Penilaian beracuan lulus/gagal atau beracuan penguasaan ini bukan pendekatan yang sama sekali baru, melainkan sejenis aplikasi dari dua pendekatan yang pertama. Maksudnya, nilai yang diperoleh baik melalui penilaian beracuan patokan materi maupun beracuan patokan tujuan sama-sama bisa ditransformasikan ke dalam jenis lain, khususnya untuk memilah testi atau murid menjadi dua kategori: (a) mereka yang kinerjanya dalam tes memenuhi patokan yang ditentukan (lulus), dan (b) mereka yang kinerjanya dalam tes tidak memenuhi patokan yang ditentukan (gagal). Lazimnya, guru atau pimpinan sekolah memilih salah satu skor tes yang dipandang mencerminkan taraf kinerja (minimal) yang diharapkan. Skor itulah yang dijadikan patokan, semua siswa yang mencapai skor sama atau lebih besar dari patokan dinyatakan lulus, dan semua siswa yang mencapai skor kurang dari patokan dinyatakan gagal. Perbedaan skor dalam masing-masing kategori lulus atau gagal tidak lagi memiliki makna.
Kendati tetap memiliki sejumlah kekurangan, pendekatan penilaian beracuan patokan ini secara umum dipandang lebih mencerminkan apa yang benar-benar bisa dilakukan oleh murid terkait pengetahuan, ketrampilan, atau kemampuan yang diajarkan dalam setiap mata pelajaran, dibandingkan dengan pendekatan beracuan norma (Shermis & Di Viesta, 2011).`
5. Prediksi tentang Tingkah Laku Nontes
Tujuan akhir penerapan tes psikologis pada seorang subjek adalah memprediksikan tingkah lakunya di luar konteks tes psikologis itu sendiri, yaitu dalam situasi kehidupan nyata sehari-hari entah dalam konteks pekerjaan, pendidikan sekolah, hubungan perkawinan, dan sebagainya. Asumsinya, pelaksanaan tugas dalam
konteks kehidupan tertentu menuntut penguasaan atau pemilikan atribut psikologis tertentu yang sampel atau contoh indikator tingkah lakunya dipilih sebagai item atau butir tes. Maka dengan mengetahui hasil tes seseorang yang mengukur atribut psikologis tertentu kita bisa memprediksikan keberhasilannya melaksanakan tugas-tugas dalam konteks kehidupan tertentu yang mempersyaratkan pemilikan atribut psikologis yang bersangkutan. Contohnya, keberhasilan menempuh program pendidikan sekolah mempersyaratkan inteligensi atau kecerdasan. Dengan menggunakan hasil tes inteligensi sebagai dasar seleksi calon siswa, kita bisa hanya memilih calon-calon yang memiliki inteligensi cukup sehingga kita prediksikan akan berhasil menempuh program pendidikan yang kita selenggarakan.
Prediksi lazimnya dilakukan dengan menyelidiki korelasi antara hasil tes atribut psikologis tertentu dengan satu atau lebih ukuran tingkah laku yang kita prediksikan. Hasil tes atribut psikologis tertentu yang dipakai sebagai dasar prediksi lazim disebut prediktor
dan dilambangkan dengan huruf besar Latin X, sedangkah ukuran tingkah laku yang diprediksikan disebut kriteria dan dilambangkan dengan huruf besar Latin Y. Kembali pada contoh kita memprediksikan keberhasilan menempuh program pendidikan berdasarkan hasil tes inteligensi. Prediktor atau X-nya adalah hasil tes inteligensi, sedangkan kriteria atau Y-nya terlebih dulu harus kita tentukan. Ukuran tingkah laku atau kinerja seseorang dalam menempuh program pendidikan di perguruan tinggi bisa berupa Indeks Prestasi baik yang dicapainya pada semester tertentu (Indeks Prestasi Semester, disingkat IPS) atau yang dicapainya secara akumulatif sesudah beberapa semester atau bahkan sesudah menyelesaikan seluruh program pendidikan (Indeks Prestasi Kumulatif, disingkat IPK), atau berupa keseluruhan masa studi yang ditempuhnya untuk menyelesaikan program pendidikan tersebut entah dihitung dalam bulan atau tahun, atau bahkan lainnya. Kita bisa menggunakan satu atau lebih ukuran tersebut sebagai kriteria, namun lazimnya kita akan memilih salah satu yang ketika dikorelasikan dengan prediktor memberikan prediksi yang terbaik.
Maka, daya prediksi sebuah prediktor terhadap kriteria
lazim dinyatakan dalam sebuah koefisien korelasi antara prediktor
dan kriteria, dilambangkan rxy. Sebagaimana lazim, pembacaan
koefisien korelasi didasarkan pada arah dan besarnya. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Arah korelasi ditunjukkan oleh tanda positif atau negatif di depan koefisien
korelasi. Korelasi antara prediktor dan kriteria bisa positif atau searah, yaitu peningkatan (atau penurunan) skor pada prediktor diiringi peningkatan (atau penurunan) skor yang kurang lebih setara pada kriteria. Atau sebaliknya, korelasi antara prediktor dan kriteria bisa negatif atau berlawanan arah, yaitu peningkatan skor pada prediktor justru diiringi penurunan skor yang kurang lebih setara pada krtierion. Arah korelasi antara prediktor dan kriteria ditentukan oleh argumentasi teoretis atau konseptual yang mendasarinya. Sebagai contoh, secara teoretis-konseptual inteligensi berkorelasi secara positif dengan prestasi belajar. Sebaliknya, kecemasan berkorelasi secara negatif dengan hasil ujian.
Besar korelasi ditunjukkan oleh bilangan koefisien korelasinya
yang berkisar antara 0 yang secara teoretis berarti tidak ada korelasi sama sekali, sampai dengan 1 entah bertanda plus atau minus yang secara teoretis berarti berkorelasi secara sempurna entah searah atau berlawanan arah. Daya prediksi lazim bergerak di antara kedua bilangan ekstrim tersebut.
Interpretasi terhadap koefisien korelasi, entah positif atau
negatif, lazim didasarkan pada besarnya dan ada dua cara. Pertama,
dengan menguji signifikansi atau kebermaknaannya. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Yang dimaksud signifikansi atau kebermaknaan adalah apakah korelasi antara prediktor
dan kriteria yang diamati berdasarkan data sampel tersebut sungguh-sungguh mencerminkan keadaan pada populasinya, sehingga akan diperoleh hasil yang tetap sama bilamana diamati berdasarkan data dari berbagai sampel lain – dengan kata lain, bersifat sistematis – atau
sekadar karena faktor kebetulan? Uji signifikansi semacam ini lazim dilakukan dengan membandingkan koefisien korelasi yang teramati
tersebut (ro kependekan dari robserved) dengan nilai kritisnya pada tabel
tertentu (lazimnya, p=0,05 atau p=0,01) dan dengan memperhatikan
df atau degree of freedom atau db atau derajat kebebasan-nya. Korelasi
antara prediktor dan kriteria disebut signifikan atau bermakna jika ro
≥ rt pada taraf signifikansi atau p tertentu.
Cara kedua menafsirkan koefisien korelasi adalah dengan
menghitung koefisien determinasi. Pertama, koefisien korelasi yang
diperoleh atau teramati dikuadratkan (r2) Koefisien Phi .. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Jika koefisien korelasi
kuadrat ini kemudian dikalikan 100%, hasilnya menunjukkan besar persentase variasi (skor) dalam kriteria yang dideterminasikan atau ditentukan dalam arti bisa diprediksikan atau bisa dijelaskan oleh variasi (skor) dalam prediktor, atau sebaliknya. Kembali pada
contoh di atas, seandainya ditemukan koefisien korelasi antara hasil
tes inteligensi sebagai prediktor (X) dan IPK sebagai kriteria (Y) rxy
= 0,83, maka koefisien determinasi antara kedua variabel tersebut
adalah adalah rxy2 = 0,69. Berarti 69% variasi IPK bisa dijelaskan berdasarkan variasi pada skor hasil tes inteligensi. Semakin tinggi
koefisien korelasi antara prediktor dan kriteria, semakin tinggi koefisien determinasinya, semakin besar persentase variasi pada
kriteria yang bisa dijelaskan berdasarkan variasi dalam prediktor, dan berarti semakin besarlah daya prediksi prediktor.
Karakteristik kelima dalam definisi tes psikologis ini memiliki
dua implikasi penting. Pertama, bentuk tingkah laku yang dituntut dalam tes sebagai item-item tes tidak harus menyerupai bentuk tingkah laku nyata di luar tes yang dicoba diprediksikan. Kedua, pada akhirnya yang menjadi fokus perhatian seorang asesor adalah non-test behaviors atau tingkah laku nontesnya, yaitu tingkah laku dalam menghadapi berbagai tugas kehidupan sehari-hari yang hendak diprediksikan dengan tes yang bersangkutan, dan bukan tingkah laku atau respon subjek dalam tes per se atau pada dirinya.
C. Jenis Tes Psikologis
Tes psikologis dapat digolong-golongkan dengan berbagai
cara. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Beberapa cara yang lazim diterapkan dalam mengklasifikasikan
psikotes adalah berdasarkan tujuan, isi, dan format administrasinya (Friedenberg, 1995). Uraian lebih rinci tentang penggolongan tes dengan tiga dasar yang dimaksud adalah seperti dipaparkan di bawah ini.
1. Penggolongan Tes Berdasarkan Tujuan
Tujuan tes dalam arti apa atau siapa yang dituju atau dijadikan sasaran tes lazim dibedakan ke dalam tiga hal (Friedenberg, 1995): (a) domain atau ranah atribut yang diukur, (b) audience atau khalayak yang akan dikenai tes, dan (c) types of scores atau jenis skor, dalam arti bagaimana hasil tes akan digunakan. Marilah kita tinjau pembagian lebih lanjut berdasarkan masing-masing dasar penggolongan di atas.