V RELASI KUASA PENGELOLAAN SAMPAH
2.226.110.600 6) Fasilitasi Pengelolaan Satgas Bidang
Sumber Daya Air
Meningkatnya Pelayanan Pengendalian Banjir Kepada Masyarakat 11 Kecamatan 2.226.110.600 (1) Kerangka Pendanaan (Rp) Prosentase (% ) Kode Program Prioritas dan Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan Target Capaian
Kinerja
(2)) (3) (4) (5)
1 15 01 Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Pasar
1 06 Urusan : Perdagangan
1 06 02 Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Pasar
V Program Peningkatan Pengelolaan PasarTadisional
IKM Pasar 80% 6.869.000.000
1 Fasilitasi pengelolaan UPS Meningkatnya Pengelolaan Persampahan di Pasar
1 Pasar Cisalak 540.000.000
2 Pelayanan Pengangkutan Sampah Tersedianya BBM Kendaraan Pengangkutan Sampah Pasar
16 Truk 800.000.000
3 Penyediaan Perlengkapan dan Pelatihan Petugas Ketertiban Pasar
Terpenuhinya kebutuhan Petugas keamanan Pasar
94 orang 150.000.000
4 Penyediaan Perlengkapan Petugas Kebersihan Pasar
Terpenuhinya kebutuhan petugas kebersihan pasar
138 orang 350.000.000
5 Pengelolaan Jasa Kebersihan, Petugas Retribusi dan TibSar
Tersedianya Jasa Pesapon, Pet Ret dan Ketertiban Pasar
61 petugas Retrbusi 133 kebersihan, 93 Tibsar,Mecanik 2 org & 2 penjaga
4.250.000.000
6 Fasilitasi Kantor UPT Ps.Tugu. Tersedianya Operasional Ps.Tugu 1 uptd 23.500.000
7 Fasilitasi Kantor UPT Ps.Kemiri Muka. Tersedianya Operasional Ps.Kemiri Muka.
1 uptd 23.500.000
8 Fasilitasi Kantor UPT Ps.Cisalak dan Ps.Sukatani.
Tersedianya Operasonal Ps.Cisalak dan Ps.Sukatani.
1 uptd 41.000.000
9 Fasilitasi UPT Ps.Agung dan Ps.Musi. Tersedianya Operasional Ps.Agung dan Ps.Musi.
1 uptd 41.000.000
10 Penggantian Suku Cadang dan Pemeliharaan Kendaraan Angkutan Sampah
Terpenuhinya suku cadang dan terpeliharanya kendaraan angkutan sampah 14 Truk 650.000.000 (1) Kerangka Pendanaan (Rp) Prosentase (% ) Kode Program Prioritas dan Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan Target Capaian
Dalam pandangan pemerintah Kota Depok, perbedaan kekuatan antar OPD/Dinas ini dipandang wajar saja karena sesuai dengan TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi) atau pembagian kerja, bahwa DKP adalah leading sector di bidang kebersihan, Dinas lain hanya sebagai pelengkap atau membantu meringankan tugas DKP.
Meskipun Dinas-dinas lain hanya sebagai pelengkap atau membantu meringankan tugas DKP, bukan berarti hubungan antar Dinas tanpa masalah. Potensi masalah dengan pembagian kerja macam ini ada pada dua level. Level pertama adalah ketika anggaran dibahas dalam rapat-rapat lintas OPD. Wakil- wakil dari OPD yang terkait dalam satu pekerjaan yang sama biasanya akan mengalami ketegangan kalau tidak bisa mengeluarkan diri dari perangkap ego- sektoral dan kepentingan masing-masing pihak. Kabid Pelayanan Kebersihan DKP, Drs. Rahmat Hidayat, MM, menggambarkan ketegangan antara Dinasnya dengan Dinas lain dalam rapat-rapat OPD dalam istilah “saling memaksa”. Rahmat mengatakan :
“……biasanya saling memaksa terjadi kalau sudah berbicara hubungan antar instansi dalam suatu pekerjaan yang saling berkaitan. Kita usul perbaikan jalan menuju TPA atau UPS agar masyarakat sekitar tidak komplain, ternyata DIBIMASDA tidak memprioritaskan itu, sementara masyarakat komplain sama kita. DISHUB gitu juga, kita pertahankan kebersihan terminal di tangan kita, DISHUB malah maksa untuk ambil tugas itu karena mereka menganggap wilayah terminal masuk dalam kewenangannya…….”
Pada ujungnya, ada yang berakhir dengan pengerjaan oleh DKP, tetapi ada juga yang beralih ke Dinas lain, misalnya untuk perbaikan jalan menuju UPS akhirnya dikerjakan oleh DKP. Tugas pengelolaan kebersihan beralih dari DKP ke DISHUB dulunya pesapon dibawah koordinasi DKP tapi akhirnya beralih menjadi kewenangannya DISHUB. Memang DISHUB membayar kontribusi ke DKP tapi pembayaran tersebut dialokasikan dari APBD sehingga dalam istilah Rahmat Hidayat sama juga dengan “jeruk makan jeruk”, itulah kenyataan yang terjadi pada hubungan antar OPD.
Menurut Ka. Seksi Operasional Pengangkutan dan Pengelolaan Sampah DKP (Bpk Enc) sebenarnya mereka itu (DKUP dan DISHUB) semata-mata karena ingin memperbesar kontribusi ke daerah melalui retribusi, sehingga upaya-
upaya yang dilakukan orientasinya untuk memperoleh retribusi, akan lebih bagus kalau seandainya retribusi sampah di “nol” kan saja, demikian penuturannya.
Pada level lainnya, yaitu level pelaksanaan tugas di lapangan, hal serupa juga terjadi, masih menurut Bpk Enc, pihaknya di lapangan sering dipersalahkan tidak mengangkut sampah di jalanan dekat pasar. Padahal, katanya, sejauh 300 meter dari pasar masih merupakan tanggungjawab DKUP. Begitupun dengan sampah dari saluran air yang diangkat ke tepi jalan oleh DIBIMASDA. Bpk Enc mengatakan :
“……apa salahnya mereka langsung angkut sampah-sampah itu, bukankah mereka juga punya truk dan satgas sendiri? jadi tidak lagi harus menunggu kami mengangkutnya…..”.
Potensi masalah karena pembagian kerja antar instansi atas satu objek pekerjaan memang selalu ada dan sulit dihindari karena saling terkait. DIBIMASDA turun tangan membersihkan sampah di saluran-saluran air adalah karena terkait dengan tugasnya memelihara fisik saluran air tersebut agar berfungsi sebagaimana mestinya. Namun apabila sampah yang masuk ke dalam sungai terlalu banyak sehingga tugas DIBIMASDA bertambah berat, sehingga sampah dari sungai tersebut hanya disimpan di pinggiran jalan pada sempadan sungai dengan harapan akan diangkut oleh DKP. Pihak DKP juga keberatan karena harusnya sampah tersebut langsung diangkut oleh DIBIMASDA dan dibuang ke TPA Cipayung karena DIBIMASDA sudah memiliki truk sendiri.
Keikutsertaan DKUP menangani sampah pasar tradisional, didasarkan pada pertimbangan bahwa timbulan sampah pasar tradisional lebih cepat banyaknya dibanding sumber lain, selain itu, lebih cepat pula mengalami pembusukan dan bau. DKUP tidak bisa terlalu lama menunggu giliran datangnya armada pengangkutan dari DKP. Dengan kata lain, sampah pasar harus ditangani khusus agar cepat diangkut. Lagi pula di mata DKUP, pasar adalah “barang dagangan” yang harus “dijual” kepada pedagang. Pedagang akan beli/sewa kios atau jongko yang ada kalau pasar itu ramai dikunjungi pembeli. Pembeli akan lebih tertarik mengunjungi pasar yang lingkungannya lebih bersih. Di samping itu, DKUP juga merupakan organ pemerintah yang salah satu prestasinya diukur dari kontribusinya pada pendapatan asli daerah.
Implementasi kebijakan Otonomi Daerah membuat daerah-daerah meningkatkan sumber penerimaan untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah), salah satunya adalah retribusi. Retribusi sampah pasar merupakan salah satu sumber bagi DKUP dan sumber itu sayang kalau dilepaskan kepada instansi lain. Alasan terakhir ini terkadang justeru tampak lebih kuat memotivasi atau menjadi alasan melakukan pengelolaan sampah dibandingkan alasan-alasan normatif lainnya.
Hal yang sama berlaku pada DISHUB yang salah satu sumber pendapatannya adalah dari terminal. Terminal bukan semata-mata tempat asal dan tempat tujuan kendaraan angkutan penumpang umum. Terminal adalah juga tempat penumpang naik, turun, dan menunggu kendaraan. Tak heran bila kemudian terminal menjadi tempat ramai dan potensial sebagai tempat berdagang. Di sana ada berbagai fasilitas yang dapat “dijual/disewakan” oleh pengelola terminal kepada pedagang, termasuk kamar mandi. Mereka inilah yang kemudian menjadi subjek retribusi dari sampah yang juga dihasilkan orang ramai di terminal. Dalam tugasnya sebagai salah satu kontributor bagi pendapatan asli daerah, DISHUB merasa sayang melepaskan peluang itu kepada DKP meskipun dengan risiko agak “bersitegang” dengan DKP. “Kekalahan” DKP dalam persaingan menguasai pengelolaan sampah di lingkungan pasar tradisional dengan DKUP dan dalam menguasai pengelolaan sampah terminal dengan DISHUB, tak dapat disangkal telah membuat “jengkel” beberapa pejabat DKP. Namun hal itu tidak mungkin lagi diingkari karena telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah mengenai TUPOKSI. Memang hanya DKUP dan DISHUB yang memungut retribusi sedangkan DIBIMASDA tidak melakukan itu karena mengangkut sampah dari sungai semata-mata untuk memperlancar arus air mengalir.
Para politisi yang duduk di DPRD sudah ikut turun tangan membahas Rancangan TUPOKSI yang diajukan pemerintah (Walikota). Lagi pula, dilepaskannya kebersihan terminal dan pasar tradisional tidaklah menyebabkan DKP kehilangan pekerjaan. Walaupun kehilangan sekian persen retribusi, dengan lepasnya dua pekerjaan itu, namun pekerjaan DKP dan potensinya memperbesar penerimaan retribusi masih sangat besar. Hitungan resmi luas garapan DKP bidang kebersihan baru sekitar 40 %. Belum termasuk bidang lain di bawah naungan DKP, yang juga tak kalah potensialnya memproduksi retribusi.
Hubungan-hubungan kekuasaan antar instansi pemerintah tersebut di atas menunjukkan bahwa TUPOKSI sebagai produk politik pemerintahan Depok (eksekutif dan legislatif) telah menyebabkan sampah ditangani oleh beberapa instansi. Tapi pertautan (relasi) antar instansi yang dihubungkan oleh sampah, membuka peluang instansi-instansi tersebut bersaing karena ketimpangan kekuatan dalam pemilikan/penguasaan sarana dan prasarana (DKP dengan DISHUB). Sampai tingkat adanya kesepakatan (kerjasama) sehingga kontainer DKP dipakai oleh DISHUB serta DKP mengangkut kontainer dari terminal bus untuk kemudian dibuang sampahnya ke TPA Cipayung.
Selain ketimpangan dalam soal sarana dan prasarana, relasi antar instansi tegang gara-gara perbatasan dan retribusi. Pada perbatasan wilayah mengangkut sampah. Sering terjadi ketegangan ketika terjadi wilayah arsiran, misalnya DKP dengan DISHUB siapa yang mengangkut sampah di pinggiran terminal, jauh dari pinggiran jalan raya tapi sudah berada di luar terminal. Ketegangan DKP dengan DKUP terjadi dalam hal pengangkutan sampah yang berserakan/tercecer diluar pasar tapi tidak begitu jauh dari lokasi pasar, siapa yang harus mengangkutnya. Ketegangan DKP dengan DIBIMASDA yaitu pada sampah yang sudah diangkut dari sungai/situ kemudian hanya disimpan di pinggir jalan, padahal sampah tersebut harus segera diangkut tidak boleh dibiarkan begitu saja di pinggir sungai atau situ tersebut.
Demikian juga dalam hal retribusi, masing-masing instansi mengejar retribusi dari sampah. Pengumpulan retribusi-nya menjadi panglima, dan pengelolaan sampah-nya sendiri menjadi yang kedua. Inilah yang dinamakan “ideologi retribusi” dan lawannya “ideologi kebersihan”. DPPKA (Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset) berperan besar dalam mengkonstruksikan “ideologi retribusi” di bawah alasan PAD yang didukung secara politik dan hukum oleh negara. Pengumpulan retribusi dijadikan tolok ukur keberhasilan, disusul “sistem target” dalam pengumpulannya. Hal ini semakin menyempurnakan tegaknya ideologi retribusi yang membuat instansi saling memaksakan untuk mengumpulkan retribusi sebanyak mungkin.