BAB IV. KATEKESE AUDIO VISUAL SEBAGAI UPAYA
B. Pengertian, tujuan dan langkah-langkah katekese Audio Visual sebagai
Kristoforus Banyutemumpang, Sawangan, Magelang.
1. Pengertian Katekese Audio Visual
Audio visual merupakan perpanjangan elektronik getaran pribadi seseorang serta merupakan perpanjangan elektronik seluruh pengalaman seseorang. Media audio visual merupakan alat, saluran ide, gagasan, dan perasaan yang dapat membantu umat untuk tersentuh, tergerak dan lalu bergerak. Kendati demikian dengan menggunakan sarana audio visual bukan berarti telah tuntas melaksanakan katekese audio visual. Berkaitan dengan hal ini, Pater Pierre Babin mengatakan bahwa katekese audio – visual ialah “ pesan sejauh pesan menyeluruh pancaindera, perasaan, badan, gagasanku” ( “ the messege in as much as the Message impresses my sentivity, my feelings, my body, my ideas”) ( Pierre Babin, “ Cateshesis in Audio – Visual Civilization”), dalam Good – Tidings, vol. XIII, May- June 1974, no. 3, hal 360).
Pengertian lain juga disampaikan oleh St. Yohanes dalam suratnya yang pertama : “ apa yang telah ada sejak semula yang telah kami dengar, yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu ( Yoh 1:1). Katekese Audio Visual adalah penyampaian pengalaman pribadi sebagai seorang Kristiani ( Ernestine & Adisusanto, FX., 2017 : 5-8). Melalui usaha manusia hendaknya mencari dan dapat menemukan Allah secara pribadi dalam konteks hidup bersama. Menurut FX. Tri Mulyono dalam
Rukiyanto, katekese audio visual membantu untuk “menemani” setiap pribadi agar merasakan sendiri bahwa Allah juga bersemayam dalam dirinya (2012:467). 2. Tujuan Katekese Audio Visual
Menurut Ernestine & Adisusanto, FX dalam buku Katekese Audio Visual (2017 : 8-9) , adapun tujuan katekese audio visual adalah untuk memperoleh pengetahuan pengetahuan intelektual, melainkan persaudaraan dengan kelompok orang yang percaya akan Kristus. Tujuan lain disampaikan oleh Santo Yohanes yang mengatakan bahwa “ apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anaknya, Yesus Kristus” ( 1 Yoh. 1,3). Setiap Orang Kristiani mempunyai pengalaman yang unik dan pribadi tentang Yesus Kristus.
Melalui katekese audio visual diharapkan persekutuan kristiani dengan cara mengkomunikasikan pengalaman pribadi tentang Yesus Kristus tidak berlawanan dengan kesatuan ajaran Gereja. Pewartaan yang disampaikan secara audio – visual lebih menimbulkan iman daripada menjelaskannya. Medium audio visual mengajak kelompok untuk saling berbicara, menyapa hati mereka, memanggil mereka untuk bertobat, dan mendorong mereka untuk bertindak. Medium mendorong orang-orang memiliki kreativitas daripada keseragaman iman.
Melalui katekese audio visual memampukan umat Kristiani tersentuh, tergerakkan dan lalu bergerak. Tentunya melalui pendalaman bersama ( dialog ),
namun keputusan yang baik atau buruk, penting atau tidak, dan perlu atau tidak untuk dimiliki secara pribadi adalah keputusan pribadi. Dengan demikian menurut F.X. Tri Mulyono dalam B. A. Rukiyanto ( 2012 : 476) , katekese audio visual membantu untuk “ menemani” setiap pribadi agar merasakan sendiri bahwa Allah bersemayam dalam dirinya
3. Langkah –Langkah Katekese Audio Visual
Menurut Ernestine & Adisusanto, FX dalam buku Katekese Audio Visual (2017 : 8-9) , langkah-langkah katekese audio visual mencakup 2 hal yakni iman dan evaluasi kritis .
a. Komunikasi Iman
Terdapat empat langkah yang haru dilakukan dalam Komunikasi iman yakni mencari pengalaman audio visual, berdoa dengan audio visual, mencari media yang dapat memupuk perasaan kagum, damai dan keterbukaan serta adanya komunikasi kelompok :
1) Pengalaman audio visual
Carilah pengalaman audio visual (musik/ suara, gambar, video, dan film) yang mendalam dan intensif, karena kedalaman dan intensitasnya membawa anda ke perasaan yang spirituil.
2) Berdoalah dengan audio – visual
Jangan ragu – ragu untuk berdoa dengan sebuah gambar yang indah, dan mempergunakan waktu cukup lama untuk merenung dengan gambar itu
atau sambil mendengarkan musik, suara gitar, slides, nyanyian atau melihat gambar-gambar.
3) Carilah gambar, suara, atau lagu-lagu yang memupuk perasaan kagum, damai dan keterbukaan
Cobalah menemukan aspek – aspek dari mana wahyu Allah yang diilhamkan oleh bermacam-macam gambar atau suara itu. Hidup beriman berarti memilih dan menekankan aspek-aspek tertentu dari realitas hidup sehari-hari di bawah terang Injil melihat suatu yang mendalam dan yang baru dalam aspek-aspek realitas kehidupan itu. Bahasa audio – visual memungkinkan kita untuk melakukan hal ini dengan lebih efektif daripada kata- kata tertulis.
4) Komunikasi kelompok
Medium Audio Visual memainkan peran penting dalam menciptakan semangat berkelompok. Potensi spirituil audio – visual sangat erat berhubungan dengan semangat keterbukaan dan “ sharing” antar anggota kelompok. Sharing dalam kelompok baik, karena dalam sharing seorang melihat dan mendengar sesuatu dengan intensitas yang besar, dan hal itu dapat mendorong yang lain untuk melihat dengan lebih baik dan dengan cara yang lebih mendalam. Mendiskusikan sebuah film dengan orang-orang yang berpikir mendalam, mengemukakan reaksi-reaksi terhadap iklan-iklan, mensharingkan apa yang dilihat dalam sebuah foto atau arti yang dilihat dalamsituasi dan kejadian-kejadian tertentu, adalah essensiil bagi mereka yang mulai belajar memandang realitas-realitas zaman sekarang dengan mata
seorang nabi. Meski sharing dalam kelompok penting, namun perlu diingat bahwa tak sesuatupun dapat menggantikan refleksi pribadi atau renungan pribadi tentang kehidupan dan Injil dengan tetap mempertahankan hubungan seorang dengan yang lain.
b. Keterlibatan Baru
Peserta memiliki arah keterlibatan baru baik yang akan dilakukan dalam dirinya, keluarga, maupun kelompok-kelompok tertentu. Keterlibatan baru berupa pembaharuan yang memunculkan sikap baru sebagai buah pertobatan yang dilakukan. Adapun contohnya sepertinya rajin berdoa, lebih aktif terlibat dalam kegiatan Gereja, dll.
c. Evaluasi Kritis
Godaan yang paling besar ialah melihat audio visual hanya sebagai hiburan. Bila bersikap demikian, maka pengaruh dan kekuatan audio – visual yang sebenarnya hilang. Audio – visual, yang sebenarnya dapat menjadi bahasa baru dan kuat. Jika demikian audio visual lebih menjadi penghalang dari pada media untuk berkomunikasi. Oleh karena itu penting sekali adanya eksperimen-eksperimen analisa dan refleksi sistematis tentang audio visual. Pengalaman membuktikan bahwa cara yang paling baik untuk mengetahui sesuatu adalah melihat hasilnya , pertama-tama untuk diri sendiri, kemudian untuk orang lain, misalnya sesudah mendengarkan dengan penuh perhatian musik yang keras dan tajam, saya bertanya pada diri saya sendiri :
1) Bagaimana musik ini menyentuh saya? 2) Suasana apa yang diciptakan oleh musik ini?
3) Apakah musik ini membuat saya menjadi lebih ingin tahu, lebih relaks, lebih dikuatkan, lebih terbuka.
4) Kata-kata Kristus manakah dapat saya taruh dalam konteks ini? Mengapa?