• Tidak ada hasil yang ditemukan

Segi Desain atau Rancangan Tes Sebagaimana sudah disinggung, pada segi desain atau

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 133-137)

Syarat Tes yang Baik

A. Segi Desain atau Rancangan Tes Sebagaimana sudah disinggung, pada segi desain atau

rancangannya ada empat syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah tes yang baik, yaitu: (1) memiliki tujuan yang dirumuskan secara jelas;

(2) Koefisien Phi . memiliki ranah isi yang dirumuskan secara spesifik dan baku; (3) Koefisien Phi .

memiliki prosedur administrasi yang baku; dan (4) memiliki prosedur penskoran yang baku. Marilah kita tinjau masing-masing ciri tersebut satu demi satu.

1. Tujuan yang Jelas

Tujuan tes mencakup tiga hal: (a) atribut psikologis yang hendak diukur, (b) populasi subjek yang akan dikenai tes, dan (c) jenis skor

dalam arti cara skor hasil tes akan digunakan (Friedenberg, 1995).

a. Atribut Psikologis yang Hendak Diukur. Hal ini terkait dengan domain atau ranah yaitu dimensi kepribadian atau wilayah perilaku yang menjadi fokus atau sasaran tes. Sebagaimana sudah diuraikan dalam Bab 4, ranah atau wilayah perilaku bisa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu ranah kognitif terkait dengan kemampuan olah pikir atau olah cipta, ranah afektif terkait dengan kemampuan olah rasa dan olah karsa, serta ranah psikomotor terkait dengan kemampuan olah gerak. Sebagaimana juga sudah disinggung, berdasarkan ranah atau wilayah perilaku yang diukur tes dibedakan ke dalam dua golongan besar, yaitu (1) maximal performance tests atau tes kinerja maksimal, dan (2) typical performance tests atau tes kinerja tipikal atau khas. Golongan tes yang pertama cocok untuk mengukur jenis-jenis kemampuan dalam ranah kognitif dan psikomotor, sedangkan golongan tes yang kedua cocok untuk mengukur jenis-jenis kemampuan dalam ranah afektif. Maka sebagai langkah pertama dalam merancang sebuah tes penting sekali merumuskan secara jelas ranah dalam arti dimensi kepribadian atau wilayah perilaku tempat atribut atau kemampuan psikologis yang hendak diukur berada.

b. Populasi Subjek yang Akan Dikenai Tes. Hal ini terkait dengan audience atau khalayak, yaitu populasi subjek yang akan menjadi sasaran pengetesan dalam arti dikenai tes. Sebagaimana kita tahu, sebuah tes hanya akan memberikan hasil yang valid bagi populasi subjek tertentu sebagaimana direncanakan sejak awal konstruksi atau penyusunannya. Tes inteligensi untuk populasi subjek dewasa seperti tes WAIS misalnya, tidak akan memberikan hasil yang valid jika diadministrasikan atau dikenakan pada sampel subjek anak-anak. Sebaliknya, tes inteligensi yang khusus diperuntukkan bagi populasi subjek kanak-kanak seperti tes WISC misalnya, tidak akan memberikan hasil yang valid jika dikenakan pada sampel

subjek dewasa. Maka, khalayak untuk siapa sebuah tes ditujukan harus dirumuskan secara jelas sejak awal. Alasan lain, perbedaan khalayak juga bisa berdampak langsung terhadap jenis tugas yang harus digunakan sebagai item-item tes karena terkait perbedaan kemampuan kelompok subjek. Tes inteligensi untuk populasi kanak-kanak misalnya, harus lebih mengandalkan jenis-jenis tugas yang bersifat nonverbal sebab kemampuan berbahasa populasi kanak-kanak secara umum masih terbatas.

c. Jenis Skor. Sebagaimana sudah kita lihat dalam Bab 4, skor hasil tes dapat digunakan dengan berbagai cara. Dalam norm-referenced scoring atau penskoran beracuan norma, skor tes digunakan untuk membandingkan kinerja relatif seorang testi dengan kelompok sebayanya. Dalam criterion-referenced scoring atau penskoran beracuan kriteria, skor tes digunakan untuk membandingkan kinerja seorang testi dengan kriteria absolut untuk menunjukkan taraf penguasaan atau taraf pemilikan atas atribut psikologis tertentu secara absolut. Dalam penskoran normatif, skor tes digunakan untuk menunjukkan taraf penguasaan atau taraf pemilikan seorang testi atas suatu atribut psikologis dalam tes yang dimaksudkan untuk mengukur sebuah atribut psikologis tunggal tertentu. Dalam penskoran ipsatif, skor tes digunakan untuk menunjukkan taraf penguasaan atau taraf pemilikan relatif seorang testi atas suatu atribut psikologis dibandingkan dengan taraf penguasaan atau taraf pemilikannya atas satu atau lebih atribut psikologis lain dalam tes yang dimaksudkan untuk mengukur lebih dari satu atribut psikologis secara serentak atau bersamaan. Jenis penggunaan skor yang direncanakan seringkali berdampak menentukan format item, taraf kesukaran item, maupun struktur tes secara keseluruhan. Maka, jenis skor yang hendak dipakai harus dirumuskan secara jelas sejak awal dalam konstruksi atau pengembangan tes.

2. Ranah Isi yang Jelas dan Baku

Seperti sudah disinggung, content atau isi tes psikologis menunjuk pada gugusan tingkah laku, pengetahuan, ketrampilan, abilitas, sikap, atau karakteristik lain yang hendak diukur oleh tes. Isi

yang dimaksud lazimnya dijabarkan dalam sebuah tabel spesifikasi

yang rinci serta dipilah ke dalam kategori-kategori antara lain untuk memudahkan pengelompokan item-itemnya (AERA, APA, & NCME, 1999). Seperti sudah disinggung, karena sebagian besar objek atau sasaran tes psikologis berupa konstruk teoretis yang tidak memiliki batas ranah isi yang jelas, maka perumusan isi dalam konstruksi atau pengembangan tes sering harus didahului dengan eksplikasi konstruk,

yaitu identifikasi bentuk-bentuk tingkah laku, keyakinan, dan sikap spesifik yang menunjukkan maupun sebaliknya yang menyangkal

keberadaan konstruk yang dimaksud. Hasil eksplikasi konstruk ini selanjutnya dipakai untuk merumuskan isi tes (Friedenberg, 1995). Selain jelas, isi tes juga harus baku dalam arti semua subjek atau testi harus dikenai item-item yang mewakili cakupan isi yang sama (Friedenberg, 1995).

3. Prosedur Administrasi Baku

Prosedur administrasi tes lazim dituangkan dalam manual

atau buku instruksi tes, berupa aneka petunjuk bagi testi dan aneka pedoman tentang kondisi pelaksanaan tes. Petunjuk bagi testi antara lain mencakup cara testi memberikan respon, jenis bantuan yang boleh diberikan kepada testi jika mereka tidak memahami pertanyaan atau tugas, cara testi mengubah atau membetulkan respon yang keliru, dan waktu pengerjaan tes. Kondisi pelaksanaan tes mencakup antara lain pedoman tentang pengaturan penerangan dan keheningan ruang tempat tes berlangsung. Prosedur administrasi tes disebut

standardized atau baku jika petunjuk dan kondisi pelaksanaan tes bagi semua testi sungguh-sungguh mengikuti prosedur rinci yang sudah diuraikan oleh pengembang tes dalam buku instruksi tes (AERA, APA, & NCME, 1999).

4. Prosedur Penskoran Baku

Manual atau buku instruksi tes juga memuat uraian yang rinci dan jelas tentang cara menskor dan melaporkan hasil tes. Pembakuan prosedur penskoran ini diperlukan untuk menjamin ketepatan penskoran dan pelaporan hasil tes. Penskoran tes bisa dilaksanakan dengan mesin, atau dilakukan secara manual oleh petugas. Jika dilakukan oleh mesin, maka ketepatan kerja mesin harus terjamin. Jika dilakukan oleh petugas, maka petugas harus benar-benar terlatih (AERA, APA, & NCME, 1999).

Skor tes dalam bentuk raw score atau skor kasar belum bisa ditafsirkan. Untuk menafsirkannya perlu informasi lain berupa norma atau standar, indikasi tentang kemungkinan kesalahan pengukuran, serta deskripsi tentang isi tes. (AERA, APA, & NCME, 1999). Untuk menjamin ketepatan penafsiran semua jenis informasi tersebut juga perlu dibakukan dan diuraikan dengan jelas oleh pengembang tes dalam manual atau buku petunjuk tes. Cara pelaporan hasil tes, meliputi skor dan penafsirannya, kepada testi maupun pihak lain juga perlu dibakukan. Pelaporan hasil tes semacam ini sering perlu dilengkapi dengan keterangan tentang keterbatasannya serta kemungkinan kaitannya dengan informasi lain. Pada sejumlah tes tertentu, laporan hasil tes tidak perlu mencakup skor yang dicapai testi, melainkan cukup berupa rumusan penafsiran secara garis besar

atau berupa klasifikasi dikotomis seperti “lulus” atau “gagal” (AERA,

APA, & NCME, 1999).

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 133-137)