaga kerja. A. SASARAN

Sasaran yang akan dicapai dalam rangka pembangunan Industri untuk jangka menengah adalah sebagai berikut :

1. Pada skala industri besar dan menengah diperkirakan akan meningkatnya jumlah unit usaha naik sebesar 6 % dari kondisi tahun 2004, nilai investasi naik sebesar 12 % dari tahun 2004, nilai produksi naik sebesar 17 % dari kondisi tahun 2004 serta penyerapan tenaga kerja naik 13 % dari kondisi tahun 2004.

2. Pada skala industri kecil dan kerajinan diperkirakan akan meningkatnya jumlah unit usaha naik sebesar 7 % dari kondisi tahun 2004, nilai investasi naik sebesar 17 % dari tahun 2004, nilai produksi naik sebesar 13 % dari kondisi tahun 2004 serta penyerapan tenaga kerja naik 10 % dari kondisi tahun 2004.

3. Melanjutkan program Revitalisasi, Konsolidasi dan Restrukturisasi Industri serta memperkuat struktur Industri untuk membangun pilar-pilar industri masa depan

4. Meningkatkan komponen lokal dan sumberdaya lokal dengan mengoptimalkan potensi pasar di dalam negeri.

5. Meningkatkan daya saing industri terpilih dan meningkatkan ekspor serta mengembalikan kinerja Industri yang terpuruk akibat krisis.

6. Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif baik bagi Industri yang sudah ada maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN, sumber-sumber pendanaan yang terjangkau, dan kebijakan fiskal yang menunjang sehingga mampu

menumbuhkan industri potensial. Peningkatan pangsa sektor Industri Manufaktur di pasar domestik, baik untuk bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapi produk- produk impor serta mempercepat pertumbuhan IKM, khususnya Industri Menengah.

7. Menciptakan usaha industri yang tangguh dengan keluaran diharapkan dapat mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja baru serta percepatan perkembangan ekonomi dan pemerataannya.

8. Meningkatnya proses alih teknologi dari foreign direct investment (FDI) yang dicerminkan dari meningkatnya pemasokan bahan antara dari produk lokal dan meningkatkan kandungan bahan baku/penolong lokal. 9. Meningkatnya penerapan standardisasi produk Industri manufaktur

sebagai faktor penguat daya saing produk serta meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi.

B. ARAH KEBIJAKAN

Dalam rangka mewujudkan sasaran di atas, arah kebijakan pembangunan Industri Jawa Timur adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan nilai tambah dan produktivitas melalui pengembangan Industri dalam rangka pengembangan rantai nilai untuk membentuk Industri-Industri yang kuat, meningkatkan nilai tambah dari setiap produk yang dibuat baik pada industri ataupun pada rantai nilainya, memperpanjang rantai nilai baik dengan meningkatkan inovasi maupun penguasaan pasar, meningkatkan efisiensi rantai nilai untuk meningkatkan keseluruhan produktivitas.

2. Pengembangan klaster Industri dengan memperkuat industri-industri yang terdapat dalam rantai nilai, yang mencakup Industri inti, industri terkait, dan industri pendukung, dengan keunggulan lokasi, yang dapat mendorong keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif;

Memperkuat keterkaitan antar klaster dalam satu sektor maupun dengan klaster pada sektor lainnya, sekaligus mendorong kemitraan antara IKM dengan perusahaan besar dan kaitan interaktif yang relevan lainnya, sehingga membentuk jaringan industri serta struktur yang mendukung peningkatan nilai tambah melalui peningkatan produktivitas; Mendorong tumbuhnya industri terkait yang memerlukan suplai bahan baku dan penolong yang sama, sehingga memperkuat partnership antara Industri inti, terkait, dan pendukung; memfasilitasi upaya-upaya pemasaran dalam maupun luar negeri.

3. Pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman/kondusif dengan mengembangkan infrastruktur pendidikan dan pelatihan di bidang teknik dan manajerial; memperluas infrastruktur fisik; memperluas infrastruktur bisnis jasa, termasuk jasa profesi dan jasa publik; mengembangkan riset dan teknologi untuk meningkatkan inovasi yang berorientasi pasar; menyempurnakan dan mengimplementasikan perangkat hukum yang terkait dengan pengembangan dunia usaha; menyempurnakan kebijakan perdagangan dan kebijakan investasi dalam rangka mendukung pengembangan industri.

4. Pembangunan industri yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan dalam pengembangan industri sehingga menghasilkan produksi bersih; melakukan sosialisasi produksi bersih terutama terhadap industri-industri yang berpotensi menghasilkan limbah; menginternalisasikan biaya pengelolaan lingkungan ke dalam biaya produksi; mengembangkan zero waste industries; dan mengembangkan industri berbahan baku lokal yang terbaharukan.

5. Mengembangkan IKM agar perannya setara dengan industri besar sehingga merupakan fondasi perekonomian yang kokoh dan mewujudkan IKM yang mandiri dan atau mendukung industri besar dalam satu kerangka kerjasama yang sederajat dan saling menguntungkan.

7. Mendorong investasi industri baru, selama ini pertumbuhan investasi domestik dan luar negeri mengalami kinerja yang sangat rendah dan cenderung stagnan maka beberapa jenis industri yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah: Industri Minyak; Industri Batu-batuan perhiasan dan industri garam.

8. Mengintegrasikan pembangunan industri di utara dan selatan Jawa Timur yang selama ini masih terjadi ketimpangan. Jenis industri yang menjadi prioritas untuk dilakukan integrasi adalah: industri pengolahan kayu dan produk dari kayu serta industri pengolahan kulit.

C. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN

Untuk mencapai sasaran pembangunan Industri tersebut maka program pembangunan Industri di Jawa Timur ke depan adalah :

I. PROGRAM UTAMA

a. Program Pengembangan Industri Kecil Dan Menengah.

Tujuan program ini adalah mewujudkan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai basis pengembangan industri regional.

Sedangkan lokasinya utamanya diarahkan Gresik, Tuban, Tulungagung, Trenggalek, Bangkalan, Pamekasan.

Kegiatan Utama :

1). Pengembangan sentra-sentra potensial industri kecil dan desa kerajinan ;

2). Penguatan proses produksi dan pengembangan disain untuk industri kecil menengah ;

3). Peningkatan produktivitas industri kecil dan kerajinan serta pengembangan pasarnya ;

4). Peningkatan dan pengembangan industri kerajinan yang berbasis seni dan budaya.

Kegiatan Penunjang :

1). Penguatan permodalan bagi industri yang akan melakukan ekspansi dan berorientasi ekspor;

2). Pengembangan kerja sama Industri terkait, industri penunjang dan Industri Kecil Menengah.

b. Program Penataan Struktur Industri.

Tujuan program ini adalah untuk memperkuat dan memperbaiki struktur Industri baik dalam hal konsentrasi penguasaan pasar maupun dalam hal kedalaman jaringan pemasok bahan baku dan bahan pendukung, komponen, dan barang setengah-jadi untuk industri hilir. Program ini diarahkan di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Tuban, Gresik, Pasuruan, Probolinggo.

Kegiatan Utama :

1). Pengembangan kemitraan industri penunjang dan industri terkait; Kegiatan Penunjang :

1). Pengembangan dan penerapan layanan informasi bagi industri manufaktur.

c. Program Peningkatan Nilai Tambah Industri Berbasis Sumber Daya Alam

Tujuan program adalah ini sebagai upaya peningkatan basis produksi untuk meningkatkan nilai tambah sektor Industri yang berbasis sumber daya alam.

Program ini diarahkan Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Malang, Jember, Banyuwangi.

Kegiatan Utama :

1). Pengembangan industri berbasis agro (agroindustri) ;

2). Penumbuhan dan pengembangan industri berorientasi ekspor yang memanfaatkan Sumber Daya Alam Lokal ;

3). Fasilitasi sinergitas pengembangan industri di selatan Jawa Timur dengan industri wilayah utara Jawa Timur.

Kegiatan Penunjang :

1). Revitalisasi kebijakan dan kelembagaan disektor produksi yang memanfaatkan Sumber Daya Alam ;

2). Pengembangan dan diversifikasi bahan baku industri.

II. PROGRAM PENUNJANG

a. Program Peningkatan Keterampilan SDM Industri.

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan ketrampilan, keahlian, dan kompetensi tenaga kerja industri sehingga mampu memanfaatkan potensi sumber daya lokal dan meningkatkan produktivitas industri agar mampu bersaing di pasar kerja global.

Program ini diarahkan Trenggalek, Ngawi, Jombang, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Sidoarjo.

Kegiatan Utama :

1). Pengembangan standar kompetensi kerja dan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja industri;

2). Pelatihan tenaga kerja industri berbasis kompetensi;

3). Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur pelatihan kerja.

Kegiatan Penunjang :

1). Peningkatan sarana dan prasarana lembaga latihan tenaga kerja industri;

2). Penguatan kapasitas kelembagaan penyedia tenaga kerja industri.

b. Program Peningkatan Standarisasi Produk Industri.

Tujuan dari program ini adalah dalam rangka mendukung perkuatan daya saing, perluasan di dalam penerapan standardisasi untuk produk- produk Industri manufaktur .

Program ini diarahkan Pasuruan, Probolinggo, Kediri, Mojokerto, Surabaya.

Kegiatan Utama :

1). Peningkatan penerapan standarisasi produk industri manufaktur; 2). Penguatan kapasitas kelembagaan standardisasi produk industri. Kegiatan Penunjang :

1). Peningkatan sarana prasarana standardisasi industri;

2). Peningkatan persepsi masyarakat, tentang standar produk Industri manufaktur.

c. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi.

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kemampuan Industri dalam menciptakan, mengembangkan, dan menerapkan pengetahuan baik dalam uji komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan, rancangan produk baru, maupun proses produksi serta memanfaatkan sumber daya lokal.

Program ini diutamakan di Tuban, Bondowoso, Pasuruan, Trenggalek, Blitar.

Kegiatan Utama :

1). Revitalisasi industri berbasis teknologi;

2). Pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan proses produksi.

Kegiatan Penunjang :

1). Pengembangan klaster industri berbasis teknologi;

2). Peningkatan fasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi pada industri manufaktur.

Dalam dokumen PHP File Tree Demo Bab III (Halaman 73-81)