• Tidak ada hasil yang ditemukan

3). Tes dengan Ipsative Scores

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 105-111)

Sejumlah tes bertujuan mengukur serangkaian atribut psikologis yang berlainan sekaligus. Selain itu terhadap serangkaian atribut psikologis yang berbeda-beda tersebut tes ini tidak bertujuan mengukur kekuatan absolut masing-masing atribut, melainkan kekuatan relatifnya dibandingkan dengan setiap atribut yang lain. Tes semacam ini menghasilkan jenis skor yang disebut skor ipsatif. Skor ipsatif pada dasarnya bertujuan mengurutkan secara berjenjang kekuatan serangkaian atribut psikologis, bisa berupa kebutuhan, rasa suka, atau kecenderungan bertingkah laku dalam perbandingannya satu dengan yang lain dalam diri seseorang (Friedenberg, 1995). Dalam tes yang mengukur serangkaian atribut dengan skor ipsatif, seorang testi tidak mungkin mencapai skor tinggi pada semua atribut, atau sebaliknya mencapai skor rendah pada semua atribut, atau mencapai skor dengan pola tinggi-rendah sembarang, melainkan akan mencapai pola skor yang mencerminkan jenjang urutan kekuatan dari masing-masing atribut (Friedenberg, 1995). Karena bertujuan membandingkan kekuatan relatif serangkaian atribut, item-item tes dengan skor ipsatif lazim menggunakan format yang menuntut testi membandingkan atribut yang satu dengan atribut yang lain, lazimnya dengan item berformat forced-choice (Friedenberg, 1995).

Salah satu contoh alat ukur yang menghasilkan skor ipsatif semacam ini adalah Edwards Personal Preference Schedule. Tes ini merupakan inventori kepribadian yang bertujuan mengukur jenis-jenis kebutuhan yang merupakan inti teori kepribadian yang dikemukakan Henry Murray. Sebagaimana diketahui, Murray menyatakan bahwa tingkah laku manusia antara lain digerakkan oleh sejumlah kebutuhan dasar, 15 di antaranya meliputi: (1) achievement atau kebutuhan untuk berprestasi, (2) deference atau kebutuhan untuk tunduk dan mengikuti seseorang yang dikagumi, (3) order atau kebutuhan akan ketertiban, (4) exhibition atau kebutuhan untuk menarik perhatian dari orang

lain, (5) autonomy atau kebutuhan untuk mengatur diri-sendiri, (6) affiliation atau kebutuhan untuk menjalin persahabatan dengan orang lain, (7) intraception atau kebutuhan untuk memandang dunia sekitar secara hangat-optimistik, (8) succorance atau kebutuhan untuk mendapatkan bantuan, perlindungan, dukungan, kasih, penghiburan, dan bimbingan dari orang lain, (9) dominance atau kebutuhan untuk mengendalikan atau memimpin orang lain, (10) abasement atau kebutuhan untuk mengaku salah dan menerima hukuman, (11)

nurturance atau kebutuhan untuk melindungi, memberikan bantuan,

dan menyejahterakan makhluk atau orang lain yang membutuhkan, (12) change atau kebutuhan untuk menghindari kerutinan, mengalami perubahan, (13) endurance atau kebutuhan untuk bertekun dan bekerja keras, (14) heterosexuaity atau kebutuhan untuk merasa tertarik pada lawan jenis, dan (15) aggression atau kebutuhan untuk menyerang atau melukai orang lain, merendahkan, meremehkan, mengolok-olok,

memfitnah, menghukum secara kejam, atau melakukan tindakan

sadis terhadap orang lain.

Murray sendiri bersama sejumlah kolega awalnya mencoba mengukur aneka kebutuhan tersebut dengan menggunakan Thematic Apperception Test, sebuah tes proyektif terdiri dari serangkaian gambar melukiskan aneka tema-peristiwa kehidupan sehari-hari. Kendati menerapkan sistem penskoran, namun karena mengandalkan interpretasi yang bersifat kualitatif-subjektif maka kualitas psikometrik tes proyektif ini oleh sementara pihak dipandang kurang memuaskan. Untuk mengatasinya, sorang psikolog lain bernama Allen L. Edwards (1959) menyusun tes serupa namun dengan menggunakan teknik inventori yang lebih terstruktur dan objektif. Tes yang kemudian terkenal dengan akronim EPPS ini terdiri dari 210 item berupa pasangan-pasangan pernyataan. Dalam setiap item pernyataan yang mengukur salah satu kebutuhan dipasangkan dengan pernyataan yang mengukur 14 kebutuhan lainnya. Dengan item berformat forced-choice testi diminta memilih salah satu pernyataan yang dirasakan sesuai dengan keadaan dirinya pada

kekuatan relatif dari masing-masing kebutuhan dibandingkan aneka kebutuhan lainnya. Jelas kiranya, mustahil seorang testi mencapai skor tinggi pada seluruh kebutuhan, atau sebaliknya mencapai skor rendah pada seluruh kebutuhan, atau mencapai skor tinggi dan rendah pada aneka kebutuhan secara sembarang. Secara terstruktur, jika seseorang mencapai skor tinggi pada kebutuhan tertentu pastilah akan mencapai skor rendah pada kebutuhan lain, sehingga terbentuk

profil kebutuhan yang mencerminkan keunikan atau kekahasan

kecenderungannya dalam bertingkah laku.

4). Tes dengan Normative Scores

Skor normatif mencerminkan kekuatan absolut karakteristik atau atribut tunggal tertentu yang terdapat dalam diri testi (Friedenberg, 1995). Dalam bahasa kuantitatif, skor normatif menunjukkan sebesar atau sebanyak apa seorang testi memiliki atribut tertentu yang sedang menjadi sasaran pengukuran. Penskoran normatif dapat diterapkan pada baik jenis tes yang mengukur sebuah atribut psikologis tunggal maupun pada jenis tes yang mengukur serangkaian atribut psikologis sekaligus. Dalam hal ini berlaku prinsip sebagai berikut: (1) sebuah tes yang mengukur sebuah atribut psikologis tunggal pastilah menghasilkan skor normatif; (2) kesatuan rangkaian tes yang mengukur sejumlah atribut psikologis sekaligus hanya menghasilkan skor normatif jika memang dirancang menerapkan sistem penskoran normatif. Dalam hal yang disebut terakhir, maka seorang testi dapat mencapai skor tinggi pada semua tes, atau sebaliknya mencapai skor rendah pada semua tes, atau mencapai skor yang berlainan pada berbagai tes yang disajikan sebagai satu rangkaian namun dengan menerapkan sistem penskoran normatif (Friedenberg, 1995).

Kebanyakan tes psikologis maupun tes pendidikan merupakan jenis tes yang mengukur sebuah atribut psikologis tunggal dan menerapkan penskoran normatif. Contoh yang paling jelas adalah berbagai tes hasil belajar sumatif pada berbagai mata pelajaran di sekolah yang disusun sendiri oleh guru atau dosen, mulai jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang pendidikan tinggi. Tes

sumatif untuk setiap mata pelajaran atau mata kuliah yang lazim disebut Tes Hasil Belajar (THB) atau Ujian Akhir Semester (UAS) semacam itu dapat dipastikan berdiri sendiri, tidak memiliki kaitan dengan tes sejenis pada setiap mata pelajaran atau mata kuliah lainnya. Hasil tes yang lazim dilaksanakan pada akhir kegiatan pembelajaran atau perkuliahan ini dipandang mencerminkan seberapa tinggi atau banyak setiap murid atau mahasiswa menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang selesai dipelajarinya dalam masing-masing mata pelajaran atau mata kuliah secara terpisah satu dari yang lain.

Sejumlah tes psikologis merupakan test battery atau baterai tes, yaitu berupa rangkaian yang meliputi sejumlah subtes yang mengukur jenis kemampuan yang berlainan. Kendati disajikan secara bersamaan dalam arti sebagai satu rangkaian, namun setiap tes pada dasarnya tetaplah mengukur satu jenis kemampuan secara mandiri. Salah satu contoh baterai tes yang juga cukup dikenal di Tanah Air adalah

Differential Aptitude Tests (DAT) yang disusun oleh Bennett, Seashore, dan Wesman pada 1952 (Nunnally, Jr., 1970). Awalnya baterai tes ini dimaksudkan untuk layanan bimbingan belajar dan bimbingan karir bagi murid-murid sekolah setara SMP dan SMA di Amerika Serikat. Selanjutnya tes ini juga dipakai untuk melakukan seleksi calon karyawan. Secara berkala baterai tes ini terus disempurnakan dan hingga kini merupakan salah satu baterai tes bakat yang paling luas digunakan di berbagai negara (Gregory, 2007).

Baterai tes DAT terdiri atas 8 tes yang berlainan (independent tests), yaitu (Gregory, 2007): (1) Verbal Reasoning atau Berpikir Verbal; item-item tes ini berupa berbagai bentuk analogi verbal yang lebih mengutamakan kemampuan berpikir daripada pemahaman kosa kata; (2) Numerical Reasoning atau Berpikir Numerik; item-item tes ini berupa soal-soal komputasi atau hitungan; (3) Abstract Reasoning atau Berpikir Abstrak; tes ini pada hakikatnya mirip tes Berpikir Verbal, hanya item-itemnya berupa gambar pola-pola abstrak; (4) Spatial

Relations atau Hubungan Ruang; tes ini mengukur kemampuan

mengimajinasikan bagaimana tampak sejumlah objek jika letaknya dirotasikan serta kemampuan memvisualisasikan objek berdimensi

tiga berdasarkan pola berdimensi dua; (5) Mechanical Reasoning atau Berpikir Mekanik; item-item tes terdiri dari gambar-gambar yang menyajikan aneka problem mekanis; (6) Clerical Speed and Accuracy

atau Tes Cepat-Tepat; tes ini mengukur kecepatan persepsi, testi

diminta mengidentifikasikan pasangan-pasangan identik yang terdiri

dari bilangan atau pola sederhana tertentu; (7) Spelling atau Ejaan; tes ini mengukur penguasaan testi tentang ejaan, tentu aslinya terdiri dari soal-soal tentang ejaan bahasa Inggris; dan (8) Language Usage

atau Kemampuan Berbahasa; tes ini mengukur penguasaan testi tentang penerapan kaidah tata bahasa dalam penyusunan kalimat. Ada yang menyatakan bahwa dua tes terakhir yang dalam versi-versi awal digabungkan di bawah judul Language Usage, lebih tepat disebut tes prestasi atau hasil belajar daripada tes bakat (Nunnally, Jr., 1970).

Masing-masing tes di atas bersifat independen atau berdiri sendiri, dalam arti mengukur kemampuan yang berlainan secara mandiri kendati disajikan bersama tes-tes lain sebagai rangkaian. Sifat independen dari masing-masing tes ini melahirkan setidaknya dua konsekuensi sebagai berikut: (1) masing-masing atau beberapa tes dapat diadministrasikan dan hasilnya diinterpretasikan secara mandiri, tidak harus dalam satu rangkaian utuh bersama tes yang lain; (2) seorang testi dapat mencapai hasil yang sama-sama tinggi atau sebaliknya sama-sama rendah pada masing-masing tes. Kedua konsekuensi tersebut menegaskan sifat normatif dari sistem penskoran yang diterapkan dalam baterai tes DAT.

2. Penggolongan Tes Berdasarkan Isi

Seperti sudah disinggung content atau isi tes psikologis terkait dengan domain atau ranah, yaitu dimensi kepribadian atau wilayah perilaku tempat atribut psikologis yang sedang menjadi sasaran pengukuran terletak. Sebagaimana kita ketahui, ranah atau dimensi kepribadian atau wilayah tingkah laku tersebut lazim dibedakan menjadi tiga, yaitu ranah kognitif terkait dengan fungsi berpikir, ranah afektif terkait dengan fungsi merasa, dan ranah psikomotor

terkait dengan fungsi gerak tubuh atau anggota tubuh. Content

atau isi tes psikologis menunjuk pada jenis kemampuan atau jenis atribut psikologis yang terletak dalam masing-masing ranah, dimensi kepribadian atau wilayah tingkah laku tersebut dan yang menjadi sasaran atau objek pengukuran. Istilah “terletak” sebenarnya kurang tepat, sebab setiap bentuk tingkah laku sebagai ungkapan atau perwujudan kemampuan atau atribut psikologis tertentu pastilah melibatkan aneka kemampuan yang terdapat di dalam ketiga ranah tersebut secara serentak. Namun harus diakui bahwa bentuk tingkah laku tertentu lebih didominasi oleh kemampuan yang termasuk ke dalam ranah kognitif, sedangkan bentuk tingkah laku lain lebih didominasi oleh jenis kemampuan yang termasuk ke dalam ranah afektif atau psikomotorik, dan seterusnya. Dalam arti kemampuan dalam ranah mana yang lebih mendominasi itulah kita bisa membedakan jenis-jenis kemampuan yang lazim menjadi content atau isi tes psikologis. Berdasarkan isinya, tes psikologis lazim dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu: (a) tes yang mengukur pengetahuan dan proses berpikir pada umumnya; (b) tes yang mengukur disposisi kepribadian atau kecenderungan bertingkah laku, dan (c) tes yang mengukur ketrampilan dan pola tingkah laku (Friedenberg, 1995).

a. Tes yang Mengukur Pengetahuan dan Proses

Berpikir

Dalam konteks pendidikan sekolah, pembedaan tentang jenis-jenis pengetahuan dan proses berpikir dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, jenis-jenis pengetahuan bisa dibedakan berdasarkan content atau isi subject matter atau mata pelajarannya. Kedua, jenis-jenis pengetahuan dan jenis-jenis proses berpikir juga dapat dibedakan dengan mengikuti taksonomi tujuan pengajaran khususnya untuk ranah kognitif.

Sebelum membahas lebih lanjut jenis-jenis tes berdasarkan jenis pengetahuan dan proses berpikir yang diukur, kiranya perlu kita tinjau secara sekilas makna dan perkembangan taksonomi tujuan

pengajaran. Taksonomi adalah sejenis cara mengklasifikasikan objek,

dalam hal ini jenis-jenis kemampuan dalam masing-masing ranah. Pada mulanya taksonomi ini dikembangkan dalam rangka membantu para guru merumuskan tujuan pengajaran di sekolah, maka disebut

taxonomy of educational objectives. Tujuan pengajaran pada dasarnya merupakan rumusan tentang learning outcomes atau hasil belajar yang hendak dicapai, lazimnya mencakup dua unsur, yaitu: (1) rumusan tentang isi mata pelajaran tertentu yang dinyatakan dalam kata benda, dan (2) rumusan tentang apa yang harus dikerjakan terhadap isi mata pelajaran tersebut yang dinyatakan dalam kata kerja. Dengan kata lain, rumusan tujuan pengajaran lazim terdiri atas sebuah atau sekumpulan kata benda yang memuat rumusan tentang isi mata pelajaran dan sebuah atau sekumpulan kata kerja yang memuat rumusan tentang proses kognitifnya (Krathwohl, 2002). Sejarah singkat perkembangan taksonomi tujuan pengajaran adalah seperti diuraikan di bawah ini.

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 105-111)