• Tidak ada hasil yang ditemukan

Feminisme Bioepik Daerah Konflik Harun Alrasyid

Mesuji, 15 Mei 2015

Jika kita mengetikkan satu kata kunci saja di mesin serba tahu google mengenai Mesuji, maka kita akan menemukan puluhan artikel, berita, dan jurnal mengenai konflik yang terjadi di daerah perbatasan ini. Kemudian jika discroll ke bagian bawah, maka google akan menampilkan secara otomatis beberapa kata kunci yang paling umum dalam ‘Searches related to Mesuji’ seperti, kasus Mesuji, Mesuji berdarah, kerusuhan Mesuji, hingga tragedi Mesuji. Ya, memang daerah ini memiliki catatan hitam nan kelam dalam proses perkembangannya sebagai kabupaten baru sehingga membuat siapa saja berpikir berulang kali untuk mengunjunginya, kendati pun sebuah tugas. Tercatat, pernah

kunjung tidak terselesaikan. Bahkan konflik ini memasuki babak baru dengan perhatian internasional terhadap kabupaten Mesuji atas isu pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) di daerah register 45.

Gambar 1

Rute Perjalanan Palembang – Mesuji Lampung Sumber: Google Maps

Karena berada pada daerah perbatasan provinsi, maka ada dua rute perjalanan yang dapat kita pilih untuk dilalui. Rute pertama, Bandar Lampung-Mesuji dan rute kedua, Palembang-Mesuji. Kedua rute ini memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Jika kita melalui rute Bandar Lampung–Mesuji, maka perjalanan relatif lebih

smooth dibandingkan dengan rute Palembang-Mesuji. Hanya saja waktu tempuh untuk rute pertama akan jauh lebih lama dibandingkan dengan rute kedua. Akhirnya saya dan rekan Tim Riset Etnografi Kesehatan memilih rute kedua untuk kami lalui dengan pertimbangan efisiensi waktu. Rute yang kami pilih memang berbeda dari rute yang kami tempuh saat melakukan persiapan daerah. Jika pada persiapan daerah kami memilih rute Lampung-Mesuji, sedangkan pada kali ini kami menempuh jalur lebih singkat yaitu Palembang-Kayuagung-Mesuji. Untuk mengefisiensi waktu, perjalanan kami mulai pada pukul 05.05 WIB setelah ba’da subuh. Kami melewati jalan Lintas Timur, dimana ini adalah jalan darat satu-satunya untuk menuju ke kabupaten Mesuji lampung dari Sumsel. Jalan Lintas Timur adalah jalur lintas provinsi yang menghubungkan antara Provinsi Sumatera Selatan dengan Provinsi Lampung. Kabupaten Mesuji berada di perbatasan kedua provinsi ini. Jarak antara Palembang-Mesuji Lampung sekitar 237 km dengan memakan waktu tempuh normal tanpa hambatan 4-5 jam.

Hingga memasuki daerah Teluk Gelam jalan yang dilalui agak sedikit tersedat dengan adanya jalan-jalan rusak di beberapa titik, bahkan jalan pemerintah sedikit pun tidak memanjakan perjalanan kami. Seakan menjadi penawar, sepanjang perjalanan kami menikmati proses alamiah yang terjadi. Sunrise yang seakan membentuk frame-frame yang membuat panorama begitu asri, sedap di pandang mata.

rumah dan sesak dengan bangunan seperti di Tugu Mulyo. Dulu, saat tahun 90-an saat saya masih kecil, daerah ini sama halnya seperti Mesuji saat ini bahkan lebih parah. Namun saat transmigrasi dimulai oleh Pak Presiden Soeharto, perkembangan dan perbedaan itu pun sangat terlihat. Mesuji saat ini bertahap untuk menuju ke arah tersebut, setidaknya itulah yang saya tahu sebelum tinggal dan mendalaminya lebih jauh.

Gambar 2

Matahari Terbit, di Jalan Lintas Timur Sumatera Sumber: Dokumen Peneliti

Pukul 09.15 WIB kami tiba di Simpang Pematang atau akrab disebut dengan Unit 2 atau A oleh masyarakat Mesuji, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Kecamaatan Brabasan yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Mesuji. Meskipun hujan tadi malam, namun karena pagi ini matahari cukup terik untuk mengeringkan jalan-jalan berlumpur di Mesuji membuat perjalanan kami menuju

Kecamatan Brabasan cukup mulus, setidaknya lebih baik dari Persiapan daerah bulan lalu. Sekitar pukul 10.30 WIB kami sampai di Kecamatan Brabasan dan langsung menuju Dinkes Kab. Mesuji untuk melapor. Kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Wiralaga sebagai desa lokus penelitian kami. Kami tiba di puskesmas dan disambut oleh Kepala Puskesmas Wiralaga dan untuk sementara kami memutuskan untuk tinggal di Puskesmas Wiralaga sebagai basecamp awal.

Gambar 3.

Jalan Menuju Desa Wiralaga, Mesuji Lampung Sumber: Dokumentasi Peneliti

Mesuji, sebagai Sub Etnik dan Wilayah Administrasi Jika kita menyebut Mesuji, maka akan ada dua referensi yang akan kita gunakan yaitu Mesuji sebagai

atau marga yang mendiami wilayah di Sumatera bagian Selatan. Sedangkan jika dilihat dari segi administratif, Mesuji merupakan sebuah kabupaten yang ditinggali oleh multi etnik bukan hanya marga Mesuji. Kabupaten Mesuji yang terbentuk pada tahun 2008 yang lalu, saat ini sedang giat-giatnya berbenah diri membangun wilayah. Hal ini terlihat dari telah dibangunnya komplek pemerintahan terpadu di wilayah kecamatan brabasan. Hubungan kekerabatan yang sangat erat dengan masyarakat Sumatera Selatan, merupakan asal usul munculnya orang Mesuji. Suku asli marga Mesuji merupakan keturunan orang sirah pulau padang, yang merupakan salah satu wilayah di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dan beberapa suku lainnya seperti suku Kayuagung, Sugi Waras, Palembang dan suku Lampung Tulang Bawang. Kelima suku inilah yang disebut sebagai Marga Mesuji sebagai orang Mesuji asli.

Kehidupan masyarakat Mesuji tidak dapat dipisahkan dari sungai dan perkebunan. Sebagai sumber utama kehidupan, sungai dan hume menjadi mata pencaharian. Menangkap ikan, ngehume (berladang), dan ngedolok kayu adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan untuk melanjutkan hidup. Tidak seperti dulu, kini masyarakat Mesuji sudah bisa menikmati listrik dan teknologi. Berangkat dari salah satu desa tua, kami mulai melakukan grounded masyarakat Mesuji di Desa Wiralaga. Desa Wiralaga merupakan satu dari 10 desa tertua di kecamatan Mesuji lampung.

Gambar 4

Sungai Kabong, Desa Wiralaga Sumber: Dokumentasi Peneliti

Perempuan Mesuji

Dalam adat istiadat Mesuji, perempuan memiliki kedudukan yang tinggi dan istimewa. Hukum adat sangat melindungi dan memberikan perhatian khusus terhadap segala sesuatunya mengenai perempuan sehingga wajar jika terdapat denda adat bagi siapa saja laki-laki yang berperilaku tidak pantas kepada perempuan di Mesuji. Dalam hukum adat istiadat Mesuji Lampung diberlakukan denda adat jika laki-laki memegang bagian tubuh perempuan dan perempuan merasa tidak senang. Denda adat ini mulai dari denda uang hingga pernikahan. Pertama kali mendengar hal