• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evidensi Terkait Isi Tes

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 185-190)

Validitas dalam Model Tes Klasik

A. Metode Estimasi Validitas

1. Evidensi Terkait Isi Tes

Salah satu evidensi validitas adalah kesesuaian antara isi tes dan konstruk yang diukurnya. Tentang makna istilah “konstruk” perlu diberikan penjelasan sebagai berikut. Aslinya istilah ini secara khusus dipakai untuk mengacu sifat/kemampuan/atribut psikologis yang

tidak teramati secara langsung dan yang hanya bisa diinferensikan berdasarkan tingkah laku teramati yang dipandang sebagai indikatornya. Pemaknaan ini dipakai misalnya, dalam artikel klasik Cronbach dan Meehl (1955) tentang validitas konstruk. Sebagaimana diuraikan di Bab 2, sebagian besar atribut psikologis yang menjadi objek psikometri merupakan konstruk dalam pengertian seperti antara lain dimaksudkan oleh Cronbach dan Meehl dalam artikelnya tersebut. Dalam pembahasan tentang evidensi terkait isi tes ini dan sebagaimana dipakai dalam 1999 Standards (AERA, APA, & NCME, 1999) istilah “konstruk” dimaknai secara lebih luas mencakup semua jenis konsep atau sifat yang hendak diukur oleh suatu tes.

Evidensi tentang kesesuaian isi dan konstruk yang diukur oleh suatu tes bisa diperoleh melalui analisis logis atau empiris terhadap seberapa memadai isi tes mewakili ranah isi serta seberapa relevan ranah isi tersebut sesuai dengan interpretasi skor tes yang dimaksudkan. Isi tes mengacu pada tema-tema, pilihan kata, serta format atau bentuk item, tugas, atau pertanyaan yang digunakan dalam tes.

Evidensi terkait isi ini lazim diperoleh melalui penilaian pakar atau ahli terhadap kesesuaian antara bagian-bagian tes dan konstruk yang diukur. Secara lebih rinci, aspek-aspek isi tes yang perlu dievaluasi meliputi (a) sufficiency atau kecukupan, yaitu apakah isi tes tersebut mencukupi atau memadai dalam arti mewakili ranah isi

spesifik yang hendak diukur; (b) Koefisien Phi . clarity atau kejelasan, yaitu apakah isi

tes tersebut mencerminkan secara jelas ranah isi spesifik yang hendak

diukur dalam arti misalnya tidak mencampuradukkan dengan ranah

isi spesifik yang lain; (c) Koefisien Phi . relevance atau relevansi, yaitu apakah isi tes

tersebut memiliki kesesuaian dengan ranah isi spesifik yang hendak

diukur; (d) kesesuaian antara item-item dan tugas-tugas yang dipakai

sebagai stimulus dalam tes tersebut dengan definisi tentang konstruk

yang hendak diukur; (e) ada-tidaknya bias berupa keberpihakan isi tes pada gender, budaya, umur atau faktor pengelompokan sosial lainnya; dan (f) kemungkinan terjadinya “construct irrelevant

diukur) dan “construct underrepresentation” (kurang memadainya keterwakilan konstruk yang hendak diukur), yang menunjukkan sejauh mana kemungkinan tes tersebut mengukur melebihi (construct irrelevance variance) atau kurang (construct underrepresentation) dari yang semestinya dia ukur (Goodwin & Leech, 2003). Dalam pengertian lama, jenis evidensi ini dikaitkan dengan validitas isi.

Agar bisa mengevaluasi keenam sifat di atas, tentu saja pertama-tama harus ditentukan dulu ranah isi dari konstruk yang menjadi sasaran pengukuran. Secara garis besar, jenis konstruk dalam arti luas yang menjadi sasaran pengukuran psikologis dapat dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) pengetahuan atau ketrampilan sebagai hasil belajar; (b) konstruk teoretis (dalam arti sempit) tentang berbagai atribut kepribadian; dan (c) pola tingkah laku kompleks dalam rangka menjalankan peran tertentu. Sesuai jenisnya, ranah isi konstruk yang

menjadi sasaran pengukuran dapat diidentifikasikan dengan bantuan

tiga macam instrumen atau sarana, yaitu (Friedenberg, 1995): (1) test plan atau tabel spesifikasi atau kisi-kisi jika konstruk yang menjadi

sasaran pengukuran berupa pengetahuan atau ketrampilan sebagai hasil belajar; (2) eksplikasi konstruk jika konstruk yang menjadi sasaran pengukuran berupa konstruk teoretis tentang dimensi atau atribut kepribadian tertentu yang bersifat hipotetis dan yang dipandang membedakan orang yang satu dari yang lain; dan (3) analisis tugas, jika konstruk yang menjadi sasaran pengukuran berupa pola perilaku dalam rangka menjalankan peran atau tugas jabatan tertentu. Uraian ringkas tentang masing-masing instrumen atau sarana validasi isi disajikan secara berturut-turut di bawah ini.

a. Menyusun Test-Plan, Tabel Spesifikasi, atau Kisi-kisi.

Test-plan, tabel spesifikasi atau kisi-kisi adalah “a written list of the

information to be covered by the test items and the behaviors required to answer the questions correctly” (Friedenberg, 1995). Artinya, kisi-kisi merupakan daftar tertulis tentang informasi, yaitu pengetahuan dan atau ketrampilan dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu, yang harus dicakup oleh item-item tes serta jenis-jenis perilaku yang

dituntut untuk menjawab item-item atau pertanyaan-pertanyaan tes secara tepat. Blue-print atau cetak biru ini penting khususnya dalam rangka pengukuran pengetahuan dan ketrampilan sebagai hasil belajar dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu, untuk memastikan bahwa isi tes merepresentasikan dan sebaliknya tidak melenceng dari cakupan isi pengetahuan atau ketrampilan dalam bidang studi atau mata pelajaran yang bersangkutan.

Penyusunan tabel spesifikasi atau kisi-kisi lazim didasarkan

pada taksonomi tujuan pengajaran tertentu. Salah satu taksonomi tujuan pengajaran yang paling luas dijadikan pedoman dalam pengajaran di sekolah adalah taksonomi tujuan pengajaran ranah kognitif yang disusun oleh Bloom dan kawan-kawan. Taksonomi Bloom telah beberapa kali direvisi. Salah satu revisi yang secara struktural masih mempertahankan bentuk asli Taksonomi Bloom adalah revisi yang dikerjakan oleh Anderson, Krathwohl, Airasian, Cruikshank, Mayer, Pintrich, Raths dan Wittrock (2001) atau yang lebih dikenal sebagai Taksonomi Anderson dan Krathwohl. Secara garis besar, taksonomi revisi ini membedakan pengetahuan sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu ke dalam dua dimensi: (1) dimensi isi atau materi; dan (2) dimensi proses kognitifnya. Dimensi isi atau materinya lebih lanjut dibedakan ke dalam empat kategori pengetahuan: (1) pengetahuan faktual, (2) pengetahuan konseptual, (3) pengetahuan prosedural, dan (4) pengetahuan metakognitif. Dimensi proses kognitifnya lebih lanjut dibedakan ke dalam enam jenis: (1) mengingat, (2) memahami, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) mencipta. Tampak bahwa

tabel spesifikasi atau kisi-kisi secara rinci menjabarkan ranah isi suatu

konstruk meliputi baik jenis pengetahuan maupun jenis kemampuan berpikir tentang bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang harus dikuasai seseorang sebagai hasil belajar. Jika berhasil disusun secara

tepat, tabel spesifikasi atau kisi-kisi bisa dipakai sebagai kriteria

yang handal dalam mengevaluasi berbagai aspek tes dalam rangka mengumpulkan evidensi terkait keabsahan isinya.

b. Melakukan Eksplikasi Konstruk. Jika konstruk yang menjadi sasaran pengukuran suatu tes benar-benar merupakan konstruk teoretis tentang dimensi atau atribut kepribadian tertentu baik berupa abilitas atau kemampuan maupun berupa sifat atau kecenderungan kepribadian yang bersifat abstrak, maka penentuan ranah isinya harus didahului dengan sebuah langkah yang disebut eksplikasi konstruk.

Konstruk psikologis bersifat abstrak dan tidak bisa diukur secara langsung. Ada atau tidak adanya atau lebih tepat, seberapa besar kadar keberadaan atribut kepribadian tertentu yang merupakan konstruk dalam diri seseorang harus diinferensikan atau disimpulkan

dari bentuk-bentuk tingkah laku spesifik tertentu yang dipandang

sebagai indikator atau pencerminan keberadaan konstruk yang bersangkutan.

Dalam eksplikasi konstruk, “the test developer compiles a

list of specific behaviors, beliefs, and attitudes that demonstrate the presence of the construct and specific behaviors, beliefs, and attitudes

inconsistent with its presence” (Friedenberg, 1995). Artinya, dalam eksplikasi konstruk penyusun tes mengumpulkan daftar perilaku, keyakinan, dan sikap yang mencerminkan keberadaan atau kehadiran konstruk yang diukur (favorable), serta perilaku, keyakinan, dan sikap yang bertentangan atau mencerminkan ketiadaan konstruk yang diukur (unfavorable).

Dalam praktik eksplikasi konstruk akan melibatkan dua

langkah utama: (1) Koefisien Phi . perumusan definisi konseptual konstruk, yaitu

merumuskan konstruk yang menjadi sasaran pengukuran sebagai konsep dengan menggunakan konsep-konsep lain yang lebih mudah

dipahami; dan (2) Koefisien Phi . merumuskan definisi operasional konstruk,

yaitu menjabarkan konstruk sebagai konsep ke dalam serangkaian

subkonsep atau komponennya serta mengidentifikasikan

indikator-indikator tingkah laku baik yang favorable atau positif maupun yang

unfavorable atau yang negatif. Melalui proses dua langkah eksplikasi konstruk semacam ini maka cakupan isi konstruk yang semula abstrak tersebut menjadi jelas dalam arti kongkret sekaligus operasional.

Jika berhasil disusun secara tepat, eksplikasi konstruk bisa dipakai sebagai kriteria yang handal dalam mengevaluasi berbagai aspek tes dalam rangka mengumpulkan evidensi terkait keabsahan isinya.

c. Melakukan Analisis Tugas. Jika tes dimaksudkan untuk mengukur pola perilaku kompleks terkait pelaksanaan role atau peran atau job atau jabatan atau task atau tugas tertentu, maka penentuan isi tesnya perlu dilakukan melalui task analysis atau analisis tugas atau

job analysis atau analisis jabatan (Friedenberg, 1995). Dalam analisis tersebut, perilaku kompleks dalam rangka menjalankan peran, jabatan atau tugas pekerjaan yang menjadi sasaran pengukuran, misal jabatan sales manager atau manajer penjualan, jabatan kepala sekolah, dan sebagainya, diuraikan ke dalam komponen-komponen pokok tingkah laku. Selanjutnya masing-masing komponen pokok diuraikan lebih lanjut ke dalam bentuk-bentuk tingkah laku yang

lebih spesifik. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Jika berhasil disusun secara tepat dan menyeluruh,

hasil analisis jabatan atau analisis tugas bisa dipakai sebagai kriteria yang handal dalam mengevaluasi berbagai aspek tes dalam rangka mengumpulkan evidensi terkait keabsahan isinya dalam rangka mengukur kemampuan entah sebagai potensi atau sebagai prestasi seseorang menjalankan peran, jabatan, atau tugas pekerjaan tertentu.

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 185-190)