• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psikofisika Klasik

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 41-44)

Latar Belakang & Beberapa Konsep Dasar

C. Psikofisika Klasik

Kini ada dua pertanyaan yang menuntut jawaban. Pertama, apa dasar Binet dan Simon maupun para pakar-praktisi pengukuran psikologis lainnya mengaitkan tingkah laku konkret murid-murid yang langsung bisa diamati dan dicatat tersebut dengan atribut psikologis inteligensi yang terdapat dalam diri masing-masing anak dan yang bersifat abstrak? Kedua, apa dasar Binet dan Simon serta para pakar psikometri lain melekatkan atau menerakan (istilah Inggris,

assign) bilangan pada tingkah laku konkret dalam rangka mengukur

atribut psikologis yang tidak kasat mata tersebut?

Pertanyaan pertama kiranya bisa dijawab dengan meminjam gagasan pokok yang ditawarkan oleh psikofisika, yaitu cabang ilmu yang menjadi salah satu pilar tradisi pengukuran psikologis (Guilford, 1954). Psikofisika sendiri adalah “an exact science of the functional relations of dependency between body and mind” atau cabang ilmu eksakta tentang hubungan ketergantungan fungsional antara tubuh dan jiwa, atau “the science that investigates the quantitative relationships between physical events and corresponding psychological events” atau cabang ilmu

yang menyelidiki hubungan kuantitatif antara aneka peristiwa fisik

dan aneka peristiwa psikologis terkait, atau dalam bahasa teknis hubungan kuantitatif antara stimulus dan respon (Guilford, 1954, h. 3, 20).

Berdasarkan penelitian-penelitian tentang proses sensasi atau

penginderaan pada subjek manusia, psikofisika klasik berasumsi

bahwa setiap peristiwa pengukuran proses penginderaan – misal, membandingkan berat serangkaian objek -- akan melibatkan dua variabel kuantitatif yang membentuk suatu kontinum, yaitu sebuah

variabel fisik yang membentuk kontinum fisik dan yang secara paralel dan serentak dibarengi oleh sebuah variabel psikologis yang membentuk kontinum psikologis (Guilford, 1954). Kontinum sendiri adalah “a closely graded series, one step merging imperceptibly into the next, the whole forming a straight line signifying changes in a single direction”

bertingkat yang rapat, tingkat yang satu lebur secara mulus ke tingkat berikutnya, sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah garis lurus yang mencerminkan rangkaian perubahan dari suatu titik (rendah) menuju ke suatu titik lain (tinggi). Transisi atau perpindahan dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi atau sebaliknya lazim berlangsung secara gradual atau bertahap.

Kontinum fisik mencerminkan perubahan dalam variabel fisik tertentu yang dapat diukur dalam satuan ukuran fisik, sedangkan

kontinum psikologisnya mencerminkan bentuk pengalaman indera terkait. Dalam contoh kasus membandingkan berat serangkaian

objek, kontinum fisiknya adalah berat rangkaian objek dengan satuan

ukuran gram, sedangkan kontinum psikologisnya adalah sensasi tekanan dengan kuantitas yang berlainan sesuai berat masing-masing

objek. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Dengan kata lain, kontinum fisik merupakan kontinum stimulus,

sedangkan kontinum psikologisnya merupakan kontinum respon.

Perubahan pada kontinum fisik atau stimulus bisa langsung

diamati berupa perubahan objek dengan berat yang semakin meningkat. Perubahan dalam kontinum psikologis atau respon yang menyertainya berupa sensasi tekanan dengan kuantitas yang juga semakin meningkat tidak bisa diamati secara langsung sebab bersifat

covert atau tertutup dalam arti berlangsung dalam diri individu. Perubahan pada kontinum psikologis tersebut baru bisa di-

inferensi-kan atau disimpulinferensi-kan manakala subjek diminta mengungkapinferensi-kan pengalaman sensasinya dalam bentuk verbal report atau laporan verbal berupa judgment atau penilaian. Dengan kata lain, muncullah kontinum ketiga berupa kontinum penilaian. Kontinum penilaian ini diasumsikan bersifat paralel dalam arti berkorelasi secara sempurna dengan kontinum respon dan dengan demikian juga terkait dengan kontinum stimulus (Guilford, 1954).

Penerapan gagasan dasar psikofisika dalam pengukuran

psikologis pada umumnya kurang lebih akan menghasilkan gambaran sebagai berikut. Penyajian aneka tugas yang harus dikerjakan oleh subjek dalam rangka pengukuran atribut psikologis tertentu akan membentuk sejenis kontinum fisik. Kontinum respon yang merupakan

manifestasi atau perwujudan pemilikan subjek atas atribut terkait dalam kuantitas atau jumlah tertentu terbentuk dalam diri subjek saat subjek mengerjakan tugas-tugas tersebut. Kontinum respon ini bersifat covert atau tidak bisa diamati secara langsung sebab berupa proses psikologis yang berlangsung dalam diri subjek. Keberadaan kontinum respon yang mencerminkan pemilikan subjek atas atribut psikologis yang sedang diukur dalam kuantitas tertentu tersebut baru bisa disimpulkan hanya sesudah subjek mengungkapkan responnya dalam bentuk tingkah laku overt atau yang bisa diamati secara langsung, entah berupa ungkapan penilaian (judgment) atau ungkapan perasaan (sentiment) sebagai bentuk manifestasi atau perwujudan pengerjaan tugas-tugas yang diberikan dalam rangka pengukuran. Ungkapan penilaian atau ungkapan perasaan ini akan membentuk kontinum penilaian atau kontinum perasaan, dan dari situ kita bisa membuat inferensi atau kesimpulan tentang kontinum respon

yang mencerminkan kuantitas atribut yang sedang diukur yang terdapat dalam diri subjek.Begitulah kurang lebih prinsip dasar kerja

psikometri atau pengukuran psikologis.

Jawaban atas pertanyaan kedua terkait keabsahan kita melekatkan bilangan pada tingkah laku dalam rangka mengukur sebuah atribut psikologis dan yang merupakan hakikat pengukuran (psikologis), kiranya bisa kita peroleh dari pandangan dua tokoh, yaitu Thurstone (1959, dalam Andrich, 1990) dan Stevens (1946). Menurut Thurstone, salah satu prinsip yang mendasari pengukuran adalah konsep unidimensionalitas. Maksudnya, semua fenomena yang kompleks termasuk atribut psikologis dapat ditempatkan dalam satu kontinum tunggal yang bersifat linear atau membentuk garis lurus. Selanjutnya, menurut Stevens, pelekatan atau peneraan bilangan pada objek atau pengukuran yang sudah ditempatkan dalam satu kontinum tersebut menjadi mungkin dilakukan karena “there is a certain isomorphism between what we can do with the aspects of objects and the properties ot the numeral series” (h. 677). Maksudnya, pengukuran termasuk pengukuran psikologis menjadi mungkin dilakukan karena

yang dapat kita lakukan terhadap aspek-aspek objek dengan ciri-ciri rangkaian bilangan. Menurut Stevens (1946), jenis-jenis operasi atau tindakan empiris yang dapat kita lakukan terkait aspek-aspek objek dan yang memiliki kesamaan struktur dengan ciri-ciri rangkaian bilangan meliputi: (1) penentuan kesetaraan atau kesamaan atau

pengklasifikasian, (2) Koefisien Phi . rank ordering atau penjenjangan, (3) penentuan kapan perbedaan antar aspek-aspek objek adalah setara atau sama, dan (4) penentuan kapan rasio antar aspek-aspek objek adalah setara atau sama. Sebagaimana akan kita lihat di bagian berikut, jenis operasi atau tindakan empiris yang kita lakukan terhadap aspek-aspek objek yang menjadi sasaran pengukuran kita akan menentukan jenis skala atau taraf pengukurannya (Stevens, 1946).

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 41-44)