BAB III. PENELITIAN TENTANG PELAKSANAAN PENDAMPINGAN
E. Kesimpulan Penelitian
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan
Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.
Berdasarkan studi dokumen yang dilakukan penulis, adapun faktor pendukung yang tampak yakni adanya kepercayaan dari Paroki bagi OMK untuk melaksanakan berbagai kegiatan pendampingan iman dalam berbagai bidang pelayanan. Selain studi dokumen penulis juga melakukan wawancara untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.
a. Faktor Pendukung pelaksanaan pendampingan iman bagi perkembangan iman OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.
Berbagai faktor pendukung yang sering dialami oleh OMK khususnya dalam mengikuti pelaksanaan kegiatan pendampingan iman di tengah tantangan zaman yang semakin modern biasanya berasal dari dalam diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat. Adapun faktor yang berasal dari dalam diri menurut salah satu responden yakni R1 mengatakan bahwa faktor pendukung itu timbul dari dalam diri sendiri yakni adanya kemauan serta semangat dari dalam diri untuk mengikuti kegiatan pendampingan iman, menjadi tanda bahwa OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang memiliki kepedulian akan pelaksanaan kegiatan pendampingan iman.
R10 menambahkan bahwa faktor pendukung lainnya yaitu adanya rasa tanggung jawab. Adanya rasa tanggung jawab sebagai OMK sekaligus bagian dari Gereja akan mendorong OMK untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan iman. Berkaitan dengan hal ini menurut Prasetya dalam buku Keterlibatan Awam sebagai anggota Gereja (2003 : 103 ) adapun faktor pendukung yang timbul dalam diri yakni adanya kesadaran dari dalam diri sendiri akan potensi yang luar biasa bagi dunia di masa depan serta adanya penghargaan terhadap jati diri OMK. Kesadaran dari dalam merupakan daya pendorong bagi OMK yang utama dan pertama khususnya
berkaitan dengan keterlibatan dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan iman.
Selain faktor pendukung yang timbul dari dalam diri sendiri, ada juga faktor pendukung yang berasal dari keluarga, seperti yang diungkapkan oleh beberapa responden, diantaranya adalah R4 dan responden lainnya yang mengatakan bahwa faktor pendukung yang dirasakan ialah dukungan dari orang tua. Adapun dukungan tersebut berupa memberikan izin, mengingatkan untuk mengikuti pertemuan serta menjadi donatur dalam berbagai kegiatan pendampingan iman bagi OMK di Paroki.
Faktor pendukung lainnya berasal dari Gereja yakni OMK diberi kemungkinan dan kesempatan untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas yang dimilikinya misalnya dengan memberikan pendampingan iman bagi anak-anak (Prasetya, 2003 : 110). Seperti yang diungkapkan oleh beberapa responden, diantaranya R4 dan responden lainnya yang mengatakan bahwa faktor pendukung yang dirasakan berupa dukungan dari Gereja. Dukungan tersebut berupa izin pelaksanaan kegiatan, dana, serta menyediakan tempat bagi pelaksanaan kegiatan pendampingan iman. Penulis dalam hal ini menambahkan berdasarkan studi dokumentasi yang dilakukan.
Selain yang sudah disebutkan oleh responden, faktor pendukung yang timbul dari Gereja yakni terdapat orang dewasa yang mendampingi OMK dalam pelaksanaan pendampingan iman. Adapun orang dewasa tersebut bernama Bapak Supono yang juga merupakan ketua bidang paguyuban di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan,
Magelang. Selain yang dijelaskan diatas, selain responden OMK ada responden pendamping yang mengungkapkan faktor pendukung. Seperti yang dikatakan oleh P1, Orang Muda Katolik itu merupakan generasi penerus Gereja.
Namun seringkali OMK mudah untuk berpindah keyakinan karena alasan tertentu seperti menikah dengan orang yang berbeda agama maupun sekedar murtad. Hal ini menjadi tanggungjawab besar bagi pendamping untuk mendampingi OMK dalam pelaksanaan kegiatan pendampinagn iman. Sedangkan P3 mengungkapkan yang menjadi faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang yakni mayoritas masyarakat yang beragama Katolik. sehingga saat OMK melaksanakan kegiatan pendampingan iman, masyarakat cenderung membantu pelaksanaan pendampingan iman seperti dalam hal keamanan.
Selain itu P3 juga mengungkapkan faktor pendukung lain pada pelaksanaan pendampingan iman yakni adanya dukungan dari keuskupan. Biasanya dukungan tersebut berupa diadakannya berbagai kegiatan bagi OMK antar keuskupan seperti Futsal Cup.
b. Faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi perkembangan iman OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang ?
Berdasarkan penelitian studi dokumen resmi Paroki yang dilakukan penulis. Adapun faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman yakni tidak terdapat pendamping khusus yang mendampingi OMK dalam
pelaksanaan pendampingan iman. Dalam pelaksanaan pendampingan iman ditemukan adanya faktor penghambat. Adapun faktor penghambat ini bisa dari diri sendiri, keluarga, Gereja dan masyarakat.
Berkaitan dengan keadaan ini penulis pun melakukan wawancara untuk mendapatkan kelengkapan informasi mengenai faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman. Penulis melakukan wawancara yang pertama terhadap OMK, diantaranya faktor pendukung yang berasal dari dalam diri disampaikan oleh R1 disebabkan oleh keegoisan dari dalam diri OMK. Pendapat lain disampaikan R7 yang mengatakan bahwa kurangnya kesadaran dari dalam diri OMK. Faktor penghambat lainnya yang diungkapkan OMK berasal dari keluarga.
Adapun R4 menyampaikan faktor penghambat yang berasal dari keluarga berupa sulit izin. Sedangkan R5, R6, R8 memiliki faktor penghambat lain yakni acara keluarga yang bersamaan dengan acara OMK. Faktor penghambat lainnya berasal dari Gereja, biasanya berupa penolakan proposal, sulit izin melaksanakan kegiatan, tidak tersedia tempat maupun dana, serta pendamping yang kurang berbaur dengan OMK seperti yang diungkapkan oleh R3, R4, dan R8. Berkaitan dengan hal ini Prasetya dalam buku Keterlibatan Awam sebagai Anggota Gereja menyatakan bahwa :
“Mengingat itu semua, sudah sepantasnya kalau Gereja Katolik menghilangkan pandangan dan sikap negatif terhadap kaum muda. Kaum muda jangan lagi diperlakukan sebagai penjaga parkir belaka atau tenaga kasar yang mengkangkat meja – kursi atau bahkan hanya dilihat sebagai obyek pastoral Gereja, tetapi perlakukanlah kaum muda sebagai subyek dan mitra dalam mengembangkan Gereja di masa depan (Prasetya, 2003 : 110). ”
Orang Muda seringkali merasa kurang nyaman maupun diasingkan di dalam Gereja sendiri. Hal ini diakibatkan oleh berbagai faktor diantaranya kurangnya penerimaan terhadap OMK maupun kurangnya kepercayaan terhadap OMK dalam menjalankan peran-peran penting. Faktor penghambat lainnya berasal dari masyarakat R4 menyatakan terkadang sulit mendapatka izin dari masyarakat yang berbeda agama, karena kegiatan dianggap mengganggu.
“Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, banyak kaum muda yang stress karena ditekan oleh kenyataan bahwa mereka mengalami marginalisasi (peminggiran) hampir di segala bidang kehidupan, termasuk pengembirian terhadap akal sehat dan suara hatinya dengan dijejali iming-iming kesuksesan tanpa harus bersusah payah dan aneka imajinasi yang dapat meninabobokan mereka dalam kenikmatan sesaat yang menghibur dan membahagiakan (Prasetya, 2003 :104).
Kurangnya penghargaan dari masyarakat terhadap OMK seringkali membuat OMK merasa minder dan tidak bersemangat untuk berkembang dan terlibat dalam berbagai kegiatan baik di Gereja maupun di masyarakat. Selain OMK , penulis juga melakukan wawancara terhadap pendamping, guna mengetahui keseimbangan faktor penghambat yang dirasakan dari kedua belah pihak.
Adapun P2 mengungkapkan bahwa seringkali OMK bersikap egois, sibuk dengan dunianya sendiri terutama gadgetnya. OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang, belum semuanya mempunyai kesadaran untuk mengikuti kegiatan pendampingan iman. Misalnya ketika ada kegiatan pendampingan iman yang dilaksanakan di
Paroki, tidak semua OMK mengikutinya. Penyebabnya pun beranekaragam diantaranya mulai dari malas, ada permasalahan antar OMK, jadwal kegiatan yang bersamaan dengan acara sekolah maupun kampus, dll. Berkaitan dengan hal ini Philips Tangdilintin dalam Pembinaan Generasi Muda (2008 : 63 ) mengatakan bahwa :
“Tantangan globalisasi yang melanda dunia generasi muda dan aneka budaya asing telah menyebabkan mereka mengalami krisis identitas. Mereka dengan mudah terpengaruh, ikut-ikutan tanpa sikap kritis-selektif, menjadi latah karena mulai kehilangan jati diri ke Indonesian (Philips Tangdilintin, 2008 : 63 ).”
Tantangan globalisasi khususnya dalam bentuk teknologi serta aneka budaya asing seringkali membuat OMK terlena hingga menimbulkan sikap egois. Hal ini menjadi keprihatinan bagi perkembangan Gereja, mengingan OMK merupakan masa depan dan harapan Gereja. selanjutnya faktor penghambat lain berasal dari disampaikan P2 keluarga seringkali menuntut OMK untuk belajar dan belajar terus.
“Hal ini berarti bahwa dalam keluarga Katolik, melalui diri dan hidup orangtua, hendaknya dapat ditumbuhkan aneka kebiasaan untuk mengembangsuburkan iman kaum muda. Kaum muda tidak hanya dituntut untuk belajar dan belajar terus guna mengembangkan kepandaian intelektualnya, tetapi juga diberi kemungkinan dan kesempatan untuk mengembangkan jati dirinya ( Prasetya, 2003 : 107) .”
Keluarga Katolik dituntut tidak hanya memberikan pendidikan formal bagi anaknya.
Tetapi hendaknya juga diimbangi perkembangan imannya. harapannya agar orang muda sendiri dapat menunjukkan jati diri yang khas sebagai Orang Muda Katolik. dalam hal ini peran orangtua sangat penting
dalam memberikan contoh khususnya melalui anake kebiasaan hidup doa maupun keterlibatan dalam menggereja. Faktor penghambat yang disampaikan pendamping yang berasal dari dalam Paroki disampaikan oleh P3 yang mengatakan bahwa jarak antar wilayah di Paroki yang cukup jauh. c. Harapan OMK terhadap pendampingan iman bagi OMK
Sebagai generasi penerus Gereja, penting bagi OMK untuk mengikuti pelaksanaan pendampingan iman. Selain mengantar OMK kepada kedewasaan iman, pelaksanaan pendampingan iman juga diharapkan mampu mengantar OMK untuk melibatkan diri baik di Gereja maupun di masyarakat.Thomas Groome dalam Dewan Karya Pastoral KAS (2014: 56) mengatakan bahwa “Diharapkan pula mereka mulai melibatkan diri dalam kehidupan menggereja dengan mengambil peran-peran strategis yang bisa memberi dampak bagi kemajuan Gereja serta mengambil peran dalam masyarakat dengan sikap kritis-profetis (Thomas Groome, 2014 : 46 ).
Kesadaran OMK untuk mengikuti pelaksanaan pendampingan iman serta mau terlibat di dalam Gereja maupun masyarakat menunjukkan adanya rasa tanggung jawab OMK terhadap iman yang diyakini. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat begitu banyak harapan yang diungkapkan oleh responden. Adapun R1, R2, R3, R4, R7, dan R8 mengungkapkan harapannya agar OMK dapat lebih terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pendampingan iman. Sedangkan R5 mengungkapkan harapannya agar terdapat kegiatan pendampingan iman yang sesuai bagi OMK.
Kendati demikian sejauh ini belum ada upaya yang dilakukan OMK untuk memenuhi harapan tersebut. OMK Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang seringkali bersikap egois dengan mementingkan kesibukan masing-masing. Selain itu jarak antar wilayah di Paroki seringkali menjadi alasan untuk tidak mengikuti pelaksanaan pendampingan iman. Menanggapi hal ini, pendamping juga memiliki harapan terhadap pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK. P1 mengungkapkan harapannya agar OMK paroki semakin aktif terlibat di dalam kegiatan pendampingan iman agar OMK mampu menanggapi serta menerapkan sabda-sabda Tuhan Yesus.
“Dengan demikian, orang muda tidak lagi dicap sebagai orang yang berada di halaman parkir, tetapi berada dalam barisan depan memikirkan kehidupan Gereja agar bisa hadir secara baru di tengah masyarakat. Cara pikirnya yang kreatif dan kecerdasan intelektualitasnya diharapkan memberikan terobosan baru bagi pewartaan dan pelayanan Gereja (Thomas Groome, 2014 : 46 ).” Berbeda dengan yang diungkapkan P1, P2 selaku Romo Paroki berharap adanya perjumpaan yang rekreatif dan refresing bagi OMK. Sedangkan P3 yakni Romo baru pendamping OMK paroki selama 5 bulan belakangan, mengungkapkan harapannya agar pendampingan iman bagi OMK tidak hanya dilaksanakan pada masa-masa khusus Gereja.
F. Kesimpulan Penelitian
Pada bagian ini penulis akan menyampaikan 3 tiga kesimpulan yakni mengenai pelaksanaan pendampingan iman, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman serta harapan OMK terhadap pelaksanaan
pendampingan iman di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.
1. Pelaksanaan Pendampingan Iman
Pelaksanaan pendampingan iman dilakukan melalui wadah Di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang terdapat wadah bagi Orang Muda yang sering disebut OMK. Menyadari peran penting OMK bagi perkembangan Gereja, Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang mengadakan pendampingan iman. Kegiatan pendampingan iman dibedakan ke dalam empat bidang pelayanan Gereja yakni kerygma (pewartaan) contoh kegiatan katekese dan pendalaman kitab suci, liturgia (peribadatan ) misalnya devosi dan doa rosario, diakonia /pelayanan contoh kegiatan yakni pelayanan KLMTD dan Bakti Sosial. Sedangkan bidang pelayan koinonia / paguyuban misalnya pertemuan orang muda katolik dan wadah orang muda katolik (OMK).
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Pendampingan Iman Adapun faktor pendukung dan penghambat yang dirasakan oleh OMK berkaitan dengan pelaksanaan pendampingan iman berasal dari diri sendiri, keluarga, Gereja, dan masyarakat. Faktor pendukung yang berasal diri sendiri yakni adanya kesadaran OMK akan potensi dalam dirinya sebagai harapan dan masa depan Gereja, sedangkan faktor penghambatnya berupa tantangan globalisasi yang tampak lebih menarik. Keluarga sendiri kerapkali memberikan dukungan baik berupa dorongan untuk mengikuti pelaksanaan pendampingan iman maupun dalam bentuk dana demi berlangsungnya pelaksanaan
pendampingan iman. Kendati demikian tidak sedikit juga keluarga yang tidak memahami peran penting pelaksanaan pendampingan iman sehingga banyak pihak keluarga khususnya orangtua hanya mementingkan perkembangan intelektual saja.
Selain diri sendiri dan keluarga, Gereja juga memberikan dukungan dengan menyediakan sarana dan prasarana dalam rangka berlangsungnya pelaksanaan pendampingan iman, kendati demikian tidak jarang juga Gereja memandang OMK sebelah mata dengan tidak mempercayai mereka berperan dalam berbagai pelaksanaan pendampingan iman. Sedangkan faktor pendukung yang berasal dari masyarakat yakni berupa kesadaran dan pengakuan akan peran penting OMK dalam masyarakat. Namun tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat berpandangan dan bersikap negatif terhadap OMK.
3. Harapan Pelaksanaan Pendampingan Iman bagi Orang Muda