• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Pengukuran Psikologis adalah Atribut

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 34-40)

Latar Belakang & Beberapa Konsep Dasar

B. Pengukuran Psikologis

2. Sasaran Pengukuran Psikologis adalah Atribut

Dalam pengukuran pada umumnya maupun pengukuran psikologis pada khususnya, peneraan atau penetapan bilangan dilakukan dengan tujuan untuk “to represent quantities of attributes

atau “representing properties of the individual.” Jadi, sasaran pengukuran bukan objek atau individu atau orang, melainkan properties atau

yang menjadi sasaran adalah aspek atau segi tertentu dari objek atau orang yang disebut atribut, bukan objek atau orangnya sendiri. Atribut

pada orang dapat bersifat fisik, seperti tinggi badan, berat badan, kekuatan kepalan tangan, dan sebagainya. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Atribut fisik lazim bersifat

konkret dan bisa diamati atau bisa diukur secara langsung. Namun atribut pada orang dapat pula bersifat psikologis seperti kecerdasan, kepemimpinan, kematangan emosi. Atribut psikologis lazim bersifat

abstrak dan tidak bisa diamati atau diukur secara langsung.

Terkait sifat abstrak atribut psikologis yang menjadi sasaran pengukuran, maka pengukuran psikologis menuntut proses abstraksi

(Nunnally, Jr., 1970). Melalui proses abstraksi, seorang ilmuwan psikologi yang bermaksud mengukur suatu atribut psikologis tertentu dituntut terlebih dulu mendefinisikan hakikat atribut yang

akan diukurnya itu. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Pendefinisian yang dimaksud berlangsung dalam dua langkah atau tahap, yaitu tahap pertama berupa pendefinisian secara konseptual dan tahap kedua berupa pendefinisian secara

operasional.

Pada tahap pertama, sang ilmuwan psikologi yang bermaksud mengukur sebuah atribut psikologis perlu merumuskan definisi

konseptualatau definisi teoretisatribut yang bersangkutan. Di sini

atribut yang hendak diukur tersebut dipandang sebagai sebuah konsep

atau pengertian baru, dan dicoba dijelaskan dengan menggunakan konsep-konsep lain yang sudah lebih dikenal (Blalock, Jr., 1979). Misal, seorang pakar psikologi menjelaskan konsep reaction time atau waktu reaksi sebagai “the time between the onset of a stimulus that serves as a signal and the beginning of a response that is made as quickly as possible to the signal” (Yaremko et al., 1982). Dalam contoh ini, waktu reaksi

adalah sebuah atribut yang dinyatakan sebagai sebuah konsep baru. Konsep baru tersebut dijelaskan dengan menggunakan sejumlah konsep (kunci) lain yang sudah lebih kita kenal. Beberapa konsep kunci yang dimaksud adalah “jeda”, “stimulus”, “tanda”, “respon”, dan “secepat mungkin.” Sehingga konsep waktu reaksi kita pahami sebagai “jeda antara kemunculan sebuah stimulus yang berfungsi

sebagai tanda dan dimulainya sebuah respon yang dilakukan secepat mungkin terhadap tanda tersebut.”

Dalam pengukuran psikologis kebanyakan atribut atau konsep yang menjadi sasaran pengukuran merupakan hasil konstruksi atau pemikiran para pakar psikologi bertolak dari pengamatan mereka terhadap fenomena perilaku tertentu.Contoh, saat diberi tugas oleh

Menteri Pendidikan untuk mengidentifikasikan murid-murid yang

mengalami kesulitan menempuh pengajaran dalam sekolah umum di kota Paris, Prancis, Alfred Binet dan rekannya Victor Henri Simon pada 1904 merancang alat yang kemudian menjadi salah satu cikal bakal tes inteligensi, khususnya untuk anak-anak.

Mereka mendefinisikan inteligensi atau kecerdasan sebagai

judgment, otherwise known as good sense, practical sense, initiative, or the faculty of adapting oneself. To judge well, to understand well – these are the essential wellsprings of intelligence” (Binet & Simon, 1905, dalam Gregory, 2007, h. 56). Jadi, menurut Binet dan Simon, sumber yang membuat sebagian murid tersebut tidak mampu mengikuti pengajaran di sekolah seperti kebanyakan murid lain terletak pada inteligensi atau kecerdasan mereka yang kurang. Binet dan Simon

mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memberikan

penilaian, kemampuan berpikir, kemampuan mengerjakan hal-hal praktis, kemampuan berinisiatif, atau kemampuan beradaptasi atau menyesuaikan diri, khususnya pada tugas-tugas yang dihadapi dalam pengajaran di sekolah. Jadi, kendati gejala-gejalanya tampak dalam perilaku, namun inteligensi atau kecerdasan seperti juga banyak konsep psikologis lainnya merupakan konstruk teoretis, yaitu hasil konstruksi atau pemikiran konseptual-teoretis pakar psikologi yang bersifat abstrak dalam arti tidak bisa diamati secara langsung.

Sesudah berhasil didefinisikan secara konseptual menjadi

sebuah konstruk, sebuah atribut psikologis yang bersifat abstrak

tersebut perlu didefinisikan pada langkah atau tahap berikutnya,

yaitu tahap definisi operasional. Definisi operasional adalah definisi

mengukur atribut yang bersangkutan (Blalock, Jr., 1979). Langkah ini merupakan perwujudan dari apa yang dikenal sebagai operasionisme

dalam psikologi (Stevens, 1935). Operasionisme berasal dari kata

operasi. Menurut Stevens (1935), “operation is the performance which we execute in order to make known a concept” (h. 323). Maksudnya, operasi adalah kinerja atau tindakan yang kita lakukan untuk menjelaskan sebuah konsep. Dalam psikologi, konsep yang diungkapkan dalam kata atau pernyataan menjadi bermakna hanya jika kriteria kebenaran atau keberadaannya terdiri atas sejumlah operasi atau tindakan yang bisa dilaksanakan (Stevens, 1936). Konsep kecerdasan misalnya, hanya menjadi bermakna karena kriteria keberadaannya mencakup rangkaian tindakan seperti mampu menyebutkan secara tepat bagian yang kurang atau hilang dalam gambar, mampu merangkai potongan-potongan gambar menjadi sebuah kisah, dan sebagainya.

Salah satu bentuk operasi yang paling fundamental adalah

denoting atau pointing to atau “menunjuk” pada benda atau peristiwa yang dimaksudkan oleh sebuah istilah atau konsep tertentu (Stevens, 1935). Namun jika dicermati, dalam tindakan menunjuk selalu terkandung perbuatan melakukan diskriminasi atau pembedaan. Maka ada yang menyatakan bahwa “discrimination is the sine qua non of any and every operation including that of denoting”. Maksudnya, diskriminasi merupakan kondisi atau syarat mutlak setiap bentuk operasi termasuk penunjukan. Bahkan, “discrimination is the fundamental operation of all science” atau bahwa diskriminasi atau tindakan melakukan pembedaan adalah operasi fundamental semua ilmu pengetahuan (Stevens, 1935, h. 324). Dengan demikian,

operasionisme adalah “referring any concept for its definition to the

concrete operations by which knowledge of the thing in question is

had. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi .” Maksudnya, operasionisme adalah tindakan mendefinisikan

setiap konsep dengan cara mengacu atau menunjuk pada aneka operasi konkret yang mengandung penjelasan tentang konsep yang dimaksud (Stevens, 1935, h. 323).

Dalam praktek, operasionalisasi seperti diuraikan di atas dapat dilakukan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut. Pertama-tama konsep atau konstruk tersebut perlu di-eksplikasi-kan, yaitu

diidentifikasikan behavioral indicators atau indikator-indikator

tingkah lakunya berupa bentuk-bentuk tingkah laku spesifik yang

bisa diamati dan diukur, baik yang bersifat mendukung (favorable) maupun yang bersifat menyangkal atau mengingkari (unfavorable) keberadaan konstruk psikologis yang bersangkutan. Langkah ini disebut eksplikasi konstruk (Friedenberg, 1995).

Sebagai contoh, sesudah mendefinisikan inteligensi

sebagai kemampuan beradaptasi, Binet dan Simon selanjutnya

mengidentifikasikan bentuk-bentuk tingkah laku spesifik sebagai

indikator-indikator tingkah lakunya. Contoh sebagian bentuk tingkah laku yang dijadikan indikator tingkah laku inteligensi oleh Binet dan Simon adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 2.1. Bentuk-bentuk tingkah laku ini memang bersifat mendukung (favorable) keberadaan konstruk inteligensi. Jika seorang anak mampu melakukannya dengan berhasil, hal itu mengindikasikan secara positif atau favorable

(keberadaan atau kebenaran)inteligensinya. Sebaliknya jika dia gagal melakukannya dengan berhasil, hal itu mengindikasikan secara negatif atau unfavorable (ketidak-beradaan atau ketidak-benaran) inteligensinya.

Tabel 2.1.

Indikator Tingkah Laku Inteligensi Anak ala Binet dan Simon (1905)

Nomor Bentuk tingkah Laku

1 Mengikuti dengan kedua mata sebuah objek yang bergerak. 2 Memegang sebuah objek kecil yang disentuh.

3 Mengupas dan memakan sebuah kubus cokelat yang terbungkus kertas. 4 Melaksanakan beberapa perintah sederhana dan menirukan beberapa

gerakan sederhana.

5 Mengulang menyebutkan tiga bilangan. 6 Membandingkan berat dua benda.

7 Mengulang sebuah kalimat terdiri atas 15 kata.

8 Menyebutkan persamaan antara dua benda, e.g. “kupu-kupu dan kutu.” 9 Membandingkan dua garis dengan perbedaan panjang yang tipis. 10 Merangkai tiga kata menjadi sebuah kalimat.

Sumber: Gregory (2007), h. 57.

Selanjutnya, berdasarkan indikator-indikator tingkah laku baik yang favorable maupun unfavorable tersebut dikembangkan aneka operasi yang mengandung penjelasan tentang konsep atau atribut yang dimaksud, baik secara positif maupun secara negatif. Pada kasus pengukuran kecerdasan anak yang dilakukan oleh Binet dan Simon (1905), indikator-indikator tingkah laku tersebut sekaligus dipakai sebagai item-item – jadi, sebagai prosedur aktual -- untuk mengukur taraf inteligensi anak-anak. Hasilnya dipakai sebagai dasar untuk memilah mereka yang dipandang mampu mengikuti pendidikan di sekolah umum dan mereka yang dipandang perlu mengikuti pendidikan di sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang saat itu disebut memiliki mental retardation atau keterbelakangan mental, atau yang kini lebih lazim disebut anak-anak difabel atau anak-anak dengan different abilities atau memiliki kemampuan yang berbeda dari anak pada umumnya.

3. Pengukuran Merupakan Proses

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 34-40)