• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Biaya Operasional Dan Pemeliharaan (BOP)

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

5.2 Aspek Pembiayaan

5.2.1 Evaluasi Biaya Operasional Dan Pemeliharaan (BOP)

Peraturan Mentri Pekerjaan Umum No. 3 Tahun 2013 dan SNI 3242 Tahun 2008 meliputi biaya investasi, depresiasi, biaya operasional (gaji/upah, BBM) dan biaya pemeliharaan. Hasil perhitungan biaya operasional dapat dilihat pada Tabel 5.36 . 5.2.2 Perhitungan Biaya Operasional Dan Pemeliharaan Eksisting

Pembiayaan dalam pengelolaan sampah Kecamatan Rappocini untuk biaya operasional dan pemeliharaan per tahun mencapai 1.530.952.000,- tahun 2015 untuk biaya operasional dan pemeliharaan 8 unit dump truck dan gaji petugas.

Biaya operasional dan pemeliharaan yang dikeluarkan oleh Kecamatan Rappocini adalah sebesar Rp. 2.362.645.750,- dana pengelola tersebut untuk keperluan pembiayaan, meliputi biaya bahan bakar/pelumas dan biaya suku cadang kendaraan untuk operasional pengangkutan sampah. Dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, serta honor petugas untuk pembayaran upah sopir dan upah petugas.

Dari hasil evaluasi aspek teknis maka pengelola persampahan di Kecamatan Rappocini perlu dilakukan penambahan 38 buah kontainer, 10 unit arm roll truck dan 1 unit dump truck. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan biaya pembelian dan pemeliharaan yang di masukan dalam APBD untuk pengelolaan persampahan di Kecamatan Rappocini.

Perhitungan biaya operasional dan pemeliharaan serta tenaga kerja eksisting dapat diliihat dari Tabel 5.49

Tabel 5.49Hasil Perhitungan Biaya Operasional dan Pemeliharaan Per Tahun

I Biaya Operasional Dump Truck

1 Biaya BBM

8 unit x 16 ltr solar /

hr 128 Rp 5.150.00 Rp 237.312.000

2 Biaya Upah

Pekerja (16 orang) 16 Rp 1.700.000 Rp 468.400.000 3 Biaya Pemeliharaan 8 Rp 6.700.000 Rp 643.200.000 Total Biaya Operasional Dump Truck Rp 1.348.912.000 Keterangan : (*) Standarisasi Harga Barang dan Jasa Sesuai Kebutuhan

Pemerintah Kota Makassar Tahun 2014

Berdasarkan Tabel 5.49 diketahui jumlah biaya operasional untuk gaji dan biaya konsumsi bahan bakar dengan waktu operasional kerja selama 365 hari dalam setahun sebesar Rp 1.348.912.000,- Kebutuhan solar perhari didapatkan berdasarkan hasil wawancara kepada para sopir terkait jatah solar untuk operasional.

Merujuk pada SNI 3242-2008, maka perhitungan nilai depresiasi peralatan yang tidak melampaui umur pakai (life time) diperhitungkan dalam biaya operasional dan pemeliharaan pengangkutan sampah. Rumusan jumlah total dari biaya operasional dan pemeliharaan sebagai berikut:

Total Biaya Operasional dan Pemeliharaan (total BOP) = BOP + D

Dimana : BOP = Biaya Operasional dan Pemeliharaan Pengangkutan D = Depresiasi Peralatan

 Contoh perhitungan untuk kendaraan dump truck adalah sebagai berikut : Diketahui :

Jumlah Dump Truck umur 13 tahun = 1 unit Biaya beli = Rp.

347.700.000,-Total investasi = Rp. 347.700.000,- x 1 unit

= Rp.

347.700.000,-= 347.700.000,- / 13

=

24.835.714,- Contoh perhitungan kendaraan dump truck adalah sebagai berikut : Diketahui :

Jumlah dump truck umur 2 tahun = 2 unit Biaya beli = Rp.

225.000.000;-Total Investasi = Rp. 225.000.000,- x 2 unit

= Rp.

450.000.000,-Nilai depresiasi/penyusutan = (nilai investasi) / (tahun pakai kendaraan)

= Rp. 450.000.000,- / 2 tahun

= Rp 225.000.000

Perhitungan unit kendaraan lainnya dapat dihitung dengan menggunakan cara yang sama. Perhitungan biaya investasi dan depresiasi peralatan

pengangkutan dapat dilihat pada Tabel 5.50.

Tabel 5.50Hasil Perhitungan Biaya Investasi dan Depresiasi Peralatan Eksisting No Peralatan Unit Umur

(Thn) Harga (Rp.**) Investasi

(Rp) Depresiasi (Rp)

Total Jumlah Rp. 182.040.000

(**): Standarisasi Harga Barang dan Jasa Sesuai Kebutuhan Pemerintah Kota Makassar Tahun 2015

Biaya depresiasi peralatan pengangkutan sampah dihitung berdasarkan usia pakai peralatan sebagaimana tercantum dalam SNI 19-3242-1994.

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 5.50 diperoleh bahwa biaya depresiasi kendaraan dump truck satu lokasi dan dump truck multi lokasi adalah sebesar Rp182.040.000,- sehingga dapat dihitung total biaya operasional dan pemeliharaan (Total BOP) kondisi eksisting adalah sebagai berikut :

 Total Biaya Operasional dan Pemeliharaan (Total BOP), yaitu : BOP + Depresiasi =Rp. 1.348.912.000,- + Rp.

182.040.000,-

=Rp.1.530.952.000,-5.2.3 Perhitungan Biaya Operasional Dan Pemeliharaan Setelah Dilakukan Optimasi.

Untuk menghitung biaya operasional dan pemeliharaan kendaraan pengangkutan sampah, kontainer sampah per tahun, seperti yang telah dihitung kebutuhann sarana dan prasarana sesuai tingkat pelayanannya.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan aspek teknis terhadap operasional pengangkutan, didapatkan bahwa dibutuhkan penambahan 34 kontainer dan 19 kendaraan arm roll truck dan 1 buah dump truck untuk meningkatkan pelayanan Kecamatan Rappocini. Hal ini berdampak pada kebutuhan biaya operasional dan pemeliharaan setelah dilakukan optimasi.

Perhitungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.51

Tabel 5.51. Kebutuhan Pembelian Kontainer, Dump Truck dan Arm Roll di Kecamatan Rappocini 2017-2020

Sumber :Standarisasi Harga Barang dan Jasa Sesuai Kebutuhan Pemerintah Kota Makassar Tahun 2015

Tabel 5.51 untuk mencapai pemenuhan kebutuhan pengangkut sampah hingga tahun 2020 100% maka pada tahun 2017 dibutuhkan 46% kebutuhan pelayanan 12 buah kontainer dan 3 arm roll, tahun 2018 kenaikan presentase sebesar 65% dengan jumlah kebutuhan 12 kontainer dan 3 dump truck, pada tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar 84% dengan jumlah kebutuhan 10 kontainer, 3

No Kelurahan

Tahun Anggaran

2016 2017 2018 2019 2020

Persentase Kebutuhan Kontainer

7 Banta-Bantaeng 2 4 6 6

8 Buakana 1 1 2 3 3

9 Rappocini 1 2 2 2

10 Ballaparang 1 2 3 3

Total Kontainer 3 12 24 34 38

Pengadaan Kontainer (buah)

- 12 12 10 4

Harga per Kontainer (Rp)* - 23.000.000 23.000.000 23.000.000 23.000.000 Total Anggaran (Rp) - 276.000.000 276.000.000 230.000.000 92.000.000

Pengadaan Arm Roll - 3 3 3 1

Harga Per Unit (Rp)** - 371.250.000 371.250.000 371.250.000 371.250.000 Total Anggaran (Rp) - 1.113.750.000 1.113.750.000 1.113.750.000 371.250.000 Total Anggaran Pengadaan

Pertahun - 1.389.750.000 1.349.750.000 1.343.750.000 463.250.000

arm roll, dan 1 dump truck. Sehingga akan di daptkan tahun 2020 dengan presentase kebutuhan 100% dibutuhkan jumlah kebutuhan kontainer sebanyak 38 buah dan arm roll 10 unit, untuk mencapai pemenuhan kebutuhan pengangkutan di Kecamatan Rappocini.

Untuk menghitung biaya operasional dan pemeliharaan kendaraan pengangkut sampah tiap tahunnya, dilakukan analisis perhitungan suatu biaya yang meliputi biaya BBM, biaya pemeliharaan, biaya tenaga kerja dan biaya lain-lain, dapat dilihat pada Tabel 5.48 dan Tabel 5.49 .

Tabel 5.52Hasil Perhitungan Biaya Perawatan 7 Dump Truck Tahun 2017

No Uraian

Rincian Perhitungan

Jumlah (Rp) Tahun Volume Satuan Harga Satuan

(Rp) Biaya Pengangkut 1 Upah Pegawai

Supir ( 7 orang x 356

bulan) 84 Orang Rp 1.700.000 Rp 142.800.000

Pekerja (14 org x 12

bulan) 168 orang Rp 1.700.000 Rp 285.600.000 2 Belanja Bahan Bakar Minyak

Solar (7 Unit) 40,880 liter Rp 6.750 Rp 210.532.000 4 Belanja Penggantian Suku Cadang

Penggantian Ban Luar 15 Buah Rp 1.300.000 Rp 19.500.000 Penggantuan Ban

Dalam 19 Buah Rp 73.000 Rp 1.387.000 Penggantian Baterai

ACCU 7 Buah Rp 1.016.000 Rp 7.112.000

Total Biaya Operasional dan Pemeliharaan Rp 684,823,000.00 Sumber : Standar Harga sesuai dengan kebutuhan pemerintah Kota Makassar Tahun 2015

Tabel 5.53Hasil Perhitungan Biaya Perawatan 3 Arm Roll Truck Tahun 2017

No Uraian

Rincian Perhitungan

Jumlah (Rp) Tahun Volume Satuan Harga Satuan

(Rp) Biaya Pengangkut 1 Upah Pegawai

Supir ( 3 orang x 12

bulan) 36 Orang Rp 1.700.000 Rp 61.200.000

Pekerja (6 org x 12 bulan) 72 Orang Rp 1.700.000 Rp 122.400.000 2 Belanja Bahan Bakar Minyak

Solar (3 Unit) 16425

Liter Rp 6.750 Rp 84.588.750

Oli Mesin 18 Buah Rp 333.000,00 Rp 5.994.000

Oli Gardan 36 buah Rp 36.500 Rp 1.314.000

Oli Transmisi 36 buah Rp 47.300 Rp 1.702.800

Oli Hidrolik 36 buah Rp 55.200 Rp 1.987.200

3 Belanja jasa

KIR 3 kali Rp 300.000 Rp 2.100.000

4 Belanja Penggantian Suku Cadang

Penggantian Ban Luar 3 buah Rp 1.500.000 Rp 4.500.000

Penggantuan Ban Dalam 6 buah Rp 73.000 Rp 438.000

Penggantian Baterai

ACCU 3 buah Rp 1.016.000 Rp 3.408.000

Total Biaya Operasional dan Pemeliharaan Rp 288.072.750 Sumber : Standar Harga sesuai dengan kebutuhan pemerintah Kota Makassar Tahun 2015

Berdasarkan analisis perhitungan satuan biaya operasional dan pemeliharaan tersebut diatas, maka dapat dihitung biaya operasional dan pemeliharaan tiap tahun menurut tingkat presentase pelayanan sehingga akan didapatkan perkiraan biaya operasional pemeliharaan sarana persampahan sampai akhir tahun proyeksi (2020) dapat dilihat pada Tabel 5.54.

Tabel 5.54 Total Perhitungan Biaya Per Tahun Kendaraan Pengangkut Sampah 2017-2020

Keterangan

Perhitungan Biaya Per Tahun Kendaraan (Rp)

2016 2017 2018 2019 2020

27% 46% 65% 84% 100%

Dump Truck

Jumlah Unit 8 7 7 7 7

Kebutuhan

BBM 240.608.000 210.532.000 210.532.000 210.532.000 210.532.000 Upah Supir 163.200.000 142.800.000 142.800.000 142.800.000 142.800.000 Upah Kernet 326.400.000 285.600.000 285.600.000 285.600.000 285.600.000 Pemeliharaan 52.802.000 45.891.000 45.891.000 45.891.000 45.891.000

Total Anggaran

Pertahun

783.010.000 684.823.000 684.823.000 684.823.000 684.823.000

Arm Roll Truck

Jumlah Unit - 3 6 9 10

Kebutuhan

BBM - 84.588.750 169.177.500 253.766.250 281.962.500

Upah Supir - 61.200.000 122.400.000 183.600.000 185.300.000 Upah Kernet - 122.400.000 244.800.000 367.200.000 370.600.000 Pemeliharaan - 19.884.000 39.768.000 59.652.000 66.280.000

Total Anggaran

Pertahun

- 288.072.750 576.145.500 864.218.250 904.142.500

Total Keseluruhan

Pertahun

783.010.000 972.895.750 1.260.968.500 1.549.041.250 1.588.965.500

Berdasarkan analisis perhitungan jumlah kebutuhan sarana dan prasarana pengangkutan sampah maka didapatkan pada tahun 2017 dibutuhkan Rp.

972.895.750,- untuk pemenuhan kebutuhan gaji dan biaya pemeliharaan kendaraan pengangkut sampah. Dengan demikian total pengeluaran tiap tahunnya untuk pengadaan, pemeliharaan dan upah kendaraan pengangkutan sampah dapat dilihat pada Tabel 5.55.

Tabel 5.55Perhitungan Biaya Total Pertahun

No Uraian Biaya Pertahun (Rp)

2017 2018 2019 2020

1

Pengadaan Kebutuhan Pengangkutan

1.389.750.000 1.349.750.000 1.343.750.000 463.250.000

2

Biaya Operasional Pengangkutan

972.895.750 1.260.968.500 1.549.041.250 1.588.965.500 3 Total 2.362.645.750 2.610.718.500 2.892.791.250 2.042.115.500

Berdasarkan Tabel 5.55 diketahui bahwa total anggaran tahun 2017 pada kendaraan pengangkut sampah yang dibutuhkan dana sebesar Rp. 2.362.645.750 ,-hal ini mengalami kenaikan dari yang semula adalah 1.530.952.000,- untuk biaya kebutuhan dan prasarana pengangkutan sampah.

5.3 Aspek Kelembagaan

Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, dipimpin oleh kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar dapat dilihat pada struktur organisasi Dinas Pertamanan dan Kebersihan. Untuk menghasilkan kualitas pelayanan persampahan yang ramah lingkungan dan sub stainable diperlukan suatu rencana yang mendukung perkuatan kapasitas kelembagaan. Ditinjau dari bentuk instansi yang memiliki kewenangan sesuai dengan tanggung jawabnya, dan memiliki fungsi perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian yang didukung oleh tenaga yang terampil di bidang manajemen persampahan

5.3.1 Manajemen Organisasi

Dinas Kebersihan dan Pertamanan merupakan organisasi pemerintah yang menangani kebersihan Kota Makassar seluruhnya. Bentuk organisasi ini pada awalnya berdiri dengan nama Dinas Kebersihan Kota Makassar. Namun berganti menjadi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar. Keadaan ini berawal dengan standar yang di keluarkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dimana untuk kategori Kota sedang bentuk organisasinya adalah Dinas Kebersihan.

Permasalahan paling mendasar dari pengelolaan sampah di Kota Makassar adalah manajemen organisasi didalam dinas itu sendiri. Kebersihan Kecamatan

Rappocini ditentukan oleh pengelolan persampahan yang baik oleh Dinas Kebersihan dan Persampahan Kota Makassar. Tugas yang diemban oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan berat sehingga diperlukan manajemen yang baik untuk menunjang kapasitas sumber daya sampai ditingkat kelembagaan.

Pada tingkat lembaga, Dinas Kebersihan dan Pertamanan mempunyai struktur organisasi yang jelas dan memiliki arahan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Seksi pengangkutan sampah dibebankan kepada satu orang kepala seksi. Beban kerja atas pengangkutan persampahan yang harus ditangani oleh satu orang kepala seksi, menjadi penyebab rendahnya pelayanan pengangkutan persampahan. Fungsinya sebagai perencana, pelaksana, pengawas dan pelapor tidak dapat dilaksanakan secara optimal, sehingga perlu dilakukan pembagian tugas pengawas sesuai dengan zona kecamatan agar dapat seimbang.

5.3.2 Tata Laksana Kerja Pengangkutan Sampah

Penanganan kebersihan sampah Kecamatan Rappocini oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan harus ditunjang oleh tata laksana kerja yang baik.

Ditinjau dari hasil evaluasi aspek teknis maka ketertarkaitan tata laksana kerja berpengaruh besar terhadap peningkatan pelayanan pengangkutan sampah di Kecamatan Rappocini. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa pegawai dan pejabat di Dinas Kebersihan dan Pertamanan dapat diketahui beberapa permasalahan pengangkutan persampah yang dapat dilihat dari tata laksana kerja :

1. Kurangnya kendaraan pengangkut sampah yang memadai.

2. Kurang tegasnya pimpinan Dinas untuk memberikan sanksi kepada petugas dan sopir yang melanggar aturan

3. Tidak adanya pengawasan bagi petugas pengangkut sampah 4. Tidak adanya kontainer yang tersedia dilokasi

5. Pemindahan sampah masih dilakukan secara manual

6. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan dari sumber

Permasalahan di atas memberikan gambaran secara jelas bahwa perlu adanya perubahan tata laksana yang dapat menunjang peningkatan kinerja dari

dengan sopir dan petugas pengangkutan sampah, dapat digambarkan bahwa pelayanan yang rendah diakibatkan oleh beberapa hal yaitu :

1. Rendahnya pengawasan.

Petugas pengangkutan sampah dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pengawas tidak maksimal. Pengawas yang telah ditunjuk dari dinas tidak melakukan tugasnya secara optimal. Akibatnya di lapangan petugas pengangkut pada gerobak motor melakukan pekerjaannya tidak sesuai jadwal dengan mengambil sampah yang harusnya 3 sampai 4 kali menjadi 1 atau 2 kali saja. Maka berakibat sampah di perumahan-perumahan menginap semalam untuk diangkut kembali pada keesokan harinya.

2. Kedisiplinan petugas pengangkut sampah.

Petugas yang mengangkut sampah datang tidak tepat waktu, sehingga waktu pengangkutan juga ikut mengalami keterlambatan. Hal ini dikarenakan kurangnya motivasi kerja dari atasan.

3. Kurangnya Kendaraan Pengangkut.

Berdasarkan hasil evaluasi teknis terlihat bahwa masih banyak sampah yang masih belum terangkut di akibatkan ritasi pengangkutan hanya bisa di lakukan 1 trip per hari. hal ini disebabkan kurangnya sarana pengangkutan yang memadai.

4. Tidak tersedia kontainer

Tidak tersedianya kontainer yang ditinggal di lokasi, mengakibatkan pengangkutan sampah menjadi terhambat. Sampah yang seharusnya langsung dimasukkan ke dump truck harus menunggu datangnya gerobak motor untuk memindahan sampah ke truck hingga penuh.

5. Pemindahan secara manual

Sampah yang terdapat pada gerobak motor dan atau yang berada pada titik lokasi pengangkutan masih diangkut secara manual, hal ini menyebabkan terjadinya jumlah waktu pengangkutan menjadi semakin lama.

6. Anggaran yang tidak mencukupi.

Pembagian bahan bakar jumlahnya sama untuk semua jenis truck yang digunakan melayani pengangkutan sampah di Kecamatan Rappocini menyebabkan berkurangnya kinerja pengangkutan karena tidak cukup untuk pengangkutan 2 ritasi per hari.

Dari evaluasi diatas maka perlu diketahui pembebanan terhadap tata laksana kerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk meningkatkan kinerja yang baik sebagai pengelola kebersihan di Kecamatan Rappocini.

5.3.3 Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pengangkutan Sampah Suatu kelembagaan yang baik mempunyai beban kerja yang seimbang dan sumber daya manusia yang memadai. Pada tingkat sumber daya secara individual seorang harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan kompetensi. Artinya seorang pekerja wajib mengetahui apa yang dikerjakannya, terampil dalam bekerja dan mempunyai tingkat pendidikan sehingga dapat bekerja dengan professional.

Personil pengangkutan sampah di Kecamatan Rappocini berjumlah 8 supir ditambah 16 orang petugas pengangkut. Menurut Kepala Penanggung jawab Kebersihan di Kecamatan Rappocini, jumlah ini masih akan bertambah. Berikut Tabel 5.52 hasil data wawancara pada personil pengangkut sampah.

Tabel 5.56Hasil Data Wawancara Pada Personil Pengangkut Sampah

No Pertanyaan Wawancara Pilihan Jawaban Jawaban

Responden (%)

1 Jam Kerja per hari a. Cukup

b. Tidak cukup

40 60

2 Pendidikan Terakhir a. SMP

b. SMA

3. Upah karyawan a. Cukup

b. Tidak cukup

68 32

4 Penambahan ABK a. Butuh

b. Sudah cukup

50 50 5 Prasarana pengangkutan a. Baik

b. Cukup c. kurang

30 20 50 5.3.4 Penentuan Prioritas Penanganan Permasalahan Dengan Analisis

SWOT

Dalam menyusun Rencana Strategi ini menggunakan analisis SWOT yang merupakan pendekatan manajerial dalam menentukan variable-variabel yang menentukan dan berpengaruh terhadap kinerja kelembagaan baik positif maupun negative.

Penilaian rating untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi analisis SWOT dilakukan setelah mengadakan pengamatan di lapangan dan wawancara pada Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar dalam hal ini di Kecamatan Rappocini. Analisis SWOT dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pemerintah dalam pengelolaan daerahnya. Analisis ini dapat didasarkan pada logika yang dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman (Rangkuti, 2001). Analisis dilakukan dengan cara melakukan pembobotan terhadap masing-masing aspek, bobot pada masing-masing komponen S, W, O dan T akan menentukan posisi kuadran dalam pemilihan strategi yang tepat.

Strategi Pengembangan Pengangkutan Sampah Dengan Analisis 5.3.4.1

SWOT

Penggunaan analisis SWOT dengan memaksimalkan kakuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) (Rangkuti, 2006). Analisis SWOT ini dapat digunakan untuk menganalisis aspek kelembagaan terutama untuk mengevaluasi kinerja dari lembaga yang mengelola persampahan indikator-indikator dari hasil pengamatan dilapangan dan data yang ada.

Wawancara untuk penelitian di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar dengan narasumber sebagai berikut :

a. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar b. Sekertaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar c. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah

d. Kepala Kecamatan Rappocini

e. Kepala Seksi Pengangkutan Sampah Kecamatan Rappocini f. Staf Kebersihan Kecamatan Rappocini

I. Faktor Internal

Analisis faktor internal merupakan analisis yang menilai kinerja atau presentasi yang menjadi faktor kekuatan dan kelemahan yang ada dalam mencapai tujuan organisasi. Faktor strategi adalah faktor yang dominan dan kekuatan, kelemahan dan peluang serta ancaman yang akan memberikan pengaruh terhadap kondisi dan situasi yang dapat memberikan bila dilakukan tindakan yang positif.

a. Kekuatan (Strength)

1. Telah ada peraturan yang terkait dengan peraturan sampah yaitu: Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2011 tentang pengelolaan sampah, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

3/PRT/M/2013 Tahun 2013 tentang Penyelenggaran Prasarana

& Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan Sejenis Sampah Rumah Tangga

2. Telah ada ketentuan tentang struktur organisasi yang terkait

Peraturan Daerah Pemerintah Kota Makassar No. 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kota Makassar. Ketentuan struktur organisasi telah dilengkapi dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang jelas.

3. Telah ada alokasi dana yang disediakan untuk biaya operasional pengangkutan sampah setiap tahunnya untuk pengumpulan dan pengangkutan sampah.

4. Telah tersedia prasarana dan sarana pengangkutan sampah berupa kendaraan 8 dump truk dan 3 buah TPS.

5. Adanya bantuan dari Pemerintah Daerah untuk pelatihan bidang persampahan.

b. Kelemahan (Weakness)

1. Jumlah alokasi anggaran setiap tahunnya tidak mencukupi untuk pengangkutan sampah.

2. Kegiatan pengangkutan sampah masih belum efisien, hanya sebanyak 1 trip per hari untuk satu kendaraan, karena mqsih menggunakan metode manual.

3. Masih ada 7 Kelurahan yang belum difasilitasi dengan TPS, sehingga sampah masih ditempatkan di pinggir jalan.

4. Tidak ada petugas pengawas dalam kegiatan pengangkutan sampah.

II. Faktor Eksternal

Analisis faktor eksternal merupakan kondisi yang ada dan cenderung muncul dari luar organisasi, namun dapat memberikan pengaruh positif terhadap kinerja Dinas Kebersihan Kota Makassar Kecamatan Rappocini sehingga dapat menentukan keberhasilan dalam pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.

a. Peluang (Opportunity)

1. Adanya kepedulian masyarakat dalam upaya pengangkutan sampah mandiri dari perumahan ke TPS terdekat.

2. Adanya program lomba kebersihan tingkat nasional Adipura.

3. Adanya kemauan dan kesadaran masyarakat untuk membayar retribusi pengangkutan sampah sesuai ketentuan.

b. Ancaman (Treat)

1. Kenaikan harga BBM serta harga suku cadang kendaraan dapat mempengaruhi biaya operasional pengangkutan sampah

2. Meningkatnya timbulan sampah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk setiap tahunnya.

Matriks SWOT 5.3.4.2

Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana ketertarikan komponen kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dapat saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hasil analisis, kuadran berada pada strategi SO dengan Strategi yang dianggap tepat untuk penanganan pengangkutan sampah Kota Makassar Kecamatan Rappocini.

1. Strategi SO

Strategi ini dibuat atas dasar memanfaatkan seluruh kekuatan dimiliki pengelolaan persampahan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya

2. Strategi ST

Strategi dengan dasar menggunakan kekuatan yang dimiliki pengelolaan persampahan untuk mengatasi ancaman

3. Strategi WO

Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada pada sistem pengelolaan persampahan

4. Strategi WT

Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha

Tabel 5.57Matriks SWOT Intenal dan Eksternal

Berdasarkan analisis SWOT, maka strategi yang menjadi prioritas utama yaitu :

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

1. Telah ada peraturan yang terkait dengan peraturan sampah yaitu: Perda No.4/2011, dan PerMen PU No.

3/PRT/M/2013.

2. Telah ada ketentuan tentang struktur organisasi yang terkait dengan kegiatan pengangkutan sampah yaitu: Perda Kota Makassar No.3/2009.

3. Memiliki alokasi dana untuk biaya operasional pengangkutan sampah.

4. Telah tersedia 8 dump truck dan 3 TPS.

5. Adanya bantuan Pemda untuk pelatihan bidang persampahan

1. Jumlah alokasi anggaran setiap tahunnya tidak mencukupi untuk pengangkutan sampah.

2. Kegiatan pengangkutan sampah masih belum efisien, karena masih menggunakan metode manual.

3. Masih ada 7 Kelurahan yang belum difasilitasi dengan TPS, sehingga sampah masih ditempatkan di pinggir jalan.

4. Tidak ada petugas pengawas dalam kegiatan pengangkutan sampah.

Peluang (O) Strategi SO Strategi WO

1. Adanya program Adipura.

1. Mengadakan lomba antar Kelurahan dalam rangka program Adipura 2. Melakukan sosialisasi kepada

masyarakat dan aparat secara berkala tentang pengelolaan, termasuk reduksi sampah

3. Meningkatkan pendapatan retribusi dengan memperbaiki sistem pembayarannya

1. Menambah fasiltas pengangkutan dan TPS memanfaatkan komitmen sektor kebersihan dalam pencapaian program

2. Meningkatkan kualitas SDM termasuk penambahan tenaga ahli dalam pengelolaan sampah melalui pelatihan maupun pendidikan formal 3. Mengembangkan lokasi –lokasi

pengangkutan sampah pada pelayanan multi lokasi di setiap Kelurahan menjadi TPS

Ancaman (T) Strategi ST Strategi WT

1. Kenaikan harga BBM

1. Melakukan perawatan kendaraan untuk mendukung kegiata pengangkutan secara rutin dan tetap

2. Melakukan sosialisasi kepada

masyarakat mengenai pentingnya reduksi sampah

3. Mengoptimalkan pengelolaan sampah sesuai dengan perda pengelolaan sampah

1. Mengoptimalkan efisiensi pengangkutan sampah dengan memperhatikan kapasitas dan metoda pengangkutan.

2. Memperbaiki struktur organisasi pengelolaan sampah dengan memperhatikan kebutuhan tenaga pengawas.

1. Membuat rencana kerja meningkatkan dukungan pengangkutan sampah dan memanfaatkan komitemen dalam pencapaian program.

2. Mendayagunakan kekuatan berupa kewenangan dalam otonomi daerah serta kelembagaan yang sudah cukup efektif dan efisien untuk melakukan kerjasama lintas sektor dan swasta.

3. Meningkatkan kebersihan kota dalam rangka program adipura 4. Meningkatkan kinerja lembaga dalam pengelolaan sampah kota 5.3.5 Rekomendasi

Berdasarkan hasil evaluasi baik aspek teknis, finansial dan kelembagaan maka dapat diketahui permasalahan rendahnya tingkat pelayanan. Permasalahan yang ada dapat diatasi dengan melakukan efisiensi sesuai dengan hasil evaluasi.

Rekomendasi sebagai masukan bagi pemerintah dalam penyelesaian masalah dalam upaya peningkatan tinjauan dari aspek teknis, finansial, dan kelembagaan.

Aspek Teknis 5.3.5.1

1. Membuat TPS di Kelurahan Antang, Emmy Saelan, Faisal, Kassi-kassi, dan Rappocini.

2. Menempatkan kontainer disetiap titik pengangkutan sampah.

3. Menambah kendaraan pengangkut sampah jenis arm roll sampai dengan tingkat target pelayanan.

4. Meningkatkan jumlah pengangkutan sampah menjadi 2 atau 3 trip per hari.

5. Menambah jumlah personil tenaga pengangkut sampah sehubungan dengan penambahan kendaraan pengangkut jenis arm roll

6. Membuat jalur alternatif pengangkutan untuk TPS yang belum mendapatkan pelayanan pengangkutan sampah

7. Mengubah jam pengangkutan menjadi pagi hari 05.00 atau pada waktu dimana tidak terjadi kemacetan.

Aspek Finansial 5.3.5.2

Memperbaiki biaya total operasional pengangkutan sampah dengan memperbaiki sistem dengan lebih mengefisiensikan pelayanan pengangkutan dan melakukan penetapan tarif pelayanan persampahan untuk menutupi/mengganti biaya penyelenggaraan pelayanan pengangkutan sampah.

Aspek Kelembagaan 5.3.5.3

1. Menambah fasilitas pengangkut dan TPS dengan memanfaatkan komitmen sector kebersihan dalam pencapaian program.

2. Meningkatkan pendapatan retribusi dengan memperbaiki sistem pembayaran

3. Mengembangkan lokasi-lokasi pengangkutan sampah pada pelayanan SCS disetiap Kelurahan menjadi TPS

4. Mengoptimalkan efisiensi pengangkutan sampah dengan memperhatikan kapasitas dan metoda pengangkutan

5. Memperbaiki struktur organisasi pengelolaan sampah dengan

5. Memperbaiki struktur organisasi pengelolaan sampah dengan