a. Prinsip-prinsip Pengorganisasian. Dalam operasi, satuan operasional diorganisir sedemikian rupa agar dapat melakukan tugas-tugasnya secara mandiri. Agar satuan-satuan operasional dapat melaksanakan tugasnya secara berdaya dan berhasil guna maka perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut:
1) Kesatuan komando. Kesautan komando berarti bahwa setiap tingkatan satuan hanya memiliki satu komando guna menjamin kesatuan tindakan dalam operasi serta tidak menimbulkan keragu-raguan bagi pelaksana operasi.
komandan terhadap bawahannya relatif terbatas karena adanya hambatan-hambatan geografis, psikologis dan hambatan-hambatan lain yang dihadapi di daerah operasi. Oleh karena itu, setiap pengorganisasian satuan untuk melaksanakan operasi harus mempertimbangkan hambatan-hambatan di daeran operasi yang akan membatasi kemampuan pengendalian.
3) Penentuan tugas yang homogen. Penyusunan satuan untuk melaksanakan tugas semaksimal mungkin memperhatikan keterkaitan fungsi-fungsi agar dapat bekerjasama dengan baik di daerah operasi.
4) Pendelegasian wewenang secara tepat. Untuk meningkatkan pengendalian terhadap tugas-tugas organisasi, komandan dapat mendelegasikan wewenang kepada komandan bawahan yang disesuaikan dengan jenis dan beban tugas yang akan dihadapi oleh komandan bawahan. Meskipun wewenang telah didelegasikan, tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh satuan bawah tetap ada pada komandan atasan yang mendelegasikan wewenangnya.
b. Pengorganisasian Satuan Jajaran TNI AD. Organisasi TNI AD memiliki keunikan dibandingkan dengan organisasi angkatan darat negara lain. Keunikan ini terbentuk oleh sejarah perjuangan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, satuan-satuan TNI AD melaksanakan tugas-tugas operasional dan tugas-tugas pembinaan. Yang dimaksud dengan tugas-tugas operasional disini adalah tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas pokok TNI AD, sedangkan tugas tugas pembinaan adalah tugas-tugas untuk menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur yang diperlukan untuk menjamin kesiapan operasional seluruh satuan TNI AD.
Untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas tersebut, maka satuan-satuan TNI AD diorganisir dalam satuan-satuan operasional dan satuan-satuan pembinaan. Satuan operasional terdiri dari satuan-satuan teritorial dari tingkat Korem, Kodim dan Koramil serta satuan satuan operasional yang disusun dalam bentuk divisi, brigade, batalyon, detasemen sampai dengan kompi/baterai berdiri sendiri. Satuan-satuan tersebut diorganisir dalam komando utama dan badan pelaksana pusat TNI AD sebagai berikut:
1) Komando utama (Kotama). Kotama TNI AD meliputi Kotama Operasional dan Kotama Pembinaan:
a) Kotama Operasional (Kotamaops). Kotamaops melaksanakan tugas-tugas operasional yang secara hirarkhis bertanggung jawab kepada Panglima TNI. Agar dapat melaksanakan tugas-tugas operasional secara mandiri, setiap Kotamaops dilengkapi dengan satuan-satuan tempur, bantuan tempur dan bantuan administrasi. Besar kecilnya satuan-satuan tersebut disesuaikan dengan tantangan tugas yang dihadapi masing-masing Kotamaops. Kotamaops TNI AD terdiri dari Kotama Pusat dan Kotama Kewilayahan.
(1) Kostrad adalah Kotamaops terpusat yang dipimpin oleh Panglima Kostrad.
(2) Kopassus adalah Kotamaops terpusat yang dipimpin oleh Komandan Kopassus
(3) Kodam adalah Kotamaops kewilayahan yang dipimpin oleh Panglima Kodam
Sebutan Panglima diberikan kepada pimpinan Kotamaops yang secara organisasional dapat memimpin seluruh atau sebagian satuan bawahannya dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional. Sedangkan pimpinan satuan yang melaksanakan tugas-tugas taktis disebut dengan Komandan.
Sebutan Panglima selain diberikan kepada pemimpin Kotamaops juga diberikan kepada pimpinan komando operasi dan pimpinan satuan yang melaksanakan tugas-tugas pada tataran operasional, serendah-rendahnya satuan setingkat divisi. Meskipun bukan Kotamaops, divisi adalah satuan operasional yang dapat menyelenggarakan tugas-tugas operasional karena dilengkapi dengan unsur-unsur.
Pimpinan Kopassus disebut sebagai Komandan Kopassus karena secara organisasional berperan sebagai pembina satuan-satuan jajaran Kopassus. Karena karakteristik operasi khusus yang khas, Komandan Kopassus tidak memimpin satuannya dalam pelaksanaan tugas-tugas operasional.
b) Kotama Pembinaan (Kotamabin). Kotamabin melaksanakan tugas-tugas pembinaan yang secara hirarkhis bertanggung jawab kepada Kepala Staf TNI AD. Seluruh Kotamaops TNI AD secara struktural juga berfungsi sebagai Kotamabin. Selain itu, kotama-kotama yang menyelenggarakan fungsi-fungsi pembinaan doktrin, pendidikan dan latihan juga merupakan Kotamabin TNI AD.
(1) Kostrad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran Kostrad.
(2) Kopassus adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran Kopassus
(3) Kodam adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi membina kesiapan operasional satuan-satuan di jajaran Kodam
(4) Kodiklat TNI AD adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi sebagai pusat pembina doktrin, organisasi, pendidikan dan latihan, yang dipimpin oleh Komandan Jenderal Kodiklat.
(5) Akademi Militer adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Gubernur Akademi Militer.
(6) Seskoad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Komandan Seskoad.
(7) Secapaad adalah Kotamabin TNI AD yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan, dipimpin oleh Komandan Secapaad.
Pimpinan Kodiklat disebut sebagai Komandan jenderal karena memimpin satuan-satuan yang berbeda kecabangan dan kesenjataan. Sebutan Gubernur bagi pimpinan Akademi Militer lebih
sebagai pemeliharaan nilai-nilai sejarah. Sebutan Komandan bagi pimpinan Seskoad dan Secapaad karena membawahi satuan pelaksana pendidikan.
2) Badan Pelaksana Pusat. Badan pelaksana pusat adalah badan-badan yang menyelenggarakan pembinaan terhadap fungsi-fungsi TNI AD yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Staf TNI AD. Badan-badan tersebut dipimpin oleh Komandan, Direktur atau Kepala Dinas sesuai tugas-tugas struktural yang menjadi tanggungnya. Sebutan Komandan diberikan kepada pimpinan Balakpus yang memiliki satuan pelasksana. Sebutan Direktur diberikan kepada pimpinan Balakpus yang menyelenggarakan pembinaan fungsi-fungsi teknis militer umum (kecabangan). Sebutan Kepala Dinas diberikan kepada pimpinan Balakpus yang menyelenggarakan pembinaan fungsi-fungsi khusus (jasmani militer, pembinaan mental, psikologi, penelitian dan pengembangan, sejarah, sistem informasi dan penerangan).
BAB VI LOGISTIK
Logistik tidak memenangkan perang, tapi tanpa logistik perang tidak bisa dimenangkan
Napoleon Bonaparte
24. Umum
Operasi militer tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya dukungan logistik. Sejarah perang membuktikan bahwa logistik berperan penting dalam setiap operasi, bahkan dapat menentukan keberhasilan operasi. Oleh karena itu, kegiatan dukungan logistik dalam operasi militer harus direncanakan dan disiapkan secara cermat agar sasaran-sasaran operasional yang telah ditetapkan dapat capai secara maksimal. Kecukupan bekal dan sistem pelayanan yang baik sangat membantu pasukan operasional untuk terus melanjutkan operasinya.
Pada tataran operasional, penyelenggaraan logistik ditujukan untuk mendukung pelaksanaan operasi dalam rangka mencapai tujuan strategis. Penyelenggaraan logistik harus sinkron dengan pelaksanaan operasi secara keseluruhan. Sinkronisasi dapat dicapai apabila perencanaan logistik dilakukan dalam kerangka perencanaan operasi secara keseluruhan. Koordinasi perwira logistik dengan perwira operasi harus dilakukan secara terus menerus pada setiap tahapan operasi.