• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Kampanye Militer di Indonesia

Dalam dokumen Bujuklap Ops TNI AD Ok (Halaman 59-67)

a. Kampanye Militer Darat. Sebelum digunakannya pesawat udara dalam peperangan, hampir semua kampanye militer dilakukan oleh satuan-satuan darat. Misalnya kampanye militer yang dilancarkan oleh tentara Perancis dibawah Napoleon pada akhir abad IX. Contoh kampanye militer darat yang pernah dilakukan di Indonesia adalah Perang Kemerdekaan II yang dimulai sejak Belanda gagal menggunakan perjanjian Renville untuk melegitimasi kekuasaannya di seluruh wilayah Indonesia.

Kampanye militer ini pada dasarnya merupakan bentuk perlawanan bersenjata atas tindakan militer Belanda yang bermaksud meniadakan negara republik Indonesia yang didukung TNI. Meskipun organisasi TNI pada saat itu belum sempurna, persiapan kampanya militer telah dilakukan sejak TNI melakukan ‘hijrah‘ dari kantong-kantong gerilya ke wilayah Republik Indonesia. Secara de facto, kampanye militer mulai dilancarkan sejak dikeluarkannya Perintah Siasat Nomor 1 pada tanggal 9 Nopember 1949 oleh Panglima Besar Sudirman. Perintah tersebut adalah petunjuk-petunjuk strategis dan konsep-konsep operasional yang memberikan arahan garis besar tentang bagaimana kampanye militer harus dilakukan.

Untuk mengawali kegiatan kampanye militer, maka satuan-satuan TNI yang masih berada di wilayah Republik Indonesia (Yogyakarta) melakukan gerakan penyusupan ke basis operasi yang berada di Jawa Timur dan Jawa Barat. Sebagian kekuatan tetap berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk melancarkan operasi-operasi ofensif terhadap kekuatan Belanda yang ada di daerah tersebut. Komando dan pengendalian kampanye militer yang dilakukan Panglima Besar bersifat mobil guna menghindari penghancuran oleh Belanda. Untuk itu, pemberian perintah-perintah dan laporan dari satuan-satuan pelaksana operasi dilakukan melalui kurir.

Pulau Jawa dibagi menjadi beberapa wehrkreise yang menjadi basis operasi bagi pasukan TNI. Para Komandan Wehrkreise bertanggung jawab untuk melaksanakan operasi di wilayahnya masing-masing. Operasi dilaksanakan dengan menggunakan taktik gerilya karena kekuatan pasukan TNI tidak seimbang dibandingkan dengan kekuatan Belanda, terutama ditinjau dari kelengkapan persenjataan. Di sektor Jawa Timur, Brigade III melaksanakan aksi-aksi ofensif untuk mengganggu pasukan Belanda yang menguasai pusat-pusat kota. Di sektor Jawa Barat, Brigade XIII juga melaksanakan aksi-aksi ofensif terhadap sasaran-sasaran yang berupa fasilitas militer yang dikuasai Belanda.

Aksi-aksi ofensif tersebut disadari tidak mungkin memberikan kemenangan yang menentukan. Oleh karenanya aksi-aksi ofensif tersebut dilakukan secara sporadis untuk memberikan tekanan secara terus-menerus guna menurunkan moril pasukan Belanda. Aksi-aksi ofensif biasanya dilaksanakan pada malam hari guna memperoleh pendadakan dan menghindari perlawanan yang kuat dari pasukan Belanda. Selain itu, TNI juga melancarkan aksi-aksi ofensif yang relatif besar untuk

menunjukkan eksistensi TNI kepada dunia luar dan meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah RI yang didukung TNI. Operasi-operasi besar tersebut adalah serangan umum di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 dan serangan umum di Surakarta pada tanggal 10 Agustus 1949.

Serangan umum yang dilancarkan di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 dilaksanakan mulai pagi hingga siang hari. Serangan umum tersebut dilancarkan oleh pasukan dari Wehrkreise III dengan melakukan operasi serangan dari berbagai arah sehingga pasukan Belanda tidak bisa mengkonsolidasikan kekuatannya untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan TNI dalam waktu singkat. Pendadakan yang diperoleh dari kerahasiaan rencana operasi telah memberikan inisiatif kepada pasukan Wehrkreise III untuk memperoleh keunggulan taktis, walaupun bersifat sementara. Tujuan operasional serangan tersebut adalah untuk mendapat penguasaan wilayah selama beberapa jam pada siang hari. Hal itu dilakukan guna memberikan keuntungan bagi kepentingan politik RI di luar negeri, khususnya perjuangan para diplomat RI di PBB.

Serangan umum juga dilakukan di Surakarta pada tanggal 7 sampai 10 Agustus 1949. Operasi serangan yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi ini dilakukan dari berbagai penjuru kota sehingga memaksa Belanda untuk menghadapi beberapa front sekaligus. Waktu serangan dipilih dengan memperhitungkan keuntungan strategis yang bisa diperoleh dari serangan tersebut. Sesuai kesepakatan yang telah dicapai antara para pemimpin politik RI dengan perwakilan pemerintah Belanda, kedua pihak akan melakukan gencatan senjata pada tanggal 11 Agustus 1945. Setelah menunjukkan kemampuannya dalam pertempuran yang berlangsung selama 4 hari 4 malam di seluruh kota, pasukan TNI tetap dapat berkeliaran di dalam kota dan pasukan Belanda tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat oleh kesepakatan gencatan senjata.

Dalam Perang Kemerdekaan II, TNI memang tidak mendapat kemenangan taktis maupun operasional. Namun berkat semua upaya taktis dan operasional yang dilakukan TNI dalam kampanye militer tersebut, pemerintah RI memperoleh keuntungan strategis dan politis di mata internasional. Aksi-aksi ofensif yang dilancarkan selama Perang Kemerdekaan II tersebut dipancarluaskan ke berbagai penjuru dunia atas bantuan pemerintah Burma. Keuntungan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh para diplomat RI di PBB untuk memperkuat dukungan dari negara-negara sahabat dan menekan Belanda agar bersedia berunding. Mereka akhirnya berhasil memaksa pemerintah kerajaan Belanda untuk berunding dalam Konferensi Meja Bundar dan mengakui kedaulatan RI. TNI memang tidak memenangi pertempuran tetapi bangsa Indonesia memenangi perang dan kedaulatan Republik Indonesia dapat ditegakkan.

b. Kampanye Militer Gabungan. Untuk memberikan gambaran tentang kampanye militer yang dilakukan secara gabungan, kita dapat belajar dari pengalaman sejarah TNI. Pada bab ini diuraikan sejarah singkat operasi Trikora dan operasi Tujuh Belas Agustus, dimana satuan-satuan TNI AD terlibat dalam kampanye militer yang terdiri dari rangkaian operasi gabungan dan operasi-operasi angkatan yang dilaksanakan secara tersinkronisasi untuk mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan.

1) Operasi Penumpasan PRRI. Operasi penumpasan PRRI dapat dikategorikan sebagai kampanye militer gabungan karena pada operasi ini dilakukan untuk mencapai tujuan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI yang terancam oleh gerakan PRRI di Sumatera. Untuk itu Markas Besar Angkatan Perang RI menggelar beberapa operasi besar dengan mengerahkan kekuatan angkatan darat,

angkatan laut dan angkatan udara. Operasi besar yang digelar meliputi:  Operasi Tegas untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan

menguasai Pekanbaru dan Riau Daratan

 Operasi Sapta Marga untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan menguasai Medan dan Sumatera Utara

 Operasi 17 Agustus untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan menguasai padang dan Sumatera Barat

 Operasi Sadar untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan menguasai Palembang dan Sumatera Selatan.

Untuk melancarkan pelaksanaan operasi-operasi besar tersebut, dibentuk komando-komando gabungan. Masing-masing komando gabungan bertugas merencanakan dan melaksanakan operasi besar dan rangkaian operasi taktis yang diperlukan untuk merebut sasaran operasional yang telah ditetapkan.

a) Operasi Tegas. Sebelum operasi tempur dilancarkan, komando Operasi Tegas telah melancarkan operasi intelijen ke daerah musuh untuk memperoleh intelijen tentang gelar, kemampuan dan kekuatan pemberontak serta melakukan kontak dengan satuan setempat yang masih setia kepada pemerintah RI. udara

Operasi tempur pertama dilakukan dengan melakukan serbuan lintas udara ke lapangan udara Pekanbaru oleh PGT AURI dan RPKAD pada tanggal 12 Maret 1958. Pasukan lain melakukan pendaratan melalui laut di sekitar Dumai, kemudian melakukan link-up dengan pasukan yang telah berhasil menguasai Pekanbaru. Operasi selanjutnya dilakukan untuk memulihkan kondisi keamanan wilayah pacca Operasi Tegas. Operasi lanjutan ini dilakukan bersama-sama dengan satuan-satuan lokal yang masih setia dengan pemerintah NKRI.

Kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut dikerahkah untuk mendukung operasi yang dilancarkan di wilayah daratan. Misalnya, unsur-unsur angkatan laut dikerahkan untuk mendukungn pendaratan dan melakukan penyekatan laut untuk memutus jalur komunikasi pemberontak ke dunia luar. Sedangkan unsur-unsur angkatan udara memberikan dukungan udara, baik dukungan angkutan udara maupun bantuan tembakan udara.

Keberhasilan Operasi Tegas menguasai Pekanbaru dan kota-kota sekitarnya di daerah Riau daratan telah memberikan tekanan moril musuh yang berada di daerah Sumatera Utara dan Sumatera Barat sehingga secara tidak langsung telah memberikan keunggulan moril terhadap pasukan yang melaksanakan operasi di daerah lain. b) Operasi Sapta Marga. Operasi intelijen dalam rangka Operasi Sapta Marga dilakukan dengan menyusupkan satuan-satuan intelijen ke daerah operasi di sekitar Medan, Tapanuli dan beberapa daerah lainnya. Selain untuk mendapatkan intelijen tentang musuh, operasi intelijen juga dilakukan untuk melakukan link-up dengan pasukan setempat yang masih setia dengan pemerintah RI.

Operasi operasi pokok ditandai dengan operasi lintas udara yang dilakukan oleh RPKAD untuk membantu satuan lokal yang

sedang menghadapi pasukan musuh yang relatif lebih kuat. Operasi lintas udara juga dilakukan di sekitar Belawan untuk membebaskan pasukan lokal yang terjepit pasukan musuh.

Operasi Sapta Marga meraih sukses dengan dikuasainya Kota Medan dan kota-kota utama di Sumatera Utara sehingga sisa-sisa pasukan pemberontak tercerai-berai ke daerah pedalaman. Selanjut-nya digelar operasi-operasi lanjutan yang bertujuan mengeksploitasi keberhasilan operasi selanjutnya serta memulihkan kondisi keamanan wilayah. Sebagian kekuatan yang berada di bawah komando operasi Sapta Marga digerakkan kearah Sumatera Barat untuk mendukung pelaksanaan operasi 17 Agustus.

c) Operasi 17 Agustus. Operasi yang dilaksanakan di Sumatera Barat ini merupakan operasi terbesar yang digelar dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI. Pemilihan Sumatera Barat didasari oleh pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan basis kekuatan PRRI, dimana para petinggi politik dan militer gerakan PRRI berada.

Tujuan operasi ini adalah untuk merebut Kota Padang dan kota-kota penting lainnya dari pendudukan pasukan pemberontak. Perebutan Kota Padang dimulai pada tanggal 17 April 1958, didahului dengan operasi amfibi dan pendaratan administrasi melalui laut. Bersanaan dengan itu dilakukan operasi lintas udara di sekitar pangkalan udara Tabing untuk membentuk tumpuan udara bagi pendaratan pasukan berikutnya melalui udara. Setelah semua pasukan telah didaratkan, operasi darat lanjutan digelar untuk menguasai Kota Padang dan kota-kota lainnya yang masih dikuasai oleh pasukan pemberontak.

Setelah kekuatan utama pemberontak berhasil dihancurkan, operasi dilanjutkan oleh satuan-satuan setempat. Selain untuk memulihkan kondisi keamanan, operasi-operasi lanjutan juga dilakukan dengan tujuan untuk memberikan tekanan secara terus-menerus terhadap sisa-sisa pemberontak yang masih ada. Operasi-operasi lanjutan yang dilaksanakan selama dua tahun tersebut telah memaksa pada pemberontak menyerahkan diri.

d) Operasi Sadar. Operasi ini dimulai pada awal Mei 1958 dengan tujuan untuk mengatasi gangguan yang dilancarkan oleh simpatisan PRRI dan mencegah pelarian pemberontak PRRI dari wilayah Sumatera bagian utara ke Sumatera Selatan.

Operasi pengamanan yang dilancarkan di Sumatera Selatan ini telah berhasil memulihkan kondisi keamanan wilayah di Sumatera Selatan. Keberhasilan operasi Sadar di Sumatera Selatan menandai berakhirnya kampanye militer yang digelar di sebagian Pulau Sumatera.

2) Operasi Trikora. Operasi Trikora adalah kampanye militer gabungan dua tahun yang dilancarkan untuk membebaskan wilayah Irian Barat dari cengkeraman Belanda dan mengintegrasikannya sebagai bagian dari NKRI. Kampanye militer ini dimulai pada tanggal 19 Desember 1961, ketika Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Operasi Trikora dalam sebuah pidato di Alun-alun Utara Yogyakarta yang diikuti dengan pembentukan Komando Mandala melalui keputusan Presiden No. I/1962

tanggal 2 Januari 1962.

Tugas komando mandala adalah merencanakan, menyiapkan dan menyelenggarakan kampanye militer untuk merebut Irian Barat sebagai bagian integral wilayah NKRI. Komando Mandala ini berpusat di Makassar dan bertanggung jawab atas daerah operasi yang mencakup wilayah Kodam XIII/Merdeka, Kodam XIV/ Hasanuddin, Kodam XV/Pattimura, Kodamar VI/Udayana, Korud II dan Korud IV.

Pada tahap awal kampanye, Komando Mandala melancarkan operasi intelijen untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi penyeleng-garaan penentuan pendapat rakyat. Bersamaan dengan penciptaan kondisi tersebut, pemerintah membangun kekuatan angkatan bersenjata modern yang lebih kuat daripada kekuatan Belanda yang tergelar di Irian Barat. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan penangkalan agar Belanda secara sukarela menyerahkan hak Indonesia atas wilayah Irian Barat.

Dari tiga strategi yang telah disusun, pemerintah memilih untuk merebut dan mempertahankan seluruh Irian Barat dalam waktu secepat-cepatnya untuk memperoleh kekuasaan de facto atas seluruh wilayah tersebut. Pilihan strategi tersebut didasarkan pada keyakinan yang berkembang pada saat itu bahwa pilihan strategi perang konvensional lebih menguntungkan, karena kalah menangnya perang dipandang dari segi kehancuran musuh dan pendudukan wilayah sebagai kemenangan perang.

Dalam kampanye militer tersebut TNI menyusun rencana kampanye untuk melancarkan kampanye militer dengan pentahapan operasi sebagai berikut:

a) Tahap infiltrasi. Infiltrasi dalam jangka waktu 10 bulan dimulai awal 1962 sampai akhir 1962. Infiltrasi dilaksanakan melalui laut dan udara dengan menggunakan beberapa kapal selam, kapal atas permukaan dan pesawat-pesawat udara. Sejumlah 10 kompi inti angkatan darat, laut dan udara dan dikerahkan untuk menyusup ke daerah-daerah yang tidak dikuasai lawan untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi tahap operasi berikutnya, antara lain dengan melakukan operasi penerangan untuk memperoleh dukungan penduduk setempat dan membentuk kantong-kantong perlawanan Republik Indonesia di Irian Barat. Selain kompi inti tersebut juga disusupkan sejumlah sukarelawan Kantong-kantong perlawanan tersebut disiapkan sebagai daerah basis operasi untuk operasi berikutnya.

b) Tahap eksploitasi. Eksploitasi dilakukan dengan menggelar operasi ofensif secara besar-besaran untuk merebut dan menduduki Irian Barat. Operasi yang diberi nama Operasi Jayawijaya tersebut disiapkan sejak awal tahun 1962 dengan menyiapkan kekuatan utama yang akan melakukan penyerangan. Beberapa perintah operasi untuk melancarkan Operasi Jayawijaya telah dikeluarkan sejak 19 Juli 1962. Hari “H” operasi ditentukan tanggal 17 Agustus 1962. Sampai dengan 15 Agustus 1962 semua pasukan penyerang telah siap di daerah kumpul depan mulai dari Pulau Morotai di utara sampai dengan Kepulauan Aru di selatan.

Kapal-kapal ALRI dan pesawat-pesawat udara AURI telah disiapkan untuk mendaratkan pasukan penyerang ke daratan Irian Barat melalui beberapa jurusan. Bersamaan dengan itu, infiltrasi terus

dilanjutkan untuk memperkuat para gerilyawan yang telah berhasil membentuk kantong-kantong perlawanan di wilayah Irian Barat, antara lain di Sorong, Fak Fak, Biak dan Kaimana.

c) Tahap konsolidasi. Tahap konsolidasi akan dilaksanakan setelah tahap eksploitasi selesai dilaksanakan. Selain untuk mengkonsolidasikan semua kekuatan militer yang dikerahkan dalam operasi, konsolidasi juga disiapkan untuk menerima peralihan kekuasaan pemerintahan Irian Barat dari pemerintah Belanda ke pemerintah RI.

Pada kenyataannya, pertempuran besar antara pasukan RI tidak dilaksanakan karena pada tanggal 16 Agustus 1962 Presiden RI mengeluarkan perintah penghentian permusuhan karena Belanda di Irian Barat karena pemerintah Belanda telah sepakat untuk menyerahkan kekuasaan atas Irian Barat kepada pemerintahan peralihan yang disponsori PBB, untuk selanjutnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia setelah penentuan pendapat rakyat Irian Barat.

Kampanye militer berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian New York, yang secara resmi mengakhiri sengketa Indonesia dengan Belanda atas Irian Barat. Walaupun decisive battle antara Indonesia dan Belanda tidak terjadi, Operasi Trikora dapat dianggap sukses karena sasaran-sasaran operasional berhasil dicapai dan mengarah pada tercapainya tujuan strategi.

c. Pelajaran yang dapat dipetik. Belajar dari operasi-operasi militer tersebut dapat diambil suatu definisi umum bahwa kampanye militer merupakan salah satu kegiatan perang yang berbentuk rangkaian operasi militer yang saling berhubungan dan dilaksanakan dalam ruang dan waktu yang cukup luas guna mencapai tujuan dan sasaran yang bersifat strategis. Selain itu, kita dapat mempelajari beberapa hal yang bermanfaat dalam rangka mewujudkan kesiapan kampanye militer pada masa mendatang.

1) Karakteristik kampanye militer. Berdasarkan kampanye militer yang pernah dilakukan, ada beberapa karakteristik kampanye militer yang perlu dipahami oleh para perencana kampanye militer sebagai berikut:

a) Kampanye militer sangat terkait dengan kepentingan politik dan strategis, memiliki implikasi politis dan strategis, serta didukung oleh aspek-aspek non militer. Karakteristik ini menjadikan kampanye militer semakin kompleks. Perencanaan kampanye militer idealnya mengalir dari tujuan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepen-tingan strategis nasional. Dalam kaitan ini, perencana kampanye militer harus bisa menarik benang merah antara kepentingan strategis nasional dengan kepentingan strategis militer sehingga keduanya berada pada aliran yang sama. Namun kadang-kadang kepentingan strategis nasional justru mengalir dari kepentingan strategis militer, seperti yang terjadi pada Perang Kemerdekaan II. Saat Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia telah dibombardir tentara sekutu, Panglima Besar Jenderal Sudirman membuat keputusan ketika Presiden mengajak Panglima Besar untuk tetap tinggal di Yogyakarta: “Tidak bisa, saya tentara. Tempat saya yang terbaik di tengah-tengah anak buah dan saya akan meneruskan perjuangan, met of zonder pemerintah, TNI akan berjuang terus.” Dalam pernyataan tersebut, Panglima Besar memproyeksikan suatu tujuan strategis nasional

dibalik tujuan strategis militer yang beliau pahami betul, namun tidak dipahami oleh pemimpin-pemimpin sipil pada saat ini.

b) Kampanye militer merupakan rangkaian dari beberapa operasi, baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Karakteristik inilah yang membedakan kampanye militer dengan operasi militer biasa. Maka dapat dikatakan bahwa setiap kampanye militer adalah operasi militer, tetapi tidak setiap operasi militer dapat disebut kampanye militer. Dalam kampanye militer biasanya ada satu atau beberapa operasi besar yang dijadikan tema operasi. Operasi-operasi besar tersebut ditempatkan pada garis-garis operasi yang langsung mengarah pada center of gravity musuh dan tujuan akhir kampanye.

c) Kampanye militer memerlukan perencanaan yang kompre-hensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Dengan adanya beberapa operasi militer dalam satu mandala, maka perencanaan harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan operasi yang berpengaruh, termasuk kondisi politik, ekonomi dan sosial budaya yang berlaku secara nasional.

d) Kampanye militer dilaksanakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Lamanya waktu kampanye terutama disebabkan oleh adanya beberapa sasaran operasional yang harus dicapai serta adanya tujuan akhir yang bersifat strategis. Selain itu, keberhasilan kampanye militer tidak semata-mata ditentukan oleh tercapainya sasaran-sasaran operasional saja, tetapi juga sangat tergantung pada pencapaian tujuan strategis penggunaan kekuatan nasional lainnya, yaitu politik dan diplomasi, ekonomi serta informasi.

e) Kampanye militer diselenggarakan dalam suatu mandala yang relatif luas. Luasnya mandala kampanye militer disebabkan oleh adanya operasi-operasi besar yang harus dilaksanakan secara berturut-turut atau serempak. Operasi-operasi besar itu biasanya memerlukan pengerahan kekuatan militer yang relatif besar sehingga memerlukan daerah operasi.

f) Kampanye militer dapat dilakukan oleh satu angkatan atau lebih. Kampanye militer tidak selalu bersifat gabungan, tergantung dari karakteristik operasi militer yang akan dilaksanakan, terutama kondisi daerah operasi dan musuh yang dihadapi dalam mandala kampanye. Kampanye militer yang dilaksanakan di darat dalam rangka OMSP guna menghadapi insurjen, penggunaan kekuatan angkatan laut dan udara kemungkinan tidak diperlukan.

2) Penyelenggaraan kampanye militer. Dari tiga contoh kampanye militer tersebut, dapat diambil pelajaran berharga untuk diaplikasikan pada konsep penyelenggaraan kampanye militer pada masa yang akan datang. Ketiga kampanye militer memberikan beberapa pelajaran tentang bagaimana mengorganisir kekuatan untuk sebuah kampanye militer, kemudian menggelar kekuatan untuk melaksanakan operasi dan tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

a) Pengorganisasian kekuatan. Pada Perang Kemerdekaan II, pengorganisasian kekuatan sebenarnya telah dimulai semenjak Perang Kemerdekaan I. Perintah Siasat Nomor 1 menjadi petunjuk strategis untuk melakukan pengorganisasian kekuatan TNI dalam bentuk wehrkreise yang siap melancarkan operasi gerilya dari basis

operasi masing-masih.

Pada operasi penumpasan PRRI, satuan-satuan yang akan dilibatkan dalam operasi diorganisir berdasarkan tugas-tugas yang akan mereka lakukan. Unsur-unsur angkatan udara diorganisir secara terpusat untuk mendukung pelaksanaan operasi darat dan operasi laut yang akan digelar di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

Pengorganisasian operasi Trikora dilaksanakan dengan matang dan komprehensif serta dilakukan dalam waktu yang cukup lama sejak perundingan-perundingan yang dilaksanakan sebelum tahun 1960 hingga pengumuman operasi Trikora oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961 yang diikuti dengan pembentukan Komando Mandala pada awal 1962. Bahkan sebelum pembentukan Mandala, pemerintah membangun kekuatan angkatan bersenjata dengan memodernisasi sistem senjata yang diperoleh dari Uni Soviet. Mobilisasi umum juga dilakukan dengan membentuk pasukan sukarelawan secara besar-besaran.

b) Penggelaran kekuatan. Pada perang kemerdekaan II, penggelaran kekuatan dilakukan dengan membagi wilayah tanggung jawab wehrskreise menjadi beberapa subwehrkreise untuk memberikan tekanan psikologis sedemikian rupa sehingga pasukan Belanda merasa terkepung oleh kekuatan APRI. Gelar kekuatan seperti ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa keunggulan kekuatan fisik ada di tangan Belanda. Dengan gelar seperti ini, pasukan TNI akan dapat menghindari penghancuran sekaligus memberikan pendadakan terhadap pasukan Belanda yang bertahan secara statis.

Pada operasi penumpasan pemberontakan PRRI, penggelaran kekuatan dilakukan dengan membagi daerah operasi menjadi beberapa sektor, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Penggelaran kekuatan seperti itu dilakukan berdasarkan pertimbangan intelijen musuh yang tersebar di daerah-daerah tersebut.

Pada Operasi Trikora, Indonesia melakukan infiltrasi untuk menempatkan kekuatan di daerah musuh dalam bentuk

Dalam dokumen Bujuklap Ops TNI AD Ok (Halaman 59-67)