BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengelolaan Sampah
2.1.5 Jenis Peralatan Pengelolaan Sampah
Untuk melakukan pengelolaan sampah jenis peralatan yang dapat digunakan dan dapat disediakan oleh instansi terkait maupun masyarakat. Jenis peralatan pengelolaan sampah dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Jenis Peralatan Pengelolaan Sampah
No Jenis Peralatan Kapasitas Pelayanan Umur
Teknis
2 Wadah Komunal 0,5-1,0m3 40-50 240-300 1-2
3 Gerobak Sampah /
7 Truck Jungkit Sampah 3,5 ton
Sumber : SNI 19-2425-2002
Tabel 2.3Kebutuhan Minimal Peralatan atau Bangunan dan Personil.
2 - Wadah Individu - Wadah Komunal
- Truck Jungkit Sampah
- Armroll Truck + 3 Kontainer
1
1 unit
1 unit >1 unit
>1 unit
5 Transfer Depo I Transfer Depo II
Sumber : SNI 19-2425-2002 2.2 Pengangkutan Sampah
Pengangkutan sampah merupakan aspek penting dalam pengelolaan sampah, dimanan pengangkutan adalah kegiatan operasi yang dimulai dari titik pengumpul terakhir dari siklus pengumpul sampah ke TPA pada pengumpulan dengan pola
individu langsung atau dari tempat pemindahan (transfer depo atau transfer station) penampungan sementara (TPS, LPS, TPS, 3R) atau tempat penampungan komunal sampai ke tempat pengolahan atau pemrosesan akhir (TPA).
Banyak kota mengalami masalah dalam pengelolaan sampah, salah satu faktor yang kritis adalah pengangkutan, karena penggunan biaya yang tinggi dan banyak sumber daya (Ismail et al,. 2012). Permasalahan yang dihadapi dalam pengangkutan sampah adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan waktu karja yang tidak efisien
2. Penggunaan kapasitas muat kendaraan yang tidak tepat 3. Rute pengangkutan yang tidak efisien
4. Tingkah laku petugas
5. Aksesibilitas yang kurang baik
Topografi daerah juga mempengaruhi kegiatan pengangkutan sampah, kaitannya dengan waktu pengangkutan sampah ke TPA dan pemakaian bahan bakar saat pengangkutan, sehingga rute pengangkutan diatur agar tidak terlalu panjang (Zsigratiova et al,. 2009).
2.2.1 Pemilihan Prasarana dan Sarana Bidang Persampahan
Komponen biaya terbesar dalam pengelolaan sampah adalah penyediaan dan pengoperasian alat-alat berat dan alat-alat angkut persampahan mulai dan biaya pembelian, pengoperasian (termasuk gaji operator, bahan bakar dan lain-lain) serta peliharaan (seperti mekanik, spare parts dll). Tidak cocoknya pemilahan alat-alat angkut untuk persampahan, pemeliharaannya yang kurang baik , dan tidak terlatihnya operator dalam mengoperasikan alat angkut dapat menimbulkan terjadinya kerusakan-kerusakan pada alat tersebut. Sehingga ketersediaan alat angkut yang beroperasi menjadi sangat rendah dan menimbulkan banyak biaya untuk perbaikannya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui alat yang cocok dan cara pengoperasian yang benar untuk alat-alat angkut persampahan. Faktor-faktor yang menentukan pemilihan alat angkut adalah sebagai berikut :
a. Banyaknya timbulan sampah yang akan ditangani adalah satuan ton timbulan sampah perhari serta mengetahui jenis sampah yang akan ditangani.
b. Pola pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan sampah c. Jenis, lebar, serta kondisi kualitas jalan yang akan dilalui d. Tipe dan ukuran dari fasilitas TPS
e. Fasilitas yang dimiliki TPS, meliputi :
1. Lokasi, dimensi, dan jenis TPS yang ada 2. Proses yang dilakukan di TPS
3. Pemadatan yang ingin dicapai di TPS
4. Spesifikasi alat transportasi di TPS seperti truck pengangkut sampah/Dump Truck yang memiliki alat berat pembantu untuk menaikan sampah ke Dump Truck.
5. Pengaturan operasional keluar/masuk alat angkut sampah di TPS Persyaratan alat pengangkut sampah antara lain adalah sebagai berikut (Damanhuri & Tri Padmin, 2010) :
1. Alat pengangkut sampah harus dilengkapi dengan penutup sampah, minimal dengan jaring
2. Tinggi bak maksimal 1,6 m 3. Sebaiknya ada alat ungkit
4. Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui
5. Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi dengan pengaman air sampah.
Klasifikasi pengelolaan, tipe bangunan dan TPS (SNI 3242-2008) a. Klasifikasi Pengelolaan
1. TPS tipe 1 dapat melayani sebanyak 2.500 jiwa 2. TPS tipe II dapat melayani sebanyak 30.000 jiwa 3. TPS tipe III dapat melayani sebanyak 120.000 jiwa b. Klasifikasi TPS
1. TPS tipe I
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah dilengkapi dengan
Ruang pemilahan
Gudang
Tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan landasan container
Luas lahan ± 10-50 m2 2. TPS tipe II
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah dilengkapi dengan :
Ruang pemilahan (10m2)
Pengelolaan sampah organic (200m2)
Gudang (50m2)
Tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan landasan container (60m2)
Luas lahan ± 60-200 m2 3. TPS tipe III
Tempat pemindahan sampah dari alat pengumpul ke alat angkut sampah yang dilengkapi dengan:
Ruang pemilahan (30m2)
Pengomposan sampah organic (800m2)
Gudang (100m2)
Tempat pemindahan sampah yang dilengkapi dengan landasan container (60m2)
Luas lahan > 200 m2
2.3 Sistem Pengangkutan Sampah
Menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 menyebutkan bahwa
Terpadu (TPST) ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sebagaian besar permasalahan dalam pengelolaan sampah adalah masalah pengangkutan sampah.
1. Pola pengangkutan sampah dapat dilakukan berdasarkan sistem pengumpulan sampah. Menurut SNI 19-2425-2002 ada beberapa pola pengangkutan yaitu :
a. Pola pengangkutan Sampah dari pool menuju titik sumber sampah pertama untuk mengambil sampah.
b. Selanjutnya mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitas.
c. Selanjutnya diangkut ke TPA
d. Setelah pengosongan di TPA, truk menuju ke lokasi sumber sampah berikut sampai terpenuhi ritasi yang di tetapkan. Selengkapnya dapat di lihat pada gambar 2.3.
Gambar 2.3Pola Pengangkutan Sampah Sistem Individu Langsung (SNI 19-2425-2002)
2. Sistem pemindahan / Transfer Depo
Pada sistem ini pengangkut dari Pool langsung menuju lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah ke TPA. Dari TPA kendaraan tersebut kembali ke depo untuk mengambil pada rit berikutnya, sebagaimana Gambar 2.4.
Berikut Tabel 2.4 proses pemilahan alat angkut sampah yang terdapat pada SNI 19-2425-2002.
Gambar 2.4 Pola Pengangkutan Sampah Sistem Transfer Depo (SNI 19-2425-2002)
Tabel 2.4Proses Pemilahan Alat Angkut Sampah.
Pola Pengumpulan Sampah Kondisi Jalan Alat Angkut Individu
Langsung
Lebar dan memadai
Compactor Truck (CV)/Armroll truck (ART)/Dump truck (DT)
Individu Tidak Langsung
Jalan sempit atau gang
Gerobak (GS)/Becak (BS)/Motor (MS) untuk mengangkut sampah dari sumber ke TPS pengangkut dari TPS ke TPA
menggunakan CT/ART/DT
Sumber : SNI 19-2425-2002
2.3.1 Rute Pengangkutan Sampah
Pola pengangkutan sampah dapat dilakukan berdasarkan sistem pengumpulan sampah. Jika pengumpulan dan pengangkutan sampah menggunakan sistem pemindahan (transfer depo) atau sistem tidak langsung, proses pengangkutannya dapat menggunakan sistem kontainer angkat (Houled Kontainer Sistem = HCS) atau pun sistem kontainer tetap (Stationary Kontainer Sistem = SCS). Sistem kontainer tetap dapat dilakukan secara mekanis maupun manual. Sistem mekanis menggunakan truk compactor dan kontainer yang pas dengan jenis truknya, sedangkan sistem manual menggunakan tenaga kerja dan kontainer dapat berupa bak sampah atau jenis penampungan lainnya.
Sistem Pengangkutan Dengan Kontainer Angkut (Hauled Container 2.3.1.1
System = HCS)
Untuk pengumpulan sampah dengan sistem kontainer angkat HCS, pola pengangkutan yang digunakan ada tiga cara, yaitu :
Sistem Pengosongan Kontainer Cara 1
Proses pengangkutan :
- Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA
- Kontainer kosong dilakukan ke tempat semula.
- Menuju kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA - Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula - Demikian seharusnya sampai rit akhir.
Gambar 2.5Pola Kontainer Angkat 1 (SNI 19-2425-2002)
Sistem Pengosongan Kontainer Cara 2Proses Pengangkutan :
- Kendaraan dari pola menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA
- Dari TPA kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi untuk diangkat ke TPA
- Demikian seterusnya sampai rit terakhir
- Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari TPA menuju lokasi kontainer pertama, kemudian kendaraan tanpa kontainer menuju pool.
Gambar 2.6Pola Kontainer Angkat 2 (SNI 19-2425-2002)
Sistem Pengosongan Kontainer Cara 3
Proses Pengangkutan :
- Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju lokasi kontainer isi untuk mengganti atau mengambil dan langsung membawanya ke TPA
- Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju kontainer isi berikutnya demikian seterusnya sampai rit akhir.
Sistem Pengangkutan Dengan Kontainer Tetap (Station Container 2.3.1.2
System = SCS)
Sistem ini biasanya digunakan untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk kompactor secara mekanis (Gambar 2.8) atau manual (Gambar 2.9).
Pola pengangkutan dengan cara mekanis adalah sebagai berikut :
- Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah dituangkan kedalam truk kompactor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong.
- Kendaraan menuju kontainer berikutnya sampai truk penuh untuk kemudian Gambar 2.7Pola Kontainer Angkat 3 (SNI 19-2425-2002)
- Demikan seterusnya sampai rit terakhir.
Proses pengangkutan dengan manual adalah :
- Kendaraan dari poolmenuju TPS pertama, sampah dimuat ke dalam truk kompactor atau truk biasa.
- Kendaraan menuju TPS berikutnya sampai truk penuh untuk kemudian menuju TPA
- Demikian seterusnya sampai rit terakhir
2.3.2 Sarana dan Prasarana Pengangkutan Sampah
Peralatan dan perlengkapan pengangkutan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Sampah harus tertutup selama pengangkutan, agar sampah tidak berceceran di jalan
- Tinggi bak maksimal 1,6 meter - Sebaiknya ada alat pengungkit
- Tidak bocor, agar lindi tidak berceceran selama pengangkutan - Disesuaikan dengan jalan yang dilalui
Gambar 2.8Sistem Kontainer Tetap Secara HCS (SNI 19-2425-2002
- Disesuaikan dengan kemampuan dana dan teknik pemilahan Jenis peralatan pengangkitan bermacam-macam misalnya :
a. Dump Truck
Dump Truck kendaraan angkut yang dilengkapi sistem hidrolis untuk mengangkut bak dan membongkar muatannya. Pengisian muatan masih tetap secara manual dengan tenaga kerja. Masih secara manual dengan menggunakan tenaga kerja. Dump truck ini memiliki kapasitas yang bervariasi yaitu 6m3, 8m3, 10m3, 14m3. Dalam pengangkutan sampah, efisiensi penggunaan dump truck dapat diambil apabila memenuhi beberapa kriteria yaitu jumlah rit atau ritasi perhari minimal 3 dan jumlah crew maksimum 3. Agar tidak menggangu lingkungan selama perjalanan ke TPA, dump truck sebaiknya dilengkapi dengan tutup terpal atau jaring.
b. Armroll Truck
Armroll Truck Merupakan kendaraan angkut yang dilengkapi sistem hidrolis untuk mengangkut bak dan membongkar muatannya. Pengisian muatan masih tetap secara manual dengan tenaga kerja. Armroll truck ini memiliki kapasitas yang bervariasi yaitu 6m3, 8m3, 10m3. Dalam pengangkutan sampah, efisiensi penggunaan armroll truck dapat dicapai apabila memenuhi bebrapa kriteria yaitu jumlah rit atau ritasi perhari minimum 5 dan jumlah crew maksimal 1. Agar tidak menggangu lingkungan selama perjalanan ke TPA, kontainer sebaiknya memiliki tutup dan tidak rembes sehingga leachate mudah tercecer. Kontainer yang tidak memiliki tutup sebaiknya dilengkapi dengan tutup terpal selama pengangkutan.
Pemilihan jenis peralatan yang digunakan dalam proses pengangkutan sampah dengan pertimbangan Faktor-faktor sebagai berikut :
- Umur teknis peralatan 5-7 tahun - Kondisi jalan daerah oparsi - Jarak tempuh
- Karakteristik sampah
- Daya dukung pemiliharaan
2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Operasional Pengangkutan Sampah.
Sistem pengangkutan sampah merupakan kegiatan yang dipengaruhi oleh timbulan sampah dan Faktor-faktor yang lain (Tchobanoglous et al., 1993).
Beberapa faktor yang mempengaruhi sistem pengangkutan sampah:
1. Rute Pengangkutan
Rute pengangkutan dibuat agar pekerjaan dan peralatan dapat digunakan secara efektif. Pada umumnya rute pengumpulan dicoba-coba, karena rute tidak dapat digunakan pada semua kondisi. Pedoman yang dapat digunakan dalam membuat rute sangat tergantung dari beberapa faktor yaitu :
a. Peraturan lalu lintas yang ada b. Pekerja, ukuran dan tipe alat angkut
c. Jika memungkinkan, rute dibuat mulai dan berakhir didekat jalan utama, gunakan topografi dan kondisi fisik daerah sebagai batas rute.
d. Pada daerah berbukit, usahakan rute dimulai dari atas dan berakhir dibawah
e. Rute dibuat agar container atau TPS terakhir yang akan diangkat yang terdekat ke TPA
f. Timbulan sampah pada daerah sibuk atau lalu lintas padat diangkut sepagi mungkin
g. Daerah yang menghasilkan timbulan sampah terbanyak, diangkut lebih dahulu
h. Daerah yang menghasilkan timbulan sampah sedikit, diusahakan terangkut dalam hari yang sama.
Pada langkah awal pembuatan rute maka ada beberapa langkah yang harus diikuti agar rute yang direncanakan menjadi lebih efisien, yaitu:
a. Penyiapan peta yang menunjukkan lokasi-lokasi dengan jumlah timbulan sampah
b. Analisis dan diplot ke peta daerah pemukiman, perdagangan, industry dan untuk masing-masing area, diplot lokasi, frekuensi pengumpulan dan jumlah kontainer.
c. Layout rute awal
d. Evaluasi layout rute awal dan membuat rute lebih seimbang dengan cara dicoba-coba. Setelah langkah awal ini dilakukan maka langkah selanjutnya adalah pembuatan rute dan sangat dipengaruhi oleh pengangkutan yang digunakan yaitu sistem HCS atau SCS.
2. Pendekatan Perhitungan Jumlah Rit
Beberapa parameter pengangkutan sampah yang dapat didekati dengan persamaan matematis adalah :
- Waktu perjalanan - Pick up time - Jumlah perjalanan
- Jumlah waktu kerja dalam seminggu - Jumlah rit per minggu
a. Perhitungan SCS - Waktu perjalanan
Waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk setiap rit :
Tscs= Pscs+ s + a + b x ……….………….. (2.7) Dimana :
Pscs = waktu yang diperlukan untuk memuat sampah dari lokasi pertama sampai lokasi terakhir (jam/rit)
s = waktu terpakai dilokasi untuk menunggu dan membongkar sampah di TPA
a,b = konstanta, bersifat empiris, a (jam/rit) dan b (jam/rit) x = jarak rata-rata TPA ke TPS, km/rit
dengan :
Ct= jumlah kontainer dikosongkan per rit, kontainer/rit Uc=waktu rata-rata pengosongan kontainer, jam/kontainer np= jumlah lokasi kontainer per rit
dbc = waktu rata-rata antara lokasi kontainer, jam/lokasi dengan :
Ct= vr / cf ………..……….……….(2.9)
Dimana :
V = volume alat angkut m3/rit r = ratio pemadatan
c = volume kontainer, m3/kontainer f = faktor penggunaan berat kontainer
Jumlah rit per hari dapat dihitung dengan rumus : Nd= Jumlah rit per hari
Vd= Jumlah sampah per hari
Dari jumlah rit per hari, maka waktu sebenarnya yang dibutuhkan : H = [ (t1+ t2) + Nd.Tscs] / (1-W) ………..………..(2.11) Dimana :
H = waktu kerja per hari, jam/hari
t1= waktu dari garasi kelokasi pertama, jam t2= waktu dari lokasi terakhir kegarasi, jam b. Perhitungan HCS
- Waktu perjalanan
Waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk setiap rit :
THCS= PHCS+ s + h ……….. (2.12) Dimana :
THCS= waktu yang diperlukan per rit, jam / rit PHCS= pick up time per rit, jam/rit
s = at site time, jam/rit
h = haul time per rit, jam/rit
Haul time h = h1+ h2……….…. (2.13) Dimana :
a = konstanta empiris, jam/rit b = konstanta empiris, jam/rit c = jarak angkut per rit, km/rit
- Pick Up Time
PHCS= pc + uc + bdc ………..……….. (2.14) Dimana :
pc = Pick up time ( waktu mengangkut kontainer ke truk ) uc = waktu pengosongan kontainer, jam/kontainer
dbc = waktu rata-rata perjalanan antara lokasi kontainer, jam/rit W = faktor off route
h1= jarak dari TPS ke TPA h2= jarak dari TPA ke TPS - Jumlah Perjalanan
Jumlah Perjalanan (rit) per kendaraan per hari :
Nd = [{H*(1-W)} – (t1+t2)]/T ………...(2.15) Dimana :
Nd = jumlah perjalanan H = waktu perjalanan
W = faktor waktu non produktif - Jumlah Waktu Kerja dalam Seminggu
Dw = t w ( PHCS+ s + a + b.x ) / ( 1 – W ) ……….…. (2.16) Dimana :
D w = waktu pelayanan / minggu
- Jumlah Rit Perminggu
Nw = Vw / c.f ………(2.17) Dimana :
N w = jumlah rit perminggu
V w = volume timbulan sampah perminggu, m3/minggu c = rata-rata ukuran kontainer, m3/rit
f = faktor utilitas kontainer/sebagai fraksi pengisian kontainer.
2.4 Aspek Pembiayaan Dalam Pengangkutan Sampah
Aspek pembiayaan menjadi faktor dominan untuk berjalannya suatu kegiatan termasuk sistem pengangkutan sampah. Dalam SNI-03-3242-1994 yang mengatur tata cara pengelolaan sampah yaitu :
Biaya pengumpulan 20 – 40 %
Biaya pengangkutan 40 – 60 %
Biaya pembuangan akhir 10 – 30 %
Komponen pembiayaan pengangkutan sampah mempunyai porsi yang paling tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa tahapan ini sangat penting jika dioptimalkan dan diefektifkan maka akan diperoleh pengamatan yang cukup signifikan. Dengan malakukan manajemen biaya yang tepat akan menghemat pengeluaran energy dan biaya tenaga kerja (Koushki et al., 2004). Struktur biaya pengelolaan sampah dapat diklasifikasi sebagai berikut :
a. Biaya investasi, meliputi :
Biaya pengadaan sarana/peralatan
Biaya pembuatan studi pengelolaan sampah
Biaya penyususnan sistem/prosedur
Biaya “start up” atau suntikan dan saat penerapan sistem baru
Biaya pendidikan dan platihan awal b. Biaya operasional dan pemeliharaan, meliputi :
Gaji dan upah karyawan/pekerja
Biaya transportasi (bahan bakar, oli, accu, dll)
Biaya pemeliharaan dan perbaikan sarana prasarana
Biaya utilitas lain seperti listrik, air bersih, telepon, dll
Biaya administrasi
Biaya pendidikan dan latihan
Menurut SNI 03-3242-1994 total biaya operasional pengelolaan sampah tiap tahun biaya-biaya diatas masih harus ditambah dengan penyusunan atau depresiasi dari pralatan yang digunakan. Aspek pembiayaan juga menyangkut dengan retribusi dimana penentuan tarif retribusi tersebut harus berdasarkan pada :
Biaya pengelolaan
Kemampuan Pemerintah Daerah mensubsidi ( ± 20 % )
Kemampuan Masyarakat ( ± 1% dari income )
Prinsip Cross subsidi
Klasifikasi wajib retribusi
Pembobotan yang memadai
Sedangkan untuk pelaksanaan penarikan retribusi harus dilakukan pengaturan terhadap :
Sistem pengendalian pemungutan yang efektif
Wilayah penagihan dan pelaksanaan penagihan
Publikasi pemberlakuan struktur tarif
Upaya peningkatan efisiensi penagihan
Berdasarkan tarif jasa pelayanan diorientasikan mampu menghasilkan pendapatan yang mampu membiayai penyelenggaraan pelayanan secara impas (cost recovery). Sementara retribusi dapat digunakan sebagai alat pengendali laju timbulan sampah dan pemilahan sampah. tarif retribusi sebaiknya proporsional terhadap biaya pengelolaan dan jenis layanan yang dilakukan dan proses pemilahan.
2.5 Aspek Kelembagaan
Institusi pengelolaan persampahan merupakan kunci dalam suatu sistem
tidak hanya memberikan pelayanan kebersihan kota saja tetapi juga mampu mengembangkan kapasitas dan potensi yang ada dalam rangka menciptakan kualitas lingkungan perkotaan yang bersih dan sehat. Struktur instansi atau lembaga dan masing-masing bagian menggunakan aktifitas utama dalam pengelolaan sampah seperti pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir.
Instansi atau lembaga harus memiliki sumber daya manusia yang dapat diandalkan dalam hal manajemen pengelolaan sampah dan teknis pengangkutan sampah.
Bentuk lembaga atau instansi pengelolaan persampahan sebaiknya diseuaikan dengan status kotanya, sebagai berikut :
Kota Metro dan Besar : Dinas Kebersihan atau Perusahaan Daerah Kota
Sedang dan Kecil : Dinas Kebersihan ( >250 ribu jiwa ) dan Dinas Kebersihan dan Pertanaman (100-250 ribu jiwa)
Ibu Kota Kabupaten : UPTD atau Seksi di bawah PU
Indikator yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan pengukuran kinerja dari lembaga pengelolaan sampah antara lain : jumlah petugas kebersihan, struktur pembiayaan, potensi pembiayaan, subsidi pembiayaan, jumlah timbulan sampah, kapasitas pengumpul sampah, kapasitas pengangkutan sampah, kapasitas pengelolaan dan pembuangan sampah.
Secara umum permasalahan yang ada pada instansi pengelola sampah (DPUM 2008) sebagai berikut :
Bentuk instansi yang ada pada umumnya belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku, terlalu sederhana, belum sesuai dengan kewenangan pelayanan yang dibutuhkan
Sebagian besar institusi pengelolaan persampahan adalah bentuk dinas, sub dinas atau seksi dengan kewenangan yang terbatas
Massih kurangnya kerjasama antara instansi terkait
Struktur instansi kebanyakan belum sesuai dengan kapasitass dan beban kerja, belum menggunakan siklus aktivitas tahapan pengelolaan, lingkup tugas belum jelas dan fungsi pembinaan masyarakat belum optimal
Tata laksanan kerja pada umumnya belum dinyatakan secara jelas, termasuk prosedur penarikan retribusi. Demikian pula pencatatan administrasi rutin sering tidak ada
Tenaga ahli terbatas. Penempatan personil kurang terencana pemanfaatan kurang seimbang serta jenjang karir yang tidak jelas
Motivasi karyawan yang kurang, karena ada tanggapan bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan sampah adalah hal yang kurang bermanfaat dan kurang menarik.
2.6 Analisis SWOT
SWOT dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pemerintah didalam mengelola daerahnya. Analisis ini dapat didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Srengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats) (Rangkuti, 2004).
Analisis SWOT (Strengths S, Weaknesses W, Opportunities O, Threats T) dilakukan dengan mengidentifikasi faktor strategis internal dan faktor strategi eksternal, untuk menyusun strategi agar pelayanan pengangkutan sampah dapat dioptimalkan dan ditingkatkan, secara mampu meningkatkan kinerja institusi yang professional dan berkualitas.
Pembobotan dalam analisis ini menggunakan nila 1,0 (paling tinggi ) sedangkan 0,0 (tidak penting). Selengkapnya nilai pembobotan tersebut, yaitu:
Nilai 1,0 menyatakan paling penting
Nilai 0,75 menyatakan penting
Nilai 0,5 menyatakan cukup penting
Nilai 0,25 menyatakan kurang penting
Nilai 0,0 menyatakan tidak penting
Nilai Bobot diperoleh dengan perhitungan:
=
Penilaian masing-masing faktor dengan memberikan skala nilai 1 sampai 4 dengan ketentuang sebagai berikut :
Nilai 1 menyatakan pengaruh tidak kuat
Nilai 2 menyatakan pengaruh kurang kuat
Nilai 3 menyatakan pengaruh cukup kuat
Nilai 4 menyatakan pengaruh kuat a. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor-faktor dari dalam organisasi yang mempengaruhi manajemen suatu organisasi, yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan yang dianggap panting. Kekuatan adalah faktor-faktor yang timbul dari dalam objek yang dapat digunakan sebagai keunggulan dengan objek pesaing.
Kelemahan adalah faktor-faktor yang timbul dalam suatu objek yang dapat melemahkan keadaan objek itu sendiri atau faktor kelemahan adlah keterbatasan atau keraguan dalam hal ini sumber keterampilan atau kemampuan dan menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang timbul dari luar, yang berkaitan dengan peluang dan ancaman. Peluang adalah faktor-faktor yang timbul dari luar organisasi yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan organisasi atau faktor peluang adalah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu organisasi.
Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersama dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Proses pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan, dengan demikian perencanaan strategi harus menganalisis faktor strategi dalam konsisi yang ada pada saat ini, hal ini disebut dengan analisis situasi. Kinerja dapat ditentukan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategi instansi adalah menarik SWOT dapat dilihat pada tabel 2.10
Tabel 2.5 Matrik Analisis SWOT
Sumber : Analisis SWOT Teknik Membedah kasus Bisnis, Freddy Rangkuti, 2004 Keterangan :
- Strategi SO : Strategi ini dibuat dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk membuat peluang sebesar-besarnya
- Strategi ST : strategi dalam menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
- Strategi WO : strategi berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara minimalkan kelemahan yang ada.
- Strategi WT : strategi didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha minimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Internal
Eksternal
S (Strenght)
Tentukan faktor – faktor kekuatan internal
W (Weaksness)
Tentukan faktor – faktor kelemahan internal
O (Ipportunity)
Tentukan faktor – faktor peluang eksternal
Tentukan faktor – faktor ancaman eksternal
(halaman ini sengaja dikosongkan)
3 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan gambaran penelitian yang dilakukan dengan pemodelan deskriptif. Tujuannya adalah untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu keadaan, gejala atau kelompok tertentu yang diteliti di lapangan
Metode penelitian merupakan gambaran penelitian yang dilakukan dengan pemodelan deskriptif. Tujuannya adalah untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu keadaan, gejala atau kelompok tertentu yang diteliti di lapangan