Sistem operasi TNI AD memiliki karakteristik khas yang terbentuk oleh sejarah TNI AD yang terlibat langsung dalam berbagai operasi selama masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Selama masa tersebut, para pendahulu TNI AD telah melahirkan konsep pertahanan negara yang dikenal dengan sistem pertahanan semesta. Sistem pertahanan semesta itulah yang di kemudian hari memberikan ‘bentuk’ pada sistem operasi TNI AD. Sistem operasi TNI AD adalah totalitas dari berbagai unsur yang saling terkait dan membentuk kemampuan satuan-satuan TNI AD sehingga siap melaksanakan tugas-tugas tempur dan nontempur, baik dalam rangka OMP maupun OMSP. Sistem operasi TNI AD meliputi gabungan fungsi-fungsi intelijen, teritorial, manuver, mobilitas dan lawan mobilitas, tembakan, perlindungan, dukungan, komando dan pengendalian serta informasi.
a. Intelijen. Intelijen sebagai salah satu elemen daya tempur mencakup kegiatan pencarian dan pengolahan keterangan tentang medan dan musuh yang diperlukan dalam perencanaan, persiapan dan pelaksanaan operasi. Intelijen juga diperlukan sebagai dasar dalam menyusun rencana pengamanan. Kegiatan intelijen tempur pada hakikatnya adalah upaya terorganisir yang dilakukan panglima operasi untuk mengumpulkan dan menganalisa keterangan tentang kondisi medan, cuaca dan musuh di daerah pertempuran yang menjadi tanggung jawabnya. Fungsi intelijen tempur adalah tugas-tugas yang memungkinkan panglima operasi dan para komandan memperoleh pemahaman tentang musuh, medan dan penduduk secara lebih mendalam sehingga dapat mengambil keputusan secara tepat manakala menghadapi permasalahan operasional dan taktis di medan operasi.
b. Teritorial. Kemanunggalan TNI-rakyat yang terbentuk dalam sejarah bangsa Indonesia merupakan salah satu faktor yang membuat sistem operasi TNI AD berbeda dengan sistem operasi angkatan darat negara-negara lain di dunia. Dalam berbagai operasi yang pernah dilakukan satuan-satuan TNI AD di dalam negeri maupun di luar negeri, kemanunggalan TNI-rakyat adalah invisible power
(kekuatan tak nampak) yang memungkinkan satuan-satuan TNI AD menyelesaikan tugas-tugas dengan berhasil dan disegani prajurit-prajurit negara lain. Untuk mewujudkan kemanunggalan TNI-rakyat, setiap prajurit dan satuan TNI AD melaksanakan fungsi teritorial, yaitu segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan penyiapan potensi wilayah menjadi kekuatan pertahanan negara di darat. Dalam konteks operasi, fungsi teritorial terutama diarahkan untuk memenangkan upaya perebutan hati dan pikiran penduduk di daerah operasi melalui kegiatan komunikasi sosial ataupun karya bhakti
c. Manuver. Manuver adalah kemampuan gerak pasukan untuk mencapai keunggulan relatif ditinjau dari aspek disposisi pasukan sendiri terhadap musuh di daerah operasi. Manuver mencakup pendayagunaan gerakan pasukan di medan tempur yang dikombinasikan dengan tembakan. Satuan-satuan Infanteri merupakan inti dari subsistem manuver yang bertugas menghancurkan musuh, merebut dan atau menduduki medan, sedangkan elemen lainnya mendukung tugas-tugas satuan Infanteri sebagai sistem manuver. Komandan dapat mempertimbangkan penggunaan kendaraan taktis darat atau udara (Penerbad) untuk meningkatkan manuver pasukan sendiri guna memperoleh keunggulan taktis terhadap musuh.
d. Mobilitas dan Lawan Mobilitas. Mobilitas dan lawan mobilitas memberikan kebebasan manuver pasukan sendiri dan membatasi ruang gerak musuh serta mencegah kehancuran unsur utama pasukan sendiri dari tindakan penghancuran oleh musuh. Pada dasarnya setiap satuan harus melaksanakan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan mobilitas pasukan sendiri. Setiap satuan juga harus melakukan tindakan-tindakan untuk meningkatkan kemampuan lawan mobilitas guna mengurangi efektivitas manuver musuh. Secara fungsional, unsur Zeni bertanggung jawab langsung untuk meningkatkan mobilitas dan lawan mobilitas pasukan sendiri di medan pertempuran. Dalam proses perencanaan operasi, Perwira Zeni membantu komandan untuk mengintegrasikan rencana mobilitas dan lawan mobilitas dalam rencana operasi secara keseluruhan. d. Bantuan Tembakan. Subsistem bantuan tembakan adalah kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan tembakan mematikan (lethal fire) untuk menghancurkan sasaran secara fisik maupun tembakan tidak mematikan (nonlethal fire) untuk mempengaruhi pikiran lawan (misalnya informasi, media, psikologi, propaganda dan sebagainya). Subsistem bantuan tembakan mengkoordinir kegiatan akuisisi sasaran dan melancarkan penggunaan bantuan tembakan darat untuk menghancurkan sasaran di daerah operasi. Untuk itu, subsistem bantuan tembakan melakukan kompilasi data sasaran, mengalokasikan tembakan pada waktu dan tempat yang tepat dengan menggunakan aset yang tepat.
Panglima operasi memberikan petunjuk penggunaan subsistem bantuan tembakan, terutama yang berkaitan dengan tingkat kehancuran yang diinginkan, waktu serta tujuan yang ingin dicapai dari kehancuran sasaran. Pakorbantem kemudian merencanakan, mengkoordinasikan subsistem bantuan tembakan sedemikian rupa sehingga sinkron dengan rencana manuver. Penggunaan media, psikologi dan propaganda harus direncanakan dengan cermat agar tepat sasaran dengan dampak kerusakan lanjutan (colateral damage) yang minimal. Sekali penggunaan media, psikologi dan propaganda dilancarkan, pengendaliannya harus dilakukan secara ketat agar tidak berdampak negatif terhadap pasukan sendiri. e. Perlindungan. Perlindungan adalah fungsi yang memungkinkan panglima operasi dan para komandan mengaplikasikan daya tempur secara maksimal. Fungsi perlindungan dapat membantu panglima operasi untuk memelihara integritas pasukan dan daya tempur serta memberikan kebebasan bertindak dalam
batas ruang dan waktu yang ada. Salah satu fungsi perlindungan adalah pertahanan udara yang bertujuan untuk melindungi satuan dari ancaman udara musuh. Selain pertahanan udara, fungsi perlindungan juga mencakup perlindungan informasi, keamanan daerah operasi, perlindungan kesehatan pasukan, perlindungan nubika dan sebagainya.
f. Dukungan. Fungsi dukungan adalah kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan dukungan dan pelayanan untuk meyakinkan kebebasan bertindak, memperluas pencapaian operasi dan memperpanjang daya tahan. Dukungan tempur menentukan kedalaman dan durasi operasi TNI AD. Dukungan tempur juga diperlukan untuk mempertahankan inisiatif yang telah diperoleh. Dukungan tempur mencakup fungsi penyediaan logistik, pelayanan personil dan dukungan pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk memelihara momentum operasi hingga penyelesaian tugas. Subsistem dukungan tempur berfungsi memberikan dukungan administrasi dan dukungan lainnya guna meningkatkan daya tahan operasi pasukan sendiri.
g. Komando dan Pengendalian. Unsur komando dan pengendalian mencakup kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan wewenang oleh panglima operasi dalam pelaksanaan operasi tempur. Dihadapkan dengan perkembangan teknologi informasi, karakteristik pertempuran darat mengalami perubahan mendasar. Seorang panglima operasi dapat mengendalikan pasukan dalam daerah yang lebih luas secara real time. Teknologi komunikasi yang ada saat ini memungkinkan panglima operasi untuk mengaplikasikan wewenang komandonya secara lebih efektif dalam pertempuran. Unsur komando dan pengendalian juga berkaitan erat dengan kepemimpinan karena pertempuran darat mencakup dimensi manusia yang dilengkapi dengan sistem senjata.
Kepemimpinan adalah efek pengganda sekaligus pemersatu daya tempur. Kepercayaan diri, kompetensi dan pemimpin yang baik akan meningkatkan unsur daya tempur lainnya secara berlipat ganda. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi seseorang dengan memberikan saran, petunjuk dan motivasi pada saat operasi agar dapat menyelesaikan tugas. Pemimpin militer memberikan inspirasi dan mempengaruhi bawahannya agar dapat menyelesaikan tugas satuan, fokus dalam berpikir dan mengambil keputusan. Pemimpin militer mampu meyakinkan prajuritnya memiliki keinginan untuk menang. Dalam OMSP, pemimpin harus melakukan komunikasi sosial secara efektif agar penggunaan daya tempur satuannya tertuju pada sasaran yang tepat.
h. Informasi. Walaupun tidak mematikan, informasi sama ampuhnya dengan unsur-unsur daya tempur yang lain. Di Timor Timur dan Aceh, tidak sedikit pemberontak yang “turun gunung” dan menyerahkan senjatanya tanpa setetes darah pun yang tertumpah melalui pertempuran. Sejarah juga mencatat bahwa kantong-kantong gerilya TNI banyak yang selamat dari gempuran pasukan Belanda. Semua itu disebabkan oleh keampuhan informasi. Oleh karena itu, panglima operasi dan para komandan di daerah operasi tidak boleh meremehkan peran informasi dalam mendukung tercapainya sasaran-sasaran operasi.
Selain membentuk opini musuh dan penduduk di daerah operasi, informasi juga dapat mempengaruhi lingkungan operasi secara keseluruhan. Pada tataran operasional, peran informasi bahkan dapat menentukan kemenangan. Karena secara logis, kecukupan informasi akan mengurangi friksi dan ketidakpastian serta akan meningkatkan peluang dan kesempatan untuk memenangkan pertempuran di daerah operasi. Informasi adalah sumber tenaga bagi unsur-unsur lain yang membentuk daya tempur.