• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PERKEMBANGAN IMAN DAN PENDAMPINGAN IMAN ORANG

B. Peran Pendampingan Iman terhadap Perkembangan Iman OMK

2. Peran Pendampingan Iman bagi OMK

Keadaan Orang Muda Katolik (OMK) yang beraneka ragam khususnya dalam hal iman menuntut dilaksanakannya pendampingan iman. Adapun tujuan pendampingan iman menurut Dewan Karya Pastoral KAS (2014 : 26) yang

utama adalah untuk mencapai kepenuhan di dalam Kristus. Kepenuhan di dalam Kristus sendiri merupakan konsekuensi sebagai pengikut Kristus, untuk hidup sesuai dengan teladan – teladan yang telah diajarkan Kristus ( Ef 4 : 2-6). Berkaitan dengan tujuan tersebut ada empat peran Pendampingan OMK guna mengantar OMK mencapai kepenuhan di dalam Kristus yakni kerygmatis/pewartaan, edukatif/ pendidikan iman, kuratif/menumbuhkan iman dan transformatif/pembaharuan (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014 : 23) :

a. Pendampingan Iman sebagai Pewartaan untuk OMK

Salah satu peran pendampingan ialah kerygmatis atau pewartaan. Adapun peran kerygmatis tersebut untuk menegaskan kembali tugas perutusan Gereja yakni mewartakan sabda Allah terutama bagi yang sudah menjadi anggota Gereja. Sabda Allah sendiri adalah karya Allah akan penyelamatan umat manusia yang tampak melalui putra-Nya Yesus Kristus. Berkaitan dengan hal ini pendampingan iman memiliki tugas untuk menghadirkan sabda Allah agar umat dapat bertemu secara pribadi dengan Kristus. Dalam pendampingan iman yang terpenting adalah mewartakan Kristus.

Oleh sebab itu, pelaksanaan pendampingan iman sangat penting bagi seluruh anggota Gereja, terutama bagi OMK. Pendampingan iman menjadi wujud nyata pelayanan sabda Allah bagi OMK. Selain itu melalui peran ini Gereja diajak untuk sadar akan kerjasama Allah yakni Allah melalui Yesus Kristus menjumpai dan membimbing OMK untuk hidup di jalan keselamatan.

Yesus membimbing bukan hanya melalui sabda, namun juga melalui seluruh hidup-Nya yang dipersembahkan bagi keselamatan manusia. Kitab Suci

menjadi media utama bagi pendampingan iman. Pendampingan Iman mewartakan dan menyajikan kisah dan peristiwa Allah yang mewahyukan diri kepada manusia. Berkaitan dengan hal ini, OMK diajak untuk masuk dalam pengalaman biblis untuk merasakan kasih dan pendampingan Tuhan sepanjang sejarah keselamatan.

Pendampingan Iman menjadi tempat istimewa di mana sabda Allah senantiasa bergema dalam sejarah manusia dalam bentuk pengajaran, ajakan, pewartaan, doa, dan kesaksian hidup. Sedangkan terhadap pewartaan tersebut, OMK beriman diajak untuk memberikan tanggapan akan sabda Allah. Kendati demikian, sabda Allah tidak melulu bersifat pengajaran, tetapi juga sebagai sebuah pernyataan diri Allah yang menawarkan keselamatan. Terhadap tawaran itu, OMK tidak boleh hanya berdiam diri, berpangku tangan melainkan berani mengambil sikap yang menentukan arah hidupnya. Sehingga nanti umat sanggup menyatakan ketaatan iman (Roma 16: 26). Dengan kata lain OMK dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya.

b. Pendampingan Iman Mendidik OMK

Peran pendampingan iman yang lain adalah mendidik umat dalam hal iman, agar iman yang dimiliki semakin mendalam serta semakin terlibat dalam dinamika hidup menggereja dan memasyarakat, baik sebagai pribadi maupun kelompok. Pendampingan yang diberikan selama masa katekumenat dianggap belum mencukupi untuk menjalani kehidupan beriman selanjutnya. Oleh karena itu pendampingan pasca baptis dianggap penting untuk menolong perkembangan

iman sepanjang hidup. Peran Pendampingan Iman untuk mendidik iman merupakan usaha untuk menolong manusia menciptakan situasi dan suasana hidup beriman sedemikian rupa, hingga membantu dan mempermudah proses perkembangan iman bagi OMK.

Pendampingan Iman merupakan pendidikan sepanjang hidup OMK yang tidak terhenti pada aspek tertentu seperti pada pengenalan kebenaran atau pada pemahaman perbuatan-perbuatan moral. Namun lebih daripada itu, pendampingan iman memiliki tugas hingga pada pembentukan sikap iman sebagai jawaban pribadi dan total atas rencana hidup Kristen.

c. Pendampingan Iman memelihara, menjaga, dan menumbuhkan iman OMK

Peran kuratif adalah peran memelihara, menjaga, dan menumbuhkan iman. Berkaitan dengan hal ini, pendampingan iman memiliki tugas dengan beraneka ragam bentuknya yakni pelayanan karikatif, perjuangan akan keadilan, perdamaian, kebenaran, lingkungan hidup, keterlibatan, dll. Pendampingan iman juga perlu membantu dan membina umat untuk mampu mendengarkan sabda Tuhan melalui Kitab Suci dan kehidupan konkret sehari-hari. Selain itu , pendampingan iman juga membina umat agar sungguh-sungguh dan secara penuh mengambil bagian dalam aspek kenabian Gereja.

Pendampingan iman membangkitkan, mendorong serta membina penghayatan kehidupan doa dan sakramentil umat. Hal ini penting karena berdoa dan perayaan sakramentil merupakan momen yang tak tergantikan dalam penghayatan iman dan proses pendewasaan. Pendampingan iman membantu umat

untuk menemukan dan memperkembangkan karisma setiap orang beriman dalam rangka pelayananan bagi Tuhan dan sesama.

Berkaitan dengan hal ini pendampingan iman berperan untuk memelihara iman OMK agar bisa tumbuh dan berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Pada dasarnya semua tugas Gereja dimaksudkan untuk memelihara dan menumbuhkan iman. Adapun tugas Gereja tersebut meliputi empat “W” yaitu word ( pewartaan sabda), worship ( doa, devosi, dan peribadatan), witness ( persekutuan hidup, kesaksian iman, sharing iman), dan

welfare ( pelayanan dan keterlibatan yang memberdayakan).

“Persekutuan merupakan cara untuk saling menjaga dan memelihara iman. Dalam persekutuan sangat mungkin diciptakan sharing iman dan dibangun sebuah sapaan yang memberi kehangatan, sebuah kesediaan untuk saling menolong dan memperhatikan, serta kemauan untuk meneguhkan dan menjadi teman satu sama lain dalam perjalanan hidup. Dalam persekutuan, orang tidak beriman sendirian, tetapi bersama yang lain. Perwujudan iman dalam persekutuan dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan membantu OMK dalam mempertahankan , menumbuhkan serta mewujudnyatakan iman dalam kehidupan sehari-hari (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014 : 25).”

Melalui persekutuan OMK diharapkan mampu memelihara, menjaga, dan menumbuhkan imannya. adapun persekutuan yang dapat memperkembangkan iman OMK dengan diadakannya kegiatan-kegiatan yang kreatif, inspiratif, menantang dan juga mengembangkan. Dengan kata lain di dalam kebersamaan OMK juga hendaknya mengadakan aneka kegiatan pendampingan iman, agar imannya dapat tetap bertumbuh hingga pada akhirnya diwujudkan dalam aksi nyata OMK sendiri.

d. Pendampingan Iman mengembangkan, dan membawa pembaruan

Menurut Fowler (1995 : 95), pendampingan iman memiliki peran membawa pembaruan/ transformatif berarti pendampingan iman membantu OMK untuk membarui hidupnya atas dasar iman. Dalam pendalaman iman OMK tidak hanya mengalami tahap “ informed” yaitu tahap pengajaran, pewartaan, dan pendidikan di mana seseorang mendapat informasi, pengetahuan, atau segala hal yang yang terkait dengan iman, tetapi dikembangkan sampai tahap formed dan

transformed. Tahap “formed”, berarti tahap di mana apa yang diterima, dihayati,

diinternalisasikan, dan diolah dalam hidupnya. Kemudian menuju tahap “transformed”, yakni tahap di mana ada perubahan hidup hingga membawa suatu pertobatan dan pembaruan hidup secara terus – menerus. Pengetahuan iman dan tindakan seorang beriman tidak menjamin perkembangan iman jika tidak ada penyatuan dalam proses pematangan sikap-sikap iman yang otentik dengan ketiga komponennya (pengertian, afeksi, dan perilaku).

Adapun pendewasaan sikap iman berarti membangkitkan rasa patuh, kesiapsediaan untuk mendengarkan dan penyerahan diri pada sabda Tuhan. Pendewasaan iman berarti mendidik umat untuk memiliki kepercayaan yang tak tergoyahkan akan janji-janji Allah, pengharapan dan penantian akan keselamatan, kesabaran, kekuatan dalam menghadapi tantangan, serta keterbukaan terhadap kehendak Tuhan.

Dalam hal ini pendampingan iman tidak hanya membantu OMK berkembang dalam pengetahuannya melainkan juga berkembang dalam sikap, sehingga OMK menjadi lebih kritis. Iman tidak semata-mata dilihat secara

fungsional, yakni jawaban atas kebutuhan / keinginan tetapi iman dijadikan sumber dan landasan dalam bersikap. Iman membimbing orang untuk kreatif menyikapi sesuatu, tidak mudah takut dan cemas terhadap hal-hal yang baru tetapi justru menjadi sumber inspirasi dan inisiatif. Pendampingan iman hendaknya mendorong OMK untuk bertindak yang benar dan membawa kebaikan bersama.