• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon pada Skala Ordinal

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 60-64)

Aneka Respon dalam Pengukuran Psikologis

C. Aneka Respon menurut Taraf Pengukurannya

1. Respon pada Skala Ordinal

Pada jenis respon ordinal ini, baik lewat penilaian atau perasaan subjek diminta melakukan ordinal estimation, yaitu menentukan posisi nilai dari sejumlah objek pada kontinum dalam rangka pengukuran atribut atau variabel tertentu secara ordinal. Ada empat metode estimasi ordinal (Nunnally, Jr., 1970):

a. Metode rank order sederhana. Baik lewat penilaian atau perasaan responden diminta menjenjangkan sejumlah objek terkait atribut atau variabel tertentu, mulai dari yang bernilai tertinggi sampai dengan yang bernilai terendah sehingga membentuk sebuah

kontinum atau bentangan. Misal, kepada seorang subjek disajikan lima jenis buah: apel (A), pisang (B), jeruk (C), salak (D), dan jambu biji (E). Selanjutnya dia diminta menjenjangkan kelima buah itu berdasarkan tingkat favorable-nya, mulai dari yang dia rasakan paling favorable atau yang paling dia sukai sampai dengan yang paling unfavorable atau yang paling tidak dia sukai. Sebagai misal, hasilnya adalah pisang pada jenjang 1, apel pada jenjang 2, jeruk pada jenjang 3, salak pada jenjang 4, dan jambu biji pada jenjang 5, atau B-A-C-D-E. Ketika diminta menjenjangkan kelima buah yang sama berdasarkan penilaiannya terhadap tingkat kemanfaatannya bagi kesehatan tubuh berkat jenis-jenis vitamin yang dikandung oleh masing-masing buah hasilnya bisa saja berbeda, misalnya: C-A-E-B-D. Artinya, jeruk ditempatkan pada jenjang 1, apel pada jenjang 2, jambu biji pada jenjang 3, pisang pada jenjang 4, dan salak pada jenjang 5. Sebagai respon pada skala ordinal, kita tidak tahu apakah jarak antar jenjang adalah sama baik ketika respon itu berupa perasaan maupun penilaian.

b.Metode pair comparisons atau pembandingan secara berpasangan. Subjek diminta menetapkan posisi serangkaian objek dalam suatu kontinum atau bentangan terkait atribut tertentu dengan cara membandingkan jenjang masing-masing objek berpasangan dengan semua objek yang ada. Kembali pada contoh lima buah sebelumnya. Alih-alih menjenjangkan kelima buah itu begitu saja secara sederhana, subjek diminta menentukan jenjang masing-masing buah dibandingkan buah lain sepasang demi sepasang sampai seluruh buah dibandingkan. Sebagai contoh, hasil pembandingan jenjang yang dilakukan oleh responden X terhadap lima buah di atas adalah sebagai berikut:

Apel : pisang = pisang Apel : jeruk = jeruk Apel : salak = apel Apel : jambu biji = apel Pisang : jeruk = pisang Pisang : salak = pisang Pisang : jambu biji = pisang

Jeruk : salak = jeruk Jeruk : jambu biji = jeruk Salak : jambu biji = salak

Dari sepuluh kali pembandingan secara berpasangan, pisang ditempatkan pada jenjang yang lebih tinggi atau diunggulkan sebanyak 4 kali, jeruk 3 kali, apel 2 kali, salak 1 kali, sedangkan jambu biji diunggulkan 0 kali atau tidak pernah diunggulkan. Maka, penjenjangannya adalah sebagai berikut: pisang menempati jenjang 1, jeruk jenjang 2, apel jenjang 3, salak jenjang 4, dan jambu biji menempati jenjang 5. Dari contoh di atas kita juga bisa merumuskan formula untuk mengetahui jumlah pasangan yang akan terbentuk jika kita memiliki sejumlah n objek untuk dipasangkan, yaitu = n(n 1)/2. Namun seperti halnya penjenjangan dengan metode rank order

sederhana, kita tidak tahu apakah jarak antar jenjang adalah sama baik ketika respon itu berupa perasaan maupun penilaian.

c. Metode constant stimuli atau pembandingan dengan stimulus tetap.Metode ini mirip metode pair comparisons. Bedanya, dalam menentukan posisi serangkaian objek pada kontinum terkait atribut tertentu subjek diminta membandingkan masing-masing objek dengan sebuah stimulus tetap atau baku secara random. Subjek diminta melaporkan penilaian atau perasaannya terhadap masing-masing objek dibandingkan dengan sebuah stimulus baku sebagai patokan, yaitu lebih atau kurang, dan seberapa lebih atau kurang masing-masing objek tersebut dibandingkan dengan stimulus bakunya terkait atribut tertentu yang sedang menjadi sasaran pengukuran. Sebagai contoh, untuk mengukur tingkat favorable masing-masing dari lima buah dalam contoh di atas bisa dipakai buah pepaya sebagai stimulus baku. Masing-masing buah dipasangkan dengan pepaya secara random untuk selanjutnya dimintakan penilaian dari responden tentang tingkat favorable masing-masing buah dibandingkan dengan pepaya. Sebagai contoh, hasil pembandingan lima jenis buah dengan pepaya sebagai stimulus baku yang dilakukan oleh responden Y adalah sebagai berikut:

Apel : pepaya = apel Pisang : pepaya = pisang Jeruk : pepaya = jeruk Salak : pepaya = pepaya Jambu biji : pepaya = pepaya

Terlihat, tiga jenis buah – apel, pisang, dan jeruk – dinilai lebih

favorable dibandingkan stimulus patokan pepaya, sedangkan dua buah

lainnya – salak dan jambu biji – dinilai kurang favorable dibandingkan pepaya. Maka, berdasarkan penjenjangan, penskalaannya menjadi sebagai berikut: apel, pisang, dan jeruk masing-masing menduduki posisi (jenjang) 2 pada skala, yaitu jumlah jenjang 1, 2, dan 3 dibagi rata untuk tiga jenis buah (6 : 3 = 2); sedangkan salak dan jambu biji masing-masing menempati posisi (jenjang) 4,5 pada skala, yaitu jumlah jenjang 4 dan 5 dibagi rata untuk dua jenis buah (9 : 2 = 4,5). Namun lagi-lagi, kita tidak tahu apakah jarak antar jenjang adalah sama baik ketika respon itu berupa perasaan maupun penilaian

d. Metode successive categories atau pengkategorian beruntun. Seperti dijelaskan oleh Nunnally, Jr. (1970), dalam metode ini subjek diminta memilah sejumlah besar stimuli ke dalam sejumlah kategori terkait dengan atribut tertentu yang diurutkan mulai dari rendah sampai tinggi. Sebagai contoh, sekitar tahun 2008-2010 terjadi ketegangan antara bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia dipicu oleh

beberapa peristiwa konflik. Pengukuran Merupakan Proses Kuantifikasi . Menanggapi situasi itu, seorang peneliti

ingin mengetahui sikap sekelompok subjek mahasiswa Indonesia terhadap Malaysia. Dia membuat 100 pernyataan dengan isi pesan yang mencerminkan sikap favorable terhadap Malaysia dengan taraf yang berbeda-beda, mulai dari sangat unfavorable sampai sangat favorable. Subjek diminta memilah pernyataan-pernyataan tersebut ke dalam 10 kategori, diurutkan mulai dari kategori 1 yang berarti “sangat favorable” dan menurun secara berturut-turut sampai pada kategori 10 yang berarti “sangat unfavorable”.

Menurut Nunnally, Jr., ada beberapa variasi dalam melakukan kategorisasi, tergantung dari jenis informasi yang ingin dijaring oleh peneliti. Dua variasi yang cukup terkenal adalah teknik ordinal

biasa dan teknik Q sort. Pada teknik ordinal biasa, subjek bebas memasukkan masing-masing pernyataan ke dalam salah satu kategori yang dipilihnya. Hasilnya adalah gambaran sederhana tentang urutan taraf favorableness dari masing-masing pernyataan.

Pada teknik Q sort, subjek diminta mengkategorikan pernyataan-pernyataan sedemikian rupa sehingga pernyataan-pernyataan-pernyataan-pernyataan tersebut terdistribusikan secara normal dalam sepuluh kategori. Hasilnya adalah gambaran tentang pernyataan-pernyataan dengan taraf favorable yang ekstrim pada kedua kutub serta pernyataan-pernyataan dengan taraf favorable sedang atau bahkan netral yang terletak di tengah distribusi. Namun lagi-lagi,kita tidak tahu apakah jarak antar kategori favorableness dari pernyataan-pernyataan tersebut adalah sama.

Dalam dokumen Pengukuran psikologis - USD Repository (Halaman 60-64)