• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal

5.1.1 Faktor Internal Kunci

Berdasarkan hasil lingkungan internal yang telah diidentifikasi, didapatkan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan pemasaran perusahaan.

Faktor-faktor internal tersebut diperoleh dari penguraian secara detail dari enam faktor internal yang kemudian disusun dalam Matriks IFE untuk mengetahui strategi apa yang cocok untuk digunakan sesuai dengan kondisi perusahaan. Hasil identifikasi faktor internal kunci PT Evia Maju Bersama adalah sebagai berikut.

77 A. Kekuatan

Faktor kekuatan berasal dari internal perusahaan. Faktor kekuatan perusahaan yang tidak dapat dengan mudah disesuaikan atau ditiru dengan pesaing disebut kompetensi khusus (David, 2016:81). Faktor-faktor kekuatan dalam pemasaran produk Abon Cabe Evia adalah sebagai berikut.

1. Memiliki Sertifikat Halal MUI dan Izin PIRT Sejak Tahun 2012

Produk Abon Cabe Evia merupakan produk yang telah memiliki sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sertifikasi halal yang sudah terdaftar memiliki nomor 01191090911212. Hal ini berarti produk telah dinyatakan halal menurut hukum Islam. Sertifikasi halal ini sudah dimiliki sejak tahun 2012 sehingga produk sudah terjamin menggunakan bahan-bahan yang halal dan diproduksi dengan cara yang halal.

Perusahaan produksi produk Abon Cabe Evia juga sudah memiliki Izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT). Sertifikat izin produksi yang sudah terdaftar memiliki nomor 2123201011014. Hal ini berarti perusahaan telah memenuhi persyaratan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga.

Dengan dimilikinya sertifikat halal dan izin PIRT menjadi kekuatan yang dimiliki untuk pemasaran produk karena dapat memunculkan rasa percaya dari konsumen untuk membeli produk Abon Cabe Evia.

78 2. Produk Tidak Menggunakan Bahan Pengawet, Penguat Rasa, dan Pewarna

Buatan

Produk Abon Cabe Evia menggunakan bahan-bahan alami dan tidak memakai bahan pengawet, penguat rasa, dan pewarna buatan. Bahan baku Abon Cabe Evia yaitu cabai rawit dan beberapa bumbu pelengkap, seperti bawang putih, bawang merah, gula, garam, dan minyak sayur. Bahan baku tersebut didapatkan dari pasar dalam bentuk segar dan langsung diproduksi. Dengan tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya pada produk Abon Cabe Evia dapat menjadi kelebihan produk. Hal tersebut menjadi pilihan bagi konsumen yang sadar terhadap kesehatan dan ini dapat menjadi kekuatan dalam pemasaran produk.

3. Memiliki 4 Varian Rasa

Produk Abon Cabe Evia merupakan produk yang menyediakan 4 varian rasa.

Tidak hanya menyediakan rasa original saja, namun juga menyediakan varian rasa lain. Adanya varian rasa ini dilakukan perusahaan karena kebutuhan konsumen.

Varian rasa produk abon cabe yaitu rasa ebi, rasa teri, dan rasa rawit goreng. Rasa rawit goreng menjadi keunggulan karena memiliki tekstur yang berbeda dengan rasa lainnya. Dengan adanya keempat varian rasa yang dimiliki produk Abon Cabe Evia menjadi kekuatan bagi pemasaran produk Hal ini membuat konsumen dapat memilih sesuai selera masing-masing dan keempat variasi rasa tersebut merupakan pembeda dengan pesaing lain, termasuk rasa rawit goreng.

79 4. Merek Sudah Terdaftar di Kemenkumham Sejak Tahun 2013

Merek dagang Abon Cabe Evia telah terdaftar di Direktorat Kekayaan dan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dengan nomor D002013052898. Merek dagang tersebut telah terdaftar sejak tahun 2013. Dengan terdaftarnya merek dagang di lembaga pemerintahan, menjadi kekuatan bagi pemasaran produk. Hal ini menjadi sangat penting agar merek tidak dapat ditiru oleh orang lain dan dapat mencegah penyalahgunaan nama merek. Sebagaimana tercantum dalam situs resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual bahwa pendaftaran merek berfungsi sebagai alat bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang didaftarkan, sebagai dasar penolakan terhadap merek yang sama yang dimohonkan pendaftaran oleh orang lain, dan sebagai dasar untuk mencegah organg lain memakai merek yang sama dalam peredaran.

5. Harga Produk Relatif Lebih Murah Dari Pesaing

Harga produk Abon Cabe yang ditawarkan oleh perusahaan relatif lebih murah dibandingkan dengan produk pesaingnya. Penentuan harga produk dipengaruhi oleh biaya produksi, permintaan dan produksi, serta pesaing. Satu botol produk Abon Cabe Evia berisi sebanyak 70 gram. Harga jual yang ditetapkan perusahaan yaitu Rp.13.500 per botol. Beberapa pesaing seperti BonCabe menjual dengan harga Rp12.000 sampai Rp.18.000, Abon Cabe Ninoy menjual dengan harga Rp.25.000 sampai Rp.50.000, Abon Cabe Chilita menjual dengan harga Rp.15.000, Dapur Sehati menjual dengan harga Rp.25.000 sampai Rp.30.000, dan Bhumi Rasa menjual dengan harga Rp.45.000. Harga produk yang murah menjadi

80 kekuatan bagi pemasaran produk, karena membuat produk dapat mudah diterima dan menjadi pilihan bagi konsumen.

6. Lokasi Outlet Strategis, Berada di Galeri UKM Parung Panjang

Lokasi outlet penjualan produk Abon Cabe Evia berada di tempat yang strategis, yaitu di Galeri UKM Parung Panjang. Galeri UKM Parung Panjang merupakan tempat penjualan bagi para pelaku usaha UKM maupun UMKM yang berada di wilayah Parung Panjang. Galeri UKM Parung Panjang terletak dekat berbagai perumahan di Parung Panjang, salah satunya yaitu Perumahan Griya Parung Panjang. Lokasinya berada di dekat jalan menuju Wisata Gunung Dago.

Dengan lokasi outlet yang strategis menjadi kekuatan dalam pemasaran produk, karena dapat memudahkan jangkauan akses apabila konsumen hendak membeli produk langsung.

B. Kelemahan

Faktor kelemahan berasal dari internal perusahaan. Faktor-faktor kelemahan dalam pemasaran produk Abon Cabe Evia adalah sebagai berikut.

1. Bahan Baku 100% Bergantung dari Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Anyar Bogor dan Tangerang

Produk Abon Cabe Evia menggunakan bahan baku cabai rawit merah dan cabai merah keriting. Perusahaan mendapatkan bahan baku tersebut dari pasar induk. Perusahaan memilih untuk membeli bahan baku di pasar karena bahan baku

81 cabai mudah ditemukan di pasar. Pasar induk yang menjadi tempat untuk pembelian bahan baku produk berada di Kramat Jati, Pasar Anyar Tangerang dan Bogor. Hal ini menjadi kelemahan dalam pemasaran produk, karena dengan membeli bahan baku produk di pasar, berarti perusahaan harus selektif dalam hal harga yang fluktuatif. Selain itu, perusahaan harus memilih penjual mana yang mempunyai bahan baku cabai yang segar dan bagus dengan harga yang rendah.

Oleh karena itu, perusahaan tidak dapat memasarkan produk abon cabe dengan optimal karena produksi produknya tidak stabil.

2. Tenaga di Bidang Pemasaran Kurang Terampil Dalam Memanfaatkan Teknologi Informasi

Tenaga kerja khususnya di bidang pemasaran produk di perusahaan kurang terampil dalam memanfaatkan teknologi informasi. Hal ini menjadi kelemahan dalam pemasaran produk karena dapat menghambat kegiatan pemasaran. Padahal menurut Musfar (2020:20), tenaga kerja dalam perusahaan menjadi penting dalam kegiatan pemasaran. Perusahaan mempekerjakan dan melatih orang-orang yang tepat untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Menurut Setiawan (2017:1), di era digital ini, pemasaran digital dianggap sebagai pemasaran yang yang dapat menjangkau konsumen lebih banyak karena lebih memudahkan masyarakat dalam menerima informasi lebih cepat.

3. Belum Memiliki Outlet di Wilayah Pemasaran Jabodetabek, Hanya di Parung Panjang

82 Lokasi outlet penjualan produk Abon Cabe Evia hanya terletak di Kecamatan Parung Panjang. Perusahaan tidak memiliki tempat penjualan lain, seperti agen maupun reseller selain di Parung Panjang. Sementara wilayah pemasaran produk Abon Cabe Evia yaitu ke wilayah Jabodetabek. Hal ini dapat menjadi kelemahan bagi pemasaran produk, karena akses memperoleh produk menjadi sulit, terutama bagi konsumen yang berada di luar Parung Panjang. Konsumen harus menambah biaya ongkos kirim yang lebih apabila dipesan melalui telepon. Hal ini sesuai dengan pernyataan Shinta (2011:90) dimana saluran distribusi berfungsi sebagai alat memperlancar keuangan perusahaan, sebagai alat komunikasi, dan sebagai alat bantu penjualan atau promosi.

4. Promosi Produk Lebih Banyak Dilakukan Secara Konvensional

Kegiatan pemasaran produk Abon Cabe Evia yang selama ini dilakukan yaitu dengan menjual produk secara langsung kepada konsumen akhir. Perusahaan melakukan kegiatan promosi secara mulut ke mulut dan menyebarkan brosur.

Perusahaan juga sering mengikuti pameran dan mengisi booth festival sebagai kegiatan pemasaran, namun hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu, ditambah lagi keadaan pandemi yang tidak memungkinkan untuk berkegiatan di luar. Hal ini menjadi kelemahan pemasaran produk karena cakupan pasar dan konsumen belum bisa lebih luas, dan menjadi kurang maksimal.

Kegiatan pemasaran lain yang dilakukan yaitu perusahaan sudah mencoba memanfaatkan teknologi informasi dalam kegiatan pemasaran yaitu menaruh iklan melalui marketplace. Namun, pemasaran melalui marketplace tidak berjalan

83 dengan baik karena jumlah orang yang melihat dan merespon sedikit, sehingga menjadi tidak optimal. Padahal menurut Febriyantoro dan Arisandi (2018:74), penggunaan digital marketing dapat membantu pelaku usaha dalam menginformasikan dan berinteraksi secara langsung dengan konsumen, memperluas pangsa pasar, meningkatkan kesadaran bagi konsumen, dan meningkatkan penjualan.

5. Anggaran Biaya Promosi Terbatas yaitu Rp.2.000.000 Per Tahun

Anggaran biaya promosi produk yang dilakukan oleh perusahaan terbatas.

Kegiatan pemasaran yang selama ini dilakukan yaitu dengan menjual produk secara langsung kepada konsumen akhir dengan cara mengikuti pameran dan mengisi booth festival, selain itu juga menyebarkan brosur dan promosi secara mulut ke mulut. Selama ini perusahaan belum mengalokasikan dana untuk promosi secara digital, seperti beriklan di sosial media karena keterbatasan budget yang dimiliki. Dengan terbatasnya anggaran biaya promosi, menjadi kelemahan untuk pemasaran produk karena membuat kurang meluasnya pengetahuan masyarakat terhadap produk tersebut.

6. Belum Memiliki Alat Transportasi Khusus Untuk Pendistribusian Produk

Alat transportasi yang digunakan untuk pendistribusian produk yaitu dengan menggunakan kendaraan pribadi berupa motor. Pendistribusian produk dilakukan untuk mengangkut pesanan untuk diantarkan ke jasa ekspedisi apabila dipesan melalui telepon. Dengan belum adanya alat transportasi khusus untuk distribusi

84 produk dapat menjadi kelemahan untuk pemasaran produk, karena dapat memperlambat gerak untuk pengiriman produk. Selain itu, menyebabkan konsumen mengeluarkan biaya lebih untuk pengiriman produk untuk jasa ekspedisi alih-alih untuk perusahaan.

Berdasarkan proses identifikasi faktor internal yang dilakukan melalui kuesioner pertama dan wawancara kepada narasumber, didapatkan pengelompokan faktor internal kunci yang menghasilkan kekuatan dan kelemahan. Hasil pengelompokan tersebut dianalisis menggunakan kuesioner kedua untuk dihitung pembobotan dan penentuan rating. Pemberian bobot diperoleh menggunakan faktor kepentingan (paired comparison), kemudian penentuan rating diperoleh dengan memberikan peringkat. Hasil dari rata-rata kuesioner bobot dan rating berdasarkan keempat narasumber dimasukkan ke dalam matriks IFE.

Perhitungan pada matriks IFE dilakukan terhadap faktor-faktor internal PT Evia Maju Bersama yang dapat menjadi kekuatan dan kelemahan bagi perusahaan.

Matriks IFE digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi lingkungan internal pemasaran perusahaan. Pada matriks tersebut, dilakukan pengolahan data berdasarkan bobot dan rating dari faktor internal kunci yang kemudian akan menjadi penentu posisi perusahaan. Hasil perhitungan matriks IFE yang telah diisi oleh keempat narasumber dapat dilihat pada Tabel 11.

85 Tabel 11. Matriks IFE PT Evia Maju Bersama

No Faktor Internal Kunci Bobot Rating Skor

Kekuatan

1 Memiliki sertifikat halal MUI dan izin PIRT sejak

tahun 2012 0,102 4 0,408

2 Produk tidak menggunakan bahan pengawet,

penguat rasa, dan pewarna buatan 0,104 4 0,416

3 Memiliki 4 varian rasa 0,090 3,5 0,315

4 Merek sudah terdaftar di Kemenkumham sejak

tahun 2013 0,100 4 0,400

5 Harga produk relatif lebih murah dari pesaing 0,103 3 0,309 6 Lokasi outlet strategis, berada di Galeri UKM

Parung Panjang 0,096 3,5 0,336

Sub Total 2,184

Kelemahan

7 Bahan Baku 100% Bergantung dari Pasar Induk

Kramat Jati, Pasar Anyar Bogor dan Tangerang 0,078 1,75 0,137 8 Tenaga di bidang pemasaran kurang terampil dalam

memanfaatkan teknologi informasi 0,061 1,5 0,092

9 Belum memiliki outlet di wilayah pemasaran

Jabodetabek, hanya di Parung Panjang 0,065 2 0,130 10 Promosi produk lebih banyak dilakukan secara

konvensional 0,068 1,75 0,119

11 Anggaran biaya promosi terbatas yaitu

Rp.2.000.000 pertahun 0,066 1,25 0,083

12 Belum memiliki alat transportasi khusus untuk

pendistribusian produk 0,066 1,5 0,099

Sub Total 0,659

TOTAL 1 2,843

Sumber : Data primer, diolah (2021)

Berdasarkan hasil perhitungan matriks IFE, diperoleh faktor kekuatan utama pemasaran perusahaan, yaitu produk tidak menggunakan bahan pengawet, penguat rasa, dan pewarna buatan dengan skor sebesar 0,416. Faktor tersebut menjadi faktor yang paling menentukan dalam hal pemasaran dikarenakan produk Abon Cabe Evia menggunakan bahan-bahan alami yang didapatkan dari pasar dalam bentuk segar dan langsung diproduksi. Oleh karena itu, hal tersebut menjadi kekuatan dalam

86 pemasaran perusahaan yang dapat dipertahankan dan dapat mempengaruhi pilihan konsumen yang sadar terhadap kesehatan. Faktor lain yang menjadi kekuatan pemasaran perusahaan berturut-turut adalah memiliki sertifikat halal MUI dan izin PIRT sejak tahun 2012 dengan skor sebesar 0,408, merek sudah terdaftar di Kemenkumham sejak tahun 2013 dengan skor sebesar 0,400, lokasi outlet strategis, berada di Galeri UKM Parung Panjang dengan skor sebesar 0,336, memiliki 4 varian rasa dengan skor sebesar 0,315, dan harga produk relatif lebih murah dari pesaing dengan skor sebesar 0,309.

Sedangkan faktor yang menjadi kelemahan utama pemasaran perusahaan, yaitu anggaran biaya promosi terbatas yaitu Rp.2.000.000 pertahun dengan skor sebesar 0,083. Faktor tersebut sebaiknya dapat diatasi perusahaan dengan melakukan kegiatan promosi dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti media sosial yang dapat menjangkau konsumen lebih luas karena dapat menerima informasi lebih cepat. Faktor lain yang menjadi kelemahan pemasaran perusahaan berturut-turut adalah tenaga di bidang pemasaran kurang terampil dalam memanfaatkan teknologi informasi dengan skor sebesar 0,092, belum memiliki alat transportasi khusus untuk pendistribusian produk dengan skor sebesar 0,099, promosi produk lebih banyak dilakukan secara konvensional dengan skor sebesar 0,119, belum memiliki outlet di wilayah pemasaran Jabodetabek, hanya di Parung Panjang dengan skor sebesar 0,130, dan belum memiliki supplier tetap bahan baku cabai dengan skor sebesar 0,137.

87 Berdasarkan perhitungan pada matriks IFE, diperoleh skor pada faktor kekuatan sebesar 2,184, sedangkan skor untuk faktor kelemahan sebesar 0,659. Hal ini menunjukkan bahwa produk Abon Cabe Evia memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelemahan. Total skor pada matriks IFE sebesar 2,843, mengacu pada David (2016:111) hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki posisi internal yang kuat karena total skor diatas 2,5.

Dokumen terkait