6.1. Kesimpulan
Pengelolaan sampah baik di tingkat rumah tangga, tingkat bak sampah, tingkat TPS sampai tingkat TPA melibatkan banyak aktor, mulai dari rumah tangga atau orang perorang yang menghasilkan sampah, orang/aktor penanganan sampah perorangan, orang-orang yang mewakili lembaga seperti RT, RW, DKP, DKUP, UPTD TPA, DISHUB, DIBIMASDA. Bahkan pemulung, lampak pemulung, forum masyarakat, satpam dan pembantu rumah tangga baik secara langsung maupun tidak langsung, juga terlibat dalam penanganan sampah. Para aktor ini saling berinteraksi, saling kait mengkait antara satu dengan lainnya. Masing-masing aktor tersebut bisa dalam wujud orang perorangan maupun dalam wujud lembaga atau organisasinya. Aktivitas para aktor serta hubungan-hubungan antar sesamanya, mempengaruhi kondisi dari penanganan terhadap sampah di wilayahnya masing-masing.
Kepentingan para pihak/aktor yang terlibat dalam penanganan sampah, juga alasan mengapa suatu cara penanganan sampah dipilih oleh orang perorang/aktor mempengaruhi fisik kota dari sudut persampahannya. Misalnya ketika tempat pembuangan sampah yang lebih baik sudah tidak ada, atau tempat yang lebih layak tidak dapat diakses, maka tempat-tempat yang tak selayaknya pada akhirnya akan menjadi alternatif. Orang tidak dapat menunggu karena sampah diproduksi setiap hari, sehingga dengan menggunakan kekuasaan yang dapat diaksesnya, orang-orang tersebut membuang sampah di tepi jalan, di bantaran/sempadan kali, juga dijalankan. Segmentalisasi penanganan sampah tercipta sebagai kreatifitas para aktor dalam rangka menjalankan kekuasaan untuk menjamin kelangsungan kepentingannya. Penanganan sampah adalah sebuah wahana sosial yang di dalamnya terbangun hubungan-hubungan kekuasaan antar para aktor. Tiap aktor memainkan kekuasaan atas aktor yang lain, yang ia dapat kuasai dan dengan melibatkan dukungan dari pihak-pihak lain yang ia dapat pengaruhi. Berbagai taktik ditempuh untuk menghadapi kekuasaan yang dilaksanakan aktor lain dalam rangka menyelamatkan diri dan kelangsungan kepentingannya.
Perpindahan sampah terjadi dari sumber sampah di tingkat rumah tangga, menuju tempat pembuangan sampah, melewati bak sampah kemudian ke TPS dan terakhir ke TPA. Pada semua tingkatan tersebut (tingkat rumah tangga, bak sampah, TPS dan TPA) terjadi praktek penanganan sampah dimana orang perorang/aktor sebagai pelaku terlibat dalam relasi-relasi kuasa atau wahana di mana kekuasaan dilaksanakan oleh aktor-aktor tersebut. Kepentingan-kepentingan orang perorang/aktor bisa dieksplorasi dari praktek-praktek yang dijalankannya, juga cara-cara yang diambil atau saluran-saluran yang dipilih oleh aktor untuk meluluskan atau memenangkan persaingan untuk mendapatkan tujuannya.
Pada tingkat bak sampah yang terletak di perumahan, banyak aktor yang terkait tali temali atau berelasi di wahana sosial bak sampah, mulai dari warga (rumah tangga pembuang sampah, bisa ayah, ibu, anak), pembantu rumah tangga, pemulung (Nek Rnh, Mpok Gth, Mak Rml), petugas kebersihan merangkap pemulung (Bang Umr, Bang Ars dan Bang Mli), petugas keamanan perumahan/satpam merangkap pemulung (Bang All), Warga perumahan (Bpk H Rhm), Pengurus RT (Ketua, Sekretaris, Bendahara). Bak sampah, tempat rumah tangga membuang sampahnya secara sementara, ternyata juga menjadi arena perebutan para aktor dalam mengais rejeki, berinteraksi dan penerapan sanksi/hukuman.
Diantara aktor yang ber-relasi terdapat juga konflik (iuran warga terkait pengangkutan sampah), persaingan (sesama pemulung, petugas kebersihan, satpam) sampai melahirkan strategi untuk menjalankan kuasa pemulungan di tingkat bak sampah (kasus Mpok Gth yang menambah jadwal/waktu pulungan). Pemulung pada tingkat bak sampah masih berharap ada sampah yang punya nilai ekonomis yang bisa diambil/di pulung untuk dapat diuangkan.
Pada saat petugas kebersihan perumahan (bang Umr) tidak mau mengangkut sampah, maka sebenarnya dia sudah menunjukan bagaimana ia menjalankan kekuasaannya. Begitu juga ketika warga yang lain protes karena petugas kebersihan tidak mengangkut sampah warga, hal inipun telah membuktikan bahwa warga sudah menunjukan bentuk penggunaan kuasanya, yaitu pada saat mengajukan protes terhadap petugas kebersihan tersebut. Otoritas RT dijalankan
dalam bentuk pelarangan kepada petugas kebersihan agar tidak mengangkut sampah warga yang tidak bayar iuran.
Pada tingkat TPS hubungan-hubungan kekuasaan yang terjadi terjalin mengalir, menyatu, dan sekali-kali berpisah dalam satu bingkai yaitu motivasi ekonomi, sehingga bekerjanya kekuasaan sangat tergantung pada situasi dan sekaligus kepentingan masing-masing para aktor secara terus menerus. Aktor yang terlibat pada tingkat TPS mempraktekan/ menjalankan kekuasaan berdasarkan basis kekuasaan masing-masing aktor yang diperlihatkan. Aktor tersebut yaitu ketua RW, ketua LPM, pihak Kelurahan, ketua RT, warga perumahan, RW hijau, bang Umr, bang Mli, bang Ars, pak Slm, bang Tll, satpam perumahan, pengendara motor yang buang sampah ke TPS perumahan, Sopir mobil picup yang buang sampah ke TPS perumahan, Sopir dan kernet truk DKP yang mengangkut sampah dari TPS perumahan.
Adanya keberatan warga terhadap TPS perumahan merupakan bukti bahwa pada umumnya masih ada kecenderungan bagi para aktor memanfaatkan peluang-peluang untuk membangun hubungan-hubungan yang bersifat non- formal. Hubungan-hubungan non-formal yang dimaksud salah satunya melalui negosiasi atau sembunyi-tau. Dalam relasi kuasa antar aktor terdapat unsur-unsur persaingan, kompetisi, kontestasi, resistensi (perlawanan) dan juga adanya konsensus, negosiasi serta kerjasama. Dalam konteks ini, kekuasaan bukan sesuatu yang dimiliki atau dipunyai oleh siapapun. Setiap orang, siapapun dia dapat memainkan kekuasaan dalam interaksi-interaksinya dengan pihak lain.
Pada relasi kuasa tingkat TPA, relasi antara pemulung dengan lampak adalah suatu relasi yang saling menguntungkan. Maka disini telah terjadi relasi kekuasaan yang memperlihatkan tumbuhnya kesadaran bersama yang melihat kekuasaan sebagai sebuah kompleks strategi yang ada pada semua pihak sehingga usaha mewujudkan kekuasaan harus ditempuh melalui proses membangun kolaborasi. Lampak membutuhkan pemulung sebagai pencari barang dan lampak sebagai pengepul barang yang nantinya akan dijual ke lampak besar atau langsung ke pabrik pengolahan. Relasi kuasa yang terjadi antara lampak dengan pemerintah yang terjalin adalah kolaborasi yang ditunjukkan dengan kesadaran bersama semua pihak untuk bersama-sama mengelola sampah.
Relasi kuasa antara pemerintah dengan FORMAC (Forum Masyarakat Cipayung) adalah perlawanan, dimana masing-masing pihak berkonsentrasi untuk mencapai kepentingan masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan hubungan perlawanan (resistance). Basis kekuasaan FORMAC berupa klaim territorial karena wilayah mereka dilewati oleh truk sampah DKP dan ini sangat mengganggu mereka. FKMP-TPAS (Forum Komunikasi Masyarakat Pemerhati – Tempat Pembuangan Akhir Sampah) yang mayoritas anggotanya adalah penduduk asli sekitar TPA/bukan pendatang, melakukan kerjasama dengan pemerintah, maka hubungan kekuasaan mengarah pada kolaborasi, dengan basis kekuasaan berupa klaim penduduk asli wilayah Cipayung.
Terjadi kontestasi kekuasaan antara FKMP-TPAS dengan FORMAC. Hal ini terbukti waktu FORMAC menyuarakan penolakannya terhadap TPA atas alasan kesehatan (lalat dan penyakit) dan alasan lingkungan (bau dan bising), maka FKMP-TPA mengkonter penolakan tersebut dengan mensosialisasikan kepada anggotanya wacana TPA telah memenuhi kepentingan lapangan kerja 400- an orang asli setempat serta isu lainnya seperti ketidakpedulian FORMAC yang beranggota pendatang baru itu atas lapangan kerja orang setempat.
Relasi-relasi kuasa pada level kebijakan pengelolaan sampah, telah menunjukkan bahwa TUPOKSI sebagai produk politik pemerintahan Depok (eksekutif dan legislatif) telah menyebabkan sampah ditangani oleh beberapa instansi. Tapi pertautan (relasi) antar instansi yang dihubungkan oleh sampah, membuka peluang instansi-instansi tersebut bersaing karena ketimpangan kekuatan dalam pemilikan/penguasaan sarana dan prasarana. Selain ketimpangan dalam soal sarana dan prasarana, relasi antar instansi tegang gara-gara perbatasan dan retribusi. Pada perbatasan wilayah mengangkut sampah sering terjadi ketegangan ketika terjadi wilayah arsiran/wilayah abu-abu, Dinas mana yang harus mengangkut sampah. Demikian juga dalam halnya retribusi, masing-masing instansi mengejar retribusi dari sampah. Pengumpulan retribusi-nya menjadi panglima, dan pengelolaan sampah-nya sendiri menjadi yang kedua. Kalau boleh disebut maka, inilah yang dinamakan ideologi retribusi dan lawannya ideologi kebersihan.
Basis kekuasaan para aktor dalam menjalankan kekuasaannya juga bervariasi. Pada saat menyetujui pembangun TPS perumahan, Ketua RW menjalankan/mempraktekan kekuasaannya dengan basis kekuasaan legal formal. Begitu juga ketika pihak RW Hijau menghimbau warganya untuk memilah sampah pada tingkat rumah tangga dan pengurus RT ketika melarang petugas sampah agar tidak mengangkat sampah warganya yang belum bayar iuran, maka dalam hal ini mereka menjalankan kekuasaan dengan basis legal formal. Para OPD (DKP, DKUP, DISHUB, DIBIMASDA, UPTD-TPAS) juga seperti itu, mereka menjalankan kekuasaan dengan basis legal formal/birokrasi. Warga yang protes karena petugas kebersihan tidak mengangkut sampahnya padahal warga sudah membayar iuran maka warga menjalankan kekuasaan dengan basis ekonomi, begitu juga para pemulung dan lampak pemulung menjalankan kekuasaan dengan basis ekonomi, karena profesi mereka semata-mata untuk mencari nafkah tidak yang lain, kecuali satu atau dua pemulung dengan orientasi religius (Nek Rnh). Basis kekuasaan FORMAC berupa klaim penguasaan wilayah/territorial karena wilayah mereka dilewati oleh truk sampah DKP. Pada FKMP-TPAS (Forum Komunikasi Masyarakat Pemerhati – Tempat Pembuangan Akhir Sampah) yang mayoritas anggotanya adalah penduduk asli sekitar TPA/bukan pendatang, melakukan kerjasama dengan pemerintah dengan basis kekuasaan berupa klaim penduduk asli wilayah Cipayung.
6.2. Saran
Karena banyak aktor yang terlibat dalam pengelolaan sampah dengan beragam kepentingan, maka mereka perlu diperhatikan dan dilibatkan dalam penanganan sampah ini. Jika para aktor ini tidak dilibatkan dan kepentingan mereka tidak diperhatikan maka pengelolaan sampah tidak akan berjalan dengan baik dan bisa jadi akan menjadi ancaman dalam penanganannya kedepan.
Untuk menghilangkan wilayah arsiran/wilayah abu-abu, maka penting kiranya agar pengelolaan sampah tingkat kota/pada level kebijakan cukup ditangani oleh satu OPD atau satu Dinas saja sehingga akan memudahkan dalam pengaturan dan pengoperasiannya. Begitu juga dengan retribusi, karena merasa sudah bayar retribusi, sebagian orang sekehendak hatinya membuang/
memproduksi sampah dalam jumlah yang cukup besar sehingga disarankan agar retribusi di “nol” kan saja sehingga fokus hanya pada pencapaian kebersihan kota. Dalam pengelolaan sampah juga penting untuk memperhatikan aktor penanganan sampah perorangan, Pemkot harus mengajak mereka untuk duduk bersama bagaimana mengatasi persoalan sampah dan pencemaran akibat perlakuan mereka terhadap sampah di lingkungan masing-masing, terutama sampah residu dan limbah B3. Sampah seperti ini perlu penanganan khusus tidak bisa pengelolaannya dilakukan oleh perorangan.
Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai fenomena empiris secara sosial, terutama penelitian terhadap keberadaan lampak pemulung dan aktor penanganan sampah perorangan lainnya, sehingga program pengelolaan sampah kedepan tidak terjebak ke dalam persoalan yang sama.