Berpedoman pada pernyataan “kita cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan”, maka bangsa Indonesia harus selalu menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Untuk itu, TNI sebagai alat negara dibidang pertahanan harus senantiasa melakukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan jajarannya guna menghadapi kemungkinan penggunaan kekuatan TNI untuk menghadapi ancaman terhadap kedau-latan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Sesuai dengan tetarannya, perencanaan kampanye militer dapat dibedakan menjadi perencanaan stretegis dan perencanaan operasional.
a. Perencanaan strategis. Kebijakan pertahanan negara yang tertuang dalam Doktrin Pertahanan Negara, Strategi Pertahanan Negara dan Postur Pertahanan Negara mengasumsikan bahwa agresi militer merupakan salah satu ancaman yang perlu diperhatikan dalam menyusun konsep pertahanan negara. Dengan asumsi itu, konsep penyelenggaraan pertahanan negara yang dituangkan dalam dokumen-dokumen tersebut adalah sistem pertahanan semesta dengan menempatkan pertahanan militer sebagai prioritas penyusunan pertahanan yang bertumpu pada kekuatan TNI sebagai komponen utama yang dipersiapkan untuk menghadapi ancaman militer yang dilaksanakan dengan pola OMP maupun OMSP.
Penyelenggaraan OMP menggunakan segenap komponen pertahanan negara yang terdiri atas komponen utama, komponen cadangan dan komponen pendukung. Dalam kerangka pertahanan militer, TNI menyelenggarakan perenca-naan strategis mengimplementasikannya dalam bentuk gelar kekuatan. Dalam kaitan itu, TNI digelar secara kenyal untuk memenuhi tuntutan strategi pertahanan dan strategi militer untuk kepentingan penangkalan maupun penindakan. Penggelaran tersebut merupakan implementasi konsep pertahanan militer berlapis yang mengedepankan upaya penangkalan ancaman yang diikuti oleh penindakan apabila musuh militer memasuki wilayah NKRI dan selanjutnya dikembangkan konsep perang berlarut apabila musuh berhasil memasuki wilayah daratan dan melakukan penguasaan atas wilayah NKRI.
Pertahanan untuk tujuan perang berlarut merupakan lapis terakhir dari sistem pertahanan Indonesia yang menentukan hidup matinya bangsa Indonesia. Sebagai lapis terakhir, Strategi Perang Berlarut merupakan bentuk Perang
Semesta yang melibatkan seluruh bangsa Indonesia untuk mempertahankan tetap tegaknya NKRI. Strategi Perang Berlarut dilaksanakan manakala perlawanan konvensional yang mengintegrasikan upaya pertahanan militer dan pertahanan non militer tidak memberikan hasil. Maka, demi kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, perang berlarut menjadi pilihan dan diselenggarakan secara total, tanpa mengenal menyerah dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai musuh. Strategi Perang Berlarut menggunakan taktik perang gerilya untuk menguras kemampuan lawan dan pada saat yang tepat melancarkan serangan balas yang menentukan untuk mengusir lawan keluar dari wilayah NKRI. Disamping untuk menghadapi ancaman militer yang berasal dari luar, pertahanan militer yang disusun dalam sistem pertahanan negara juga diarahkan untuk melaksanakan tugas-tugas OMSP dengan bentuk yang telah diatur dalam undang-undang antara lain untuk menghadapi ancaman separatisme, pemberontakan bersenjata, terorisme, pelanggaran wilayah dan memberikan bantuan Polri maupun otoritas sipil dalam menangani berbagai konflik sosial dan bencana alam yang terjadi di seluruh wilayah NKRI. Untuk itu maka TNI melakukan perencanaan strategis yang meliputi pembangunan kekuatan dan gelar kekuatan agar siap melaksanakan tugas-tugas operasional.
1) Pembangunan kekuatan. Dengan bentuk geografis dan kondisi sosial yang unik dan potensi ancaman yang beragam, pembangunan kekuatan TNI disiapkan untuk mendukung strategi pertahanan negara, dengan TNI sebagai komponen utama. Dihadapkan pada kondisi tersebut dan kompleksitas tugas dalam rangka OMP dan OMSP, maka organisasi TNI AD disusun berdasarkan kompartementasi strategis untuk mewadahi gelar satuan yang tersebar di seluruh wilayah NKRI. Di sisi lain, TNI AD juga menyusun organisasi “siap pakai” untuk melakukan tugas-tugas kontinjensi dalam bentuk Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) bersama-sama dengan angkatan lain.
Salah satu hal penting yang juga perlu dipersiapkan adalah pengorganisasian komponen cadangan pertahanan negara. Sesuai dengan Postur Pertahanan Negara yang dirumuskan oleh Kementerian Pertahanan tahun 2007, penyusunan komponen cadangan diselenggarakan dalam rangka sistem pertahanan semesta yang ditujukan untuk menghasilkan efek penangkalan. Untuk tujuan tersebut, pengorganisasian komponen cadangan disesuaikan dengan susunan komando kewilayahan yang ada. Misalnya, komponen cadangan darat disusun di tiap-tiap Kodam. Saat ini komponen cadangan yang telah terbentuk masih merupakan model yang akan dikembangkan pada masa mendatang.
Sesuai dengan dokumen Kodam Sebagai Kompartemen Strategis 2003, kekuatan komponen cadangan tersebut tersusun dalam kompi-kompi Bala Cadangan yang disebar di delapan Kodam dengan jumlah keseluruhan sekitar 900 orang. Selain dalam bentuk Bala Cadangan, juga terdapat unsur Mahasiswa dan Alumni Mahasiswa yang sudah mendapat pelatihan dasar kemiliteran yang tersusun dalam organisasi Menwa dan Alumni Menwa. Hingga saat ini jumlah Menwa dan Alumni Menwa masing-masing sekitar 25.000 orang dan 62.000 orang. Selain yang disebutkan di atas, yang tergabung dalam kekuatan nyata Cadangan Pertahanan adalah anggota veteran berjumlah sekitar 30.000 orang dimana sebagian sudah berusia lanjut.
Komponen cadangan ini idealnya dapat digerakkan untuk mendukung komponen utama apabila sewaktu-waktu diperlukan guna
menyeleng-garakan sebuah kampanye militer di seluruh wilayah NKRI. Proses perencanaan, pengorganisasian, penyiapan hingga pelaksanaan kampanye tersebut dilaksanakan melalui proses perencanaan yang berlaku secara umum mulai dari analisa tugas, analisa lingkungan dan ancaman hingga penyusunan rencana dalam bentuk Rencana Operasi atau Rencana Kontinjensi.
2) Gelar kekuatan. Organisasi yang telah terbentuk disusun dan digelar untuk mencapai tujuan strategis, baik yang bersifat penangkalan maupun penindakan. Selain gelar kekuatan tersebar di tiap-tiap kompartemen strategis, juga disiapkan gelar kekuatan terpusat yang sewaktu-waktu siap dikerahkan ke berbagai wilayah NKRI. Satuan-satuan TNI AD yang berada di bawah jajaran Kostrad dibentuk menjadi PPRC yang memiliki kesiapan dan kemampuan operasional tinggi dan dengan cepat dapat digerakkan untuk melaksanakan operasi militer guna mengatasi persoalan di daerah tertentu dalam wilayah NKRI. PPRC TNI merupakan suatu Komando Gabungan Khusus yang tugas pokoknya melaksanakan operasi tempur untuk penindakan awal terhadap serangan atau ancaman secara cepat di suatu wilayah Rl dalam rangka pertahanan keamanan negara. Mengingat operasi yang dilaksanakan oleh TNI tidak semuanya bersifat konvensional, maka satuan-satuan yang berada dalam struktur organisasi PPRC harus dibekali kemampuan beradaptasi dengan keberagaman tugas yang mungkin dihadapi.
Dengan prinsip kesemestaan dalam sistem pertahanan negara yang menempatkan TNI sebagai komponen utama, konsep perang berlarut merupakan pilihan paling realistis. Oleh karena itu gelar komando kewilayahan merupakan pilihan yang tepat untuk mengelola potensi pertahanan yang ada di wilayah agar dapat ditransformasikan menjadi komponen cadangan dan komponen pendukung yang efektif. Dengan demikian, eksistensi komando kewilayahan pada dasarnya merupakan salah satu wujud kesiapan TNI AD untuk menggelar kampanye militer guna mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI dari setiap bentuk ancaman baik militer maupun non militer yang datang dari luar maupun dalam negeri. Gelar komando kewilayahan diarahkan untuk mewujudkan kepekaan teritorial yang tinggi guna mengantisipasi setiap ancaman yang mungkin timbul baik dari dalam maupun luar negeri secara dini. kepekaan teritorial ini harus menjadi kemampuan dan karakter dasar para prajurit TNI AD yang bertugas di komando teritorial yang juga harus didukung dengan sistem K4IPP yang memadai. Dengan terbentuknya kepekaan teritorial seperti ini, maka setiap kemungkinan ancaman yang timbul akan dapat diantisipasi dengan cepat dan dilakukan penindakan yang perlu agar tidak berkembang menjadi ancaman besar yang membahayakan kedaulatan NKRI.
b. Perencanaan Operasional. Perencanaan kampanye militer pada dasarnya adalah aplikasi prosedur pemecahan persoalan dalam skala besar melalui sebuah disain operasi. Perencanaan bertujuan untuk menetapkan sasaran serta merinci tujuan-tujuan operasional dan bagaimana melakukannya untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Meskipun perencanaan kampanye militer merupakan sebuah proses formal, namun seni dan intuisi untuk menyelenggarakan kampanye militer tetap memainkan peran yang penting, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan situasi-situasi di mana diperlukan tindakan-tindakan yang mendesak. Kebebasan bertindak dalam operasi juga diperlukan sehingga naluri seorang panglima operasi untuk mengambil tindakan-tindakan cepat menjadi kunci
keberhasilan kampanye militer. Proses perencanaan kampanye militer meliputi serangkaian langkah prosedural. Namun, proses ini harus fleksibel sehingga memberikan ruang bagi pengembangan naluri panglima operasi. Secara garis besar, proses perencanaan kampanye militer mencakup beberapa langkah sebagai berikut:
1) Pertama, menganalisa situasi. Karena kampanye militer berada pada tataran operasional namun dapat membawa implikasi strategis dan politis, maka analisa situasi dilakukan dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh. Bidang-bidang yang harus dianalisa mencakup masalah pemerintahan, politik luar negeri dan diplomasi, ekonomi dan distribusi kekayaan, kemanusiaan dan masalah-masalah kesehatan, masalah keamanan dan kriminalitas dalam masyarakat, etnik dan agama, media masa dan sebagainya. Proses analisa ini akan memberikan pemahaman yang lengkap kepada panglima operasi selaku pengambil keputusan tentang situasi nyata yang akan dihadapi serta akar permasalahan yang perlu dijadikan pertimbangan. Dengan kelengkapan pemahaman ini, maka diharapkan perencanaan operasional dan taktis dapat dilakukan dengan tepat.
2) Kedua, identifikasi dan analisa masalah. Langkah kedua ini merupakan langkah yang dilakukan secara paralel. Pada saat seorang panglima operasi melakukan analisa tugas pokok, maka staf melanjutkan evaluasi terhadap faktor-faktor lingkungan dan situasi yang sedang berlangsung sebagai hasil dari analisa yang dilakukan pada langkah pertama. Kedua proses ini kemudian digabungkan untuk mendapatkan analisa lanjutan yang bermuara pada garis besar rencana kampanye untuk dijadikan sebagai petunjuk awal atau rencana sementara yang harus dikerjakan. Langkah kedua ini mencakup kegiatan analisa tugas pokok, penilaian terhadap faktor-faktor yang berpengaruh dan membuat petunjuk perencanaan.
a) Analisa tugas pokok. Analisa tugas pokok dalam perencanaan kampanye militer harus memiliki fokus kepada pencapaian sasaran operasional. Sasaran operasional ini kemudian akan menjadi bagian dari sasaran strategis yang ingin dicapai. Pada tahap ini pertanyaan-pertanyaan dan pertimbangan yang digunakan memiliki lingkup yang lebih luas. Setelah menganalisa tugas pokok, panglima operasi mulai merumuskan sasaran-sasaran kampanye militer yang akan dimasukkan dalam petunjuk perencanaan kepada staf.
b) Evaluasi faktor-faktor yang berpengaruh oleh staf. Dalam waktu yang bersamaan, para perwira staf melakukan evaluasi terhadap berbagai faktor yang berpengaruh, khususnya yang berkaitan dengan situasi yang sedang berkembang dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menunjang pemecahan masalah. Faktor-faktor yang dinilai meliputi faktor cuaca, medan dan karakteristik lain yang berkaitan dengan pelaksanaan operasi serta kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terjadi. Disamping mengevaluasi faktor lingkungan, staf juga membuat evaluasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pasukan sendiri, pasukan kawan serta musuh yang dimungkinkan akan berpengaruh pada jalannya kampanye atau operasi. Tujuan dari proses ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang lengkap dan utuh tentang karakter fisik dan psikologis semua elemen yang terlibat dalam kampanye,
baik pasukan sendiri, kawan, musuh maupun lingkungan.
c) Petunjuk perencanaan panglima operasi. Panglima operasi dan staf menggabungkan hasil analisa masing-masing dan mendiskusikannya untuk kemudian membangun sebuah garis besar rencana kampanye. Rencana garis besar ini setidaknya memuat sasaran-saran operasional yang realistis, langkah-langkah serta sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Mereka akan secara bersama-sama memilih dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh, sesuai dengan informasi penting yang telah didapatkan, khususnya informasi tentang kelemahan sendiri yang harus mendapatkan perhatian. Selanjutnya panglima operasi akan membuat dan menyampaikan petunjuk-petunjuk perencanaan yang akan digunakan oleh staf untuk mengolah semua elemen yang tersedia guna mendukung keinginan-keinginan panglima operasi.
3) Ketiga, pengembangan rencana kampanye dan operasi pendahuluan. Hasil analisa dan evaluasi yang dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya kemudian akan digunakan oleh panglima operasi dan staf untuk membangun sebuah rencana kampanye. Rencana kampanye ini juga dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk menyusun rencana operasi dalam ruang dan waktu yang lebih sempit dan menjadi bagian dari kampanye.
Sasaran operasional dan garis besar yang telah ditetapkan kemudian digunakan untuk mengembangkan rencana kampanye itu sendiri. Titik-titik krusial dan hal-hal lain yang mendukung pencapaian sasaran perlu diidentifikasi secara jelas. Sasaran operasional dapat di kelompok-kelompokkan secara tematis ke dalam garis-garis operasi, yang akan membantu penggambaran keseluruhan kampanye. Garis-garis operasi akan menjadi alat kendali bagi pasukan dimana mereka dapat bertindak sebagai kekuatan inti atau mendukung kekuatan yang lain. Apabila kerangka ini telah terbangun, maka panglima operasi dan staf kemudian menganalisa sasaran operasional dan menentukan kekuatan yang diperlukan untuk mencapainya. Jika rencana kampanye memuat perencanaan untuk jangka panjang, maka rencana operasi pendahuluan lebih membahas perencanaan jangka pendek yang akan dilaksanakan pada tahap awal kampanye. Panglima operasi dan staf memilih unsur-unsur yang akan dikerahkan pada saat-saat awal kampanye militer.
4) Keempat, mengembangkan rencana operasi. Setelah langkah-langkah sebelumnya diselesaikan, maka langkah-langkah berikutnya adalah mengembangkan rencana operasi yang meliputi kegiatan pengembangan cara bertindak, penilaian terhadap cara bertindak dan pembuatan keputusan panglima operasi serta penyusunan perintah operasi.
c. Rancangan Operasi. Dalam proses perencanaan kampanye militer, panglima operasi menyusun rancangan operasi untuk memudahkan panglima operasi dalam membentuk rencana operasi yang utuh dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penyusunan rancangan operasi pada hakikatnya merupakan esensi dari “seni operasi” untuk memenangkan pertempuran dan perang. Panglima harus menyusun rancangan operasi pada saat mengembangkan rencana kampanye. Selain berfungsi untuk memvisualisasikan rencana kampanye militer, rancangan operasi juga berfungsi sebagai salah satu alat kendali kampanye militer pada tahap pelaksanaan.
Setiap negara mempunyai bentuk rancangan operasi yang berbeda-beda, tergantung pengalaman perang yang pernah dilakukannya sepanjang sejarah keberadaan negara masing-masing. Namun ada beberapa bentuk rancangan operasi yang berlaku secara universal, yaitu:
1) Tujuan Akhir dan Sasaran Operasional. Tujuan akhir adalah kondisi akhir yang bersifat strategis bagi militer maupun kepentingan nasional. Tujuan akhir yang bersifat strategis nasional adalah suatu kondisi yang mengarah pada tujuan nasional yang ditetapkan oleh pimpinan nasional. Sedangkan tujuan akhir yang bersifat strategis militer adalah tercapainya kemenangan militer yang akan mengantar pada tujuan akhir yang bersifat nasional yang dinyatakan oleh pimpinan tertinggi dalam lingkungan militer.
Sasaran operasional adalah sasaran militer yang ingin dicapai dalam pelaksanaan operasi atau kampanye militer dalam rangka mencapai tujuan akhir dan ditentukan oleh panglima operasi yang ditunjuk. Sebagai contoh, sasaran operasional dalam operasi Trikora adalah hancurnya satuan-satuan militer Belanda yang tersebar di wilayah Irian Barat. Tujuan akhir yang bersifat militer adalah tidak berfungsinya dukungan militer terhadap pemerintahan pendudukan Belanda di Irian Barat, sedangkan tujuan akhir yang bersifat nasional adalah tegaknya kedaulatan RI atas Irian Barat dan terintegrasinya wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.
Penilaian terhadap sasaran operasional sangat krusial bagi suksesnya operasi militer. Oleh karena itu kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh panglima operasi adalah menentukan kriteria keberhasilan operasi yang akan mengarah pada tercapainya tujuan akhir yang ditetapkan oleh Panglima TNI sebagai pimpinan strategis. Sekali kriteria keberhasilan tersebut telah ditetapkan, semua kegiatan operasional harus diarahkan pada tercapainya kondisi tersebut. Kemampuan untuk melakukan analisa terhadap petunjuk-petunjuk strategis Panglima TNI merupakan kunci sukses operasi militer. Untuk itu, panglima operasi harus senantiasa memelihara hubungan dengan Panglima TNI guna menjamin terwujudnya kesatuan komando dan kesatuan tindakan di daerah operasi. Sasaran operasional yang telah mendapat persetujuan Panglima TNI merupakan titik awal untuk memulai perencanaan operasi militer.
Sasaran operasional harus ditetapkan secara jelas dan tegas agar para komandan taktis dapat mengembangkan inisiatifnya di daerah operasi yang menjadi tanggung jawabnya. Penentuan sasaran yang jelas akan memberikan kebebasan bertindak sendiri dan menekan kebebasan bertindak musuh. Dalam OMP, sasaran operasional biasanya sangat mudah diidentifikasi. Namun dalam OMSP, sasaran operasional tidak selalu mudah diidentifikasi karena permasalahan operasional yang dihadapi relatif lebih kompleks. Kemampuan panglima operasi untuk memahami dan menganalisis tujuan akhir merupakan prasyarat mutlak untuk menentukan sasaran operasional. Namun, kadang-kadang kesulitan merumuskan sasaran operasional tidak hanya disebabkan oleh ketidakmampuan panglima operasi tetapi dapat pula disebabkan oleh tidak jelasnya tujuan akhir yang ditetapkan pada tingkat strategis. Kekalahan Jerman dalam PD-II di daratan Eropa, salah satunya disebabkan oleh ketidakjelasan tujuan akhir yang ditetapkan oleh Hitler sebagai pemimpin nasional yang terlalu mencampuri urusan operasional. Kondisi politik yang tidak menentu juga dapat mempengaruhi penetapan sasaran operasional, seperti yang terjadi di Timor Timur pasca lengsernya Presiden Suharto. Saat itu, tujuan akhir
mengalami pergeseran yang menyebabkan panglima operasi kesulitan mengidentifikasi tujuan operasional yang harus dicapai.
2) Center of Gravity. Center of gravity adalah elemen yang sangat mutlak dipertimbangkan dalam perencanaan operasi. Secara bebas, center of gravity dapat diterjemahkan sebagai pusat kekuatan, namun itu belum dapat menggambarkan konsep yang terkandung di dalamnya. Secara spesifik, center of gravity dapat didefinisikan sebagai kondisi, kemampuan atau tempat yang merupakan sumber kebebasan bertindak, sumber kekuatan dan sumber kemauan bertempur bagi pasukan. Center of gravity merupakan salah satu “pisau analisis” yang sangat penting dalam perencanaan operasi militer yang pembahasannya selalu berkaitan dengan sasaran operasi dan tujuan akhir karena penghancuran center of gravity musuh akan mengarah pada kemenangan pasukan sendiri sehingga dapat mencapai sasaran operasi dan tujuan akhir strategis yang diharapkan.
Center of gravity dapat bersifat fisik, seperti pusat pemerintahan, pusat komando dan pengendalian dan sebagainya. Dapat pula bersifat non fisik, seperti dukungan masyarakat internasional, pendapat umum, tujuan politik dan sebagainya. Center of gravity yang bersifat fisik mudah dikenal karena dapat dilihat secara nyata namun yang bersifat non fisik sulit sekali dikenali sehingga memerlukan analisa yang mendalam untuk mengidentifikasikannya. Idealnya dalam suatu operasi terdapat satu center of gravity. Kondisi ini memudahkan pasukan sendiri untuk mencapai sasaran operasional dan tujuan akhir. Namun sejarah perang membuktikan bahwa center of gravity biasanya terpecah menjadi beberapa bagian sehingga persoalan operasional yang dihadapi menjadi demikian kompleks.
Keberhasilan menentukan center of gravity merupakan awal yang baik bagi pelaksanaan operasi secara keseluruhan. Apabila center of gravity musuh telah berhasil dirumuskan, maka langkah-langkah perencanaan berikutnya harus difokuskan pada center of gravity tersebut. Penentuan center of gravity pada tataran operasi merupakan tanggung jawab staf atau satuan intelijen komando operasi. Sedangkan pada tataran strategis merupakan tanggung jawab staf intelijen Panglima TNI atau Badan Intelijen Strategis TNI. Perlu digarisbawahi bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara center of gravity operasional dengan center of gravity strategis. Penghancuran center of gravity operasional akan memudahkan penghancuran center of gravity strategis. Oleh karena itu komunikasi antara badan-badan maupun staf intelijen komando operasi dengan Badan Intelijen Strategis TNI harus dilakukan secara intensif sebelum dan selama operasi berlangsung.
Kita seringkali salah kaprah dalam menerapkan istilah center of gravity karena kita tidak dapat membedakan batas-batas tataran perang strategis, operasional maupun taktis, terutama dalam OMSP. Di negara-negara Barat, konsep center of gravity hanya dikenal pada tataran strategis dan operasional, sedangkan pada tataran taktis konsep yang menyerupai dengan center of gravity adalah sasaran. Perbedaan yang mendasar adalah, bahwa konsep center of gravity mengandung pengertian sebagai pusat dari berbagai subsistem pertempuran yang saling berkaitan sedangkan pengertian sasaran lebih sederhana, yaitu sesuatu yang harus direbut, dikuasai atau dihancurkan.
Center of gravity pada OMP relatif lebih mudah dikenali karena lebih cenderung bersifat fisik, sedangkan pada OMSP lebih bersifat non fisik.
Apabila center of gravity bersifat fisik maka pemilihan pendekatan operasi lebih mudah dilakukan, misalnya dalam pertempuran Ambarawa, center of gravity pasukan Belanda adalah unsur logistik yang ada di Semarang. Tanpa logistik yang memadahi Belanda tidak akan mampu bertahan dalam waktu lama di Ambarawa, sehingga pasukan Divisi Sudirman memusatkan perhatian pada jalur logistik dari arah Semarang yang mengakibatkan pasukan Belanda tidak mampu melakukan perlawanan dan akhirnya meloloskan diri dari kepungan pasukan Sudirman. Sebaliknya, identifikasi center of gravity yang bersifat non fisik sulit dilakukan, misalnya dalam operasi di Timor Timur, Kolakops TNI seringkali mengalami kesulitan karena kegagalan pengidentifikasian center of gavity musuh yang bersifat strategis maupun operasional sehingga operasi kehilangan fokus. Pada gilirannya, operasi berlangsung lama tanpa pencapaian sasaran operasional, apalagi mencapai tujuan akhir. Kesulitan untuk mengidentifikasi center of gravity dalam operasi militer tidak selalu datang dari ketidakmampuan panglima operasi, tetapi juga karena dalam operasi yang berlangsung lama, center of