• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Operasi

Dalam dokumen Bujuklap Ops TNI AD Ok (Halaman 28-33)

Keberhasilan operasi darat ditentukan oleh berbagai faktor yang berada dalam lingkungan operasi. Baik faktor yang bersifat fisik maupun non fisik. Faktor-faktor tersebut secara berdiri sendiri maupun bersamaan mempengaruhi jalannya operasi secara positif atau negatif tergantung pada kemampuan panglima operasi dan para komandan di lapangan untuk mengelolanya. Faktor-faktor tersebut adalah tugas, medan, musuh, pasukan sendiri dan penduduk.

a. Tugas Pokok. Operasi darat adalah operasi yang kompleks karena melibatkan berbagai jenis operasi yang dilaksanakan secara bersamaan di suatu daerah operasi, terlepas apakah itu OMP atau OMSP. Oleh karena itu tugas pokok pada tataran operasional bersifat luas dan mencakup berbagai aspek serta mengarah pada pencapaian tujuan akhir strategis yang dikehendaki Panglima TNI. Pada operasi tempur, tugas pokok satuan relatif mudah diidentifikasi karena sasaran-sasaran operasional dalam operasi tempur bersifat fisik, misalnya penghancuran instalasi komando dan pengendalian, penghancuran pusat dukungan logistik musuh dan sebagainya. Namun pada operasi non tempur, tugas pokok satuan operasional bersifat non fisik sehingga sulit diidentifikasi, misalnya pembentukan opini penduduk lokal dalam operasi penerangan, perebutan simpati penduduk dalam operasi teritorial. Maka keberhasilan tugas pokok tidak hanya diukur dari besarnya kekuatan musuh yang dapat dihancurkan, tetapi harus dilihat juga dampak lain yang dapat ditimbulkan oleh operasi terhadap lingkungan operasi.

Tugas pokok Komando Pelaksana Operasi biasanya bersifat luas yang diantaranya mencakup tujuan akhir strategis yang harus dicapai. Untuk itu panglima operasi menganalisa tugas pokok yang diterima dari komando atas dan merumuskan tugas-tugas esensial yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan akhir strategis yang dikehendaki. Selanjutnya panglima operasi merumuskan sasaran-sasaran operasional serta menyusun garis-garis operasi yang akan dijadikan pedoman bagi para komandan bawahan untuk mencapai sasaran-sasaran operasi yang tertuju pada center of gravity musuh. Hasil analisis tersebut kemudian disusun dalam pokok-pokok keinginan panglima operasi untuk disampaikan kepada staf dan para komandan bawahan. Pokok-pokok keinginan panglima operasi tersebut merupakan referensi bagi staf untuk mengembangkan rencana-rencana operasi secara lebih rinci dan dijadikan pedoman bagi para komandan satuan yang terlibat dalam operasi.

b. Medan. Keberhasilan operasi darat sangat tergantung pada pemahaman panglima operasi dan para komandan terhadap kondisi medan di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu panglima operasi harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang medan, mampu menemukan aspek medan yang membatasi operasi dan memberikan peluang untuk melakukan tindakan taktis guna menghancurkan musuh di daerah operasinya. Dalam pertempuran darat, faktor medan memainkan peran yang penting karena karakteristik medan Indonesia yang sangat beragam. Mulai dari daerah pantai yang berawa sampai hutan tropis yang ditumbuhi pepohonan lebat, mulai dari daerah tidak berpenduduk sampai daerah perkotaan yang berpenduduk padat. Semua itu harus menjadi bahan pertimbangan panglima operasi dan staf dalam menyusun rencana operasi.

Kondisi infrastruktur di Indonesia juga sangat beragam. Pulau Jawa, Bali dan Sumatra memiliki infrastruktur seperti jaringan jalan, pelabuhan, bandar udara, jaringan telekomunikasi yang relatif memadai. Sedangkan di pulau-pulau lain, kondisi infrastruktur yang ada masih relatif terbatas. Kondisi ini menyebabkan karakteristik operasi darat di Indonesia sangat unik dan beragam tergantung pada dimana operasi akan dilaksanakan. Operasi militer yang dilaksanakan di Pulau Jawa mungkin akan lebih mudah dilaksanakan karena didukung oleh sarana infrastruktur yang memadai untuk melakukan kegiatan operasional. Namun operasi militer di Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan pulau-pulau lainnya relatif lebih sulit ditinjau dari kondisi infrastruktur yang ada.

Berdasarkan pengalaman sejarah operasi TNI AD dan pengalaman negara-negara lain, operasi darat pada masa mendatang akan lebih banyak dilakukan di daerah urban yang memiliki karakteristik khas. Di daerah tersebut, kondisi infrastruktur relatif kompleks dan dapat digunakan sebagai sarana musuh untuk menurunkan efektivitas satuan yang sedang beroperasi, misalnya penggunaan jaringan air minum untuk menyebarkan penyakit saluran pencernaan (misalnya: disentri dan kolera) di lingkungan prajurit yang berada di daerah belakang. Kompleksitas daerah urban juga menjadi persoalan tersendiri yang harus diantisipasi panglima operasi dan staf perencana operasi. Kondisi bangunan yang sangat padat misalnya, akan menjadi tempat berlindung musuh yang sempurna karena dapat terhindar dari peninjauan dan tembakan lintas datar maupun lintas lengkung pasukan kita.

Faktor cuaca juga sangat berpengaruh terhadap penyelenggaraan operasi. Kondisi cuaca secara langsung akan berpengaruh terhadap kemampuan prajurit dalam melaksanakan kegiatan operasi di lapangan. Misalnya pada suhu dan kelembaban udara yang relatif tinggi, penyakit-penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah dan penyakit menular lainnya mudah menyebar. Apabila tidak

diantisipasi dengan benar, kondisi cuaca seperti itu akan mempengaruhi kemampuan prajurit dan efektivitas satuan dalam melaksanakan kegiatan operasional. Dalam operasi yang relatif lama, perubahan musim juga perlu diantisipasi dalam rangka meminimalisir dampak negatifnya terhadap kondisi kesehatan prajurit.

Selain mempengaruhi kemampuan prajurit, aspek cuaca juga dapat berpengaruh terhadap kondisi peralatan yang digunakan dalam operasi. Oleh karena itu pemilihan peralatan yang akan digunakan pada operasi darat harus dilakukan secara selektif agar mampu mengatasi pengaruh kondisi cuaca di daerah operasi. Sistem pemeliharaan juga perlu disiapkan dengan baik agar peralatan yang digunakan dalam operasi dapat digunakan lebih lama sehingga tidak mengganggu kesinambungan operasi yang sedang dilaksanakan.

c. Musuh. Kondisi lingkungan strategis pada era globalisasi telah mengubah karakteristik konflik antar negara. Sebagian besar negara yang terlibat konflik dengan negara lain berupaya mencari solusi terhormat dengan menggunakan kekuatan diplomasi. Masing-masing berusaha menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan militer karena terlalu mahal untuk mengoperasikannya dan terlalu mahal untuk menanggung akibatnya purna konflik. Penggunaan kekuatan militer hanya mungkin dilakukan oleh negara adidaya atau negara-negara yang didukung oleh negara adidaya. Itu pun apabila ada alasan yang sangat kuat, yaitu apabila negara lain memulai lebih dahulu. Fakta-fakta konflik antar negara yang terjadi pasca PD II menunjukkan bahwa penggunaan pasukan darat dalam konflik biasanya dilakukan setelah infrastruktur pertahanan utama dilumpuhkan. Artinya, penggunaan kekuatan darat lebih bersifat legitimatif, yaitu untuk menunjukkan kemenangan yang sesungguhnya kepada masyarakat dunia sekaligus untuk melakukan pendudukan secara fisik.

Karakteristik konflik seperti itulah yang akan dihadapi Indonesia pada masa mendatang. Penyiapan kekuatan TNI AD untuk melaksanakan OMP tetap harus dilakukan dalam rangka menghadapi kemungkinan terburuk, manakala pemimpin politik di tingkat nasional memilih memulai konflik dengan negara lain. Apabila hal itu terjadi, maka TNI AD harus mengefektifkan infrastruktur perang gerilya yang sudah disiapkan selama masa damai untuk menghadapi kekuatan darat negara lawan plus negara adidaya yang mendukungnya.

Fakta-fakta konflik masa lalu merupakan indikasi bahwa bentuk konflik yang paling mungkin dihadapi adalah konflik internal. Dalam konflik internal pada masa lalu, TNI AD berperan sebagai kekuatan utama untuk mengatasi masalah yang dihadapi pemerintah di daerah konflik. Musuh yang dihadapi dalam konflik internal memiliki karakteristik khusus yang harus ditangani secara benar. Selain menggunakan kekuatan bersenjata, musuh juga menggunakan kekuatan non lethal yang bermacam-macam bentuknya. Mulai dari kekuatan politik, kekuatan klandestin, kekuatan psikologi massa, kekuatan finansial, kekuatan moril dan kekuatan non reguler lain yang tidak kalah membahayakan dibandingkan kekuatan bersenjata. Disamping potensi lokal, musuh juga dapat mengeksploitir potensi media nasional dan internasional untuk memperoleh dukungan masyarakat dalam negeri maupun masyarakat internasional.

Musuh akan menggunakan kekuatannya secara non reguler dan asimetrik karena mereka tahu bahwa satuan-satuan TNI AD terlalu kuat untuk dilawan dengan cara-cara reguler. Mereka akan berupaya mengulur-ulur waktu dengan melakukan perlawanan berlarut untuk melelahkan dan menurunkan moril pasukan TNI AD dan apabila memungkinkan mereka akan menggunakan kekuatan bersenjatanya pada waktu dan tempat yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Dukungan masyarakat internasional yang mereka peroleh melalui manipulasi media massa kemungkinan akan dieksploitir untuk memperkuat kekuatan bersenjata melalui jalur-jalur ilegal yang terbuka luas dari segala penjuru dunia.

Untuk menghadapi kemungkinan konflik pada masa mendatang, TNI AD harus menyiapkan kemampuannya untuk melakukan OMSP dan OMP secara benar dan berkesinambungan. Organisasi satuan-satuan TNI AD perlu disusun secara fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan lingkungan operasi darat yang berlaku. Doktrin harus disusun secara komprehensif agar dapat digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan OMP maupun OMSP. Doktrin tersebut selalu diuji melalui sistem latihan yang realistis, keras dan menantang. Sistem pendidikan perwira harus dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin lapangan yang berkarakter, memiliki integritas tinggi dan fleksibel agar dapat memimpin pasukannya dalam berbagai situasi sulit yang mungkin akan dihadapi di daerah operasi.

d. Pasukan Sendiri. Operasi darat yang akan dihadapi pada masa mendatang akan sangat kompleks, yaitu gabungan antara peperangan non reguler dan asimetrik dengan kompetisi untuk memenangkan ”hati rakyat”. Untuk itu, setiap Kodam sebagai kompartemen strategis harus menyiapkan semua sumber daya yang ada secara optimal untuk melaksanakan operasi darat di wilayahnya. Selain organisasi struktural yang sudah ada, Kodam juga harus menyiapkan organisasi operasional yang siap pakai apabila terjadi konflik di wilayahnya. Penyiapan tersebut harus dilakukan secara dini dari kekuatan organiknya.

OMSP adalah operasi yang melelahkan karena kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi pasukan di daerah operasi. Maka para prajurit sebagai ”alat utama sistem senjata” TNI AD harus dibekali dengan kemampuan non reguler selain kemampuan tempur yang menjadi kompetensi utamanya, terutama kemampuan intelijen dan kemampuan teritorial. Kemampuan penyesuaian dengan adat istiadat lokal juga perlu dibekalkan kepada prajurit agar dapat hidup dan menyatu dengan masyarakat pada saat terjadi konflik. Semua itu dalam rangka memenangkan hati rakyat yang merupakan center of gravity yang harus diperebutkan dengan musuh. Sekali rakyat berpihak kepada pasukan sendiri maka segala usaha harus dilakukan untuk mempertahankannya.

Dukungan pemerintah dan unsur-unsur lain di daerah operasi berperan penting dalam mencapai keberhasilan OMSP. Oleh karena itu kerja sama dengan aparat pemerintah dan unsur-unsur pendukung sipil lain di daerah operasi harus dijalin semenjak perencanaan operasi, bahkan jauh sebelum terjadinya konflik. Pada saat terjadi konflik, dukungan pemerintah dan unsur-unsur sipil yang ada di daerah operasi perlu dikelola dan dikendalikan dengan benar. Mereka harus tahu dimana keberadaan mereka dalam garis-garis operasi yang disusun komando pelaksana operasi. Mereka tidak boleh dibiarkan bergerak sendiri-sendiri karena akan menjadi kontra produktif dan menghambat operasi pokok yang sedang berlangsung.

Harus disadari, bahwa pemerintah daerah dan unsur-unsur sipil di daerah konflik juga berupaya mendapatkan kepentingan mereka sendiri. Menghadapi situasi seperti ini, panglima operasi dan staf serta para komandan bawahan harus mampu mengelola conflict of interest dengan kepala dingin dan tetap menjadikan sasaran operasional dan tujuan akhir strategis sebagai referensi. Selama berada dalam garis-garis operasi yang telah ditentukan, maka kepentingan sektoral pemerintah daerah dan unsur-unsur sipil lainnya dapat ditolerir. Namun apabila kepentingan sektoral tersebut sudah mengganggu aliran garis-garis operasi menuju sasaran operasional dan tujuan akhir strategis maka panglima operasi harus menggunakan kekuasaan hukum darurat yang berlaku di daerah konflik untuk

menghentikan kegiatan-kegiatan sektoral yang menghambat pencapaian sasaran operasi dan tujuan akhir strategis. Apabila kekuasaan darurat masih berada pada penguasa sipil setempat (dalam kondisi darurat sipil), panglima operasi menggunakan rantai komando yang ada agar conflict of interest yang menghambat operasi dapat diselesaikan pada tingkat yang lebih tinggi.

Dalam OMSP, satuan-satuan akan terpisah-pisah jauh di dalam daerah operasi. Maka pertimbangan penggunaan sarana komunikasi perlu mendapat prioritas dalam perencanaan operasi. Penggunaan jaringan komunikasi organik harus benar-benar aman dari jangkauan musuh. Panglima operasi harus dapat memetik pelajaran berharga dari operasi-operasi darat yang pernah dilakukan pada masa lalu. Banyak rencana tindakan taktis yang jatuh ke tangan musuh sehingga tidak menghasilkan apa-apa, bahkan menimbulkan korban di pihak sendiri akibat penggunaan jaringan komunikasi yang tidak aman secara teknis maupun prosedural. Penggunaan infrastruktur sipil mungkin dapat meningkatkan kemampuan operasional Komando Pelaksana Operasi namun keamananannya tidak dapat dijamin. Untuk itu, prosedur komunikasi harus diatur dan dikendalikan secara ketat. Penggunaan sarana komunikasi pribadi prajurit harus dilarang, tetapi komunikasi prajurit dengan keluarganya di home base perlu diakomodir untuk meningkatkan moril. Komando pelaksana operasi harus menyediakan sarana komunikasi yang memadai dan aman.

e. Penduduk. Dalam OMSP, penduduk akan menjadi salah satu obyek perebutan pengaruh antara pasukan sendiri dengan musuh. Perlindungan penduduk dari kekerasan yang timbul dalam konflik merupakan salah satu bentuk kepatuhan dan penghormatan TNI AD terhadap hak azasi manusia dan hukum humaniter yang berlaku universal. Komando pelaksana operasi harus mengadopsi hukum humaniter sebagai bagian dari rules of engagement (aturan pelibatan) dan menjamin implementasinya di daerah operasi. Para prajurit harus benar-benar memahami ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam hukum humaniter dan mampu mengaplikasikannya di lapangan secara benar. Setiap tindakan militer yang dilakukan prajurit harus benar-benar terlindungi secara hukum. Tidak boleh ada prajurit yang dihukum karena ketidaktahuan mereka tentang hukum humaniter, sebaliknya tidak boleh ada prajurit yang ragu-ragu melakukan tindakan militer karena takut melanggar hukum.

Penggunaan tenaga penduduk dalam OMSP adalah sah selama hanya melakukan kegiatan non militer seperti kegiatan bantuan kemanusiaan untuk merebut simpati masyarakat di daerah tertentu. Keikutsertaan penduduk setempat secara sukarela dalam OMSP harus dimanfaatkan dengan benar karena kerelaan penduduk untuk membantu pasukan sendiri merupakan indikator keberhasilan Komando Pelaksana Operasi dalam merebut hati dan pikiran rakyat. Penggunaan tenaga penduduk oleh satuan-satuan taktis harus dilaporkan kepada Komando Pelaksana Operasi untuk menjamin pengendalian yang terpusat dalam rangka mencegah timbulnya pelanggaran hukum humaniter dan hak azasi manusia.

BAB III OPERASI DARAT

Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilya hanyalah untuk memeras musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan ofensif dan hanya ofensiflah yang dapat menaklukkan musuh.

Jenderal A.H Nasution

Dalam dokumen Bujuklap Ops TNI AD Ok (Halaman 28-33)