C. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN
3.4.1. Peningkatan Investasi, Perdagangan Dan Pariwisata
Kinerja investasi selama lima tahun terakhir belum menunjukkan perkembangan yang signifikan, hal ini menjadi salah satu faktor masih tingginya angka penangguran. Hal ini sangat logis karena pertumbuhan ekonomi Jawa Timur Tahun 2004 sebesar 5,43% masih didominasi oleh konsumsi. Pertumbuhan ekonomi tahun 2004 lebih banyak diakibatkan oleh meningkatnya hampir semua sektor ekonomi, terutama sektor perdagangan 8,48%; sektor industri 4,14%; sektor pengangkutan 6,45%, dan sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan 7,32%. Dominasi konsumsi terhadap pertumbuhan tersebut digambarkan pula oleh perkembangan penyaluran kredit bank umum di Jawa Timur pada tahun 2004
mengalami pertumbuhan sebesar Rp.14,78 trilyun (27,4%) dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu dari Rp.53,84 trilyun menjadi Rp. 68,62 trilyun, berdasarkan jenis penggunaannya, kredit konsumsi mendominasi pertumbuhan kredit dengan peningkatan 42,48%; kredit modal kerja meningkat sebesar 25,80%; dan kredit investasi meningkat sebesar 15,42%. Namun demikian dalam konsep pertumbuhan ekonomi, konsumsi tetap diperlukan untuk memacu sektor produksi, sehingga kana terjadi pergerakan ekonomi.
Kinerja investasi dalam negeri yang tercermin dari peningkatan nilai persetujuan investasi PMDN di Jawa Timur tahun 2004 menunjukkan pertumbuhan yang positif yaitu sebesar 161,09% dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu dari Rp. 1.553.224.000.000 menjadi Rp. 4.055.265.720.000. Sedangkan investasi dari luar negeri yang diindikasikan dari persetujuan investasi PMA di Jawa Timur tahun 2004 menunjukkan penurunan sebesar 21,65% dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu dari US$ 456.659.000 menjadi US$ 357.770.080.000.
Kebijakan ekonomi yang diterapkan Pemerintah Jawa Timur pada tahun 2000-2003 antara lain diarahkan untuk membuka peluang investasi sektor swasta yang sebesar-besarnya. Namun dalam realisasinya hingga tahun 2004 kinerja investasi belum memberikan dampak sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu penciptaan iklim yang kondusif baik regulasi serta praktek-praktek pungutan illegal fee yang berdampak pada ekonomi biaya tinggi menjadi perhatian serius untuk segera mendapatkan penanganan.
Sementara itu, kinerja ekspor non migas Jawa Timur sejak krisis moneter, masih belum optimal dan cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2003 nilai ekspor Jawa Timur sebesar US$ 5.484.316.939, dengan volume ekspor non migas 6.318.841.051 Kg, sedangkan tahun 2004 nilai ekspor non migas Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 12,95% yaitu dari US$ 5.484.316.939 pada tahun 2003 menjadi sebesar US$ 6.194.475.821. Sedangkan volume ekspor non migas mengalami kenaikan sebesar 6,66% yaitu dari 6.318.841.051 Kg pada tahun 2003 menjadi 6.739.922.682 Kg. Selanjutnya kelompok komoditi ekspor didominasi oleh komoditi pengolahan kayu dengan nilai US$ 921.808.214 serta komoditi pulp dan kertas dengan nilai US$ 900.184.835.
Selanjutnya, nilai impor non migas Jawa Timur tahun 2003 sebesar US$ 3.787.649.305, dengan volume impor non migas 9.500.861.957 Kg, sedangkan tahun 2004 nilai impor non migas Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 27,69% yaitu dari US$ 3.787.649.305 pada tahun 2003 menjadi sebesar US$ 4.846.712.107 dan volume impor non migas mengalami kenaikan sebesar 7,39% yaitu dari 9.500.861.957 Kg pada tahun 2003 menjadi 10.203.410.178 Kg. Kelompok komoditi impor didominasi oleh komoditi besi baja, mesin-mesi dan otomotif dengan nilai US$ 1.415.484.170; kimia dasar dengan nilai US$ 586.295.815 dan makanan ternak dengan nilai US$ 381.755.159.
Kinerja pariwisata Jawa Timur pernah mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada 1996, yang direpresentasikan melalui instrumen angka kedatangan wisatawan sebanyak 120.584 dan perolehan devisa tertinggi yang pernah dicapai dan diikuti dengan makin berkembangnya kuantitas dan kualitas usaha-usaha pariwisata di daerah. Indikator yang dapat dipergunakan dalam mengamati perkembangan kepariwisataan antara lain jumlah kunjungan, lama tinggal dan pembelanjaan wisatawan, PDRB Pariwisata, pendapatan masyarakat dan daerah, penyerapan tenaga kerja pariwisata, kesempatan berusaha masyarakat dan investasi usaha dibidang pariwisata, sedangkan dalam dimensi non ekonomi seperti tingkat kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya pariwisata, kecintaan terhadap tanah air serta tingkat gemar berwisata masyarakat.
Perkembangan kinerja Pariwisata Jawa Timur kurun waktu 2001 sampai dengan tahun 2004 dapat dilihat dari indikator antara lain jumlah kunjungan wisatawan manca negara melalui bandara Juanda pada 2004 sebesar 83.679 orang, kunjungan wisatawan manca negara yang menginap pada tahun 2004 sebesar 212.517 orang, jumlah kunjungan wisatawan manca negara di ODTW pada tahun 2004 sebesar 63.984 orang, lama tinggal rata-rata wisatawan manca negara pada tahun 2004 sebesar 5,66 hari, pengeluaran /hari/orang wisatawan manca negara pada tahun 2004 sebesar US $ 80,36.
Sementara itu jumlah kunjungan wisatawan nusantara yang menginap pada tahun 2004 sebesar 2.479.277 orang kunjungan wisatawan nusantara di ODTW
pada tahun 2004 sebesar 21.276.893 dan tenaga kerja yang bekerja pada sektor pariwisata pada tahun 2004 sebesar 45.831 orang.
A. SASARAN
Sasaran yang hendak dicapai dalam upaya meningkatkan investasi, perdagangan dan pariwisata adalah :
1. Terwujudnya iklim investasi yang kondusif dan reformasi kelembagaan ekonomi di Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota se Jawa Timur yang mencakup upaya : sinkronisasi dan deregulasi peraturan antar sektor di Propinsi dan Kabupaten/Kota se Jawa Timur, Penyederhanaan prosedur perijinan dan perdagangan di Propinsi dan Kabupaten/Kota se Jawa Timur, dengan sistem satu atap/satu pintu, Penegakan Hukum dan Meningkatkan stabilitas keamaan dan ketertiban;
2. Berkembangnya Investasi berfasilitas (PMDN/PMA ) maupun investasi non fasilitas pada skala KUKM yang berakar dari potensi sumber daya daerah serta akan mendorong tercapainya dampak ganda dalam pembangunan perekonomian daerah ;
3. Semakin terciptanya pemerataan investasi secara bertahap sesuai dengan potensi daerah, sehingga peranan investasi terhadap PDRB lebih meningkat agar dapat memicu pertumbuhan perekonomian daerah dan pencitaan lapangan kerja ;
4. Tercapainya prediksi kebutuhan investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi secara bertahap dari 5,8 % tahun 2006 menjadi sekitar 6,3 % tahun 2008 ;
5. Meningkatnya nilai ekspor non migas Jawa Timur secara bertahap dari US $ 6.194,48 juta pada tahun 2004 menjadi US $ 7.290,40 juta pada tahun 2008 ;
6. Terkendalinya impor non migas Jawa Timur dalam rangka menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan pemberdayaan produk dalam negeri ;
7. Terwujudnya keseimbangan permintaan dan penawaran untuk menjaga stabilitas harga ;
8. Meningkatnya pelayanan publik dan perlindungan konsumen melalui peningkatan penyediaan standar layanan minimum pada lembaga sertifikasi mutu barang dan standarisasi ;
9. Berkembangnya pasar spesifik produk UKM/IKM dan hasil pertanian di Jawa Timur sehingga terbentuk harga yang wajar dan transparan ;
10. Menurunnya tingkat pengangguran dan kerawanan sosial serta meningkatnya daya beli masyarakat ;
11. Peningkatan kinerja investasi berfasilitas ( PMA maupun PMDN ) dan non fasilitas ;
12. Menjadikan ekspor sebagai andalan pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah serta peningkatan devisa termasuk di dalamnya transfer teknologi dalam rangka mendukung daya saing global produk unggulan Jawa Timur terutama yang berbasis keunggulan SDA dan SDM dengan menghapus segala bentuk perlakuan diskriminatif dan hambatan yang ada;
13. Terciptanya penataan dan pengembangan wilayah Pariwisata Jawa Timur yang selaras dan terpadu serta berwawasan lingkungan ;
14. Meningkatnya kuantitas dan kualitas produk pariwisata yang memiliki daya saing.
15. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan manca negara melalui bandara Juanda sebesar 6%, menginap di akomodasi naik 6%, kunjungan di ODTW naik 6%, lama tinggal rata naik 6%, pengeluaran rata-rata naik 6%. Kunjungan wisatawan nusantara menginap di akomodasi naik 10%, kunjungan di ODTW naik10% dan tenaga kerja di bidang pariwisata naik 6% ;
16. Meningkatnya kualitas SDM pariwisata, meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pariwisata, meningkatnya fungsi kelembagaan pariwisata dan meningkatnya kerjasama promosi.
B. ARAH KEBIJAKAN
Dalam rangka mewujudkan peningkatan investasi, perdagangan dan pariwisata, arah kebijakan 3 (tiga) tahun ke depan, diarahkan pada upaya percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan produktivitas melalui kebijakan investasi, perdagangan, dan pariwisata :
1. Menjamin kepastian usaha dan meningkatkan penegakan hukum terutama berkenaan dengan kepentingan untuk menghormati kontrak usaha, menjaga hak kepemilikan terutama berkenaan dengan kepemilikan lahan dan pengaturan yang adil pada mekanisme penyelesaian konflik di bidang investasi ;
2. Meningkatkan pertumbuhan ekspor non migas di Jawa Timur berbasis SDA, teknologi dan produk unggulan daerah ;
3. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota guna merumuskan reformasi kelembagaan investasi sebagai lembaga perencana dan pengembangan investasi, promosi investasi, pelayanan investasi dan pengawasan pelaksanaan investasi yang berdaya saing ;
4. Melakukan debirokrasi dalam pelayanan perijinan investasi dan pengelolaan aktifitas ekspor impor melalui penyederhanaan sistem dan prosedure melalui pelayanan satu atap/satu pintu ;
5. Mendorong secara bertahap perluasan basis produk ekspor dengan tetap memperhatikan kriteria produk ekspor yang ramah lingkungan ;
6. Peningkatan nilai tambah ekspor secara bertahap terutama dari dominasi bahan mentah ke dominasi barang setengah jadi dan barang jadi disertai upaya pengurangan ketergantungan bahan baku impor ;
7. Revitalisasi kinerja kelembagaan promosi ekspor serta perkuatan kapasitas kelembagaan dalam bentuk pelatihan investasi, tata cara ekspor dan pembinaan secara sinergis,simultan dan berkelanjutan ;
8. Peningkatan fasilitasi perdagangan melalui penyederhanaan prosedur ekspor-impor, menerapkan konsep single document, menyederhanakan system tata niaga untuk komodity strategis dan yang tidak memerlukan pengawasan serta perkuatan kapasitas lembaga uji mutu produk ekspor- impor ;
9. Optimalisasi sarana penunjang perdagangan internasional seperti kelembagaan free financing untuk ekspor, fasilitasi modal kerja dengan bunga non komersial bagi UKM/IKM agroindustri yang berorientasi ekspor dan bertumpu pada sumber daya lokal, dan pemberdayaan lembaga- lembaga pelatihan dan promosi ekspor daerah seperti P3ED ;
10. Penguatan pasar dalam negeri melalui peningkatan kualitas SDM, kualitas produk sesuai dengan ISO, dan kemitraan untuk menjamin kontinuitas produk ;
11. Harmonisasi kebijakan pusat dan daerah, penyederhanaan prosedur dan perijinan yang selama ini belum efisien (waktu, biaya) serta telah menjadi penghambat kelancaran arus barang dan pengembangan kegiatan jasa perdagangan ;
12. Perkuatan lembaga perdagangan melalui sosialisasi keberadaan lembaga perlindungan konsumen, kemetrologian, kelembagaan persaingan usaha serta kelembagaan perdagangan lainnya ;
13. Fasilitasi pengembangan prasarana distribusi tingkat regional dan sub sistem pada daerah tertentu seperti kawasan perbatasan dan daerah terpencil serta peningkatan dan pengembangan sarana penunjang perdagangan melalui pengembangan jaringan informasi produksi, pasar dan peningkatan kegiatan pasar lelang ditingkat lokal dan regional ;
14. Peningkatan efektifitas pelaksanaan perlindungan konsumen, terwujudnya tertib niaga dan perkuatan sistim pengawasan barang beredar dan jasa ;
15. Menciptakan dan menggerakkan iklim investasi bidang pariwisata seperti usaha kawasan pariwisata, usaha jasa MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition), usaha sarana wisata tirta, usaha jasa informasi dan konsultan pariwisata ;
16. Meningkatkan dan menumbuhkan kembali potensi pariwisata yang telah berkembang, bersumber pada potensi yang belum berkembang dan bersumber pada potensi alam dan budaya yang berwawasan lingkungan serta pelestarian budaya ;
17. Meningkatkan kuantitas dan varietas potensi unggulan pariwisata dan diversifikasi produk pelayanan pariwisata yang standar, berdaya saing serta memenuhi rasa aman dan nyaman di tiap-tiap Kabupaten/Kota agar tercipta ragam koridor pariwisata lintas Kabupaten/Kota ;
18. Diversifikasi dan peningkatan mutu produk usaha jasa jasa pariwisata untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga memiliki daya saing dan mampu berperan secara aktif dalam mengantisipasi era global ;
19. Memberdayakan pengembangan pemasaran pariwisata terpadu dalam dan luar negeri agar tepat sasaran dan efisien serta menggalang peranserta masyarakat dengan cara memposisikan masyarakat sebagai subyek pengembangan pariwisata, sehingga dapat mewujudkan iklim usaha pariwisata yang kooperatif dan dinamis ;
20. Meningkatkan kualitas SDM pariwisata yang profesional dalam rangka mewujudkan kinerja pelayanan yang memiliki standarisasi, sertifikasi, akreditasi dan rekognasi ;
21. Memposisikan masyarakat sebagai pelaku langsung dalam kegiatan usaha pariwisata melalui penggalangan bentuk-bentuk kemitraan usaha antar skala mikro kecil-menengah dengan skala besar (PIR) serta menempatkan sektor ekonomi kerakyatan dalam pengembangan pariwisata.