DRAFT Januari 2011
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... i
PENGANTAR ... iii
BAB I ... 1
KETENTUAN UMUM... 1
1. Peran TNI AD...1
2. Kemampuan TNI AD...2
3. Pengertian Operasi...3
4. Azas Perang ...4
5. Tataran Perang...7
6. Konflik dan Operasi Militer ...9
BAB II ... 15
HAKIKAT OPERASI ... 15
7. Umum ...15
8. Pengaruh Lingkungan Strategis Terhadap Penyelenggaraan Operasi...15
9. Hakekat ancaman...16
10. Kerangka berpikir operasional... 20
11. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Operasi ... 24
BAB III ... 29
OPERASI DARAT ... 29
12. Daya Tempur... 29
13. Sistem Operasi TNI AD ... 30
14. Jenis-Jenis Operasi Darat ... 33
15. Penggunaan Jenis-Jenis Operasi Darat... 41
BAB IV ... 54
OPERASI DARAT DALAM KAMPANYE MILITER ... 54
17. Pengalaman Kampanye Militer di Indonesia ... 55
18. Perencanaan Kampanye Militer ... 63
BAB V ... 77
KOMANDO DAN PENGENDALIAN... 77
19. Umum... 77
20. Konsep Dasar Tentang Komando dan Pengendalian ... 77
21. Penyelenggaraan Komando dan Pengendalian dalam Operasi ... 85
22. Tataran Kewenangan Komando dan Pengendalian Operasi TNI AD... 91
23. Pengorganisasian... 92
BAB VI ... 96
LOGISTIK ... 96
24. Umum... 96
25. Karakteristik Logistik Operasi ... 96
26. Prinsip-prinsip Dukungan Logistik ... 97
27. Perencanaan Dukungan Logistik... 98
28. Persiapan Dukungan Logistik... 99
29. Penyelenggaraan Dukungan Logistik... 100
PENGANTAR
Secara sederhana operasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang tidak rutin dan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks militer, operasi adalah penggunaan kekuatan militer dalam rangka mencapai tujuan strategis yang disusun dalam suatu rancang bangun operasi dan dilakukan dengan menyelenggarakan operasi-operasi taktis, operasi-operasi besar maupun kampanye militer dalam batas ruang dan waktu yang telah ditetapkan.
Operasi militer tidak dilakukan dalam ruang hampa, tetapi berada dalam suatu lingkungan operasi yang kompleks dan dinamis. Lingkungan tersebut telah berkembang sedemikian cepat dan ditandai dengan perubahan karakteristik konflik serta hakekat ancaman. Perubahan-perubahan ini memerlukan sistem dan metode operasi militer yang lebih adaptif agar penggunaan kekuatan militer dapat mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara efektif dan efisien.
Dengan memahami dinamika perkembangan lingkungan operasi, TNI AD telah melakukan perubahan-perubahan mendasar pada semua aspek, diantaranya perubahan doktrin operasional. Selain bersumber dari pengalaman perang sendiri, doktrin operasional juga perlu menjadikan pengalaman perang bangsa lain sebagai sumber sekunder karena perang adalah bagian dari peradaban manusia yang bersifat universal. Dengan demikian maka doktrin operasional TNI AD dapat dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan operasi secara efektif.
Buku petunjuk lapangan tentang operasi TNI AD ini merupakan salah satu doktrin operasional yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan operasi militer, khususnya operasi darat. Penulisan buku petunjuk ini merangkum berbagai pengalaman operasi TNI AD pada masa lalu dan pengalaman operasi militer negara-negara lain. Maksud pembuatan buku ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang kondisi lingkungan strategis dan dampak yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan perencanaan operasi militer. Pembuatan buku ini juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan referensi bagi pengembangan ilmu militer di Indonesia. Buku ini tidak bermaksud mengatur para perencana operasi militer, tetapi lebih sebagai salah satu sumber informasi yang dapat memberikan inspirasi dalam rangka perencanaan operasi militer.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bahwa Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerja sama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara…
Panglima Besar Jenderal Sudirman
1. Peran TNI AD
Sesuai amanat UU RI Nomor 34 Tahun 2004, TNI berperan sebagai alat negara dibidang pertahanan yang dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Peran tersebut diwujudkan dalam rangka mendukung salah satu kewajiban negara, yaitu menjamin keamanan negara dan keselamatan bangsa. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, negara memberikan tugas konstitusional kepada TNI untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah serta melin-dungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa peran suatu organisasi ada, karena diperlukan untuk mendukung keberhasilan tugas pokok organisasi induknya. Dengan demikian peran TNI AD juga ada, karena diperlukan untuk mendukung keberhasilan tugas pokok TNI. Dihadapkan dengan tugas pokok TNI, maka TNI AD berperan sebagai penangkal dan penindak terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa serta sebagai pemulih terhadap kondisi keamanan negara di darat yang terganggu akibat kekacauan keamanan
Setiap perencana operasi di lingkungan TNI AD harus memahami peran tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun setiap rencana operasi, sehingga setiap operasi yang dilaksanakan satuan-satuan TNI AD dapat memberikan andil bagi terlaksananya tugas pokok TNI. Pada tataran operasional, peran TNI AD dijabarkan dalam tugas-tugas operasi, baik dalam rangka operasi militer untuk perang maupun operasi militer selain perang. Tugas-tugas operasi yang dilakukan dalam rangka mendukung tugas pokok TNI AD adalah:
Perang terbatas menghadapi kekuatan militer negara lain yang melakukan pelanggaran wilayah perbatasan di darat.
Perang gerilya menghadapi kekuatan militer negara lain yang melakukan agresi militer. Mengatasi gerakan separatisme bersenjata.
Mengatasi pemberontakan bersenjata. Mengatasi aksi terorisme.
Mengamankan wilayah perbatasan di darat.
Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis.
Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri. Mengamankan Presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.
Membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang.
Membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia.
Membantu menaggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan.
Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan. 2. Kemampuan TNI AD
Peran TNI AD hanya mungkin diwujudkan apabila didukung dengan kemampuan utama (core capabilities) yang dapat didayagunakan dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional yang dipercayakan kepada satuan-satuan jajaran TNI AD. Dalam Doktrin Kartika Eka Pakçi dijelaskan bahwa kemampuan TNI AD mencakup:
a. Kemampuan Tempur. Kemampuan tempur adalah kemampuan untuk melaksanakan pertempuran, baik pada tingkat strategis maupun taktis pada berbagai karakter wilayah tugas, baik sebagai satuan utama operasional maupun sebagai satuan bantuan.
b. Kemampuan Intelijen. Kemampuan intelijen adalah kemampuan untuk melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, baik yang bersifat strategis maupun taktis dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas-tugas TNI AD.
c. Kemampuan Teritorial. Kemampuan teritorial adalah kemampuan untuk melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan penyiapan potensi wilayah menjadi kekuatan pertahanan negara di darat. Kemampuan ini adalah kemampuan khas yang tidak dimiliki oleh organisasi militer lain di dunia. Kemampuan ini telah melekat dalam organisasi TNI sejak perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. d. Kemampuan Pengamanan. Kemampuan pengamanan adalah kemampuan untuk melaksanakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan pemberian proteksi terhadap suatu obyek yang bernilai strategis yang berupa obyek vital nasional, wilayah perbatasan, presiden dan keluarganya maupun tamu negara setingkat kepala negara/pemerintahan yang sedang berada di wilayah Indonesia.
e. Kemampuan Dukungan. Kemampuan dukungan adalah kemampuan diluar kemampuan tempur, intelijen, teritorial dan pengamanan yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan tugas pokok TNI AD, yang meliputi:
1) Kemampuan diplomasi militer yang diperlukan untuk mencegah keinginan permusuhan dari negara lain dan melakukan negosiasi guna penyelesaian konflik serta memulihkan hubungan dengan negara lain pascakonflik. Kemampuan ini dilakukan melalui upaya kerjasama militer, terutama dibidang pendidikan dan latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan saling pengertian guna menangkal keinginan untuk memulai konflik antar negara.
2) Kemampuan penguasaan teknologi militer yang diperlukan untuk membangun kemandirian pertahanan negara sesuai dengan doktrin pertahanan semesta. Kemampuan ini dilakukan melalui kerjasama dengan industri strategis nasional dibidang rekayasa teknologi terapan yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan tugas-tugas TNI AD di lapangan.
3) Kemampuan manajemen yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja organisasi agar setiap tindakan dilakukan dengan tepat dan terukur. Kemampuan manajemen juga diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Dalam batas-batas tertentu, kemampuan manajemen juga diperlukan dalam operasi militer (nontempur) guna meningkatkan proses pengambilan keputusan.
4) Kemampuan K4IPP (komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan dan pengintaian) yang diperlukan untuk pengendalian kegiatan operasional agar sesuai dengan rencana dan dapat menyesuaikan dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan.
5) Kemampuan melaksanakan bantuan kemanusiaan dan bantuan penanggulangan akibat bencana alam. Kemampuan ini bukan merupakan idle capacity, tetapi kemampuan yang dibangun dan dikembangkan secara terstruktur di lingkungan organisasi TNI AD. Letak geografis Indonesia di lintasan lingkaran gunung berapi global mewajibkan TNI AD untuk memiliki kemampuan siap gerak guna membantu menanggulangi akibat bencana. 6) Kemampuan melaksanakan bantuan kepada Pemda dan Polri. Kemampuan ini disiapkan untuk membantu Pemda dalam pemberdayaan wilayah serta untuk mengantisipasi perkembangan kondisi keamanan masyarakat yang dapat mengancam keamanan negara dan keselamatan bangsa.
7) Kemampuan untuk turut serta dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia yang abadi. Kemampuan ini dibangun dan dikembangkan secara terkoordinir di tingkat gabungan angkatan.
3. Pengertian Operasi
Kata ‘operasi’ memiliki pengertian yang sangat luas. Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris ‘operate’ yang berarti melakukan suatu pekerjaan. Dalam ilmu matematika, operasi diartikan sebagai tindakan atau prosedur untuk menghasilkan suatu nilai keluaran dari nilai atau nilai-nilai masukan. Dalam ilmu kedokteran, operasi diartikan sebagai tindakan medis untuk memulihkan kesehatan pasien yang dilakukan di ruang bedah. Dalam ilmu manajemen, operasi berkaitan dengan kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa yang dilakukan dalam suatu perusahaan. Dalam ilmu komputer, operasi diartikan sebagai pelaksanaan ‘perintah’ atau ‘perintah-perintah’ dalam suatu aplikasi atau program.
Dalam konteks militer, operasi dapat diartikan secara sederhana sebagai tindakan yang tidak bersifat rutin. Dalam pengertian yang lebih spesifik, TNI AD mendefinisikan operasi sebagai usaha, pekerjaan dan kegiatan satuan-satuan TNI AD untuk melaksanakan tugas-tugas strategis, taktis maupun administratif dalam ruang dan waktu tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Suatu kegiatan dapat dikategorikan sebagai operasi apabila ada empat dimensi yaitu:
Dimensi satuan. Operasi hanya dapat dilakukan oleh satuan, bukan perorangan. Dalam pelaksanaannya mungkin suatu tugas operasi bisa dilakukan oleh satu atau dua prajurit, tetapi tugas-tugas tersebut dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas satuan. Misalnya tugas pengamatan dan penggambaran dalam operasi intelijen yang dilakukan oleh satu orang prajurit.
Dimensi tugas. Tugas bisa bersifat strategis, taktis maupun administratif. Dalam kaitan operasi, yang dimaksud dengan tugas adalah tugas-tugas yang diberikan oleh komando atas, bukan tugas-tugas rutin yang dilakukan atas inisiatif sendiri.
Dimensi ruang dan waktu. Operasi dilakukan dalam batas-batas wilayah dan waktu yang telah ditentukan oleh komando atas. Pengertian wilayah dapat diartikan sebagai bagian tertentu atau seluruh wilayah NKRI sesuai keputusan yang ditetapkan komando atas. Operasi bisa dilakukan dalam waktu satu atau beberapa hari, tetapi bisa juga dilakukan selama beberapa tahun. Lamanya operasi dapat ditentukan dalam perintah operasi, tetapi dapat juga ditentukan dengan menggunakan parameter tercapainya tujuan operasi.
Dimensi tujuan dan sasaran. Suatu operasi harus mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas. Tujuan adalah kondisi akhir yang ingin dicapai oleh suatu satuan yang melaksa-nakan operasi, sedangkan sasaran adalah apa yang harus dicapai. Pada operasi taktis, tujuan dan sasaran biasanya berimpit, misalnya operasi serangan kampung bertujuan menghancurkan pusat Kodal pemberontak, maka sasaran serangan adalah pusat Kodal pemberontak. Pada tataran operasional, tujuan dan sasaran tidak selalu berimpit. Misalnya, tujuan operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata di suatu wilayah adalah terintegrasinya wilayah tersebut dalam NKRI, sedangkan sasaran-sasaran operasinya bisa bermacam-macam tergantung jenis operasi yang dilaksanakan, misalnya sasaran operasi teritorial adalah terwujudnya simpati masyarakat setempat terhadap TNI AD, sasaran operasi tempur adalah hancurnya kekuatan bersenjata kelompok separatis, sasaran operasi khusus adalah terbongkarnya jaring klandestin dan sebagainya.
4. Azas Perang
Keberhasilan operasi selain ditentukan oleh keunggulan daya tempur, juga ditentukan oleh kemampuan panglima operasi dan para komandan dalam mengimplementasikan azas-azas perang. Azas perang adalah kaidah-kaidah yang bersumber dari keberhasilan peperangan masa lalu. Azas perang bersifat filosofis dan bukan merupakan aturan baku yang bersifat dogmatis, tetapi lebih sebagai pedoman yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan operasi dan disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. Dalam hal tertentu, beberapa azas sepertinya saling tumpang tindih atau saling bertentangan. Oleh karena itu setiap perencana dan pelaksana operasi harus menggunakan intuisinya secara tepat untuk menilai situasi yang dihadapi di daerah operasi. Setiap negara menggunakan azas-azas perang yang berbeda sesuai pengalaman sejarah yang pernah dilaluinya, namun ada beberapa azas yang diadopsi secara universal yang bersumber dari sejarah peperangan berbagai negara pada masa lalu. Berikut ini merupakan azas perang yang berlaku universal serta azas perang khas Indonesia yang bersumber dari sejarah perjuangan TNI dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
a. Azas Universal
1) Azas Tujuan. Setiap operasi militer harus dilaksanakan dengan tujuan yang jelas, realistis dan dapat dicapai. Pada saat melaksanakan suatu operasi, panglima operasi harus mendeskripsikan secara jelas hasil yang ingin dicapai dan dampak strategisnya. Tujuan yang jelas akan memudahkan panglima operasi untuk memusatkan kekuatan pasukannya pada tugas yang paling penting. Tujuan yang realistis akan meningkatkan inisiatif satuan bawah dan perorangan. Tujuan yang dapat dicapai akan membantu panglima operasi untuk mengalokasikan daya tempur sacara tepat sasaran.
2) Azas Ofensif. Tindakan ofensif dilaksanakan untuk mencapai hasil yang menentukan, memperoleh kebebasan bertindak dan cepat tanggap terhadap perubahan situasi. Tindakan ofensif akan menghasilkan inisiatif dan sebaliknya, inisiatif diperlukan untuk melakukan tindakan ofensif. Cara
efektif untuk memperoleh hasil yang menentukan adalah dengan merebut, mempertahankan dan mengeksploitasi inisiatif. Hal ini sangat penting untuk menjaga kebebasan bertindak yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan pasukan sendiri dan mengeksploitasi kelemahan musuh. Dengan melaksa-nakan ofensif maka panglima operasi akan dapat merespon setiap perubahan situasi dan perkembangan yang tidak terduga secara efektif. 3) Azas Mobilitas. Mobilitas diperlukan untuk melaksanakan tugas secara responsif, mengeksploitasi kebebasan bertindak, mengembangkan hasil yang dicapai dan mencegah kehancuran pasukan sendiri. Dengan mobilitas maka kekuatan tempur dapat dipusatkan atau disebar sedemikian rupa sehingga menempatkan musuh dalam posisi yang tidak menguntungkan.
4) Azas Kesatuan Komando. Setiap operasi membutuhkan kesatuan usaha di bawah satu tanggung jawab komando. Pengerahan daya tempur dalam operasi membutuhkan kesatuan komando di bawah satu panglima operasi yang memimpin dan mengkoordinasikan seluruh tindakan dari semua kekuatan. Pada operasi yang melibatkan instansi pemerintahan sipil atau organisasi non pemerintah, seringkali wewenang komando tidak dapat diterapkan secara efektif. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan koordinasi yang ketat untuk membangun konsensus guna mencapai kesatuan komando.
5) Azas Pemusatan. Kekuatan dipusatkan pada daerah operasi dan sasaran tertentu untuk menjamin penyelesaian tugas yang menentukan. Pemusatan kekuatan secara tepat akan mengacaukan musuh sehingga tidak dapat bereaksi secara efektif. Pemusatan kekuatan tidak hanya terbatas pada pemusatan tembakan, namun juga termasuk penggunaan manuver secara cepat dan tepat dalam menghadapi situasi di daerah operasi. Manakala kemampuan kita terbatas, maka pemusatan kekuatan secara tepat akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan menyebar kekuatan pada wilayah yang luas.
6) Azas Penghematan. Penggunaan sumber daya dalam operasi harus efisien tanpa mengorbankan efektivitas dalam pencapaian hasil yang optimal. Komandan hanya mengerahkan kekuatan minimal yang diperlukan untuk menjalankan operasi (essential force), sedangkan kekuatan yang lebih besar dialokasikan untuk pelaksanaan operasi yang lebih menentukan. Meskipun hal ini mengandung risiko, namun penting untuk keberhasilan pencapaian tujuan operasi yang lebih besar.
7) Azas Keamanan. Tindakan keamanan terhadap personel, materiel kegiatan dan bahan keteerangan dilakukan untuk mencegah rongrongan musuh atau lawan atau akibat kelalaian. Pengamanan dimaksudkan untuk melindungi dan memelihara kekuatan tempur sendiri. Untuk memperoleh keamanan, panglima operasi harus melindungi pasukannya dari setiap ancaman, gangguan, pendadakan, sabotase dan pengintaian musuh. Salah satu faktor penting untuk memperoleh keamanan adalah tindakan pengelabuan dan tipuan.
8) Azas Kesederhanaan. Rencana dan perintah operasi harus sesederhana dan sejelas mungkin. Tingkat kesederhanaan akan sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Rencana sederhana yang dilancarkan tepat waktu jauh lebih baik daripada rencana yang rumit namun terlambat dilaksanakan. Pada lingkungan operasi yang melibatkan banyak
unsur non militer, maka kesederhanaan menjadi sangat penting untuk menghindari keraguan, kebingungan dan kesalahpahaman.
9) Azas Pendadakan. Pendadakan dapat memberikan keunggulan di pihak sendiri sehingga musuh tidak dapat bereaksi secara cepat dan tepat. Hal ini diperoleh dengan menyerang musuh pada saat dan tempat yang tidak terduga sehingga musuh tidak siap untuk bereaksi. Faktor penting dalam pencapaian pendadakan meliputi kecepatan, keamanan operasi dan peng-gunaan kemampuan secara asimetris.
10) Azas Kekenyalan. Setiap operasi menuntut tingkat kekenyalan yang tinggi. Kekenyalan akan memungkinkan panglima operasi dan para komandan untuk menyesuaikan tindakannya terhadap perkembangan situasi yang tidak terduga serta untuk mengeksploitasi setiap peluang yang ada untuk memperoleh keunggulan terhadap musuh. Untuk itu, panglima operasi dan para komandan harus dapat berpikir secara kenyal dan cepat dalam mengambil keputusan. Kekenyalan akan diperoleh melalui perencanaan yang sederhana, kesatuan usaha dan pemeliharaan keseimbangan.
11) Azas Kedalaman. Kedalaman akan menjamin kesinambungan ope-rasi. Operasi yang dilakukan secara mendalam akan memberikan tekanan terhadap musuh secara terus menerus dan menjamin kesinambungan ope-rasi yang dilancarkan. Kedalaman opeope-rasi memungkinkan seorang panglima operasi untuk memelihara tekanan terhadap musuh, memperoleh inisiatif dan mengeksploitasi setiap keberhasilan yang diperoleh.
12) Azas Kesemestaan. Kesemestaan berarti seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada dikerahkan untuk pelaksanaan operasi. Penyeleng-garaan berbagai operasi dilaksanakan dengan mengerahkan segenap komponen baik militer maupun non militer guna tercapainya tujuan operasi. 13) Azas Keunggulan Moril. Keunggulan moril merupakan faktor non fisik yang sangat menentukan keberhasilan tugas. Keunggulan moril yang dilandasi motivasi yang kuat dapat diperoleh melalui semangat juang yang tinggi, hubungan atasan dan bawahan yang kohesif, latihan yang keras, dukungan yang memadai dan prosedur operasional yang jelas.
b. Azas Khusus
1) Azas Perlawanan Teratur dan Terus Menerus. Operasi dilaksana-kan melalui serangkaian tindadilaksana-kan yang teratur dan terus menerus dalam rangka memberikan perlawanan yang berkelanjutan guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
2) Azas Tidak Kenal Menyerah. Operasi dilaksanakan dengan motivasi yang tinggi, kegigihan dan semangat yang tidak mengenal menyerah untuk mencapai tujuan. Namun demikian motivasi, kegigihan dan semangat yang tinggi tidak berarti mengabaikan keamanan yang dapat menimbulkan korban yang sia-sia.
3) Azas Kesatuan Ideologi dan Politik. Pelaksanaan operasi harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta kebijakan politik negara yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyeleng-gara operasi harus memahami hal ini sehingga operasi yang dilaksanakan tidak bertentangan dengan ideologi dan politik negara.
4) Azas Penyebaran untuk Menghindari Pemusnahan. Penempatan pasukan dan instalasinya dilaksanakan secara tersebar, namun tetap dalam
jangkauan komando dan pengendalian. Penyebaran dilaksanakan untuk menghindari kehancuran total.
5. Tataran Perang
Tataran perang pada hakekatnya adalah pembagian tingkatan peperangan. Konsep tentang tataran perang menjelaskan hubungan antara tindakan taktis yang dilakukan oleh pasukan di lapangan dengan tujuan strategis yang ditetapkan oleh panglima TNI. Dalam berbagai literatur militer klasik, tataran perang dibagi menjadi dua, yaitu tataran strategis dan taktis. Selama perang dunia kedua, konsep pembagian tataran perang tersebut masih digunakan sebagai acuan dalam menyusun rencana kampanye militer negara-negara sekutu. Dalam perkembangannya, tataran perang mengalami evolusi dengan diperkenalkannya tataran operasional pada perang Korea. Sejak saat itu, negara-negara Blok Barat membagi tataran perang menjadi tiga tingkatan, yaitu tataran strategis, operasional dan taktis. Batas antara ketiga tingkatan tersebut tidak dapat dilihat dengan jelas karena ketiganya memiliki keterkaitan erat. Setiap komandan harus memahami hubungan antara tataran perang yang satu dengan tataran perang yang lain agar dapat mengalokasikan kekuatan dan memberikan tugas-tugas secara tepat kepada satuan bawahannya di medan pertempuran.
Dalam peperangan reguler, perbedaan antara tataran strategis, operasional dan taktis dapat dibedakan berdasarkan tujuan yang harus dicapai. Pada tataran strategis, kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan strategis yang ditetapkan oleh pengambil keputusan pada tingkat nasional. Pada tataran operasional, kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan operasional yang ditetapkan panglima operasi. Tujuan operasional menghubungkan tindakan-tindakan satuan taktis dengan tujuan strategis. Pada tataran taktis, kegiatan dilaksanakan untuk mencapai tujuan taktis, yaitu memenangkan pertem-puran dalam waktu yang relatif singkat.
Dalam peperangan non reguler, tataran perang yang satu dengan tataran perang yang lain sulit untuk dibedakan. Masing-masing tataran perang dapat saling tumpang tindih atau menyatu dalam satu spektrum perang. Hal ini terjadi karena tindakan satuan dapat diarahkan untuk mencapai tujuan taktis, operasional dan tujuan strategis sekaligus. Misalnya, dalam suatu operasi, satuan taktis dapat ditugaskan untuk merebut sasaran yang bernilai strategis. Hal ini merupakan akibat dari bersatunya beberapa front (politik, klandestin dan militer) dalam suatu operasi. Secara sederhana, masing-masing tataran dapat dijelaskan sebagai berikut:
Gambar-1 TATARAN PERANG
a. Tataran Strategis. Secara umum, strategi diartikan sebagai seni dan ilmu mengembangkan dan menggunakan berbagai kekuatan nasional, baik dalam masa damai maupun dalam masa perang guna mendukung pencapaian tujuan nasional yang ditetapkan oleh politik. Strategi militer yang berasal dari kebijakan nasional dan menjadi dasar untuk semua operasi militer. Dalam konteks perang, tataran strategis adalah suatu tataran perang, dimana tujuan perang ditentukan oleh pengambil keputusan pada tingkat nasional. Kegiatan pada tataran ini diarahkan untuk mencapai tujuan strategis yang merupakan penjabaran dari kepentingan nasional. Upaya pencapaian tujuan strategis dilakukan dengan mengerahkan kekuatan nasional yang meliputi kekuatan militer, ekonomi, diplomasi dan informasi. Penggunaan kekuatan militer pada tataran strategis diatur dan dikendalikan oleh Panglima TNI.
Dalam mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan menjamin keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman, upaya perta-hanan negara diselenggarakan dengan strategi pertaperta-hanan berlapis. Strategi ini bertumpu pada upaya pertahanan negara yang memadukan pertahanan militer dengan pertahanan non militer sebagai satu kesatuan pertahanan negara yang utuh. Karakteristik strategi pertahanan berlapis diwujudkan melalui keterpaduan pendayagunaan lapis pertahanan militer dan lapis pertahanan non militer yang saling menyokong dalam menghadapi setiap bentuk ancaman.
b. Tataran Operasional. Tataran operasional adalah tingkat dimana kampanye militer dan operasi-operasi besar dilakukan secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan strategis dalam suatu daerah operasi. Tataran ini membentuk ‘benang merah’ antara tindakan taktis dengan tujuan strategis. Fokus pada tingkat ini adalah pada operasional penggunaan kekuatan militer dalam rangka mencapai tujuan strategis melalui desain operasi, pengorganisasian daerah operasi, penyeleng-garaan kampanye militer maupun operasi-operasi besar.
Tataran operasional berada diantara tataran strategis dan tataran taktis. Pada tataran ini, satuan-satuan melakukan serangkaian kegiatan taktis dalam rangka mencapai tujuan strategis. Rangkaian kegiatan tersebut dapat dilakukan secara serentak atau berurutan dan dikendalikan oleh seorang panglima operasi di daerah operasi dalam kurun waktu yang telah direncanakan. Kegiatan pada tataran operasional berada dalam ruang dan waktu yang lebih luas dibandingkan dengan tataran taktis. Dalam kaitan ini, panglima operasi membagi daerah tanggung jawab komando operasi kepada satuan bawahannya dengan mempertimbangkan faktor tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri. Secara geografis, operasi dapat dipahami sebagai perluasan dimensi ruang dan waktu dari taktik. Komandan satuan taktis memberikan fokus pada pertempuran melawan musuh, sedangkan panglima operasi melihat lebih luas pada dimensi ruang, waktu dan kegiatan. Upaya panglima operasi dimaksudkan untuk menciptakan kondisi yang paling menguntungkan bagi para komandan satuan taktis. Panglima operasi juga mengantisipasi hasil pertempuran pada tingkat taktis dan mengeksploitasi hasil tersebut untuk mendapatkan keuntungan operasional yang lebih besar.
c. Tataran Taktis. Kegiatan pada tataran taktis meliputi pengaturan pasukan sendiri untuk melaksanakan pertempuran di dalam daerah operasi. Pengaturan tersebut termasuk pengorganisasian pasukan, penempatan pasukan dan penen-tuan bentuk manuver dihadapkan dengan kondisi medan maupun musuh. Kegiatan pada tataran taktis dapat berupa satu atau beberapa pertempuran dalam satu daerah operasi yang berlangsung dalam waktu relatif singkat (dalam hitungan menit, jam atau hari).
Taktik adalah seni sekaligus ilmu. Aspek seni dalam taktik mencakup tiga hal yang saling terkait, yaitu pengaturan pasukan untuk melaksanakan tugas, pengam-bilan keputusan dalam ketidakpastian dan minimalisasi dampak pertempuran terha-dap prajurit. Sedangkan aspek ilmu dalam taktik berkaitan dengan pengetahuan tentang teknik, prosedur dan kemampuan pasukan sendiri maupun musuh. 6. Konflik dan Operasi Militer
Pemahaman tentang konflik akan membantu para perencana dan pelaksana operasi militer dalam menggunakan sumberdaya yang tersedia untuk mencapai tujuan operasi karena pada dasarnya operasi militer digelar dalam rangka mencegah, mengatasi dan meminimalkan kerusakan akibat konflik. Saat ini dunia dipenuhi dengan konflik kepentingan, mulai dari masalah ekonomi, politik, sosial maupun masalah lain. Dalam menyikapi konflik tersebut, sebagian negara telah menggunakan kekerasan sebagai sarana penyelesaian. Pada penghujung abad ke-20 sampai awal abad ke-21 sejarah mencatat terjadinya konflik kekerasan di beberapa belahan dunia, seperti Peru–Equador, Arab–Israel, Inggris–Argentina, Israel–Palestina dan sebagainya. Konflik seperti itu bisa saja terjadi antara Indonesia dengan negara-negara tetangga. Bersyukur bahwa para pemimpin negara-negara Asia Tenggara telah merintis hubungan regional yang mengikat negara-negara anggotanya untuk mencegah konflik dan apabila tidak dapat dicegah, maka setiap negara anggota berkewajiban menyelesaikannya dengan “cara-cara” ASEAN. Namun dalam kenyataannya, pilihan penyelesaian dengan cara-cara damai kadang sangat terbatas, sehingga tidak jarang negara-negara anggota menggunakan cara-cara provokatif yang menjadikan hubungan bilateral antar negara menjadi terganggu, seperti yang terjadi di perbatasan Thailand–Cambodia beberapa waktu lalu.
Konflik juga terjadi secara internal di dalam negeri, ketika kepentingan primordial dan kedaerahan mengambil alih kepentingan nasional di daerah. Dengan bersembunyi di balik demokratisasi, aktor-aktor daerah yang ingin berkuasa di luar struktur kekuasaan yang telah terlegitimasi mencoba melakukan petualangan politik untuk mendapatkan pengaruh dalam masyarakat dan melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap pemerintah yang sah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Perkembangan yang terjadi di wilayah Papua mengindikasikan adanya kepentingan daerah yang mengarah pada konflik vertikal. Hal ini juga terjadi di Aceh dan Maluku. Semua itu membuktikan bahwa konflik vertikal telah menjadi ancaman nyata yang harus menjadi perhatian pemerintah.
Apabila telah terjadi konflik, pemerintah berkewajiban melakukan langkah-langkah penyelesaian yang paling beradab dengan tetap menyiapkan kemungkinan terburuk apabila konflik tidak dapat dikendalikan dengan cara-cara tersebut. Pemahaman tentang anatomi konflik akan membantu pemerintah dalam menyelesaikan berbagai konflik yang mungkin terjadi secara beradab dan risiko yang seminimal mungkin. Konflik adalah fenomena sosial yang bersifat dinamis, sulit dikendalikan dan sulit diprediksi baik tujuan, sasaran, waktu, tempat, bentuk pelibatan dan cara-caranya. Konflik mengandung sifat ketidakteraturan dan ketidakpastian karena berbagai faktor, antara lain faktor medan operasi, koordinasi yang buruk, ketidakcukupan dan ketidakakuratan informasi serta kesalahan manusia. Faktor-faktor ini saling berinteraksi sehingga tugas-tugas paling sederhanapun menjadi sulit diselesaikan.
a. Dasar Penggolongan Konflik. Meskipun tidak ada dua konflik yang sama, namun ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menggolongkan bentuk-bentuk konflik. Penggolongan konflik tersebut memungkinkan suatu pengertian yang lebih mendalam tentang sifat dasar konflik dan sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Untuk kepentingan penyelenggaraan operasi militer, konflik dapat dikategorikan berdasakan parameter luas wilayah dimana konflik terjadi, tingkat kekerasan yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dan waktu berlangsungnya konflik.
1) Skala konflik. Skala konflik menggambarkan ukuran luas wilayah dimana konflik terjadi. Konflik skala kecil biasanya melibatkan sekelompok masyarakat di suatu wilayah karena adanya perebutan kepentingan ekonomi, politik maupun sebab-sebab lainnya. Konflik skala kecil mudah ditangani apabila dilakukan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Namun apabila penanganannya tidak dilakukan dengan benar, konflik dapat meluas ke wilayah lain yang lebih luas. Konflik komunal bernuansa SARA yang terjadi di Maluku merupakan contoh konflik yang meluas dengan cepat akibat lambatnya penanganan oleh pemerintah setempat.
2) Intensitas konflik. Intensitas konflik berkenaan dengan tingkat kekerasan dan besarnya sumber daya yang digunakan dalam konflik. Intensitas konflik akan meningkat jika kekerasan sering terjadi dengan menggunakan sarana kekerasan yang dapat menimbulkan korban yang lebih besar. Tinggi rendahnya intensitas konflik sangat sulit ditentukan karena sangat bervariasi dan tergantung dari cara-cara penggunaan kekerasan, peralatan yang digunakan serta besar kecilnya keterlibatan personel dalam konflik.
3) Waktu konflik. Konflik dapat berlangsung lama atau singkat, tergantung pada besar kecilnya kepentingan yang diperjuangkan oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik, besar kecilnya skala konflik serta tinggi rendahnya intensitas konflik. Selain itu, lamanya konflik juga dapat disebabkan oleh kecepatan pemerintah dalam mengangani konflik yang timbul tahap awal terjadinya konflik. Penanganan konflik yang tidak tepat dapat mengakibatkan konflik berlangsung lama dan dan berkepanjangan.
Penanganan konflik tidak boleh mempertimbangkan salah satu parameter konflik saja. Dalam konflik skala kecil, bisa saja dilakukan tindakan kekerasan dengan intensitas tinggi sehingga dapat berkembang menjadi konflik skala besar dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, konflik intensitas rendah mungkin tidak dapat ditangani dengan segera dan menjadi konflik yang berkepanjangan karena adanya perebutan kepentingan yang bersifat permanen. Oleh karena itu, penggunaan kekuatan militer dalam penanganan konflik tidak boleh menggunakan parameter-parameter penyebab konflik, tetapi harus dilakukan penilaian terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan. Manakala suatu konflik membahayakan keamanan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, maka pemerintah harus mempertimbangkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Batas-batas penggunaan kekuatan militer dalam mengatasi konflik harus diatur dalam peraturan perundang-undangan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuatan (power abuse) untuk kepentingan politik yang sempit.
b. Tahapan Konflik. Secara umum konflik mengalami evolusi melalui tiga fase, yaitu prakonflik, konflik dan pasca konflik, akan tetapi biasanya situasi dan kondisi yang mengarah pada terjadinya konflik bersifat dinamis dan sulit diprediksi. Beberapa situasi mungkin saja tidak meningkat menjadi konflik yang berkembang besar. Sebagai kemungkinan lainnya, suatu konflik dapat diselesaikan dan hubung-an hubung-antara pihak-pihak yhubung-ang bersengketa kembali ke tahap prakonflik. Meskipun upaya-upaya dalam penyelesaian konflik umumnya ada pada setiap tahapan prakonflik, konflik dan pasca konflik, namun kesiapan satuan jajaran TNI AD yang mampu bertindak dalam menunjang kebijakan nasional tetap dipelihara di semua tahap konflik.
1) Pada tahap prakonflik, pihak-pihak yang bertikai biasanya memper-timbangkan atau mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk
mencapai tujuan akhir mereka baik secara terbuka maupun tersembunyi untuk memperoleh pendadakan. Pihak-pihak ketiga kemungkinan menjadi terlibat dalam upaya-upaya untuk mencegah penyebaran konflik.
2) Pada tahap konflik, para pelaku utama berupaya memaksakan kehendak mereka terhadap musuh dengan menggunakan semua unsur kekuatan nasional yang ada, khususnya kekuatan militer. Kemauan untuk berperang didasari oleh tiga faktor, yakni keputusan pemimpin politik, dukungan rakyat dan kemampuan angkatan bersenjata. Kemauan musuh untuk berperang lazimnya dikalahkan bila biaya yang dirasakan untuk mengejar suatu tujuan lebih besar daripada hasil yang mungkin diperoleh. 3) Pada tahap pasca konflik, pihak-pihak bertikai berhenti mengambil jalan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Kekuatan militer bisa digunakan untuk menstabilkan situasi pasca konflik dan menciptakan kondisi bagi lembaga-lembaga negara dan masyarakat sipil untuk muncul kembali. Kegagalan untuk mendamaikan pihak-pihak bertikai pada tahap ini bisa menciptakan penyebab mendasar timbulnya konflik pada masa depan. Dalam tahap ini, pihak-pihak baru mungkin saja menjadi terlibat karena alasan kemanusiaan, politik atau ekonomi.
Dengan meningkatnya saling ketergantungan antar negara di era globalisasi saat ini, kekuatan multinasional akan melerai pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan konflik yang berlangsung. Organisasi-organisasi regional seperti ASEAN akan sangat berkepentingan dalam terciptanya perdamaian di kawasan. Dalam upaya penggunaan kekuatan militer untuk mengembalikan kondisi damai, maka dibutuhkan keterpaduan peran tiga kekuatan nasional lainnya yaitu diplomasi, informasi dan ekonomi. Upaya untuk mengembalikan kondisi ke perdamaian yang stabil akan sia-sia tanpa didukung oleh kekuatan militer yang efektif. Keberhasilan dari setiap kampanye dan operasi militer dalam menciptakan kondisi perdamaian akan sangat tergantung keterpaduan antara upaya militer dan non militer.
c. Spektrum Konflik. Pengertian konflik dalam konteks keamanan negara dapat digambarkan dalam satu spektrum. Titik ekstrem sebelah kiri menunjukkan kondisi aman, relatif tidak ada ancaman dan dalam status wilayah tertib sipil. Pada situasi rawan dapat diklasifikasikan sebagai keadaan konflik intensitas rendah seperti konflik komunal yang meluas, konflik vertikal, teror, sabotase, tingkat kriminal dan kerusuhan lokal. Apabila konflik terus meningkat sampai memasuki situasi gawat, status wilayah beralih dari tertib sipil menjadi keadaan darurat sipil. Apabila konflik terus berkembang dan eskalasi ancaman terus meningkat, maka status wilayah dari darurat sipil dapat menjadi darurat militer. Pernyataan keadaan darurat sipil/militer merupakan keputusan politik yang dikeluarkan Presiden atas persetujuan DPR. Dalam keadaan darurat perang, konflik yang terjadi adalah akibat dari agresi/invasi militer baik secara langsung maupun tidak langsung dari negara asing yang bermusuhan dengan Indonesia dengan cara menduduki sebagian atau seluruh wilayah NKRI dan Presiden telah menyatakan keadaan darurat perang. Eskalasi ancaman tidak harus selalu bersifat eskalatif dalam waktu panjang, namun dapat juga berlangsung dalam waktu relatif singkat. Keadaan ini juga tergantung pada ketanggapan pemerintah dalam menilai situasi dan mengambil langkah-Iangkah pencegahan atau keberhasilan pihak-pihak yang berlawanan dalam melakukan langkah-langkah perdamaian.
1) Damai stabil. Dalam kondisi damai stabil persaingan dan kekerasan masih terjadi namun tidak ada kekerasan yang bernuansa militer. Kegiatan oleh aktor internasional terbatas pada interaksi yang damai di bidang politik,
ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Interaksi yang damai tersebut dapat pula berupa persaingan yang sehat, kerja sama dan bantuan. Meskipun ketegangan sewaktu-waktu terjadi seluruh pihak menyadari pentingnya penyelesaian konflik dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.
2) Damai tidak stabil. Kondisi damai stabil akan bergeser kepada damai tidak stabil apabila satu pihak atau lebih mengancam atau menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka. Kondisi damai tidak stabil ini juga dapat terjadi akibat berkurangnya tingkat kekerasan pada suatu konflik bersenjata. Situasi di Maluku dan Poso pasca konflik komunal merupakan contoh kondisi perdamaian tidak stabil, dimana kondisi ini perlu terus dijaga dan dipelihara untuk mencegah kembali meletusnya konflik. Untuk menjaga agar kondisi ini tidak memburuk kepada konflik kekerasan yang lebih tinggi, maka operasi perdamaian perlu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dan kekuatan nasional lainnya guna mengembalikan kondisi kepada perdamaian yang stabil.
Pada kondisi damai tidak stabil dapat terjadi konflik yang melibatkan gerakan terorganisir untuk menggulingkan pemerintah yang sah dalam bentuk pemberontakan bersenjata atau gerakan separatis bersenjata. Pem-berontak dan kelompok separatis menggunakan taktik gerilya dan teror untuk mencapai tujuan politiknya. Insurjensi dapat berakar pada perma-salahan sosial yang kronis, kondisi ekonomi yang buruk dan kurangnya rasa keadilan. Insurjensi dapat berkembang setelah berakhirnya suatu perang terbuka atau merupakan lanjutan dari kondisi damai tidak stabil yang semakin memburuk.
3) Perang. Perang adalah konflik bersenjata, dimana seluruh kekuatan militer dan sumber daya dikerahkan dan kelangsungan hidup pihak yang terlibat dalam keadaan bahaya. Perang biasanya melibatkan negara maupun koalisinya. Dalam perang masing-masing pihak yang bertikai mengerahkan kekuatan bersenjata konvensional untuk memperoleh supremasi militer dengan melancarkan operasi militer. Selain itu, perang juga dapat dilakukan secara terbatas oleh pihak-pihak yang berkonflik dengan mengerahkan sebagian kekuatan di sekitar perbatasan namun dengan tetap menyiagakan seluruh kekuatan nasional. Pada masa lalu, perang dilakukan dengan operasi militer secara konvensional dengan skala besar. Namun dalam perkembangannya, penggunaan operasi militer secara konvensional telah mengalami evolusi. Selain menggunakan cara-cara konvensional, perang juga dilakukan dengan cara-cara non konvensional, terutama oleh pihak yang inferior.
Pada kenyataannya konflik tidak selalu berlangsung secara berurutan dari keadaan damai yang tidak stabil menuju kondisi insurjensi dan akhirnya menyulut perang terbuka. Hal sebaliknya dapat terjadi dimana perang terbuka dan insurjensi dapat memicu terjadinya konflik-konflik lanjutan di suatu wilayah sehingga mencip-takan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan negara dan keselamatan bangsa. Selain itu tingkat kekerasan dapat melompat dari satu titik ke titik lain di sepanjang spektrum konflik. Sebagai contoh dari kondisi aman tidak stabil dapat langsung memicu terjadinya perang terbuka, sebaliknya perang terbuka dapat berakhir secara tiba-tiba menjadi keadaan aman yang stabil. Oleh karena itu ketiga spektrum konflik ini bukan merupakan hal yang mutlak. Spektrum konflik akan memberikan gambaran yang jelas dalam memahami eskalasi keke-rasan serta pengerahan kekuatan nasional dalam penyelesaian suatu konflik.
d. Penggunaan Kekuatan Nasional dalam Resolusi Konflik. Dalam upaya penyelesaian konflik dengan negara lain maupun dengan non state actor, pemerintah perlu mengerahkan kekuatan nasionalnya secara efektif dan efisien. Kekuatan nasional tersebut terdiri dari soft power (kekuatan lunak) yang berupa kekuatan diplomasi, informasi dan ekonomi maupun hard power (kekuatan keras) yang berupa kekuatan militer. Jenis dan komposisi kekuatan nasional yang dikerahkan akan tergantung pada tingkat konflik yang sedang dihadapi dan kemauan pihak lain untuk mengakhiri konflik. Dalam kondisi damai, penggunaan soft power lebih diutamakan karena mengandung risiko kerusakan yang kecil, namun hard power harus disiagakan untuk mendukung kekuatan soft power. Penyiagaan hard power dimaksudkan untuk menangkal penggunaan hard power oleh pihak lawan. Sebaliknya, dalam kondisi perang terbuka penggunaan hard power menjadi pilihan utama untuk menekan lawan, dibarengi dengan pengerahan soft power secara tepat untuk mengoptimalkan efektivitas penggunaan hard power. Dalam sejarah perang universal, penggunaan soft power kadang-kadang menjadi penentu kemenangan perang antar negara. Misalnya pada perang Mesir-Israel pada tahun 1973, Presiden Anwar Sadat dengan piawai menarik keterlibatan Amerika Serikat untuk memberikan keuntungan strategis bagi Mesir sehingga semenanjung Sinai bisa kembali ke pangkuan Mesir setelah dikuasai Israel sejak tahun 1967, walaupun kekuatan militernya menderita kekalahan di mandala operasi.
Pada perebutan Irian Barat, penggunaan hard power secara besar-besaran yang diikuti dengan penggunaan diplomasi dan penggunaan informasi secara efektif telah memaksa Belanda menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada pemerintah Indonesia. Selain karena tekanan di forum internasional, pemerintah Belanda juga tidak berani menghadapi risiko kehancuran kekuatan militernya yang ada di wilayah Irian Barat karena kekuatan militer Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif siap menghancurkan kekuatan Belanda.
Penggunaan hard power dan soft power pada operasi Timor Timur merupa-kan pelajaran berharga bumerupa-kan hanya untuk TNI tetapi juga bagi otoritas sipil pada tingkat nasional. Dalam masalah tersebut, keberhasilan penggunaan hard power tidak segera diikuti dengan penggunaan soft power secara tepat untuk mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan. Integrasi Timor Timur mungkin akan tercapai apabila penggunaan kekuatan diplomasi, informasi dan ekonomi dilakukan pada
Gambar-2
saat operasi militer mencapai puncak keberhasilan, yaitu ketika rakyat Timor Timur menghargai TNI sebagai “tentara pembebas”. Pemerintah memanfaatkan keberha-silan penggunaan hard power untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik sesaat. Seharusnya pemerintah menggunakan soft power untuk memperbesar hasil yang dicapai hard power dalam rangka mencapai tujuan strategis dan politis yang lebih luas, misalnya menggelar penentuan pendapat rakyat sesegera mungkin. Kenyataannya, penentuan pendapat rakyat baru dilakukan puluhan tahun setelah penggunaan hard power tidak efektif lagi.
Belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman bangsa-bangsa lain pada masa lalu, maka TNI senantiasa membangun kemampuan dan kekuatannya agar menjadi national hard power yang mampu menangkal setiap ancaman terhadap kedaulatan NKRI. Selain itu, TNI juga mengembangkan potensi soft power yang dimilikinya agar dapat didayagunakan untuk mencegah dan mengatasi konflik di dalam negeri secara efektif.
e. Penggunaan Kekuatan Militer dalam Konflik. Dari gambar-2 terlihat bahwa kekuatan militer beroperasi pada sepanjang spektrum konflik. Pada situasi tertentu dibutuhkan pengerahan kekuatan militer secara masif untuk mengeliminir suatu ancaman. Tujuan akhir dari pengerahan kekuatan militer pada hakikatnya adalah untuk mereduksi kekerasan menjadi minimal. Lingkungan operasi dewasa ini menuntut kekuatan militer untuk senantiasa mengevaluasi metode yang digunakan dan beradaptasi dengan lingkungan secara terus menerus.
Penggunaan kekuatan TNI AD dalam operasi tidak hanya untuk mengalahkan musuh namun yang lebih penting adalah untuk mewujudkan kondisi damai. Maka setiap perencana operasi TNI AD senantiasa mempertimbangkan dampak lanjutan penggunaan kekuatan TNI AD terhadap kondisi sosial pasca operasi. Menghancurkan musuh atau merebut sasaran-sasaran operasional di daerah operasi mungkin sulit dilakukan, tetapi yang lebih sulit adalah mewujudkan kondisi damai pasca konflik. Pengalaman operasi mengatasi konflik komunal di Poso, Maluku dan Maluku Utara adalah bukti nyata tentang sulitnya mewujudkan kondisi damai pasca operasi.
Operasi yang dilaksanakan pada satu tahap akan berpengaruh langsung terhadap tahap selanjutnya. Dalam setiap pelaksanaan operasi, panglima operasi mewujudkan situasi yang kondusif bagi keberhasilan operasi selanjutnya. Maka setiap panglima operasi harus mampu memvisualisasikan dan memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan menyiapkan langkah-langkah kontinjensi agar tujuan operasi dapat tercapai. Pada gilirannya dapat benar-benar mewujudkan kondisi damai dan memberikan peluang kepada otoritas sipil di daerah untuk memelihara kondisi damai yang telah diwujudkan.
Dalam setiap operasi militer, TNI AD dituntut untuk senantiasa mengubah taktik, teknik dan prosedur karena lingkungan operasi senantiasa berupah secara dinamis. Dalam operasi tempur, perubahan-perubahan lebih disebabkan oleh faktor musuh yang berupaya mencari peluang untuk menggagalkan operasi kita. Sedangkan dalam operasi nontempur, perubahan bisa terjadi karena dinamika perubahan kondisi masyarakat. Oleh karena itu TNI AD harus menjadi learning organisation yang selalu belajar dari pengalaman operasi masa lalu dan masa kini untuk meraih sukses pada setiap operasi yang akan datang.
BAB II
HAKIKAT OPERASI
Seorang ahli perang mendekati sasarannya secara tidak langsung. Memilih jalan yang berliku, berjalan ribuan li untuk menghindari dan membuat musuh tidak waspada. Ahli perang itu akan memperoleh kebebasan bertindak. Dia akan menghindari situasi statis. Serangan langsung terhadap kota dilakukan apabila tidak ada pilihan lain. Pengepungan akan menghabiskan prajurit dan memboroskan waktu dan pada gilirannya akan menghilangkan inisiatif
Sun Tzu
7. Umum
Operasi diperlukan untuk menghadapi ancaman yang terjadi karena adanya dinamika lingkungan strategis pada lingkup global, regional maupun nasional. Setiap jenis ancaman memerlukan penanganan secara spesifik dengan menggunakan sumberdaya tertentu sesuai karakteristik ancaman yang dihadapi. Pemahamanan tentang hakikat operasi mengalir dari kerangka berpikir operasional yang mencakup dimensi lingkungan operasi, daerah operasi dan penduduk. Kerangka berpikir operasional pada hakekatnya adalah pengaturan kekuatan sendiri dalam ruang dan waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan operasional dihadapkan dengan kondisi musuh dan daerah operasi. Pemahaman tentang hakikat operasi tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor tugas pokok, medan, musuh, pasukan sendiri dan faktor penduduk.
8. Pengaruh Lingkungan Strategis Terhadap Penyelenggaraan Operasi
Globalisasi telah membawa pengaruh positif maupun negatif bagi dunia. Saling ketergantungan ekonomi antar negara akan memicu peningkatan perekonomian di kawasan dan dunia. Di lain pihak distribusi kekayaan yang tidak merata akan lebih melebarkan jurang antara kelompok kaya dan miskin. Mereka yang tidak mampu mengimbangi laju globalisasi akan tertinggal. Kondisi ini sangat potensial untuk memicu konflik. Globalisasi juga telah memunculkan non state actor dalam bidang ekonomi, informasi dan militer. Kekuasaan dan pengaruh pemerintah akan semakin berkurang seiring bangkitnya kekuatan baru dari organisasi non pemerintah. Selain itu golongan yang tidak mampu akan rentan terhadap pengaruh dan rekrutmen dari kelompok ekstrem. Akibatnya mereka akan mudah menganut paham radikal untuk mengekspresikan rasa frustrasi dan kekecewaan mereka.
Kemajuan teknologi yang pesat seperti perkembangan komputer, internet dan satelit telah mentransformasi dunia sejak beberapa dekade terakhir. Teknologi informasi telah memungkinkan pertukaran informasi berlangsung dalam hitungan detik. Jangkauan dan pengaruh media informasi dalam operasi akan berpengaruh sama bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Tidak hanya negara, namun kelompok-kelompok radikal telah mempunyai akses yang sama terhadap produk-produk berteknologi tinggi. Hal ini akan berpengaruh besar dalam lingkungan operasi dimana pemerintah maupun musuh akan memanfaatkan secara maksimal perkembangan teknologi guna mencapai tujuannya.
Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia menyimpan potensi instabilitas dan radikalisme. Dengan berkembangnya jumlah penduduk kelas menengah, maka kebutuhan kualitas hidup yang lebih baik akan meningkat pula. Urbanisasi yang
terus berlangsung dapat menjadi pemicu meningkatnya angka kriminalitas di lingkungan perkotaan. Masalah pengangguran, polusi, kondisi sanitasi, kesehatan yang buruk dan pelayanan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi akan menimbulkan ketidakpuasan di sebagian masyarakat sehingga berpaling pada ideologi radikal.
Indonesia terdiri dari beragam suku, etnis dan budaya yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Kondisi ini menuntut pemahaman kondisi sosial budaya yang mendalam pada setiap operasi militer yang dilaksanakan. Seperti halnya konflik budaya, konflik etnis akan muncul apabila identitas etnis tertentu merasa tertantang oleh perubahan sosial sebagai akibat modernisasi dan globalisasi. Selanjutnya kecenderungan menunjukkan bahwa ideologi agama akan semakin mendominasi kekuatan sosial politik. Agama adalah aspek kehidupan yang seringkali menimbulkan pergesekan dan konflik. Radikalisme yang didasari oleh pemahaman agama yang keliru akan menjadi daya tarik bagi mereka yang merasa menjadi korban dari globalisasi ekonomi dan budaya.
Posisi Indonesia secara geografis menyimpan potensi bencana alam yang dapat terjadi sepanjang tahun. Pada musim penghujan bencana banjir datang, sebaliknya pada musim kemarau bencana kekeringan dan kebakaran hutan mengancam. Sebagian bencana itu bersifat alami. Hampir seluruh pulau di Indonesia menjadi bagian dari lingkaran gunung berapi global (ring of fire). Sebagai konsekuensinya, bencana gunung berapi merupakan ancaman rutin setiap tahun. Selain itu posisi geologis Indonesia yang merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik besar yang labil, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik, membuat wilayah Indonesia rentan terhadap bencana tsunami dan gempa bumi.
Berbagai kecenderungan dalam lingkungan strategis merupakan tantangan dan hambatan, yang apabila tidak dikelola dengan benar dapat berkembang menjadi gangguan, bahkan dapat menjadi ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Dalam kondisi itu, pelibatan kekuatan TNI AD untuk melaksanakan tugas-tugas operasional akan menjadi salah satu pilihan yang mungkin akan diambil pemerintah dalam proses pengambilan keputusan politik dan strategi nasional. Untuk itu, para perencana operasi darat harus memiliki ketertarikan untuk memahami dan mampu menganalisis perkembangan lingkungan strategis dan pengaruhnya terhadap penyelenggaraan operasi darat.
9. Hakekat ancaman
Pemahaman tentang hakekat ancaman perlu dimiliki oleh setiap perencana dan penyelenggara operasi darat, karena penyelenggaraan operasi darat pada dasarnya dilakukan untuk menghadapi ancaman di wilayah daratan. Hakekat ancaman mencakup keseluruhan konsep tentang AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) sebagai berikut:
Ancaman adalah suatu kondisi atau upaya yang bersifat dan atau bertujuan mengubah dan merombak sistem yang berlaku secara paksa yang dilaksanakan secara konsepsional, sehingga dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman bisa berasal dari luar negeri yang berupa agresi, invasi, infiltrasi, perang informasi, aksi teror dan sebagainya. Ancaman juga bisa berasal dari dalam negeri, misalnya pemberontakan bersenjata, gerakan separatis bersenjata, aksi teror dan sebagainya.
Gangguan adalah suatu kondisi yang bersifat menghambat atau menghalangi secara tidak konsepsional yang berasal dari luar sistem kehidupan nasional, misalnya konflik perbatasan, sengketa wilayah, pelanggaran wilayah daratan, eksploitasi kekayaan alam di wilayah daratan dan sebagainya.
Hambatan adalah suatu kondisi yang bersifat menghambat atau menghalangi secara tidak konsepsional yang berasal dari dalam sistem kehidupan nasional, misalnya bencana alam, konflik komunal, tindakan anarkhi dan sebagainya.
Tantangan adalah suatu kondisi atau upaya yang bersifat atau bertujuan menggugah kemampuan mengatasi masalah, misalnya kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, jumlah penduduk yang besar, kritik membangun yang disampaikan melalui media masa dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan operasi darat, ancaman bisa dipahami sebagai keseluruhan kondisi atau usaha, kegiatan dan tindakan yang berasal dari dalam maupun luar negeri yang dapat membahayakan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah serta keselamatan bangsa. Ancaman dapat bersumber dari suatu negara, bangsa, organisasi, kelompok, kondisi ataupun fenomena alam. Untuk mencegah, mengatasi dan memitigasi ancaman ini dibutuhkan pengerahan seluruh instrumen kekuatan nasional, baik diplomasi, informasi, militer dan ekonomi. Secara umum ancaman dapat digolongkan menjadi dua kategori utama yaitu ancaman militer dan non militer. Musuh dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari kedua ancaman tersebut untuk mencapai tujuannya.
a. Ancaman Militer. Ancaman militer bersumber dari negara, kelompok ataupun organisasi yang menggunakan kemampuan dan kekuatan militer dalam suatu pertikaian bersenjata atau konflik. Ancaman militer mempunyai karakteristik yang beragam. Ancaman militer dapat bersumber dari penggunaan kekuatan militer suatu negara ataupun yang berasal dari gerakan kekuatan bersenjata suatu kelompok tertentu yang dapat mengancam kedaulatan negara dan keselamatan bangsa. Yang termasuk ancaman militer antara lain agresi militer, pelanggaran wilayah, pemberontakan bersenjata, terorisme dan konflik komunal.
1) Agresi militer. Agresi merupakan tingkatan tertinggi dari ancaman militer dan merupakan bentuk ancaman militer yang paling berbahaya karena akan langsung mengancam kedaulatan, keutuhan wilayah negara serta keselamatan bangsa. Situasi lingkungan strategis global dan regional yang semakin dinamis serta perkembangan ancaman yang semakin kompleks telah membuat kemungkinan ancaman agresi militer menjadi semakin sulit diprediksi. Agresi militer tidak hanya terbatas pada invasi yaitu pengerahan kekuatan militer untuk menduduki suatu negara lain, namun agresi dapat berupa aksi militer lain seperti bombardemen dan blokade wilayah suatu negara. Agresi militer dapat pula berupa keberadaan kekuatan militer asing di wilayah NKRI tanpa adanya kesepakatan dari pemerintah Indonesia. Pengiriman suatu kelompok bersenjata untuk menciptakan kekacauan di wilayah NKRI juga dapat digolongkan sebagai bentuk agresi militer. Ancaman agresi juga termasuk tindakan suatu negara yang memperbolehkan penggunaan wilayahnya oleh negara lain untuk melancarkan operasi militer terhadap Indonesia.
2) Pelanggaran wilayah. Kondisi geografis Indonesia yang berbatasan dengan sejumlah negara membuat Indonesia sangat rawan terhadap pelanggaran wilayah oleh negara lain. Konsekuensi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah sangat luas dan terbuka adalah tingginya peluang terjadinya pelanggaran wilayah. Pelanggaran wilayah baik di darat, laut dan udara yang dilakukan negara lain merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara dan kewibawaan pemerintah serta kehormatan bangsa Indonesia. Kekuatan postur pertahanan yang tangguh akan memberikan efek tangkal bagi negara lain untuk tidak melakukan pelanggaran wilayah. Diplomasi yang efektif merupakan upaya pencegahan
dan penyelesaian terhadap terjadinya pelanggaran wilayah oleh negara lain. Namun apabila upaya ini tidak berhasil maka penggunaan kekuatan militer sebagai jalan terakhir harus siap dilaksanakan sesuai aturan pelibatan dalam penanganan pelanggaran wilayah.
3) Separatisme. Seiring dengan globalisasi serta perkembangan nilai-nilai demokrasi dan hak azasi manusia, kelompok-kelompok tertentu berusaha memanfaatkan isu tersebut untuk memisahkan diri dari NKRI. Separatisme masih dan tetap akan menjadi ancaman serius bagi keutuhan NKRI. Sejarah telah menunjukkan bahwa gerakan separatisme di berbagai wilayah telah muncul dan berkembang sejak Indonesia berdiri. Momentum demokratisasi terutama setelah era reformasi dimanfaatkan oleh kelompok separatis untuk mencapai tujuan politiknya dengan menggunakan pola perjuangan militer dan non militer untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari luar negeri. Oleh karena itu dalam mencegah dan mengatasi separatisme, pendekatan non militer dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat harus dikedepankan guna meredam bibit separatisme. Penggunaan kekuatan militer dalam mengatasi ancaman separatisme melalui operasi militer selain perang (OMSP) digunakan dengan mengembangkan konsep operasi yang tepat dan efektif disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
4) Pemberontakan bersenjata. Pemberontakan bersenjata adalah suatu gerakan terorganisir yang ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah melalui tindakan subversi dan konflik bersenjata. Ancaman ini muncul dari kelompok-kelompok tertentu di dalam negeri dan dapat pula didukung oleh kekuatan asing. Sejumlah aksi pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia antara lain pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, Kahar Muzakar dan G30S/PKI. Pemberontakan bersenjata tersebut tidak hanya merongrong kewibawaan pemerintah dan mengganggu jalannya roda pemerintahan, namun juga mengancam kedaulatan negara dan keselamatan bangsa.
5) Terorisme. Ancaman terorisme tergolong dalam ancaman militer karena terorisme tidak memandang atau memilih targetnya sehingga sangat membahayakan keselamatan bangsa dan mengancam kredibilitas negara. Dengan mengikuti perkembangan politik, lingkungan strategis dan teknologi, ancaman terorisme telah berkembang luas dan menjadi ancaman global. Dari beberapa aksi teror di Indonesia dalam dekade terakhir menunjukkan jaringan terorisme telah bersifat internasional dengan cakupan operasi lintas negara di kawasan. Dengan kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang masih berkemampuan ekonomi serta berlatar belakang pendidikan rendah maka kelompok-kelompok teroris akan tetap mudah menyebarkan ajarannya, mendapatkan tempat berlindung, membangun jaringan serta merekrut kader-kader baru.
6) Konflik komunal. Kondisi masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras dan golongan membuat Indonesia rawan akan konflik komunal. Implikasi dari heterogenitas demografi Indonesia adalah potensi konflik yang berdimensi suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Dalam karakteristik demografi seperti itu, isu primordialisme menjadi sensitif karena dapat dijadikan alat untuk kepentingan tertentu yang dapat menimbulkan konflik komunal. Konflik ini pada umumnya bersumber dari fanatisme suku, daerah ataupun agama yang sempit. Selain itu faktor keadilan dan ketidakpuasan pada penegakan hukum dan masih rendahnya
kedewasaan berpolitik suatu kelompok juga dapat memicu konflik ini. Beberapa dekade terakhir ini Indonesia telah mengalami beberapa konflik komunal yang menimbulkan korban yang tidak sedikit. Konflik di Kalimantan, Poso dan Maluku merupakan contoh konflik komunal yang dipicu oleh pertentangan antara dua pihak yang bernuansa SARA. Konflik ini tidak hanya mengancam jiwa masyarakat banyak dan mengganggu stabilitas keamanan negara, namun juga dapat mengancam integritas NKRI. Konflik komunal pada dasarnya merupakan ranah fungsi pertahanan non militer, namun apabila dibiarkan akan dapat bereskalasi secara cepat sehingga mengancam keselamatan bangsa atau berakibat terganggunya roda pemerintahan atau pelayanan umum. Konflik komunal dapat pula dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memprovokasi atau memecah belah masyarakat. Atas pertimbangan tersebut, maka untuk mengatasi konflik komunal, instrumen pertahanan dapat dilibatkan sesuai peraturan perundang-undangan.
b. Ancaman Nonmiliter. Berbeda dengan ancaman militer yang menggunakan kekuatan bersenjata dan bersifat fisik, maka ancaman non militer menggunakan faktor-faktor non militer yang dapat membahayakan kedaulatan dan integritas wilayah negara dan mengancam keselamatan bangsa. Ancaman non militer merupakan ancaman yang bersifat non fisik dan multidimensi yang mencakup dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi dan informasi serta dimensi keselamatan umum. Seiring globalisasi dan dengan semakin berkem-bangnya demokrasi maka ancaman yang bersifat non militer tersebut akan lebih mendominasi konflik-konflik di berbagai belahan dunia.
1) Ancaman berdimensi ideologi. Meskipun komunisme sudah bukan merupakan paham yang populer semenjak berakhirnya perang dingin, namun ancaman ideologi komunis sebagai bahaya laten di Indonesia tetap harus diwaspadai. Seluruh komponen bangsa harus selalu waspada terhadap bangkitnya komunisme dengan gaya baru melalui penetrasi dan infiltrasi ke dalam elemen-elemen masyarakat. Selanjutnya menguatnya isu radikalisme berbasis agama beberapa waktu terakhir ini telah mengguncang sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ancaman berdimensi ideologi tersebut dapat merongrong kewibawaan pemerintah, memicu disintegrasi bangsa dan mengancam keutuhan NKRI.
2) Ancaman berdimensi politik. Ancaman berdimensi politik dapat bersumber dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, kondisi politik yang tidak stabil dapat mengganggu stabilitas nasional. Pada puncaknya, pengerahan massa yang melemahkan dan menumbangkan kekuasaan pemerintahan yang sah merupakan ancaman berdimensi politik dalam negeri. Gerakan separatisme seringkali menggunakan dimensi politik selain kekuatan bersenjata untuk mencapai tujuannya. Dari luar negeri, ancaman berdimensi politik dapat berupa intimidasi, provokasi dan tekanan politik yang dilakukan oleh suatu negara terhadap Indonesia. Sesuai diktum Clausewitz yang menyatakan bahwa perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain, maka ancaman berdimensi politik memiliki dampak yang besar bagi kedaulatan negara.
3) Ancaman berdimensi ekonomi. Ancaman berdimensi ekonomi mencakup ancaman dari dalam dan luar negeri. Ancaman dari dalam dapat berupa inflasi, angka pengangguran yang tinggi, minimnya infrastruktur, distribusi pendapatan yang tidak merata serta ekonomi biaya tinggi. Ketimpangan distribusi pendapatan akan berdampak kepada kesenjangan