a. Komando. Komando adalah kewenangan formal yang dimiliki oleh seorang panglima operasi sebagai payung hukum untuk memberikan perintah kepada bawahannya atas dasar kepangkatan atau jabatan. Komando mencakup kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola semua sumberdaya yang tersedia dan merencanakan penggunaannya dengan cara mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengendalikannya untuk melaksanakan tugas pokok.
Komando juga dapat diartikan sebagai kegiatan. Komando memang tidak akan membuat musuh menyerah atau mencegah musuh menghentikan serangan-nya, apalagi menjamin kemenangan. Komando juga tidak akan membuat prajurit kenyang dan terpenuhi kebutuhannya. Namun semua kegiatan dalam pertempuran tidak akan terlaksana tanpa komando yang efektif karena komando merupakan fungsi operasional yang menjadi pusat dari fungsi-fungsi operasional lainnya. Integrasi fungsi komando dengan fungsi-fungsi operasional lainnya akan mengarahkan operasi pada sasaran-sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.
Komando memudahkan panglima operasi dalam pembuatan keputusan yang sehat, memotivasi dan mengarahkan pasukannya untuk melaksanakan tugas. Untuk itu maka panglima operasi harus memahami doktrin, tujuan operasi, konsep operasi, kemampuan dan batas-batas kemampuan pasukannya. panglima operasi juga harus bisa menghitung resiko serta memahami dinamika operasi yang terjadi di dalam dan di luar wewenang komandonya. Selain itu, panglima operasi harus bisa memilih dan memutuskan cara-cara bertindak yang tepat serta meyakinkan anggotanya untuk melaksanakan keputusan yang sudah dibuat.
1) Pengorganisasian komando. Komando mengintegrasikan kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, kecakapan memotivasi dan berkomunikasi serta pemahaman tentang dinamika operasi. Untuk mengimplementasikan komando dalam operasi secara efektif, panglima operasi harus mengorganisir komandonya dengan baik. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan panglima operasi dalam menyusun organisasi komandonya
adalah:
a) Kesatuan komando. Penyelenggaraan komando dalam operasi militer harus dilakukan secara terpusat sehingga semua personel yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan pemahaman terhadap tugas yang harus dilaksanakan. Setiap komandan hanya bertanggung jawab kepada satu komandan atasan. Hal ini dimaksud-kan untuk menjamin kesatuan tindadimaksud-kan dan mencegah terjadinya keragu-raguan dalam bertindak serta memperjelas tanggung jawab apabila terjadi permasalahan.
b) Kerjasama. Penyelenggaraan komando harus bisa menjamin kerjasama antar satuan yang ada dibawah suatu komando. Untuk itu semua satuan yang ada dalam satu komando harus memiliki kesamaan pandangan tentang tujuan operasi. Semua satuan harus saling mengerti peran dan fungsi masing-masing dalam mencapai tujuan operasi. Para komandan dalam yang ada dalam satu komando harus memahami hubungan komando antara satuannya dengan satuan lain yang ada di daerah operasi.
c) Keseimbangan. Yang dimaksud keseimbangan disini adalah kesesuaian antara kemampuan komando dengan jumlah satuan bawah yang harus dikendalikan. Keseimbangan komando dicapai dengan mengatur rentang komando sedemikian rupa sehingga jumlah satuan bawah masih dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang komandan.
d) Prosedur yang efektif. Prosedur operasi harus dibuat sederhana dan kenyal agar dapat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi daerah operasi. Meskipun prosedur tetap operasi dapat menghemat waktu, namun tidak semua kegiatan harus dimuat dalam prosedur tetap. Kegiatan taktis yang memerlukan intuisi adalah salah satu contoh yang tidak bisa ‘di-protap-kan’.
e) Susunan komando yang dinamis. Susunan komando harus bersifat dinamis, artinya disesuaikan dengan jenis dan betuk operasi yang dilaksanakan. Misalnya, susunan komando untuk operasi penanggulangan akibat bencana alam harus dibedakan dengan susunan komando pada operasi mengatasi terorisme karena kedua operasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.
2) Rentang komando. Rentang komando adalah jumlah satuan bawah yang bisa dikendalikan oleh seorang komandan secara langsung. Semakin banyak satuan bawah akan semakin melebarkan rentang komando dan akan mempersulit komandan untuk mengimplementasikan komandonya secara efektif. Penggunaan teknologi komunikasi modern akan memungkinkan rentang kendali yang lebih lebar, namun perlu dipahami bahwa komando adalah fungsi individu komandan yang memiliki keterbatasan manusiawi. 3) Rantai komando. Setiap komandan satuan bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi yang dilakukan oleh satuannya dan mempertanggung jawabkannya kepada pemegang komando yang lebih tinggi sesuai dengan rantai komando yang berlaku. Rantai komando adalah ‘garis-garis’ komando dimana seorang komandan mengimplementasikan komandonya dalam kaitannya dengan komandan atasan dan para komandan bawahan. Rantai komando yang efektif harus didukung dengan sistem komunikasi dan prosedur tetap.
4) Hubungan Komando. Penentuan hubungan komando antara suatu satuan dengan satuan lain di daerah operasi perlu dilakukan guna memudahkan pendelegasian wewenang, pembagian tugas-tugas maupun pelayanan administrasi. Hubungan komando juga akan menentukan status suatu satuan dalam suatu rantai komando yang diatur sebagai berikut:
a) Bawah Perintah (BP). Komandan satuan penerima BP berwenang untuk memberikan tugas maupun membagi-bagi satuan BP untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai kebutuhan taktis. Satuan penerima BP bertanggungjawab atas kebutuhan logistik satuan BP. Pemberian BP biasanya dilakukan untuk satuan-satuan yang memiliki kesamaan fungsi yang akan melaksanakan operasi dalam waktu relatif lama.
b) Bawah Komando Operasi (Bakoops). Komandan satuan penerima Bakoops memiliki wewenang yang sama dengan satuan penerima BP, namun tidak dituntut tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan logistik satuan yang Bakoops. Satuan Bakoops memenuhi kebutuhan logistiknya sendiri sampai dicabutnya status Bakoops. Pemberian status Bakoops biasanya bersifat non permanen dan harus segera dicabut setelah selesainya suatu tugas.
c) Bawah Kendali Operasi . Komandan satuan penerima BKO berwenang memberikan tugas yang tetapi tidak membagi-bagi satuan BKO. Satuan BKO memiliki tugas pokok yang khas, sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan jenis tugas yang dapat dilaksanakannya. Komandan satuan penerima BKO tidak dibebani dengan tanggung jawab logistik yang dibutuhkan satuan BKO. Status ini bisa diakhiri setelah tugas satu BKO selesai.
WENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB DANSAT PENERIMA STATUS MEMBERIKAN TUGAS MEMBAGI SATUAN PELAYANAN ADMINISTRASI WAKTU Bawah Perintah (BP)
Ya Ya Ya Sampai selesainya suatu
tugas atau adanya
pencabutan dari komando atasan pemberi BP
Bawah Kendali Operasi (BKO)
Ya Tidak Tidak Sampai selesainya suatu tugas atau adanya
pencabutan dari komando atasan pemberi BKO Bawah
Komando Operasi (Bakoops)
Ya Ya Tidak Sampai selesainya suatu tugas
5) Markas Komando. (Membahas pengorganisasian markas komando operasi secara hirarkhis: Kola, Kolakops, Koops, Satgas) Markas komando operasi adalah fasilitas bagi panglima operasi dan stafnya untuk melakukan kegiatan komando dan pengendalian hari demi hari terhadap satuan-satuan
yang sedang melaksanakan operasi. Di dalam markas komando ini panglima operasi melaksanakan langkah-langkah perencanaan operasi, melakukan penilaian terhadap pelaksanaan operasi dan membuat keputusan-keputusan untuk memelihara kesinambungan operasi serta melakukan kegiatan lain guna menjamin tercapainya tujuan operasi. Dengan dibantu para perwira staf, panglima operasi mengefektifkan penggunaan wewenang komandonya untuk mengendalikan satuan-satuan yang menjadi tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan akhir yang telah ditetapkan. Para perwira staf melakukan koordinasi untuk menyamakan persepsi terhadap masalah-masalah operasional yang dihadapi sehingga keputusan-keputusan yang diambil panglima operasi dapat dikembangkan oleh satuan-satuan yang berada dibawah komando dan pengendalian panglima operasi.
a) Susunan personel. Untuk mencapai efektivitas pengendalian, organisasi markas komando operasi perlu disusun secara tepat. Susunan personel dalam markas komando operasi terdiri dari unsur pimpinan dan staf organik militer yang terdiri dari staf intelijen, staf operasi, staf personel, staf logistik dan staf teritorial. Susunan personel staf ini adalah susunan personel dasar yang harus ada ketika komando operasi dibentuk. Staf inilah yang membantu panglima operasi menyusun disain operasi dan menjabarkannya menjadi konsep operasi kemudian menuangkannya dalam rencana operasi.
Setelah operasi berlangsung, panglima operasi dapat membentuk kelompok staf baru sesuai kebutuhan operasi. Misalnya staf perencanaan yang berfungsi melakukan perkiraan dan menyusun rencana kontinjensi guna mengantisipasi perubahan keadaan yang tidak dapat diprediksi dalam perencanaan awal operasi. Selain itu panglima operasi juga dapat membentuk staf fungsional seperti staf penerangan, staf psikologi, staf operasi khusus dan sebagainya. Pembentukan staf fungsional disesuaikan dengan macam operasi yang digelar. Tidak ada aturan baku yang membatasi panglima operasi untuk membentuk staf fungsional, tetapi panglima operasi diharapkan menggunakan pertimbangan kepentingan operasional dalam membentuk staf fungsional, antara lain skala operasi yang akan dilaksanakan, luasnya daerah operasi, banyaknya macam operasi dan sebagainya . Garis-garis operasi yang telah dibuat dapat dijadikan salah satu alat bantu bagi panglima operasi sebelum memutuskan perlu tidaknya membentuk staf fungsional.
Kelompok staf baru dapat berada di dalam atau terpisah dari susunan staf organik yang sudah ada. Namun demikian, kegiatan staf baru yang berkaitan langsung dengan pengendalian operasi-operasi yang akan digelar (operasi psikologi, operasi penerangan, operasi yustisi dan sebagainya) sebaiknya berada dibawah koordinasi staf operasi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin tercapainya sinkronisasi semua operasi yang digelar serta untuk mewujudkan kesatuan tindakan dalam rangka mencapai tujuan operasi.
b) Pengorganisasian. Dalam daerah operasi hanya ada satu panglima operasi yang bertanggungjawab atas seluruh pelaksanaan operasi yang dilaksanakan oleh satuan-satuan bawahannya. Namun dengan luasnya daerah operasi dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi, maka panglima operasi dapat membagi daerah operasi
menjadi beberapa sektor sekaligus mendelegasikan wewenang pengendalian operasi kepada para komandan sektor. Secara hirarkhis organisasi markas komando dalam daerah operasi meliputi:
Komando Mandala. Komando Mandala adalah komando tertinggi yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan perang yang dilaksanakan dalam rangka OMP. Panglima Komandala Mandala membuat perencanaan dan merumuskan tujuan strategis serta mengkoordinasikan penggunaan kekuatan militer dan nonmiliter baik di dalam Mandala maupun di luar Mandala. Panglima Komando Mandala dapat membentuk komano pelaksana operasi yang bertanggungjawab merencanakan dan melaksanakan operasi pada tataran operasional guna mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan Panglima Komando Mandala.
Komando Operasi. Komando Operasi adalah komando yang dibentuk dalam rangka pelaksanaan OMSP di suatu wilayah tertentu. Panglima Komando Operasi bertanggungjawab atas seluruh rangkaian operasi yang digelar di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya. Batas-batas daerah operasi ditentukan oleh Panglima TNI sesuai kebutuhan.
Komando Sektor. Panglima Komando Operasi dapat membentuk Komando Sektor dan menunjuk Komandan Sektor untuk merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan operasi di sektornya. Panglima Komando Operasi harus dapat mensinkron-kan pencapaian sasaran operasional seluruh sektor yang ada dalam daerah operasi.
Satuan Tugas. Satuan tugas adalah unsur pelaksana operasi yang melaksanakan tugas-tugas taktis di daerah operasi. Satgas dapat berada dibawah kendali Komandan Sektor. Namun demikian, untuk Satuan Tugas yang melaksanakan tugas-tugas khusus dapat berada dibawah kendali Panglima Komando Operasi.
b. Pengendalian. Komando dan pengendalian adalah dua hal yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang sangat erat. Komando adalah fungsi individual yang melekat pada setiap panglima operasi, sedangkan pengendalian merupakan fungsi yang lahir dari perpaduan antara personel, peralatan, sistem komunikasi, sistem informasi dan prosedur. Untuk mengimplementasikan komandonya dengan baik, panglima operasi harus melakukan pengendalian secara efektif. Jadi, pengendalian merupakan salah satu aspek dari komando. Pengendalian adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin terlaksananya prosedur dan tindakan operasional maupun taktis serta untuk meyakinkan agar semua unsur melaksanakan tugasnya guna mencapai sasaran operasional yang ditetapkan. Pengendalian juga dapat diartikan sebagai proses, dimana panglima operasi dan staf mengatur, mengarahkan dan mengkoordinir kegiatan pasukan yang menjadi tanggung jawabnya.
1) Bentuk pengendalian. Secara umum terdapat dua bentuk pengendalian yang dapat dilakukan oleh seorang panglima operasi dalam sebuah operasi, yaitu pengendalian prosedural dan pengendalian positif. Pengendalian prosedural adalah bentuk pengendalian operasi yang didasari oleh pelaksanaan perintah yang telah diberikan, aturan-aturan, kebijakan maupun doktrin yang berlaku. Pengendalian prosedural ini tidak memerlukan campurtangan langsung panglima operasi karena perintah-perintah
dikeluarkan sebelum operasi dilaksanakan, sedangkan aturan, kebijakan dan doktrin relatif bersifat tetap. Pengendalian positif adalah bentuk pengendalian yang digunakan oleh panglima operasi untuk mengendalikan jalannya operasi atas dasar penilaian situasi secara aktif, evaluasi terhadap pelaksanaan tugas serta perkiraan-perkiraan yang mungkin terjadi untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Agar pengendalian dapat berjalan secara efektif, maka semua faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi militer harus benar-benar dipahami oleh panglima operasi dan stafnya. Efektivitas pengendalian juga bergantung pada obyektivitas dalam menilai situasi yang dinamis, fakta-fakta yang dihadapi, pengalaman operasi sebelumnya serta ketajaman dalam melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan operasi. Pengendalian yang baik memungkinkan seorang panglima operasi untuk mengembangkan inisiatif dan beradaptasi dengan perubahan situasi yang terjadi guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mencapai tingkat pengendalian yang baik, panglima operasi dan staf harus benar-benar memahami doktrin dan prosedur serta mendayagunakan peralatan, sistem komunikasi dan sistem informasi secara optimal.
Pengendalian yang baik akan sangat membantu panglima operasi dalam mengatasi ketidakpastian dan meminimalkan resiko, sekaligus meningkatkan kecepatan untuk merespon permasalahan yang timbul selama berlangsungnya operasi. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, ketidakpastian selalu hadir dalam setiap operasi militer. Dalam situasi seperti itu, panglima operasi yang tidak berpengalaman akan mengendalikan pasukan secara ketat dan berlebihan. Hal itu jutru akan akan melahirkan keputusan-keputusan yang tidak sehat dan akan menghilangkan inisiatif para komandan bawahan.
2) Alat kendali. Alat kendali merupakan salah satu sarana pengendalian prosedural yang digunakan panglima operasi dan para komandan untuk mempermudah koordinasi sehingga dapat menghemat waktu dan menghi-langkan keragu-raguan para pelaksana operasi di lapangan. Pada tataran taktis, alat kendali biasanya mudah dikenali karena lingkupnya yang relatif sempit, misalnya alat kendali dalam operasi penyergapan antara lain sasaran, titik berkumpul, garis taraf, garis berita dan sebagainya. Atau alat kendali dalam operasi serangan yang meliputi batas-batas petak serangan, daerah persiapan, pangkal serangan, garis awal, sasaran dan batas gerak maju.
Pada tataran operasional, alat kendali tidak mudah dikenali karena luasnya daerah operasi dan kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Alat kendali pada tataran operasional ditentukan panglima operasi pada saat proses perencanaan operasi. Alat kendali pada tataran operasional dapat berupa kendali waktu, geografis maupun peralihan kegiatan penting dalam operasi.
a) Kendali waktu. Kendali waktu adalah alat kendali yang digunakan untuk mengetahui dinamika operasi sejak operasi dimulai sampai operasi dinyatakan selesai. Kendali waktu sangat penting manakala para panglima dan para komandan kehilangan kontak atau mengalami kendala dalam berkomunikasi di daerah operasi. Beberapa contoh kendali waktu yang sering digunakan antara lain hari “H” jam “J” yang digunakan sebagai awal dimulainya suatu operasi.
b) Kendali geografis. Adalah alat kendali yang bersifat geografis dan digunakan sebagai sarana koordinasi antar satuan dalam daerah operasi, misalnya batas sektor, batas petak, sasaran dan sebagainya. Panglima operasi menentukan alat kendali geografis berdasarkan faktor-faktor tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri.
c) Kendali kegiatan. PDalam perencanaan operasi, panglima operasi bisa membagi waktu pelaksanaan operasi menjadi beberapa tahapan. Peralihan dari tahap yang satu ke tahap yang lain merupakan alat kendali panglima operasi dan para komandan di daerah operasi untuk mengatur penggunaan sumber daya yang dimilikinya secara efisien. Garis-garis operasi yang dibuat panglima operasi merupakan alat kendali kegiatan yang biasa digunakan dalam operasi yang sangat kompleks. Dengan menggunakan garis-garis operasi, panglima operasi mensinkronisasikan operasi-operasi besar yang digelar di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya dalam rangka mencapai tujuan operasional dan tujuan strategis yang telah ditetapkan.