• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PENELITIAN TENTANG PELAKSANAAN PENDAMPINGAN

E. Kesimpulan Penelitian

1. Pelaksanaan Pendampingan Iman

a. Wadah pendampingan iman bagi OMK yang ada di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. b. Alasan diadakannya pendampingan.

c. Bentuk - bentuk kegiatan pendampingan iman.

d. Kegiatan pendampingan iman mana yang diikuti.

e. Alasan mengikuti pendampingan iman. f. Manfaat yang didapatkan dari

pendampingan iman.

g. Peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman.

2. Faktor- faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK.

a. Faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK.

b. Faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK.

11. Instrumen Penelitian

Istrumen penelitian ini adalah pedoman pertanyaan wawancara. Adapun pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi OMK :

1. Adakah wadah pendampingan iman bagi OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang?

2. Apa saja bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman yang ada? 3. Apakah anda sudah terlibat dalam kegiatan pendampingan iman? 4. Kegiatan pendampingan iman mana yang anda ikuti?

5. Apa saja yang menjadi alasan anda untuk mengikuti pendampingan iman?

6. Manfaat apa yang anda dapatkan dengan mengikuti pendampingan iman?

7. Apa peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman? 3. Harapan OMK terhadap

pelaksanaan pendampingan iman

a. Harapan OMK dan pendamping terhadap pelaksanaan pendampingan iman.

b. Harapan tentang Pelaksanaan katekese. c. Harapan tentang bentuk katekese. d. Harapan tentang waktu pelaksanaannya. e. Harapan tentang materi yang dibahas.

8. Apa saja faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang?

9. Apa saja faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi perkembangan iman OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang?

10. Apa harapan OMK terhadap pendampingan iman bagi OMK? 11. Setujukah bila diadakan katekese?

12. Bagaimana bentuk katekese yang anda harapkan?

13. Bagaimana pelaksanaan katekese yang diharapkan dapat dilaksanakan khususnya dalam hal waktu?

14. Apa saja materi yang diharapkan perlu dibahas untuk OMK? b. Bagi Pendamping :

1) Adakah wadah bagi OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang?

2) Apa alasan diadakannya pendampingan iman?

3) Apa saja bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman?

4) Apa peran anda sebagai pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman?

5) Apa saja faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman OMK? 6) Apa saja faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman OMK? 7) Apa harapan anda pendamping terhadap bentuk kegiatan

8) Setujukah anda bila diadakan katekese? 9) Bagaimana bentuk katekese yang diharapkan? 10) Bagaimana pelaksanaan katekese yang diharapkan? 11) Apa saja materi yang diharapkan akan dibahas?

C. Laporan Hasil Penelitian tentang Perkembangan Iman dan Pendampingan Iman Orang Muda Katolik ( OMK ) di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.

Penulis melakukan penelitian dengan studi dokumentasi dan wawancara kepada OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. Adapun studi dokumentasi dan wawancara dilakukan pada bulan November - Desember 2018 kepada OMK yang masih SMA, Kuliah dan Bekerja. Penulis melakukan wawancara di berbagai tempat seperti di Gereja wilayah maupun Paroki, rumah makan, dan rumah responden. Waktu pelaksanaan wawancara, penulis menyesuaikan waktu luang responden, dan sebagian besar terjadi pada sore dan malam hari setelah responden pulang sekolah, kuliah dan bekerja. Penulis mendapatkan informasi yang sesuai dengan pengalaman mereka pada saat mengikuti maupun mendampingi kegiatan pendampingan iman di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.

1. Studi Dokumen

Dalam studi dokumen, penulis mengamati beberapa dokumen resmi Paroki diantaranya Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP) dan Program Kerja Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. Dalam dokumen resmi Paroki nampak jelas kegiatan-kegiatan pendampingan iman yang

diikuti oleh OMK. Pendampingan Iman yang diikuti oleh OMK dibedakan dalam berbagai bidang pelayanan Gereja yakni Kerygma, Liturgia, Diakonia, dan Koinonia. Adapun berbagai kegiatan pendampingan iman yang diadakan di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang diantaranya petugas koor, mengadakan bakti sosial, mengikuti doa rosario maupun novena, dll. Kendati demikian pada berbagai kegiatan pendampingan iman, pelaksanaan katekese bagi OMK tidak mendapatkan ruang.

2. Hasil Wawancara dengan OMK

Berikut ini akan dipaparkan laporan hasil wawancara berdasarkan pertanyaan yang diajukan penulis kepada responden yakni OMK dan Pendamping OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. Wawancara pertama dilakukan kepada 2 orang OMK di wilayah Mungkid. Wawancara ini dilaksanakan dengan responden R1 ( Irene Aprilia Sendi berusia 20 tahun, saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan sudah menjadi OMK selama 4 tahun), R2 (Wiwoho berusia 17 tahun, saat ini sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan sudah menjadi OMK selama 6 tahun), R3 (Martinus Rahma Tri Cahyo berusia 21 tahun, sudah bekerja dan bergabung menjadi OMK selama 7 tahun), R4 (F.X. Dimas Purbawibawa berusia 22 tahun, saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta dan sudah menjadi OMK selama 12 tahun), R5 (Sekar Adi Kuncoro berusia 22 tahun, saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta, dan bergabung menjadi OMK selama 4 tahun ), R6 (Stefanus Anggit Diasto Sekar berusia 16 tahun, saat ini

sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan dan bergabung menjadi OMK selama 1,5 tahun), R7 (Yusuf Dwi Pamungkas 16 tahun, saat ini sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan dan bergabung menjadi OMK selama 2,5 tahun), R8 ( Petrus Prasetya berusia 12 tahun, , sudah bekerja dan bergabung menjadi OMK selama 5 tahun).

Selanjutnya, penulis akan memaparkan laporan hasil wawancara berdasarkan pertanyaan yang diajukan penulis kepada responden ke dua yaitu Pendamping OMK Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. Pendamping OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang, yaitu P1 adalah Y.P. Supono berusia 70 tahun, menjadi pedamping OMK sudah 1 tahun, selain pendamping beliau juga merupakan ketua bidang paguyuban. Selanjutnya, Pendamping OMK Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang adalah Romo Vincentius Suparman, Pr, berusia 46 tahun, beliau adalah pendamping OMK Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang sekaligus Romo Paroki dan sudah menjadi pendamping selama 4 tahun. Sedangkan Romo Gerardus Djoko Durawidjaja, Pr, adalah Romo Pembantu, beliau berusia 32 tahun, dan sudah 5 bulan belakangan menjadi pendamping OMK membantu Romo Paroki.

Hasil Wawancara dengan responden OMK meliputi tiga fokus penelitian yakni Pelaksanaan pendampingan iman Orang Muda Katolik (OMK), Faktor- faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman serta harapan Orang Muda Katolik terhadap pendampingan iman.

a. Pelaksanaan pendampingan iman Orang Muda Katolik (OMK) Pelaksanaan pendampingan iman meliputi wadah pendampingan iman bagi OMK, alasan diadakannya pendampingan iman, bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman, kegiatan pendampingan iman yang diikuti, alasan mengikuti pendampingan iman, manfaat yang didapatkan dari pendampingan iman, serta peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman.

1) Wadah bagi OMK

Semua responden berpendapat bahwa terdapat wadah bagi Orang Muda di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang. Adapun wadah tersebut biasa disebut Orang Muda Katolik. Selain wadah yang disebut OMK di Paroki tidak memiliki wadah lain bagi Orang Muda.

2) Bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman

Ada beragam jawaban mengenai bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman yang diungkapkan responden di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang yang terbagi dalam beberapa wilayah. Responden itu adalah R1 dan R3 yang mengatakan bahwa bentuk kegiatan pendampingan iman adalah Makrab. Kendati demikian selain Makrab R3 menambahkan bentuk pendampingan iman yang lainnya adalah EKM. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh R2 yang mengatakan selain EKM ada juga bentuk pendampingan iman yang lain seperti Temu Raya OMK sevikepan Kedu, Valentine dan menjadi petugas rosario.

R7 dan R8 memiliki pendapat yang sama dengan R2 yang mengatakan bahwa Valentine juga merupakan bentuk kegiatan pendampingan iman, namun kecuali itu R7 dan R8 juga menambahkan kegiatan hari paroki. Bahkan R8 juga menyebutkan adanya kegiatan rekoleksi. Berbeda dengan responden lain R4 dan R5 mengatakan bahwa bentuk kegiatan pendampingan iman diantaranya adalah menjadi Petugas Misa ( koor, dll). Selain itu R4 juga menambahkan kegiatan lain yakni Bakti Sosial.

3) Kegiatan Pendampingan Iman yang diikuti

Pada umumnya keberagaman jawaban responden mengenai bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman serta kegiatan pendampingan iman yang diikuti terdapat kesamaan. Hal ini dikarenakan OMK hanya mampu menyebutkan dan mengingat kegiatan-kegiatan yang diikuti saja. Adapun R1 dan R3 mengatakan kegiatan pendampingan iman yang diikuti adalah Makrab. Kendati demikian selain Makrab R3 menambahkan kegiatan pendampingan iman yang lainnya adalah EKM. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh R2 yang mengatakan selain EKM ada juga kegiatan pendampingan iman yang lain seperti Temu Raya OMK sevikepan Kedu, Valentine dan menjadi petugas rosario.

R7 dan R8 memiliki pendapat yang sama dengan R2 yang mengatakan bahwa Valentine juga merupakan kegiatan pendampingan iman, namun kecuali itu R7 dan R8 juga menambahkan kegiatan lain yakni perayaan hari paroki. Bahkan R8 juga menyebutkan adanya kegiatan

rekoleksi. Berbeda dengan responden lain R4 dan R5 mengatakan bahwa kegiatan pendampingan iman diantaranya adalah menjadi Petugas Misa (koor, dll). Selain itu R4 juga menambahkan kegiatan lain yakni Bakti Sosial.

4) Alasan mengikuti pendampingan iman

Beberapa responden menjelaskan alasan mengikuti pendampingan iman yakni R1, R2 dan R8 yang mengatakan karena merasa senang saat dapat berkumpul bersama OMK. Selain itu R8 yang juga merupakan pengurus OMK wilayah merasa bertanggung jawab untuk memberikan teladan bagi OMK yang tergolong masih junior. Sedangkan R2 selain merasa senang juga sama seperti R7 yakni ingin menambah penglaman. Namun alasan yang tidak kalah penting juga diungkapkan R7 adalah dengan mengikuti kegiatan pendampingan iman dapat mempererat hubungan antar teman OMK.

Alasan tersebut rupanya disepakati oleh R3 dan R8 dengan mengatakan selain mempererat hubungan antar OMK juga dapat menjadi ajang menemukan teman bahkan saudara baru. Dengan kata lain R5 mempertegas yakni belajar untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik antar OMK maupun anggota Gereja lainnya. Selain itu pendapat lain mengenai alasan mengikuti pendampingan iman yang juga disampaikan R5 adalah sebisa mungkin memberikan sesuatu yang berharga bagi Gereja. R4 melengkapi alasan R5 dengan mengatakan alasannya mengikuti kegiatan pendampingan iman sendiri adalah untuk menghidupkan Gereja.

5) Manfaat yang didapatkan dengan mengikuti pendampingan iman Berdasarkan hasil jawaban responden yang beragam, adapun manfaat yang didapatkan oleh responden dengan mengikuti pendampingan iman yakni R1 dan R5 mengatakan bahwa manfaat yang didapatkan dengan mengikuti pendampingan iman membuat dirinya menjadi lebih aktif di dalam Gereja, mengetahui pengurus-pengurus Gereja serta mengetahui apa yang dibutuhkan Gereja. Selain itu manfaat lain yang dirasakan R1 serta beberapa responden yakni R6, R7, dan R8 adalah kegiatan pendampingan iman dapat menambah pengalaman jika kelak mengadakan kegiatan serupa baik di tingkat lingkungan maupun wilayah. Berkaitan dengan hubungan terhadap sesama OMK adapun manfaat yang juga dirasakan R1 dan beberapa responden lain yakni R2, R3, R4, R5, dan R7 adalah menambah teman atau saudara, dapat berkumpul dengan anak se-Paroki serta mengetahui kehidupan dan situasi OMK se-Paroki.

6) Peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman

Responden memiliki berbagai tanggapan sesuai pengalamannya masing-masing berkaitan dengan peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman. Berkaitan dengan hal ini peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman menurut R1 adalah mengarahkan dan membimbing OMK saat melaksanakan tugas, maupun hendak mengadakan kegiatan. Selain peran pendamping mengarahkan, R2 dan beberapa respoden yakni R3,R4,R5, dan R6 juga memiliki pendapat yang

berbeda mengenai peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman yakni pendamping juga berperan memberi masukan bagi OMK mengenai berbagai hal, yang masih membutuhkan perbaiakan. Sedangkan R7 dan R8 memiliki pandangan yang berbeda mengenai peran pendamping terhadap pelaksanaan pendampingan iman.

Adapun R7 mengatakan pendamping berperan memberi dukungan bagi OMK melaksanakan maupun terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja. sedangkan R8 berpendapat bahwa pendamping berperan memberikan rasa aman bagi OMK.

b. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman yang dipengaruhi oleh berbagai hal yakni Diri Sendiri, Keluarga, Gereja dan Masyarakat

1) Faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman bagi perkembangan iman OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.

Faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman dipengaruhi oleh berbagai hal yakni diri sendiri, keluarga, Gereja, serta masyarakat. Adapun faktor pendukung dari dalam diri menurut R1,R2, R4 dan R5 adalah adanya kemauan/ niat serta semangat dari dalam diri sendiri untuk mengikuti kegiatan pendampingan iman. Sedangkan menurut R6 dan R7 faktor pendukung yang berasal dari dalam diri sendiri dikarenakan adanya rasa tanggung jawab baik sebagai ketua OMK maupun sebagai OMK yang merupakan bagian serta generasi penerus Gereja. Faktor pendukung lainnya

berasal dari keluarga, berkaitan dengan hal ini R1, R5 , R7, dan R8 mendapatkan dukungan berupa semangat dari keluarga.

Sedangkan R4 dan R6 selalu diingatkan dan diberikan izin untuk mengikuti kegiatan pendampingan iman bagi OMK. Selain itu keluarga juga terkadang menjadi donatur dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan iman. Faktor pendukung selanjutnya berasal dari Gereja. menurut R1 dan R6 faktor pendukung dari Gereja salah satunya berasal dari Romo Paroki yang memberikan dukungan dengan mempersiapkan media serta permainan yang menarik, sedangkan R3, R4 dan R8 mengatakan dukungan dari Gereja berupa bantuan dana. Selain itu, pendapat lain dari R8 mengatakan dukungan dari Paroki juga berupa izin pelaksanaan kegiatan. Sedangkan R6 mengatakan faktor pendukung lain juga dipengaruhi hubungan yang baik antar Romo Paroki dan OMK.

2) Faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi perkembangan iman OMK di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang

Sama halnya dengan faktor pendukung, faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman juga dipengaruhi oleh berbagai hal yakni diri sendiri, keluarga, Gereja, dan Masyarakat. Berkaitan dengan hal ini R1, R5, R6, dan R8 mengatakan bahwa faktor pendukung yang berasal dari dalam diri sendiri berupa kesibukan masing-masing OMK yang berbeda-beda. Sedangkan R1, R4 dan R7 mengatakan bahwa kurangnya kesadaran OMK untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pendampingan iman bagi

OMK. Faktor penghambat yang berasal dari keluarga, diungkapkan oleh R4 yang mengatakan sulitnya mendapatkan izin dari keluarga karena dianggap mengganggu proses belajar. Sedangkan menurut R5, R6, dan R8 mengungkapkan bahwa kerapkali kegiatan keluarga yang bersamaan dengan kegiatan Paroki. Faktor penghambat yang berasal dari Gereja menurut R3, R4 dan R8 yakni adanya penolakan terhadap proposal. Menurut R2 faktor penghambat dikarenakan OMK masih sering berkelompok sesuai dengan asal wilayahnya. Pendapat lainnya juga disampaikan oleh R1 yang mengatakan bahwa faktor penghambat juga disebabkan jarak antar wilayah yang terlalu jauh. Faktor penghambat yang terakhir berasal dari masyarakat disampaikan oleh R4 yang mengatakan bahwa seringkali masyarakat yang memiliki keyakinaan yang berbeda sulit memberikan izin karena kegiatan yang diadakan OMK dianggap mengganggu.

c. Harapan OMK bagi pelaksanaan pendampingan iman yang meliputi harapan mengenai pelaksanaan pendampingan iman, pelaksanaan katekese, bentuk katekese, waktu pelaksanaan pelaksanaan pendampingan iman serta harapan mengenai materi yang dibahas.

1) Harapan OMK terhadap pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK Berbagai harapan diungkapkan OMK berkaitan dengan pendampingan iman bagi OMK. Adapun R1, R2, R3, R4, R7 dan R8 mengatakan bahwa harapan mereka terhadap kegiatan pendampingan iman bagi OMK adalah agar OMK lebih aktif lagi untuk terlibat baik sebagai peserta, panitia, maupun petugas dalam berbagai kegiatan di Paroki, maupun

pertemuan antar OMK. Harapan yang berbeda disampaikan oleh R5 dan R6 yang mengatakan bahwa diadakannya kegiatan yang dapat membantu OMK untuk saling mengenal, serta mempererat tali persaudaraan antar OMK. 2) Setuju diadakan katekese

Beberapa responden yakni R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 berpendapat setuju jika dilaksanakan katekese. R6, R7 dan R8 menambahkan alasannya dengan mengatakan bahwa katekese penting bagi OMK khususnya berkaitan dengan perkembangan imannya akan Yesus Kristus. Sedangkan R1, R3 dan R4 mengatakan setuju selama materi dapat diterima dan dapat tersampaikan dengan baik bagi OMK. berbeda dengan responden lain R5 menyampaikan alasannya setuju selama pelaksanaan kegiatan pendampingan iman tidak membosankan.

3) Bagaimana bentuknya

Responden memiliki berbagai harapan mengenai bentuk kegiatan katekese diantaranya. R1 memiliki pendapat yang berbeda dengan responden lain yakni bentuk kegiatan pendampingan iman diantaranya terdapat ibadat sabda, games dan aksi kongrit. Sedangkan R2, R3, R4, R5, dan R6 terdapat penayangan video pada pelaksanaan kegiatan katekese yang sesuai tema. R6 juga menyampaikan pendapat lain mengenai bentuk kegiatan katekese diantaranya terdapat game, menyanyi serta penyampaian jangan bersifat khotah. Sedangkan R7 menyampaikan bentuk yang sama yakni adanya

kegiatan menyanyi bersama. Kendati demikian R8 memiliki pendapat yang berlawanan dengan R6 yakni terdapat khotbah.

4) Materi yang dibahas

Terdapat berbagai usulan materi mengenai pelaksanaan kegiatan katekese, diantaranya pendapat R1 yang mengungkapkan berbagai usulan materi yakni mengenai jati diri OMK, kesadaran OMK untuk terlibat aktif di Paroki. Sedangkan R2, R3, R5, R6, R7, dan R8 mengenai sosialisasi, R3 mengenai kekompakan dan keteguhan iman, R4 mengenai toleransi dan keteguhan iman, R5 mengenai sikap peduli terhadap sesama pada OMK, R6 mengenai mengunggah kebersamaan, saling mengasihi, dan saling menghormati, R7 mengenai srawung, rasa saling menghormati, dan kurangnya solidaritas antar OMK, dan R8 mengenai rasa saling mengasihi, dan persaudaraan.

3. Hasil Wawancara dengan Pendamping a. Pelaksanaan Pendampingan Iman

Pelaksanaan pendampingan iman meliputi wadah pendampingan iman bagi OMK, bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman, alasan mengikuti pendampingan iman, serta peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman.

1) Wadah bagi orang muda di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang

Menurut pendamping PI, P2, dan P3 di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang terdapat wadah bagi Orang Muda. Adapun wadah tersebut dikenal dengan sebutan Orang Muda Katolik. P2 menambahkan, kendati di Paroki Santo Kristoforus, Banyutemumpang, Sawangan, Magelang hanya terdapat satu wadah bagi Orang Muda Katolik, namun di dalam wadah tersebut mencangkup berbagai potensi khas yang beraneka ragam dimiliki Orang Muda Katolik dari berbagai wilayah yang ada di Paroki.

2) Alasan diadakannya pendampingan iman

Berkaitan dengan alasan diadakannya pendampingan iman sendiri, masing-masing Pendamping memiliki jawaban yang beraneka ragam yakni P1 mengatakan bahwa adapun alasan diadakannya pendampingan iman agar orang muda dapat melanjutkan karya Gereja. berbeda dengan alasan yang dimiliki P1, P2 mengatakan bahwa pendampingan iman merupakan kebutuhan OMK serta media dan sarana untuk mengumpulkan OMK. Sedangkan menurut P3, pendampingan iman dilaksanakan agar Orang Muda dapat menjadi perpanjangan tangan Paroki dan OMK dapat berbuah.

3) Bentuk-bentuk kegiatan pendampingan iman

Beraneka ragam jawaban pendamping mengenai bentuk-bentuk kegiatan pendampingan imaan. Adapun P1 mengatakan bahwa bentuk –

bentuk pendampingan iman diantaranya Valentine, Hari Paroki, rekoleksi, karya bakti sosial, dan menjadi petugas liturgi. Memiliki pendapat yang sama dengan P1, P2 juga mengungkapkan salah satu bentuk kegiatan pendampingan iman bagi OMK adalah menjadi petugas liturgi. Kendati demikian bentuk-bentuk pendampingan lain yang disampaikan P2 adalah perjumpaan OMK pada malam tahun baru, aksi sosial, tirakatan hari kemerdekaan, Pendampingan PIA/ PIR, festival dan kesenian. Sedangkan bentuk – bentuk kegiatan pendampingan iman menurut P3 biasanya dilaksanakan pada masa- masa khusus seperti adven, APP, dan BKSN. 4) Peran pendamping pada pelaksanaan pendampingan iman

Pada pelaksanaan pendampingan iman , P1 mengungkapkan seorang pendamping memiliki peran dalam memberikan arahan, masukan serta sebagai pendorong bagi OMK dalam melaksanakan kegiatan pendampingan iman. P2 memiliki pendapat yang berbeda dengan mengatakan bahwa seorang pendamping berperan dalam memberikan motivasi, mengumpulkan, mengingatkan, mendampingi serta ikut merancang kegiatan bersama OMK. Sedangkan pendamping menurut P3 berperan dalam memfasilitasi OMK pada pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK.

b. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman OMK

Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendampingan iman dipengaruhi oleh berbagai hal yakni Diri Sendiri, Keluarga, Gereja dan Masyarakat :

1) Faktor Pendukung

Faktor pendukung pelaksanaan pendampingan iman dipengaruhi oleh berbagai hal yakni Diri Sendiri, Keluarga, Gereja dan Masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, P2 mengungkapkan faktor pendukung yang berasal dari dalam diri OMK adalah adanya kesadaran dari OMK untuk berkumpul dan bersekutu. Faktor pendukung yang berasal dari keluarga juga disampaikan oleh P2 yang mengatakan keluarga selalu mendukung dan tidak cemas jikalau anaknya mengikuti kegiatan OMK. Selain dari keluarga faktor pendukung lainnya juga berasal dari Gereja.

Adapun P1 mengungkapkan bahwa pendamping memiliki rasa tanggung jawab yang besar selain itu Gereja juga selalu memberikan kesempatan dan kepercayaan. P2 menambahkan dengan mengungkapkan bahwa Paroki merasa senang dengan kehadiran pribadi OMK yang kreatif sehingga mampu menghidupkan Gereja. Sedangkan dari P3 mengungkapkan adanya dukungan dari keuskupan. faktor pendukung yang terakhir berasal dari masyarakat. Berkaitan dengan hal ini P1 mengungkapkan faktor pendukung yang berasal dari masyarakat karena adanya kerukunan antar masyarakat.

P2 menambahkan faktor pendukung dari masyarakat juga karena adanya penerimaan masyarakat terhadap OMK yang mampu memberikan warna baru bagi masyarakat. Sedangan P3 mengungkapkan faktor pendukung lainnya juga karena mayoritas masyarakat sendiri beragama Katolik.

2) Faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman OMK Sama seperti faktor pendukung, faktor penghambat pelaksanaan pendampingan iman bagi OMK juga dipengaruhi oleh berbagai hal yakni dalam diri OMK, keluarga, Gereja, dan masyarakat. P1,P2 dan P3 mengungkapkan faktor penghambat dari dalam diri OMK adalah adanya kesibukan masing-masing OMK yang berbeda-beda. P2 juga menambahkan faktor penghambat lain seperti adanya sikap egois yang dimiliki, serta kesibukan dengan alat teknologi seperti gadget. Faktor penghambat selanjutnya berasal dari keluarga. Berkaitan dengan ini P2 mengatakan bahwa keluarga khususnya orangtua seringkali merasa bahwa kegiatan-kegiatan pendampingan iman bagi OMK menganggu OMK dalam proses pendidikannya. Faktor penghambat yang berasal dari Gereja P1, P2, dan P3 mengungkapkan karena adanya jarak antar wilayah di