Jelajah Nusantara 2; Catatan Perjalanan 11 orang Peneliti Kesehatan

228 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

Jelajah Nusantara 2

Catatan Perjalanan Sebelas Orang Peneliti Kesehatan

Penulis Agung Dwi Laksono

Elia Nur Ayunin Ade Aryanti Fahriani

Ummu Nafisah Nor Efendi Astutik Supraptini

Sutamin Hamzah Izzah Dienillah Saragih

Harus Alrasyid Lafi Munira Siti Khodijah Parinduri

Editor

Prof. Lestari Handayani Tri Juni Angkasawati

(3)

Jelajah Nusantara 2. Catatan Perjalanan Sebelas Orang Peneliti Kesehatan

©2015. Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Penulis:

Agung Dwi Laksono, Elia Nur Ayunin, Ade Aryanti Fahriani, Ummu Nafisah, Nor Efendi, Astutik Supraptini, Sutamin Hamzah, Izzah Dienillah Saragih, Harus Alrasyid, Lafi Munira,

Siti Khodijah Parinduri Editor:

Prof. Lestari Handayani Tri juni Angkasawati Penata Letak – ADdesign Desain Sampul – ADdesign Cetakan Pertama – Agustus 2015 Buku ini diterbitkan oleh:

PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176

Telp. +6231-3528748, Fax. +6231-3528749

ISBN: 978-602-235-876-3

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta.

(4)

Pengantar

Buku ‘Jelajah Nusantara 2, Catatan Sebelas Orang

Peneliti Kesehatan’ ini merupakan edisi ke-dua sebagai

kelanjutan buku dengan tema catatan perjalanan yang sama pada edisi pertama. Pada edisi ke-dua ini yang membedakan adalah bahwa catatan perjalanan ini ditulis oleh sebelas orang peneliti.

Buku ini lebih merupakan catatan yang dirasakan penulis dalam setiap perjalanan dalam menjalani tugas sebagai seorang peneliti. Sebuah catatan yang sebetulnya bukan sebuah tugas pokok yang harus diemban.

Rasa keprihatinan, trenyuh, empati... semuanya bercampur baur dalam buku ini, seiring realitas masih lebarnya rentang variabilitas ketersediaan pelayanan kesehatan di setiap penjuru negeri. Meski juga kebanggaan membersit kuat saat kearifan lokal begitu kental mewarnai langkah dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada. Cerita tentang setiap sudut negeri di wilayah-wilayah terpencil, pulau-pulau terluar, ataupun wilayah yang jauh lebih dekat ke Negara tetangga daripada ke wilayah lain di Republik ini.

Kami berharap banyak, bahwa tulisan dalam buku ini mampu membawa setiap pembaca ikut merasakan perjalanan dan realitas kondisi wajah negeri ini. Tidak hanya nama-nama kota yang sudah biasa terdengar di telinga kita,

(5)

Pada akhirnya buku ini menyisakan harapan untuk bisa memberi kesadaran dan kecintaan pada Republik ini. Sungguh kami berharap banyak untuk itu!

Saran dan kritik membangun tetap ditunggu. Salam!

Surabaya, Agustus 2015

(6)

Daftar Isi

Pengantar iii

Daftar Isi v

1. Terlalu Dini Bokondini; Catatan Perjalanan 1

ke Kabupaten Tolikara

Agung Dwi Laksono

2. Pengobatan SUANGGI dalam Harmonisasi 17

Dokter Adat dan Layanan Medis di Kampung Tomer, Merauke

Elia Nur Ayunin

3. Kesikut Talaud 27

Agung Dwi Laksono

4. Menilik Sudut Utara Indonesia; Sebuah 33

Catatan Perjalanan Etnografi di Miangas

Ade Aryanti Fahriani

5. Tour de Nenas; Catatan Perjalanan ke Kab. 49

Timor Tengah Selatan

Agung Dwi Laksono

6. Surga Kecil Raijua; Catatan Perjalanan ke Pulau 69 Raijua

(7)

7. Sambujan, Desa dengan Penduduk Bermata 91

Pencaharian Ganda

Ummu Nafisah

8. Malaikat Tanpa Sayap di Sei Antu 103

Nor Efendi

9. Apakah Ini Bukan Masalah Kesehatan 119

Masyarakat??! Catatan Perjalanan ke Kota Banjarmasin

Agung Dwi Laksono

10. Tradisi Betimung, Sekilas Potret Perkawinan 129

Anak di Suku Banjar Bakumpai Muara Sungai Barito

Astutik Supraptini

11. Mengenal Banjar Lebih dekat, Catatan 143

Perjalanan Di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

Sutamin Hamzah

12. Cerita dari Pulau Sapudi 165

Izzah Dienillah Saragih

13. Romantisme Kebun Sayur; Catatan Perjalanan 179 ke Suku Tengger di Desa Ngadiwana

Agung Dwi Laksono

14. Menapak Mesuji; Feminisme Bioepik 185

Daerah konflik

(8)

15. Bidan Desa Tumpuan Harapan; Catatan 195

Perjalanan ke Kabupaten Aceh Timur

Lafi Munira

16. Aceh yang Mempesona Tak Habis oleh 203

Tsunami; Catatan Perjalanan ke Kabupaten Aceh Utara

(9)

“Ini tugas berat, tentu saja!

karena itulah kita ada”

(10)

-ADL-Terlalu Dini Bokondini;

Catatan Perjalanan ke Kabupaten Tolikara

Agung Dwi Laksono

Distrik Bokondini, Tolikara, 14 Mei 2015

Perjalanan kali ini masih dalam rangkaian supervisi kegiatan Riset Ethnografi Kesehatan Tahun 2015. Kali ini saya harus kembali menempuh perjalanan ke wilayah Pegunungan Tengah Papua, tepatnya di Distrik Bokondini Kabupaten Tolikara.

Kabupaten Tolikarapada tahun 2014 memiliki luas wilayah daratan yang mencapai 14.263 km2. Kabupaten yang beribukota di Karubaga ini terbagi menjadi 46 kecamatan atau distrik, 541 desa dan empat kelurahan. Kabupaten yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 292.009 jiwa (data tahun 2013) ini berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Raya di sebelah Utara, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten

(11)

Gambar 1.

Posisi Kabupaten Tolikara dalam Peta Papua Sumber: Pemerintah Provinsi Papua

Kabupaten Tolikara merupakan kabupaten peringkat 497 dari 497 kabupaten/kota dalam pemeringkatan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang didasarkan pada hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan pada tahun yang sama. Survei Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. IPKM terdiri dari 30 indikator pembangun dan di hampir semua indikator Tolikara mempunyai angka yang kurang bagus, kalau saya tidak boleh mengatakan jelek.

Kami me’nanam’ dua peneliti riset etnografi kesehatan untuk grounded di sana, seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat, dan seorang lagi antropolog.

(12)

Setidaknya sampai 40 hari mereka menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat di Distrik Bokondini.

Perjalanan menuju Distrik Bokondinidari Wamena ditempuh dengan menggunakan mobil double gardan, karena mobil carteran biasa macam avanza atau xenia tak akan mampu menembus sampai ke sana. Semacam off road yang sebentar saja, tiga jam, tidak selama perjalanan off road tahun lalu saat saya harus grounded di Boven Digoel selama dua bulan.

Selain jalur darat, Distrik Bokondini juga bisa ditembus melalui jalur udara. Sudah ada bandara dengan landasan yang cukup bagus, hot mix! Hanya saja tidak tersedia pesawat reguler yang mendarat di bandara yang berkode penerbangan BOE ini. Pesawat yang sering mendarat di bandara ini adalah jenis pesawat carter dari maskapai MAF (Mission Aviation Fellowship) dan Susi Air. Harga sekali carter pesawat rata-rata mencapai Rp. 25 juta.

(13)

Tentang Bokondini

Distrik Bokondini dihuni masyarakat asli yang didominasi oleh suku Lany. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang bersuku lain, yang pada umumnya adalah para pendatang. Distrik Bokondini sebelumnya bernama Bogondini sejak sebelum zaman kolonial. Sebuah nama yang merujuk pada sungai deras yang melintasi wilayah Pegunungan Tengah berhawa dingin ini, Sungai Bogo.

` Memasuki wilayah Distrik Bokondini saat pagi seperti mendatangi suatu lokasi yang penuh dengan aura magis. Bagaimana tidak? Halimun tebal tak pernah absen menyelimuti wilayah ini di saat pagi hari. Bahkan matahari pun seperti tak bernyali. Setidaknya sampai menjelang siang, sekitar jam 10 pagi.

Gambar 3. Sungai Bogo

(14)

Gambar 4.

Suatu Pagi di Kota Bokondini. Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 5.

Berjalan-jalan di Tengah Kota Bokondini Sumber: Dokumentasi Peneliti

(15)

wilayahnya. Sebuah harapan yang sangat tinggi digantungkan untuk masa depan dengan menyebutnya sebagai “kota”.

Gambar 6. Sudut Lain Kota Bokondini Sumber: Dokumentasi Peneliti

Suku Lany di Bokondini saat ini sudah mulai meninggalkan honai sebagai model rumah tinggal. Mereka memodifikasi bentuk honai dengan bahan-bahan yang lebih modern produksi pabrik. Mereka menyebut honai modifikasi ini sebagai “honai semi modern”. Beberapa honai yang masih tersisa rata-rata sudah berumur cukup tua. Sementara generasi yang lahir belakangan lebih memilih rumah papan sebagai pilihan model rumah tinggal yang baru.

(16)

Gambar 7.

Honai (Kiri); Honai Semi Modern (Kanan Atas); dan Rumah Papan (Kanan Bawah)

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kondisi Perekonomian

Hampir seluruh masyarakat asli bermata pencaharian menjadi petani kebun. Nanas Bokondini merupakan salah satu buah ikonik wilayah ini yang terkenal sangat manis. Buah manis lainnya, Markisa, juga tersedia melimpah. Markisa dijual seharga Rp. 5.000,- per ikat, yang berisi sekitar 5 biji. Sementara nanas yang berukuran besar dijual seharga Rp. 10.000,- per bijinya. Komoditas hasil kebun lain hampir sama dengan hasil di wilayah Pegunungan Tengah lainnya, yang terdiri dari singkong atau kasbi, ketela atau ipere atau

(17)

Gambar 8. Menawar Markisa Sumber: Dokumentasi Peneliti

Masyarakat Bokondini membuka lahan baru yang akan dijadikan kebun dengan cara yang masih sangat tradisional, dibakar. Mereka membakar perdu dan rumput liar di beberapa lokasi yang cenderung tidak terlalu rapat dengan tanaman keras, hanya. Meski lokasi telah dipilih, tetap juga terkadang masih terselip ketakutan, api akan merambat menjilat pepohonan yang lebih luas dari yang direncanakan.

(18)

Gambar 9.

Pembukaan Lahan Baru dengan Membakar Sumber: Dokumentasi Peneliti

Di pasar Kota Bokondini, pedagang hasil kebun dan sayur mayur seratus persen dikuasai oleh warga asli. Masyarakat pendatang dilarang berjualan komoditas tersebut. Para pendatang, yang umumnya dari Toraja dan Bugis, boleh berjualan komoditas lainnya di kios-kios di sekeliling pasar, kebanyakan adalah komoditas hasil pabrikan. Pasar Bokondini dibuka tiga kali dalam seminggu, yaitu Selasa, Kamis dan Sabtu. Pasar biasa ramai pada pagi hari sampai dengan sekitar pukul 10.00 WIT.

Sebagai gambaran kondisi perekonomian di wilayah ini, harga bensin, solar dan minyak tanah cenderung sama di wilayah ini, sebesar Rp. 25.000,- per liter. Harga air mineral

(19)

salah satu kabupaten di wilayah Pegunungan Tengah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini), harga air mineral 600 ml merek Aqua sudah mencapai harga Rp. 15.000,- per botol. Sementara kemasan botol yang 1,5 liter dijual seharga Rp. 45.000,-, jauh lebih mahal daripada harga solar per liter yang hanya seharga Rp. 35.000,-.

Gambar 10. Pasar Bokondini Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berita Pemekaran

Para tokoh masyarakat Bokondini saat ini sedang mempersiapkan pemekaran wilayah. Bokondini akan melepaskan diri dari Kabupaten Tolikara, berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten terpisah, Kabupaten Bogoga, dengan ibukota Kota Bokondini.

(20)

Gambar 11.

Kantor Bupati Persiapan Kabupaten Bogoga Sumber: Dokumentasi Peneliti

Euforia pemekaran ini sangat terasa di Bokondini. Para pemuda berlomba-lomba ikut kursus komputer, “…nanti saya bisa jadi anggota DPR to!” celetuk salah seorang di antaranya. Sementara beberapa yang dewasa lainnya menjamu mewah saat tim yang mengupayakan pemekaran datang berkunjung ke Bokondini. Menyembelih babi seperti menjadi sebuah keharusan saat menjamu tim ini, “Saya dijanjikan menjadi kepala desa pak…”

Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan

Ada satu Puskesmas yang berdiri di Distrik Bokondini, Puskesmas Bokondini. Puskesmas yang dikepalai oleh seorang putri daerah ini merupakan Puskesmas perawatan

(21)

merupakan salah satu Puskesmas percontohan di Kabupaten Tolikara. Lebih lanjut dokter PTT asal Padang Minangkabau yang masa baktinya habis pada tahun 2015 ini menjelaskan bahwa pada saat ini kondisi pelayanan kesehatan di Distrik Bokondini sudah jauh lebih bagus daripada sebelumnya. “Sejak dipimpin oleh Ona Pagawak, SKM ada perubahan pak. Mama Ona lebih transparan, membuat suasana kerja di Puskesmas lebih kondusif, semua dibicarakan secara terbuka…” jelas dokter Poby.

Gambar 12. Puskesmas Bokondini Sumber: Dokumentasi Peneliti

Puskesmas yang baru pindah ke gedung baru pada tahun 2014 ini menurut pengakuan para petugas setidaknya melayani empat distrik. “Iya pak, kami melayani empat distrik. Bokondini, Bewani, Kanero dan Kamboneri. Meski kadang masyarakat di Kamboneri lebih memilih berobat di Puskesmas Mamberamo Tengah…,” kilah Habibi Mahmud (23

(22)

tahun), perawat kontrak asal Palopo yang bertugas di Puskesmas Bokondini.

Empat distrik! Suatu hal yang mustahil! Distrik adalah sebutan lain dari “kecamatan” di pemerintahan daerah di Jawa, tentu saja dengan paparan wilayah yang lebih luas dan lebih ektrem di Papua. Masyarakat seringkali sulit untuk mencapai Puskesmas dalam satu distrik sebagai akibat topografi wilayah Bokondini yang bergunung-gunung. Empat distrik???

Ada dua Puskemas Pembantu (Pustu) yang menjadi kepanjangan Puskesmas Bokondini. “Ooo… Pustu ya pak? Ada dua Pustu, tapi… petugasnya gak pernah ada pak…,” terang Habibi. Puskesmas Bokondini menurut catatan kepegawaian memiliki 26 petugas, tetapi pada hari Rabu, tanggal 13 Mei 2015 saya mendapati hanya 9 orang petugas saja yang ada di Puskesmas. Semoga mereka sedang dinas luar atau kunjungan lapangan. Semoga.

Puskesmas Bokondini menyelenggarakan satu Posyandu saja untuk pelayanan balita di seluruh wilayah kerjanya pada setiap bulan. Posyandu yang diselenggarakan di Puskesmas Bokondini ini dilaksanakan pada minggu ke-dua yang dibuka menyesuaikan dengan hari pasaran. Posyandu terakhir minggu lalu setidaknya ada 30 balita yang datang dan berkunjung.

Pelayanan Posyandu mencakup timbang badan dan pemberian vaksin. Tidak ada Pemberian Makanan Tambahan

(23)

karena pencatatan pada KMS yang kurang baik. Tidak ada pengukuran tinggi badan, dan seringkali kolom tanggal lahir dibiarkan kosong tak berisi.

Pelaksanaan Posyandu dimotori oleh kader kesehatan untuk menggerakkan masyarakat yang mempunyai balita. Seluruh kegiatan pelaksanaan Posyandu dilayani oleh petugas kesehatan. Para kader kesehatan ini setiap bulan mendapatkan honor, Rp. 500.000,- setiap bulan. Angka ini cukup fantastis dibandingkan dengan rekan-rekannya di Jawa yang setahu saya berada pada kisaran Rp. 15.000,- sampai dengan Rp. 50.000,- setiap bulan.

Menurut dokter Poby, untuk memperluas jangkauan pelayanan Puskesmas juga melatih para kader untuk dapat memberikan terapi pengobatan. Perawat Puskesmas, Habibi, menambahkan bahwa hanya dipilih beberapa kader yang dinilai cakap dan pintar untuk dapat memberikan layanan pengobatan tersebut. Ahh… kita tidak sedang membahas UU Praktek Kedokteran dalam diskusi kali ini.

Kondisi yang sangat memprihatinkan pada saat ini adalah kenyataan bahwa pada tahun 2015 ini, sejak Januari sampai dengan saat ini ada 46 orang penderita baru HIV/AIDS yang diketemukan lewat skrining di Puskesmas Bokondini. Jenis penyakit menular seksual lainnya juga diketemukan berbanding lurus dengan penderita HIV/AIDS tersebut.

Rupanya praktek seks bebas di masyarakat turut mempercepat persebaran penyakit yang lekat dengan stigma ini. “Itu pak… masyarakat di sini itu suka itu… apa… ‘tukar gelang’…”. Tukar gelang adalah tradisi orang Lany saat ada

(24)

perayaan pesta, yang artinya apabila tukar gelang sudah dilakukan, maka mereka bebas untuk melakukan “hubungan”. Hal ini masih belum ditambah dengan tradisi lain yang di’import’ dari Wamena, “goyang oles”, bergoyang dansa saat pesta-pesta, berpasangan sambil merapatkan badan, oles-oles, yang berlanjut pada tingkatan yang lebih intim.

Banyak hal yang masih harus dibenahi sebelum pemekaran benar-benar dilanjutkan. Banyak PR yang seharusnya diselesaikan. Terlalu dini Bokondini. Terlalu dini…

(25)
(26)

Pengobatan SUANGGI

dalam Harmonisasi Dokter Adat dan Layanan

Medis di Kampung Tomer, Merauke

Elia Nur Ayunin

Merauke, 25 Mei 2015

Letak Kabupaten Merauke secara greorgrafis berada antara pada 1370 - 1410 BT dan 50 00’9 00’ LS. Kabupaten Merauke merupakan kabupaten terluas diantara provinsi Papua yang juga berada di bagian paling selatan Provinsi Papua. Keadaan Topografi Kabupaten Merauke umumnya datar dan berawa disepanjang pantai dengan kemiringan 0-3% dan kearah utara yakni mulai dari Distrik Tanah Miring, Jagebob, Elikobel, Muting dan Ulilin keadaan Topografinya bergelombang dengan kemiringan 0 – 8%. Batas wilayah Kabupaten Merauke ini terdiri dari,

 Sebelah Utara dengan Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi

(27)

 Barat berbatasan dengan Laut Arafura

Gambar 1. Peta Kabupaten Merauke Sumber: Pemerintah Kabupaten Merauke

Kabupaten Merauke terkenal sebagai wilayah ujung tertimur Indonesia, disanalah terletak titik nol NKRI, tepatnya terletak di Distrik Soeta, yang ditandai dengan adanya tugu merauke sebagai lambang batas ujung timur Indonesia. Penelitian kami (yaa, karena saya tak sendiri, saya bermitra dengan Alfarabi selaku Sosiolog) untuk mengemban misi khusus, yakni untuk membahas alkulturasi budaya kesehatan di ‘kota rusa’. Dengan demikian pemilihan lokasi penelitian tentu dengan memperhatikan keberadaan interaksi antara suku asli dan suku pendatang. Hasil diskusi dengan pengampu kesehatan di Kabupaten merauke terpilihlah Kampung Tomer, Distrik Naukenjerai sebagai lokasi penelian kami. Lokasi Distrik Naukenjerai relatif dekat dengan pusat kota Merauke. Kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam untuk dapat sampai ke pusat kota, itu pun hanya pada musim

Kampung Tomer, Distrik Naukenjerai

(28)

kemarau, dengan menggunakan kendaraan roda empat

ber-double-gardan. Sebenarnya bukan jarak yang jauh yang

menjadikan perjalanan terasa lama, namun jalanan yang berlubang-lubang lah yang menghambat kelancaran perjalanan. Tentu bukan tanpa alasan, jalanan tersebut dibiarkan rusak oleh pemerintah, penambangan pasir ilegal di sepanjang pantai, yang menjadikan pemerintah bersikap enggan melakukan perbaikan jalan.

Gambar 2

Kondisi jalanan menuju ke Kampung Tomer, foto diambil ketika tanah kering

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kedekatannya dengan pusat kota menjadikan kebanyakan kampung di Distrik Naukenjerai tidak hanya ditinggali oleh masyarakat suku asli, namun juga para pendatang dari suku Jawa, Maluku, dan Makassar

(29)

suku asli, mayoritas penduduknya adalah orang pribumi. Hal tersebut dikarenakan, akses jalan menuju 2 kampung tersebut lebih sulit dibandingkan 3 kampung sebelumnya, bahkan kesulitan bertambah ketika musih penghujan.

Gambar 3

Truk pengangkut pasir yang sedang menunggu giliran muatan pasir Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pada musim penghujan, sangat dibutuhkan alat transpormasi zonder (alat pembajak sawah) untuk membelah jalanan yang berubah menjadi rawa. Zonder biasa diperoleh dari peminjaman kepada UPT pertanian setempat. Transportasi yang dapat digunakan untuk sampai ke kampung Tomerau dan Kondo selain menggunakan zonder, dapat juga menggunakan spit dari Kampung Tomer. Untuk menggunakan speed boat, dalam bahasa lokal masyarakat menyebutnya dengan Jonshon. Untuk menggunakan moda transportasi tersebut masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam. Pengoperasian Jonshon ini hanya dilakukan setelah

(30)

matahari tenggelam, dimana saat air laut sudah terjadi pasang dan menyentuh bibir pantai.

Kampung Tomer sendiri terletak di tengah luasnya Distrik Naukenjerai, yang cukup banyak ditempati oleh para pendatang, komposisi antara penduduk asli dan penduduk pendatangnya adalah 50:50. Sebagian besar penduduk pendatang beralasan pindah dan menempati kampung Tomer ini dikarenakan untuk menyambung kehidupan. Seperti pendatang suku jawa yang berasal dari daerah transmigrasi, mereka yang merasa tanah di tempat tinggal dahulu tandus dan tidak bisa digunakan bersawah, hingga akhirnya menemukan Kampung Tomer yang mana memiliki tanah yang cukup subur, walaupun hanya dapat memanen satu kali satu tahun. Suku Jawa ini mulai menempati Kampung Tomer sekitar tahun 1986. Sehingga tak heran Merauke disebut-sebut sebagai miniatur Indonesia di tanah Papua. Hal ini tidak terlepas dari dampak program transmigrasi pada sekitar tahun 1960-an .

Keunikan lain dari Kampung Tomer adalah terdapatnya kelompok keluarga yang merupakan masyarakat eks pelintas batas PNG yang dipulangkan oleh Pemerintah tahun 2005, yang mulai diterima masuk kampung pada tahun 2006. Kampung Tomer dipilih menjadi lokasi pemulangan karena kakek atau dalam bahasa lokal disebut tete dari kelompok tersebut berasal dari suku Kanume yang menempati tanah kampung Tomer. Mereka dipulangkan dari PNG melalui

(31)

ditempatkan pada satu rukun tangga (RT) tersendiri yaitu RT 03.

Kurang lebih 48 tahun lamanya mereka meninggalkan tanah kelahirannya, namun adat dan budaya moyang tetap masih banyak yang melekat dan dijalankan hingga saat ini. Kelompok masyarakat RT 03 memiliki beberapa keunikan tersendiri, berbeda dengan kelompok masyarakat Kampung Tomer umumnya. Salah satunya kelompok masyarakat RT 03 masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap praktek

suanggi, dimana sebagian besar masyarakat lainnya sudah

meyakini bahwa praktek dan penggunaan suanggi sudah berkurang di tengah masyarakat khususnya di wilayah kampung Tomer, walaupun tetap mengakui akan keberadaan

suanggi tersebut.

Suanggi adalah salah satu praktek ilmu kebatinan yang

dikenal di tanah Merauke. Praktek ini sesungguhnya sudah banyak ditinggalkan oleh kebanyaan suku di Merauke, namun tak sedikit juga suku yang masih mengakui ke-eksis-an dari praktek tersebut, seperti halnya pada kelompok masyarakat RT 03. Suanggi di masyarakat dipercayai sebagai sebuah ilmu hitam atau black magic. Suanggi merupakan suatu ilmu dan kemampuan diluar batas nalar manusia. Masyarakat yang masih mempercayai sunggai, percaya bahwa suanggi dapat menjadi sumber kesakitan dan kematian. Kepercayaan di masyarakat bahwa kesakitan yang dihasilkan dari suanggi ini tidak ditunjukkan secara kasat mata, namun akan memberikan rasa kesakitan yang luar biasa atau dapat berupa kesakitan yang muncul secara tiba-tiba bahkan hingga dapat menyebabkan kematian. Dengan

(32)

demikian masyarakat tersebut ketika berhadapan dengan kesakitan atau kematian, sering kali langsung berspekulasi bahwa hal tersebut diakibatkan oleh serangan suanggi. Hal tersebut dapat memicu konflik atau mengakibatkan saling tuduh menuduh. Terlebih lagi praktek suanggi ini erat kaitannya dengan konflik atau bahkan dendam antar orang, keluarga atau masyarakat kampung. Dengan begitu tidak dapat dipungkiri kemungkinan konflik dan gesekan yang lebih besar.

Suanggi ini dipercaya dapat dilancarkan oleh

orang-orang tertentu berdasarkan permintaan. Sedangkan untuk upaya penyembuhannya dipercayakan kepada dokter adat. Dokter adat adalah orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan dan kekuatan khusus. Orang-orang tersebut haruslah telah ditetapkan melalui forum adat. Mereka adalah orang-orang yang bersih dari perbuatan kejahatan serta tidak menyalahgunakan ilmunya untuk membuat sakit atau mengambil nyawa orang lain. Dokter adat dipercaya tidak hanya dapat mengobati serangan suanggi, namun juga dapat mengobati gangguan dema (bahasa etnik marind) atau deme (bahasa etnik kanume). Selain suanggi, sumber kesakitan lainnya yang dipercaya oleh masyarakat menyebabkan kesakitan ialah gangguan dari deme.

Deme menurut kepercayaan masyarakat merupakan

tuan tanah, yang memiliki kuasa atas suatu tempat atau barang, juga sebagai penjaga. Gangguan deme ini biasa

(33)

tersebut terjadi karena sang deme menginginkan bayi yang dikandung ketika lahir menggunakan nama deme tersebut.

Sang dokter adat tersebut akan dengan sigap mengetahui penyebab dari kesakitan yang dialami pasiennya, apakah disebabkan suanggi atau gangguan deme, kemudian akan menghilangkan pengaruh suanggi atau gangguan deme yang diterima pasiennya. Dokter adat dipercaya juga memiliki kemampuan untuk melihat seberapa parah kesakitan dan kondisi tubuh pasiennya. Setelah dokter adat dapat menghilangkan pengaruh suanggi atau gangguan

deme, dokter adat akan memeriksa kembali kondisi tubuh

pasien tersebut. Apabila pasien tersebut memerlukan pengobatan lebih lanjut, yang dikarenakan terjadi kerusakan di organ tubuhnya, dokter adat akan menyuruh pasiennya untuk melakukan pengobatan ke layanan medis.

Sebagai contoh kasus, terdapat seseorang yang sakit dikarena serangan suanggi. Secara kasat mata tubuh orang tersebut utuh, hanya perasaan sakit tiada tara yang dirasa disekujur tubuh. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter adat diketahui bahwa tubuh orang tersebut sudah tidak utuh lagi, tulang-tulang tubuhnya patah dan remuk, kondisi tersebut diyakini oleh dukun adat sebagai akibat dari serangan suanggi. Setelah mendapatkan perlakuan dari dokter kampung, yaitu penyambungan kembali tulang-tulang yang patah dan remuk akibat serangan suanggi, pasien kemudian diminta juga melakukan pengobatan ke layanan medis untuk mendapatkan pemulihan pada tulang dan penyembuhan lainnya yang diperlukan pada kerusakan organ yang mendapat dampak dari serangan suanggi.

(34)

Dengan demikian fungsi dari dokter adat adalah sebagai penghilang serangan suanggi atau gangguan deme saja, dan diperlukan juga pengobatan pada layanan medis untuk mengobati organ yang rusak dan atau pemulihan. Praktek pengobatan suanggi dan gangguan deme saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman dahulu. Saat ini pengobatan tidak terbatas hanya dilakukan secara adat, tetapi juga melibatkan dan dilakukan secara medis. Hal tersebut menunjukkan adanya penerimaan adat terhadap pelayanan pengobatan medis serta kepercayaan masyarakat terhadap layanan medis sudah sejajar dan dapat beriringan dengan kepercayaan, adat dan tradisi yang ada di masyarakat. Hal ini dapat disebabkan dari perkembangan pengetahuan dan informasi kesehatan di masyarakat, yang menjadikan penerimaan terhadap layana kesehatan medik juga meningkat.

Hal ini merupakan kondisi yang positif bagi perkembangan layanan kesehatan di tanah Papua, dimana masyarakat mulai melibatkan layanan kesehatan untuk mengobati kesakitan yang mereka alami, tidak lagi hanya mengandalkan pengobatan adat. Perkembangan ini tentu dapat berdampak pada penurunan angka kesakitan dan angka kematian yang diakibatkan karena tidak mendapatkan pelayanan medis, walaupun layanan medis belum menjadi prioritas dalam pencarian pengobatan. Memang sudah seharusnya layanan pengobatan medis dan upaya kesehatan

(35)

dan pemerintah, yang kemudian di Papua dikenal dengan istilah “Tiga Tungku”. Istilah itu merepresentasi tungku pemerintahan, tungku agama (gereja), dan tungku adat.

(36)

Kesikut Talaud

Agung Dwi Laksono

Melonguane, Selasa, 22 April 2014

Siang itu kami mendarat di Bandara Melonguane dengan hentakan roda pesawat keluaran Prancis, ATR72, yang cukup keras menghantam bumi. Pesawat berpenumpang 72 seat itu terbang tiga kali seminggu melayani rute Bandara Sam Ratulangi Manado ke Bandara Melonguane Talaud pulang pergi.

Kami datang disambut dengan rinai hujan yang ringan, seakan sebuah keramahan menyambut kedatangan tamu agung! Hahaha… Eh… tapi benar-benar tamu agung lho! Bersama kami ada rombongan dari Polda Sulawesi Utara. Juga ada Konsulat Jenderal (Konjen) dari Negara seberang Philipina.

Kami… maksud saya Konjen Philipina! disambut dengan tiga tetua adat, yang disertai dengan suara pukulan

(37)

dengan menggunakan pedang dan tameng. Benar-benar menyambut tamu agung!

Kedatangan tamu agung ini pulalah yang membuat kami harus berkeliling Kota Talaud, untuk mencari penginapan yang sudah penuh dibooking para tamu agung tersebut.

Kota Talaud??! Jangan dibayangkan sebagai kota yang indah gemerlap! Diperlukan tidak sampai setengah jam saja kami diantar Regina, dokter wanita asli putri daerah Talaud, untuk mengunjungi dari sudut ke sudut ibu kota kabupaten paling Utara Republik ini.

Gambar 1.

Peta Posisi Talaud di Indonesia Sumber: Diolah Peneliti dari Peta Wiki

Perhatian dan Rasa Iri

Sungguh iri melihat fakta empiris di depan mata. Pemerintah Philipina yang diwakili oleh Konjennya begitu perhatian terhadap warga negaranya. Mereka mau

(38)

menyempatkan diri datang berkunjung ke wilayah Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) republik ini untuk melihat kondisi warga negaranya yang menyeberang dan tinggal di wilayah ini.

Jarak yang teramat dekat antara wilayah Kabupaten Talaud dengan Philipina yang hanya sekitar beberapa jam saja dengan kapal laut membuat terjadi banyak pertukaran penduduk di wilayah ini. Hanya dibutuhkan KTP saja bagi penduduk beberapa wilayah di perbatasan laut ini untuk dapat menyeberang dan berkunjung di Negara tetangga ini. Tanpa paspor.

Apakah saya pantas iri dengan Warga Negara Philipina itu? Entahlah… tapi nyatanya saat saya menekan

keyboard di lappy saya untuk tulisan ini saya benar-benar

merasakan iri yang teramat sangat atas perhatian pemerintah Philipina.

Seandainya…

Jaminan Kesehatan Nasional dan Keadilan Pelayanan

Sejatinya kedatangan kami ke wilayah ini untuk melihat upaya implementasi Jaminan Kesehatan Nasional dari sisi regulasi. Seperti wilayah-wilayah DTPK lain yang pernah saya saksikan di negeri ini, banyak hal yang seharusnya benar-benar kita perbaiki sebelum kita

(39)

pemerataan pelayanan kesehatan terlebih dahulu. Atau bahkan untuk beberapa wilayah terluar dan wilayah Timur Indonesia disertai dengan upaya ketersediaan pelayanan kesehatan terlebih dahulu. Jangan berteriak-teriak tentang pemerataan pelayanan bila tersedia pelayanan saja tidak! Sebagai sebuah kabupaten, Talaud termasuk salah satu daerah miskin yang mempunyai Pendapatan Asli Daerah kurang. Meski demikian, kemauannya untuk memenuhi hak rakyatnya dalam pelayanan kesehatan sangat kuat. Pemerintah setempat mengalokasikan 2,5 juta bagi bidan yang mau dan bersedia ditempatkan di wilayah tersebut. Pemda menyediakan insentif tambahan 2 juta selain gaji 7,5 juta untuk tenaga dokter, bahkan untuk wilayah Miangas disediakan take home pay rutin sebesar 11 juta per bulannya. Apa mau di kata? Gaji dan insentif yang cukup besar tak bisa membuat para tenaga kesehatan betah dan tinggal di wilayah terluar paling Utara ini. Meyke Maatuil, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Talaud, menyatakan bahwa banyak tenaga kesehatan yang ‘hilang’ di wilayah ini. Semacam jaelangkung, mereka datang dan pergi tak berjejak, sementara gaji dan insentif jalan terus (transfer melalui rekening bank). Mekanisme kontrol sangat lemah, hanya mengandalkan niat baik dan nurani dari tenaga kesehatan yang telah berani tanda tangan kontrak dan terima uang insentifnya.

Keterbatasan dan minimnya fasilitas memang menjadi kendala utama untuk penempatan tenaga kesehatan di wilayah ini. Menuju Miangas misalnya, hanya tersedia kapal perintis yang datang 2 kali sebulan menyambangi

(40)

wilayah terluar tersebut. Kita bisa sewa kapal tongkang dari kayu untuk mencapai Miangas, tapi harus merogoh kocek cukup dalam. Sangat dalam! 50 juta sekali pergi.

Ada Telkomsel provider komunikasi yang bersedia merambah wilayah ini, meski seringkali sinyalnya pergi tanpa pamit. Tapi setidaknya cukup untuk menebus rasa kangen.

Cerita tentang Verifikasi Data

Ada cerita yang… entah lucu… entah membikin trenyuh… Adalah Bapak BPT Timpua, Kepala Bidang Promosi Kesehatan, yang membawahi masalah Jaminan Kesehatan Nasional di Dinas Kesehatan, yang menceriterakan soalan verifikasi data kepesertaan.

Dahulu… pada saat pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), yang menanggung jaminan pelayanan kesehatan pada masyarakat miskin, Pemerintah Daerah setempat juga menanggung masyarakat miskin yang tidak tercover Jamkesmas. Saat itu istilahnya adalah masyarakat miskin non kuota.

Masyarakat miskin non kuota inilah yang diwadahi dalam Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Jamkesda menanggung masyarakat miskin yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai 23 ribu penduduk (total jumlah penduduk sekitar 105 ribu menurut Dinas Kependudukan, atau 97 ribu menurut BPS. Jumlah penduduk pastinya hanya Tuhan yang tahu).

(41)

untuk memutakhirkan data masyarakat miskin tersebut. Hingga akhirnya didapatkan angka 8 ribu penduduk yang terverifikasi. Nah lhoo! Artinya selama ini ada 15 ribu penduduk ‘siluman’ yang dibiayai oleh Pemerintah Daerah.

Entahlah… banyak mahluk jejadian di negeri ini. Bukan hanya sekedar jelangkung atau siluman. Mungkin juga termasuk para dedhemit yang membaca tulisan ini. Hihihi…

(42)

Menilik Sudut Utara Indonesia

Sebuah Catatan Perjalanan Etnografi di Miangas

Ade Aryanti Fahriani

Miangas, 4 Juni 2015

Bercerita tentang Miangas, maka kita akan teringat akan sebuah jingle mie instan, “.. dari sabang sampai

merauke, dari miangas hingga pulau rote.. Indonesia Tanah air ku... Ind**ie selera ku...”. Ya, Miangas memang

merupakan sebuah pulau perbatasan Indonesia yang paling utara, berbatasan dengan negara Philipina yang berada di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Luas pulau ini kurang lebih luas sekitar 3,15 km² dengan keliling pulau kurang lebih 7 km. Sebenarnya pulau ini kalau dilihat dari

google maps hanyalah sebuah titik di tengah Samudra

Pasifik. Sebuah pulau yang menyendiri dan tak ada pulau terdekat yang mengelilinginya. Meskipun luasnya hanya 1 pixel di Google maps, tapi pulau ini sangat penting bagi

(43)

Nanusa kurang lebih 148 mil, sedangkan jaraknya dengan Philipina hanya sekitar 48 mil. Maka tak heran pulau ini menjadi sebuah wilayah yang sensitif dengan isu kesetiaan nasionalisme-nya.

Gambar 1. Peta Miangas Sumber: Google

Perjalanan untuk menuju Miangas dari kota Manado setidaknya dapat ditempuh dengan 2 rute. Rute pertama full menggunakan kapal Perintis Meliku Nusa atau Sabuk Nusantara, dari Pelabuhan Bitung-Lirung-Melonguane-Esang-Kakorotan-Karatung-Miangas yang akan memakan waktu 3 hari 2 malam di lautan. Rute kedua dengan pesawat dan juga kapal laut, yaitu naik pesawat dari Manado menuju Melonguane. Kemudian dari Melonguane naik kapal Perintis menuju Esang-Kakorotan-Karatung-Miangas dengan kurang lebih melewati 30 jam perjalanan di laut.

(44)

Kapal yang menuju Miangas biasanya beroperasi 2 minggu sekali, hal ini dikarenakan kapal perintis yang ada selalu berkeliling dari pulau ke pulau, sehingga memakan waktu 2 minggu untuk sekali putarannya. Namun, dengan banyaknya kapal yang beroperasi, setidaknya setiap seminggu sekali di cuaca yang teduh kapal perintis dapat berlabuh di Miangas. Selain menaiki kapal reguler perintis, bisa juga menyewa kapal boat. Kapal boat dari Melonguane sampai Miangas dapat ditempuh dengan waktu paling cepat 6 jam. Untuk sewanya bisa dikenakan tarif 18 juta, selain dapat memangkas waktu perjalanan juga dapat memangkas habis-habisan isi dompet.

Gambar 2.

(45)

Saatnya Berpetualang!!!

Sejak siang hingga menjelang dini hari, Pelabuhan Melonguane dipadati oleh masyarakat, baik calon penumpang kapal, para pedagang yang menunggu kiriman dagangan, hingga masyarakat yang sekedar mencuci mata melihat-lihat kedatangan Kapal Perintis Meliku Nusa. Pekatnya malam di Pelabuhan Melonguane ternyata tak menyurutkan Kapal untuk segera melayarkan diri ke pulau-pulau sebelah utara Indonesia. Tepat jam 00.00 dini hari, terdengar jelas peluit kapal memanggil para penumpangnya untuk segera menaiki kapal. Rencanyanya saya bersama satu rekan peneliti akan melayarkan diri menuju Pulau Miangas dalam rangka penelitian Riset Etnografi Kesehatan disana. Jadi, selama kurang lebih 40 hari, kami akan berbaur dan menjadi bagian dari masyarakat Miangas.

Kapal pun mulai berlayar dengan santainya, meskipun deru ombak sangat tenang, tetap saja mampu untuk membuat kepala saya terasa pusing. Ini adalah pertama kalinya saya naik kapal laut, meskipun saya telah terbiasa “tegar” dengan semua transportasi yang ada, baru pertama kali ini saya “tumbang”, mabok perjalanan oleh kapal laut. Saya pun berharap perjalanan ini segera berakhir atau minimal segera menemukan daratan untuk menstabilkan tubuh yang mulai sempoyongan. Meskipun tengah malam, masih terlihat beberapa para penumpang sedang asik bercengkrama dan ngobrol-ngobrol dengan sesama penumpang lainnya di anjungan kapal. Saya pun mencoba untuk ikut membaur, sembari berharap bisa menghilangkan

(46)

pusing yang terasa, yaa hitung-hitung latihan bersosialisasi sebelum membaur di masyarakat nanti.

Jam menunjukan pukul 10.00 pagi, hari pun semakin siang, terik matahari pun semakin mengganyang, demikian pula dengan rasa mabok laut yang saya rasakan. Puncaknya, semua isi perut ini pun akhirnya termuntahkan. Saya pun kemudian berusaha menstabilkan tubuh dengan meminum beberapa pil anti mabok, dan berharap Miangas segera tiba dipelupuk mata. Tepat jam 12 Siang, kapal pun mulai melabuhkan diri di pelabuhan pulau Kakorotan. Saya pun segera beranjak dari kamar ABK menuju bagian atas kapal, dan saya pun langsung speechless. Saya tak bisa berkata-kata, sungguh betapa indahnya Pulau Kakorotan ini,

Subhanallah... Wajar saja tempat ini dijadikan spot festival

adat berskala nasional, yaitu festival Mene’e. Rasa mual dan mabok yang saya rasakan pun seakan terbayarkan setelah saya melihat betapa indahnya karya Allah, sebaik-baiknya Maha Pencipta.

(47)

Subuh pun mulai menggantikan malam, samar-sama dibalik pekatnya langit subuh, terlihat sebuah pulau dari kejauhan, ya itulah Miangas. Saya pun segera mengambil beberapa shot foto dan video meskipun masih amatiran. Akhirnya, sesampainya di pelabuhan, kami pun disambut oleh warga-warga Miangas yang berdatangan. Tapi sayangnya mereka bukan untuk menyambut kami, tetapi menyambut barang-barang kebutuhan pokok yang satu-satunya diangkut oleh kapal perintis ini. Akhirnya sayapun bisa berujar, Assalamu’alaikum Miangas...

Gambar 4.

Pulau Miangas dari Kejauhan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Miangas, Sebuah Tanah Adat yang Kini Mulai Dimanjakan

Selain karena kedekatan secara geografis, ternyata hubungan antara Miangas dan Philipina sangat erat kaitannya sejak dahulu kala. Jika kita merunut sejarah

(48)

terbentuknya kehidupan masyarakat di Miangas, maka kita akan menemukan fakta bahwa leluhur masyarakat Miangas merupakan orang Bangsa Phillipina. Namun, dikarenakan mereka sering berhubungan dengan orang-orang dari Kepulauan Talaud, akulturasi dan perkawinan antar suku di nusantara pun tak bisa dihindarkan.

Tak dapat dipungkiri, Philipina pernah membawa sengketa kepemilikan Pulau Miangas ke kancah Internasional. Namun, ketika dilakukan penyidikan oleh PBB, ternyata identitas kebangsaan masyarakat Miangas mengacu pada suku Talaud yang ada di Indonesia. Mereka berbahasa daerah Talaud bukan Tagalog, menggunakan mata uang rupiah bukan peso, serta yang paling penting bahasa nasional yang mereka gunakan adalah Bahasa Indonesia. Jadi,dengan identitas kebangsaan itu, maka PBB memutuskan bahwa pualu Miangas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Republik Indonesia.

Masyarakat Miangas pada umumnya memeluk agama kristen protestan dengan berprofesi sebagai nelayan dan petani. Setidaknya ada 3 hal yang menopang sendi kehidupan masyarakat Miangas, yaitu adat, rohani, dan pemerintah. Adat memang sangat berperan penting dalam mengatur hubungan kemasyarakatan di Miangas disamping aspek rohani. Maka tak jarang para pemangku adat lebih sering dipercaya masyarakat dalam memutuskan sengketa kemasyarakatan dibandingkan dengan aparat pemerintahan.

(49)

Sebagai sebuah pulau adat yang terdepan di utara Indonesia, membuat Miangas mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Pertama, Pulau Miangas berdiri sebagai sebuah kecamatan khusus, meski secara administratif tidak memenuhi persyaratan berdiri sebagai kecamatan biasanya. Kedua, untuk mendukung Pulau Miangas sebagai pulau pertahanan Indonesia, maka sekarang di Miangas telah mulai dibangun sebuah bandara udara. Ketiga, untuk menjamin kelayakan hidup masyarakat di Miangas, bantuan-bantuan dari pemerintah khususnya dari pusatpun banyak diberikan di Miangas, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan beras pra-sejahtera.

Gambar 5.

Salah Satu Sumber Pembangkit Tenaga Listrik di Miangas Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ketersediaan fasilitas publik di Miangas setidaknya dapat dikatakan lebih bagus daripada kebanyakan pulau-pulau kecil lainnya yang berada di Kepulau-pulauan Talaud.

(50)

Bangunan fisik pelayanan pemerintahan sudah berdiri dengan layak, listrik dapat beroperasi selama 7 x 24 jam dalam seminggu dengan menggukan PLTS dan PLTD, fasilitas komunikasi dapat berjalan lancar, akses air bersih dapat terjangkau, serta terdapat rumah pintar bagi anak-anak di Miangas.

Ketersediaan sarana dan prasarana tersebut ternyata tak sepenuhnya termanfaatkan oleh pemerintah. Contohnya saja kantor kepala desa yang meski dibangun permanen hingga sampai ini tak dipakai bahkan sampai dibiarkan rusak, padahal tak sedikit dana yang dikucurkan oleh pemerintah untuk membangunnya. Fasilitas Puskesmas pun jarang dikunjungi oleh masyarakat, keberadaan rumah pintar yang selama beberapa tahun hingga sekarang hanya pernah 1 kali digunakan. Banyaknya bantuan-bantuan dari pemerintah ternyata tak selamanya membawa dampak yang positif bagi masyarakat. Mental “manja” yang hanya berharap dari bantuan-bantuan pun tak dapat dielakkan, sehingga inisiatif untuk memberdayakan desa sendiri kurang terlihat di Miangas.

(51)

Gambar 6.

Salah Satu Fasilitas Publik yang Terabaikan dan Tak Difungsikan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Karakteristik pulau yang “menyendiri” tak jarang menyebabkan keterbatasan akses di Miangas, salah satunya akses transportasi dari pusat ibukota dan pemerintahan. Cuaca yang ekstrim di Samudra Pasifik yang lepas terkadang menghambat distribusi kebutuhan pokok yang ada. Biasanya pada bulan Desember sampai Februari cuaca di Miangas sangat tidak bersahabat. Angin yang kencang dan ombak yang tinggi tak jarang membuat ciut kapal-kapal untuk melabuhkan diri di Miangas. Bahkan, salah satu kejadian sebuah kapal tongkang yang mengangkut meterial pembangunan bandara “tepar” tak berdaya di pelabuhan akibat rusak parah diterjang ombak besar Samudra Pasifik.

(52)

Gambar 7.

Kapal Tongkang yang “tepar” Akibat Gelombang Besar Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ektrimnya cuaca di Miangas tersebut tak jarang membuat masyarakat Miangas tak dapat melaut mencari ikan serta mendapatkan pemasukan bahan pokok bahkan sampai berbulan-bulan. Akibatnya, mereka harus bertahan bersama alam untuk melanjutkan kehidupan. Untuk memenuhi bahan pokok mereka mengkonsumsi umbi-umbian seperti laluga (sebuah tanaman talas raksasa yang hanya tumbuh di Miangas), sagu, maupun ubi jalar. Sedangkan untuk lauk pauk, mereka mencari ketam kenari (kepiting) atau bahkan hanya memakan sayur-sayur yang ada tumbuh di Miangas.

(53)

Gambar 8.

Laluga, Sejenis Tanaman Talas Raksasa Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain keterbatasan dalam hal kebutuhan pokok, Miangas juga terbelenggu dengan keterbatasan akses kesehatan medis. Meskipun Puskesmas Miangas sudah berdiri sebagai Puskesmas setingkat kecamatan, tetapi keadaan dan kelengkapannya masih belum mumpuni. Contoh kecilnya saja, Puskesmas sendiri tidak memiliki tensimeter dan termometer. Jadi para petugas yang ada terpaksa merogoh kocek sendiri untuk membeli tensimeter. Contoh lain lagi, untuk peralatan pertolongan persalinan sudah mulai rusak, hilang, dan tumpul. Tak jarang para petugas meminjam peralatan pada bidan kampung. Itu hanya secuil contoh kecil keterbatasan Puskesmas, apalagi jika ditinjau dari standar fasilitas pemeriksaan seperti Puskesmas-Puskesmas di ibukota, sungguh tak adapat dibandingkan.

(54)

Gambar 9.

Peralatan Persalinan yang terdapat di Miangas Sumber: Dokumentasi Peneliti

Selain itu, Puskesmas Miangas hanya memiliki 8 petugas kesehatan. Empat orang pegawai tetap dan 4 orang pegawai tidak tetap alias PTT. Kualifikasi tenaga kesehatan yang ada terdiri dari 4 orang perawat tetap, 1 perawat kontrak, 2 bidan PTT, dan 1 dokter kontrak daerah. Sebenarnya dulu ada beberapa pegawai tetap di Miangas, tetapi setelah mereka bertugas beberapa bulan mereka meminta pindah untuk ditempatkan di ibukota kabupaten.

Miangas dalam Kacamata Kesehatan

(55)

Kabupaten di Indonesia. Secara khusus, kabupaten ini berada di peringkat 12 dari 15 kabupaten yang ada di Sulawesi Utara. Adapun aspek kesehatan yang menjadi lampu kuning di Kabupaten ini adalah aspek pelayanan kesehatan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kesehatan lingkungan yang belum memadai. Selain itu, Kabupaten Kepulauan Talaud juga termasuk dalam daerah DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan Kepulauan) yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Philipina khususnya di Kecamatan Miangas dan Kecamatan Nanusa (buku daerah perbatasan sulut).

Miangas memiliki 1 kecamatan induk dan 1 Puskesmas pembantu (Pustu) yang kini menjadi rumah dinas bagi tenaga kesehatan yang berasal dari luar Miangas. Lokasi Puskesmas induk berada di daerah perkebunan warga dengan jarak 300 meter dari pusat pemukiman warga. Untuk pustu sendiri memang berada di tengah-tengah pemukiman warga, tetapi dikarenakan luas lokasi yang dianggap sempit, maka pustu ini jarang digunakan untuk melayani pasien terkecuali ketika diadakan posyandu.

Jam telah menunjukan pukul 9 pagi, rencananya pagi ini saya akan berkunjung melihat Puskesmas Miangas. Untuk mencapai Puskesmas saya harus terlebih dahulu melewati jalur perkebunan warga. Meskipun masih pagi, nuansa kebun yang sunyi dan lembab, terkadang mampu untuk membuat bulu kuduk berdiri. Meskipun jam masih menunjukan pukul 9 pagi pintu Puskesmas masih terkunci, padahal hari ini adalah hari kerja. Setelah hampir satu jam menunggu, datanglah beberapa petugas Puskesmas. Awalnya saya menyangka pasien dikarenakan mereka hanya memakai baju biasa

(56)

seperti warga biasanya, tetapi semuanya tampak jelas ketika mereka mulai mengeluarkan tensimeter dan mulai memeriksa 1-2 pasien yang datang. Akhirnya Jam menunjukan pukul 12 siang, tak terlihat ada pasien yang datang, maka merekapun memutuskan untuk pulang dan menutup Puskesmas.

Gambar 10.

Jalan Menuju Puskesmas Induk Miangas Sumber: Dokumentasi Peneliti

Menurut petugas Puskesmas yang saya temui, memang animo masyarakat untuk memeriksa diri sangat kurang. Mereka lebih suka menitip obat-obatan kepada bidan atau petugas Puskesmas ketika mereka kembali. Selain itu, masyarakat juga lebih suka didatangi daripada mendatangi

(57)

Ditengah keterbatasannya, setidaknya di Miangas terdapat 4 metode penyembuhan yang biasa dimanfaatkan masyarakat. Pertama metode penyembuhan medis yaitu memeriksakan diri pada petugas Puskesmas atau sekedar membeli obat-obat bebas di warung. Kedua, metode pengobatan makatana. Makatana sendiri merupakan sebutan masyarakat untuk ramuan-ramuan herbal tradisional yang telah diajarkan secara turun temurun. Ketiga, metode penyembuhan dengan kuasa dunia ataupun kuasa kegelapan. Dan terakhir menggunakan metode penyembuhan dengan kuasa Tuhan.

(58)

Tour de Nenas;

Catatan Perjalanan ke Kab. Timor Tengah Selatan

Agung Dwi Laksono

Soe-Timor Tengah Selatan, 29 Mei 2015

Timor Tengah Selatan, demikian nama salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kali ini menjadi sasaran tujuan kunjungan lapangan kami. Kami berempat berangkat dari Surabaya, yaitu saya sendiri, kang Pranata (seorang antropolog), dan dua rekan dari tim videografi (seorang sutradara dan seorang lagi kameramen). Bukanlah perjalanan yang terlampau sulit. Perjalanan supervisi dan pengambilan gambar visual audio Riset Ethnografi Kesehatan kali ini harus kami lalui.

Kabupaten Timor Tengah Selatan terletak satu daratan di Pulau Timor dengan negara pecahan republik ini, Timor Leste. Di sebelah Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan hanya dibatasi oleh Kabupaten Belu sebelum

(59)

Kabupaten Kupang, dan pada sisi Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan secara langsung berhubungan dengan Samudera Hindia.

Gambar 1.

Lokasi Kabupaten Timor Tengah Selatan Sumber: Provinsi Nusa Tenggara Timur

Menurut Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam Angka Tahun 2014, kabupaten yang beribukota di SoE ini mempunyai luas daratan mencapai 3.995,36 Km2, dengan tingkat kepadatan 114,26 jiwa per Km2 pada tahun 2013. Jumlah seluruh penduduk pada tahun yang sama mencapai 451.922 jiwa dengan rumah tangga sejumlah 112.446 rumah tangga (Badan Pusat Statistik Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2014). Berdasarkan angka jumlah penduduk dan jumlah rumah tangga, maka proporsi dalam setiap rumah tangga terdiri dari 4,02 jiwa, artinya bahwa dalam satu

(60)

rumah tangga terdiri dari rata-rata empat anggota keluarga, dan beberapa rumah tangga saja yang berisi lima anggota keluarga. Secara kasar bisa kita tarik kesimpulan bahwa Kabupaten Timor Tengah Selatan merupakan salah satu kabupaten yang berhasil dalam program Keluarga Berencana-nya, atau jangan-jangan…? Ahh… biarkan saja menggantung tanpa jawab, agar bisa dijadikan bahan refleksi.

Lingkaran Setan

Derajat kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, serta kemiskinan, merupakan tiga kondisi yang bila kita cermati seperti membentuk lingkaran setan. Ketiganya secara siklis saling mempengaruhi, kejatuhan dalam satu kondisi menjadi penyebab kejatuhan kondisi yang lainnya. Hal inilah yang sepertinya tengah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menurut hasil pemeringkatan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2013 yang didasarkan pada hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun yang sama, menempatkan Kabupaten Timor Tengah Selatan pada ranking 474 dari 497 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. IPKM sebelumnya, tahun 2007, Kabupaten Timor Tengah Selatan berada pada posisi ranking 399 dari 440 kabupaten/kota yang ada pada saat itu. Menilik posisi peringkat Kabupaten Timor Tengah Selatan pada IPKM tahun

(61)

pembangunan kesehatan yang telah dilakukan.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2013 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa ada sekitar 31,71% penduduk berumur 10 tahun ke atas di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang tidak memiliki ijazah sama sekali, artinya angka tersebut merupakan gabungan antara yang tidak bersekolah sama sekali dan yang tidak lulus Sekolah Dasar. Sementara hasil survei yang sama menyebutkan bahwa sejumlah 34,81% penduduk di atas 10 tahun yang memiliki ijazah Sekolah Dasar. Hanya 2,91% penduduk saja yang tercatat memiliki ijazah di atas SLTA.

Berdasarkan catatan BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam “Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam Angka Tahun 2014”, tercatat terjadi penurunan jumlah penduduk miskin di kabupaten tersebut. Hal ini terjadi dalam kurun waktu lima tahun, antara tahun 2006-2011. Tetapi antara tahun 2011-2012 kembali terjadi peningkatan tipis persentase penduduk miskin sebesar 0,57%, menjadi 27,53% (lihat Gambar 2). BPS mengukur kemiskinan menggunakan pendekatan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). BPS memandang kemiskinan sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

(62)

Gambar 2.

Tren Persentase Penduduk Miskin

di Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2006-2012 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupetan Timor Tengah Selatan, 2014

Status Gizi Balita

Kita mencermati status gizi balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan pada tahun 2013, maka kita akan mendapati kenyataan yang sungguh memprihatinkan. Hampir separuh balita (46,48%), merupakan balita dengan status gizi buruk dan kurang. Angka ini jauh di atas angka Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada pada kisaran 33,07%, dan rentangnya semakin jauh lagi bila dibandingkan dengan angka nasional yang hanya berkisar 19,63%.

(63)

merupakan balita stunting atau pendek. Angka ini jauh di atas prevalensi provinsi maupun nasional.

Cakupan angka penimbangan balita di Kabupaten Timor Tengah Selatan sedikit lebih tinggi dibanding angka provinsi maupun nasional. Artinya bahwa kepedulian masyarakat terhadap anak-anak sudah cukup baik, hanya saja kemiskinan bisa menjadi salah satu kendala yang cukup serius untuk faktor pertumbuhan balita.

Perjalanan Menuju Desa

Perjalanan kami kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar empat jam saja dari ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang, untuk mencapai ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan di SoE. Kami masih harus menambah lagi dengan enam jam perjalanan untuk mencapai Desa Nenas-Kecamatan Fatumnasi, desa tempat tinggal dua ethnografer kami yang sedang grounded di sana. Enam jam tambahan yang sungguh menyebalkan karena kami salah memilih kendaraan untuk menempuh jalanan yang rusak, longsor dan berbatu.

(64)
(65)

Pengalaman menyebalkan menempuh sisa perjalanan menuju Desa Nenas seakan terbayarkan dengan pemandangan lanskap saat memasuki cagar alam Mutis di lereng Gunung Mutis. Lanskap yang sungguh membuat kami tak pernah berhenti berdecak mengucap syukur diberi kesempatan melihat pemandangan seindah ini.

Gambar 4.

Lanskap dalam Cagar Alam Gunung Mutis Sumber: Dokumentasi Peneliti

(66)

Desa Nenas di Kecamatan Fatumnasi

Desa Nenas merupakan salah satu desa yang terletak di lereng Gung Mutis. Topografinya berupa lereng-lereng dengan variasi ketinggian yang beragam, naik-turun perbukitan. Letaknya yang tersembunyi di lereng gunung dan di balik hutan membuat Desa Nenas selalu berhawa dingin dengan angin yang bertiup kencang yang seakan tak pernah berhenti untuk membuat badan menggigil sepanjang hari. Tubuh letih kami benar-benar tak kuat menahan gempuran seperti ini, yang membuat kami ber-empat hampir tumbang pada akhir perjalanan.

Mutis, demikian nama gunung itu, yang dalam bahasa Dawam artinya adalah“lengkap”. Menurut kepercayaan orang Molo Gunung Mutis merupakan asal atau cikal bakal orang Timor secara keseluruhan, mereka secara lengkap hadir di dunia melalui Gunung Mutis. Oleh karena itu masyarakat Desa Nenas sangat terbuka dengan kedatangan orang luar, karena mereka menganggap demikianlah memang seharusnya mereka bersikap untuk menyikapi “lengkap”nya Mutis.

Desa Nenas dalam pandangan kami merupakan salah satu desa yang sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan desa lain di Indonesia. Desa Nenas lebih merupakan desa

auto pilot, karena kepala desa terpilih mengajukan diri

menjadi anggota DPRD, dan akhirnya benar-benar terpilih menjadi anggota dewan. Nasib Desa Nenas tak juga beranjak

(67)

Masyarakat di Desa Nenas termasuk dalam sub suku Molo, yang merupakan salah satu bagian dari suku Timor. Oleh sebab itu mereka dikenal sebagai orang Molo. Dalam keseharian mereka masih menggunakan bahasa Dawam sebagai salah satu media komunikasi antar orang Molo. Nenas sendiri dalam bahasa Dawam diartikan sebagai “terkenal”.

Orang Molo di Desa Nenas kebanyakan sudah tinggal di ‘rumah sehat’, sebutan untuk rumah yang dibangun untuk menggantikan ‘rumah bulat’, rumah asli warga suku Molo. Malam hari mereka lebih sering berada di rumah bulat karena kondisinya yang hangat, cukup untuk menahan dari gempuran hawa dingin di luar.

Gambar 5.

Proses Shooting Tari Giring-giring yang Mengambil Latar Belakang Rumah Bulat

(68)

Kami sendiri tinggal di rumah sehat bersama keluarga bapak Anderias Tambelab (58 tahun), sekretaris Desa Nenas. Rumah yang kami diami adalah milik salah seorang pejabat desa. Jangan pernah membayangkan kemewahan yang akan kami terima. Kondisinya sama saja dengan rumah penduduk lainnya. Kami tidur hanya beralaskan karpet plastik tipis di atas plesteran semen.

Gambar 6.

Rumah Sehat Sekretaris Desa Nenas Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hampir mirip dengan desa-desa lain di pelosok republik ini, kehidupan di Desa Nenas berjalan sangat lambat. Hampir seluruh penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Beberapa menjadi tukang ojek, guru, dan berdagang kelontong kecil-kecilan. Ada juga seorang pendatang dari Madura yang berprofesi menjadi tukang

(69)

sedikit saja jalan tanah. Kondisi ini membuat hanya kendaraan-kendaraan tertentu saja yang bisa menempuh jalur ini, termasuk beberapa motor tulang ojek yang sudah mengalami modifikasi pada rantai-gir dan roda ban yang menjadi lebih bergigi.

Kami observasi dan terlihat balita-balita di Desa Nenas mempunyai kecenderungan stunting, sebagaimana penampakan orang-orang dewasa di desa ini yang juga cenderung pendek. Sekali lagi saya tidak bisa mengkonfirmasi hal ini dengan data riil, karena pencatatan di Posyandu sama sekali tidak mencantumkan angka tinggi badan, dan tanggal kelahiran pun seringkali dibiarkan kosong melompong.

Kebanyakan balita di Desa Nenas mengkonsumsi bubur nasi tanpa tambahan apapun. “Balita sekarang makannya bubur nasi pak. Iya nasi saja… tanpa tambahan apapun. Kalo dulu ya bubur jagung. Kan belum ada beras… ada beras baru sekitar mulai tahun 70-80-an…,” jelas pak Nuel, nama panggilan Imanuel Anin (50 tahun), seorang mantri tani yang tinggal di Desa Nenas.

Hampir tidak ada variasi makanan lain yang menjadi asupan balita di desa ini, kecuali ASI. Pengakuan masyarakat, ASI diberikan sampai mereka berumur dua tahun lebih, kecuali beberapa balita yang sudah “kesundulan”, kedahuluan adiknya lahir, dan juga beberpa balita lain yang disebabkan ibunya sakit atau tidak keluar air susunya.

Ada fenomena menarik yang ditunjukkan balita Darfa Tambelab (20 bulan). Sejak berumur 12 bulan, Darfa mengkonsumsi kopi yang dimasukkan ke dalam botol dot. Dua kali sehari, secara rutin pagi dan sore, cucu ke-dua

(70)

sekretaris desa tersebut meminta dibuatkan minuman kesukaan saya ini. Diker Tambelab (33 tahun), ayah si Darfa, cuek saja dan membiarkan anak balitanya dengan lahab menyeruput kopi lewat botol dotnya.

Gambar 7. Darfa Tambelab dan

Ayahnya Sumber: Dokumentasi

Peneliti

Ketersediaan Pelayanan Kesehatan

Desa Nenas masuk sebagai salah satu wilayah kerja Puskesmas Fatumnasi yang terletak di Desa Fatumnasi. Puskemas Fatumnasi sendiri memiliki tenaga sejumlah 18 orang dengan lima bidan dan satu tenaga dokter umum PTT. Ada lima desa yang harus di-cover Puskesmas Fatumnasi,

(71)

yang stand by di sana. Sedang di Desa Mutis ada Polindes yang jadwal bukanya seminggu sekali menunggu bidan penanggung jawab wilayah datang dari Puskesmas. Kondisi ini sama dengan Polindes di Kuanoal yang buka pelayanan empat kali dalam sebulan sesuai dengan kedatangan bidan dari Puskesmas Fatumnasi. Ada Puskesmas Pembantu (Pustu) permanen di Desa Nenas yang dijaga oleh seorang perawat. Hanya saja posisi rumah perawat yang berada di SoE dan adanya keperluan-keperluan lain membuat kondisinya seperti kurang terurus.

Masalah akses yang cukup jauh dari desa ke Puskesmas, masyarakat di lima desa ‘urunan’ secara tanggung renteng untuk membangun rumah tunggu persalinan di samping gedung Puskesmas. “Kondisinya sudah sangat memprihatinkan pak. Ini sedang kami upayakan untuk setiap desa urunan kembali untuk membangun yang semi permanen…,” jelas Alfred Duka, SKM Kepala Puskesmas Fatumnasi. Rumah tunggu persalinan yang dibangun berbahan kayu lokal ini sejak tahun 2011 ini memang terlihat miring seperti mau roboh.

Ada kebijakan menarik yang dikeluarkan oleh Kabupaten Timor Tengah Selatan berupa Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Bawah Lima Tahun. Kebijakan ini lebih merupakan terjemahan dari kebijakan Revolusi KIA yang digagas di tingkat provinsi.

(72)

Gambar 8. Rumah Tunggu Persalinan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara garis besar kebijakan ini mengatur tentang pembagian peran antar komponen di wilayah tersebut, termasuk di dalamnya mengatur secara rinci tentang denda terhadap masing-masing pihak yang tidak melaksanakan perannya. Satu contoh misalnya pada saat ibu melahirkan di rumah bulat ditolong oleh dukun, padahal menurut regulasi tersebut seharusnya melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan ditolong oleh tenaga kesehatan. Denda yang diatur adalah si ibu didenda Rp. 200.000,- karena tidak melahirkan di fasilitas kesehatan, si dukun didenda Rp. 200.000,- karena berani menolong persalinan, si suami ibu didenda Rp. 200.000,- karena tidak SIAGA, tidak mau mengantar istri melahirkan ke fasilitas kesehatan. Pada saat si ibu nifas melakukan sei (dipanggang), sebagai salah satu adat kebiasaan orang Timor, maka juga akan dikenakan

(73)

tidak memeriksakan diri pasca nifas maka akan dikenakan denda sebesar Rp. 100.000,-.

Mekanisme atau standar operasional prosedur (SOP) tentang pembayaran atau penarikan denda ini diatur dalam regulasi tersendiri. Hal ini diatur dalam Peraturan Bupati Timor Tengah Selatan nomor 51 tahun 2014 tentang Tata Cara Pembayaran Denda Administrasi dan Pengurangan/ Keringanan.

Sepertinya tujuan dikeluarkannya kebijakan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak ini baik… sangat baik! tetapi menurut pandangan saya, sekali lagi menurut pandangan saya, kebijakan ini menjadi tidak tepat saat pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan tidak memenuhi sarana dan prasarana yang menjadi kendala akses selama ini. Bukankah fasilitas pelayanan kesehatan sangat minim? Tidakkah tenaga kesehatan belum benar-benar eksis hadir di wilayah? Bagaimana dengan kondisi jalan berbatu yang terjal? Kami yang sehat saja berasa remuk redam menempuh jalur tersebut, bagaimana dengan ibu hamil?

Potensi Sumber Daya

Desa Nenas merupakan desa hortikultura yang sangat dikenal sebagai penyuplai sayuran sampai ke Kota Kupang. Beragam jenis sayur-mayur menjadi andalan pendapatan masyarakat Desa Nenas yang didominasi oleh petani. Sayuran semacam wortel, labu siam, daun bawang, kentang dan bawang preh merupakan produk sayuran andalan. Jadi

(74)

kebutuhan sayuran bukanlah masalah bagi penduduk yang hidup di lereng Gunung Mutis ini.

Karbohidrat utama seringkali didapatkan dari jagung, ubi jalar, singkong dan beras. Ada sedikit hamparan sawah di wilayah Desa Nenas yang dapat membantu suplai kebutuhan beras di daerah berhawa dingin ini, meski seringkali beras yang dikonsumsi adalah beras Raskin. Tercatat ada sekitar 147 keluarga miskin dari 287 keluarga, atau 51,22%, yang mendapatkan jatah beras Raskin dari pemerintah setiap bulannya.

Protein hewani bisa didapatkan dari telur ayam, ayam, babi, kambing maupun sapi. Tetapi sayangnya perekonomian masyarakat membuat konsumsi protein hewani semacam itu merupakan barang mewah bagi mereka, hanya telur ayam yang disajikan beberapa kali dalam sebulan. “Sebenarnya ada juga pak itu apa… daging dan ikan di Pasar Kapan (di Kecamatan Kapan), tetapi ada (kendala) faktor ekonomi pak…” jelas Imanuel Anin (50 tahun), seorang Mantri Tani yang menjadi guide dadakan kami. Lebih lanjut pria suku Timor bermarga Anin ini menjelaskan bahwa ada protein hewani yang cukup populer bagi Masyarakat di Desa Nenas, yaitu “Ikan Blek”, sebutan masyararakat setempat untuk ikan kalengan atau sarden.

Kesempatan mendapat protein hewani lainnya adalah pada saat ada kematian. Apabila ada seorang suku Molo meninggal dunia, maka berbondong-bondong kerabatnya

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :