• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 46-55)

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

BAB 6 KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH

2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi ini akan menjabarkan hasil pembangunan Kabupaten Sukabumi utamanya terkait bidang perekonomian wilayah. Fokus ini akan mengkaji lebih dalam berbagai indikator-indikator perekonomian baik makro maupun mikro yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan esensi dari pergerakan roda perekonomian (pembangunan perekonomian) Kabupaten Sukabumi. Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional, dan transformasi kegiatan perekonomian dari primer ke sekunder dan tersier. Oleh karena itu, penting adanya melihat berbagai indikator pada tujuan pembangunan tersebut demi peningkatan kualitas perencanaan pembangunan daerah.

Sistem Neraca Nasional (SNN) adalah rekomendasi Internasional tentang bagaimana menyusun ukuran aktivitas ekonomi yang sesuai dengan standar neraca baku yang didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi. Rekomendasi yang dimaksud dinyatakan dalam sekumpulan konsep, definisi, klasifikasi, dan aturan neraca yang disepakati secara Internasional dalam mengukur indikator tertentu seperti Produk Domestik Bruto (PDB). Indikator-indikator utama yang akan digunakan dalam menganalisis kesejahteraan dan perekonomian daerah Kabupaten Sukabumi antara lain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), struktur perekonomian wilayah, Laju Pertumbuhan Ekonomi, hingga angka kemiskinan. Indikator-indikator ini nantinya akan menjadi salah satu dasar utama bagi perencanaan pembangunan, terutama dalam monitoring dan evaluasi berbagai kebijakan dalam menyukseskan

program-Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

program prioritas pembangunan nasional. Untuk menyusun PDB maupun PRDB, digunakan dua pendekatan yaitu lapangan usaha dan pengeluaran. PDB maupun PRDB dari sisi lapangan usaha merupakan penjumlahan seluruh komponen nilai tambah bruto yang mampu diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi atas berbgai aktivitas produksinya. Sedangkan dari sisi pengeluaran menjelaskan tentang penggunaan dari nilai tambah tersebut.

a. Nilai Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan suatu indikator kinerja pembangunan perekonomian daerah yang menunjukkan suatu besaran atau nilai tambah bruto (kotor) dari keseluruhan barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di Kabupaten Sukabumi yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi. PDRB Kabupaten Sukabumi akan menggambarkan kemampuan atau potensi ekonomi dan kinerja perekonomian daerah baik dalam pengelolaan sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Kemampuan, potensi, dan kinerja sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam mengembangkan perekonomian daerah sangat penting untuk dianalisis guna evaluasi, monitoring, hingga perencanaan pembangunan berbasis ekonomi.

Pada penghitungan periode ini, metode penghitungan PDRB mengalami perubahan baik terkait tahun dasar maupun metodologi penghitungan. Rincian sektor lapangan usaha pada PDRB meningkat menjadi 17 kategori dimana sebelumnya hanya 9 sektor lapangan usaha. PRDB menurut lapangan usaha dirinci menurut total nilai tambah dari seluruh sektor ekonomi yang mencakup lapangan usaha berikut:

1. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 2. Pertambangan dan Penggalian, 3. Industri pengolahan,

4. Pengadaan listrik dan gas,

5. Pengadaan air, Pengolahan sampah, Limbah dan Daur ulang 6. Kontruksi

7. Perdagangan besar dan Eceran 8. Reparasi mobil dan Sepeda motor 9. Transportasi dan Pergudangan

10. Penyediaan akomodasi dan Makan minum 11. Informasi dan Komunikasi

12. Jasa keuangan dan Asuransi 13. Real estat

14. Jasa perusahaan

15. Administrasi pemerintahan, Pertanahan dan Jaminan sosial wajib 16. Jasa pendidikan

17. Jasa kesehatan dan Kegiatan sosial

PRDB menurut pengeluaran mengalami perubahan klasifikasi, dimana pengeluaran konsumsi Lembaga NonProfit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang sebelumnya termasuk bagian dari pengeluaran konsumsi rumah tangga menjadi komponen terpisah. Sehingga klasifikasi PDB menurut pengeluaran dirinci menjadi 7

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

komponen yaitu kompponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi LNPRT, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori, ekspor barang dan jasa dan impor barang dan jasa.

Peningkatan cakupan kategori ini juga menimbulkan efek berupa revisi dan penyempurnaan nilai PDRB pada lima tahun terakhir sehingga analisis periodik juga terbatas pada penghitungan dengan metode yang baru. Laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto diperoleh dari perhitungan PRDB atas dasar harga konstan.

Setiap tahun terjadi peningkatan nilai Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sukabumi yang mengindikasikan pergerakan perekonomian wilayah terus berputar dan menuju ke arah yang positif. Pada tahun 2014, nilai Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sukabumi mencapai Rp.42,50 miliar dimana pada tahun sebelumnya hanya mencapai Rp.38,47 miliar. Sedangkan berdasarkan data tahun 2016, nilai Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sukabumi sebesar Rp.51,13 miliar. Peningkatan nilai PDRB ini akan menjadi potensi positif bagi pergerakan perekonomian makro sebagai modal pelaksanaan pembangunan daerah ke depannya. Sedangkan untuk Produk Domestik Regional Bruto Tanpa MIGAS Kabupaten Sukabumi pada tahun 2016 sebesar Rp.49,43 miliar dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

Gambar 5. Nilai Produk Domestik Regional Bruto adh Berlaku (Milyar Rupiah) Kabupaten Sukabumi, 2013-2016. (Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2017) b. Laju Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu titik tolak pembangunan suatu daerah yaitu dengan melihat pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat memang menjadi syarat utama atau indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output (tergantung dari jenis output yang diharapkan/ditetapkan) dalam jangka panjang. Laju pertumbuhan ekonomi

38.470.325,77

42.506.404,53

46.938.809,31

51.132.895,85

36.855.525,61

40.854.459,52

45.246.807,75

49.429.803,42

30.000.000,00 35.000.000,00 40.000.000,00 45.000.000,00 50.000.000,00 55.000.000,00

2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6

Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto Tanpa Migas

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

merupakan indikator makro dalam melihat perkembangan perekonomian suatu daerah, sehingga keberhasilan pembangunan daerah secara umum dapat terukur.

Oleh karena itu, indikator ini dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan kedepannya, baik dengan melihat pertumbuhan ekonomi secara periodik maupun pertumbuhan ekonomi sektor lapangan usaha yang potensial.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi memiliki trend yang cukup fluktiatif dari tahun 2012 hingga tahun 2016. Namun demikian, juka melihat perkembangan pada tahun 2016 hingga tahun 2017, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi meningkat cukup signifikan, yaitu dari 4,91% menjadi 5,56%. Kondisi pertumbuhan ekonomi ini berpotensi memberi “angin segar” bagi para pelaku ekonomi sekaligus pengambil kebijakan. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi yang cukup baik menjadi daya tarik bagi investasi yang ingin masuk ke Kabupaten Sukabumi, terlebih sektor pariwisata kini mulai menjadi primadona di Kabupaten Sukabumi, setelah ditetapkannya Geopark Ciletuh Palabuhanratu sebagai Unesco Global Geopark. Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi dari tahun 2012 hingga tahun 2016 secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 6.

Tabel 3. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sukabumi Tahun 2012-2016

Tahun Laju Pertumbuhan Ekonomi (%)

2012 6,38

2013 5,51

2014 5,98

2015 4,91

2016 5,56

Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2017

Gambar 6. Trend Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sukabumi Tahun 2012-2016. (Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2018)

6,38

5,51

5,98

4,91

5,56

2012 2013 2014 2015 2016

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

c. Struktur Ekonomi Wilayah

Struktur perekonomian wilayah akan memberikan suatu gambaran utuh tentang kategori perekonomian yang memberi dampak signifikan pada pembentukan perekonomian suatu daerah dalam hal ini Kabupaten Sukabumi. Pada Tabel 4 terlihat bahwa kategori perekonomian yang mendominasi perekonomian di Kabupaten Sukabumi adalah kategori pertanian, perikanan, dan kehutanan dimana kontribusi perekonomiannya mencapai 23,35 persen. Selain itu, kategori lain yang memberi andil dominan pada pembentukan struktur ekonomi wilayah adalah kategori perdagangan besar dan eceran (termasuk reparasi mobil dan sepeda motor) yang kontribusinya mencapai 20-30 persen.

Tabel 4. Struktur Ekonomi Menurut Kategori Lapangan Usaha Kabupaten Sukabumi Tahun 2014-2016

Kategori Lapangan Usaha Distribusi (%)

2014 2015 2016 A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 23,40 22,89 23,48

B Pertambangan dan Penggalian 7,79 7,31 6,67

C Industri Pengolahan 15,18 15,06 15,14

D Pengadaan Listrik dan Gas 0,08 0,09 0,10

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 0,03 0,02 0,03

F Konstruksi 10,84 11,46 11,46

G Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 19,56 18,80 18,35

H Transportasi dan Pergudangan 6,32 7,17 7,43

I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,30 2,24 2,21

J Informasi dan Komunikasi 2,19 2,27 2,34

K Jasa Keuangan dan Asuransi 0,66 0,69 0,70

L Real Estat 1,39 1,38 1,42

M,N Jasa Perusahaan 0,31 0,30 0,30

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 3,51 3,62 3,43

P Jasa Pendidikan 3,92 4,07 4,15

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,91 0,97 1,02

R,S,T,U Jasa Lainnya 1,63 1,65 1,71

Kabupaten Sukabumi 100,00 100,00 100,00

Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2017

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

d. PDRB Per Kapita

PDRB merupakan suatu gambaran perekonomian makro suatu wilayah yang identik dengan peningkatan pembangunan perekonomian. Di samping itu, PDRB merupakan ukuran nilai tambah yang dihitung dalam suatu daerah, sehingga PDRB dalam hal ini dapat dilihat sebagai akumulasi pendapatan yang ada dalam suatu daerah. Berdasarkan hal tersebut, perhitungan PDRB dapat juga digunakan sebagai pendekatan dalam menghitung pendapatan per kapita di suatu daerah. Walaupun demikian, tentunya pendekatan ini perlu juga diperbandingkan dengan nilai Gini Ratio yang memperlihatkan sejauhmana sebaran PDRB diterima oleh masyarakat sebagai pendapatan per kapita.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS, dari tahun 2010 sampai tahun 2015 PDRB per kapita Kabupaten Sukabumi mengalami peningkatan dari 12,13 juta rupiah, menjadi 19,28 juta rupiah. Namun demikian, besaran ini masih jauh dibandingkan PDRB per kapita rata-rata Jawa Barat, yaitu 20,97 juta rupiah pada tahun 2010 dan 32,65 juta rupiah pada tahun 2015.

Nilai PDRB per kapita Kabupaten Sukabumi pada tahun 2015 jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat masih masuk dalam kelompok besar Kabupaten/Kota yang memiliki PDRB per kapita di bawah rata-rata. Hal ini disebabkan karena terdapat 7 (tujuh) daerah yang memiliki PDRB per kapita sangat tinggi di atas rata-rata, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kota Cirebon, Kota Cimahi, dan Kabupaten Indramayu. Gambaran secara lengkap mengenai kondisi PDRB per kapita Kabupaten Sukabumi dibandingkan dengan PDRB per kapita rata-rata Jawa Barat dan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat dapat dilihat dalam Gambar 7 dan Gambar 8

Catatan : Tahun 2010 ada pergantian harga konstan dari 2000 menjadi 2010

*) Angka Sementara

**) Angka Sangat Sementa

Gambar 7. Perbandingan PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Sukabumi dengan Rata-Rata Jawa Barat, Tahun 2010-2015 (Juta Rupiah)

20,97

23,25

25,27

27,77

30,12

32,65

12,13 13,19 14,18

15,97

17,55

19,28

2010 2011 2012 2013 2014*) 2015**)

Provinsi Jawa Barat Kab Sukabumi

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

Gambar 8. PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota Se Jawa Barat Tahun 2015 (Juta Rupiah). (Sumber: BPS Jawa Barat, 2018) e. Kemiskinan

Kemiskinan merupakan suatu kondisi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemiskinan juga merupakan sebuah permasalahan klasik dan berkelanjutan yang selalu ada dan berkembang di suatu wilayah.

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan. Tugas utama pemerintah Kabupaten Sukabumi terkait kemiskinan adalah berusaha meminimalisir dan memberdayakan masyarakat sehingga memiliki daya saing dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Indikator yang sangat nyata dalam melihat kemiskinan di suatu wilayah utamanya Kabupaten Sukabumi adalah tingkat kemiskinan yang menyatakan persentase penduduk miskin terhadap keseluruhan penduduk di Kabupaten Sukabumi.

Upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sukabumi selama ini sudah cukup berhasil. Hal ini terlihat dengan menurunnya tingkat kemiskinan Kabupaten Sukabumi secara signifikan dari tahun 2002 hingga tahun 2017. Pada tahun 2002 tingkat kemiskinan Kabupaten Sukabumi yaitu 17,03%. Angka tersebut masih jauh di atas rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Barat, yaitu 13,04%. Namun demikian, sejak tahun 2011 tingkat kemiskinan Kabupaten Sukabumi sudah bekurang drastis hingga di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat, bahkan pada tahun 2017 tingkat kemiskinan Kabupaten Sukabumi sudah menyentuh angka 8,04%, dibandingkan rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Barat yang masih berada pada angka 8,71%. Jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi menempati urutan ke 9 (sembilan) dari Kabupaten/Kota yang memiliki tingkat kemiskinan terendah. Gambaran tingkat kemiskinan Kabupaten Sukabumi dari tahun 2002 hingga tahun 2017, serta perbandingannya dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat secara rinci dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.

10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00

Provinsi Jawa Barat Kab Bogor Kab Sukabumi Kab Cianjur Kab Bandung Kab Garut Kab Tasikmalaya Kab Ciamis Kab Kuningan Kab Cirebon Kab Majalengka Kab Sumedang Kab Indramayu Kab Subang Kab Purwakarta Kab Karawang Kab Bekasi Kab Bandung Barat Kab Pangandaran Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

Gambar 9. Perbandingan Tingkat Kemiskinan Kab.Sukabumi dengan Jawa Barat Tahun 2002-2017. (Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2018)

Gambar 10. Sebaran Tingkat Kemiskinan Kab/Kota Se-Jawa Barat Tahun 2017.

(Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2018)

Pengukuran kondisi kemiskinan masyarakat di suatu wilayah akan menjadi kurang komprehensif jika hanya berdasarkan tingkat kemiskinan saja. Di samping itu perlu juga melihat bagaimana sebaran pendapatan yang diterima masyarakat di suatu wilayah. Pendapatan masyarakat yang tinggi namun jika tidak menyebar secara merata, berarti tingkat ketimpangan di wilayah tersebut sangat tinggi. Oleh karena itu, analisis mengenai ketimpangan pendapatan di suatu wilayah sangat penting dilakukan.

Indikator yang merepresentasikan ketimpangan pendapatan di suatu wilayah adalah Gini Ratio. Di Kabupaten Sukabumi, perkembangan gini ratio dari tahun 2010 sampai tahun 2016 mengalami sedikit peningkatan, yaitu dari 0,31 menjadi 0,33 point. Namun demikian, selama rentang waktu tersebut gini ratio Kabupaten Sukabumi masih jauh di bawah rata-rata gini ratio Provinsi Jawa Barat, yaitu 0,35

Provinsi Jawa Barat Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Bandung Barat Pangandaran Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

pada tahun 2010 dan 0,41 pada tahun 2016. Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Barat, pada tahun 2016 Kabupaten Sukabumi menempati urutan ke empat kabupaten/kota yang memiliki gini rasio terendah, dimana yang terendah adalah Kabupaten Indramayu dengan 0,26 point, Kabupaten Tasikmalaya dengan 0,30 point, dan Kabupaten Bekasi dengan 0,31 point.

Perkembangan gini ratio Kabupaten Sukabumi pada tahun 2010-2016, serta perbandingannya dengan rata-rata gini ratio Provinsi Jawa Barat dan kabupaten/kota lain di Jawa Barat secara rinci dapat dilihat pada Gambar 11 dan Gambar 12.

Gambar 11. Trend Perbandingan Gini Ratio Kab.Sukabumi dengan Jawa Barat Tahun 2008 – 2016. (Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2018)

Gambar 12. Grafik Gini Ratio Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat Tahun 2016.

(Sumber: BPS Kabupaten Sukabumi, 2018)

0,35 0,36 0,36

0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41

0,31

0,26 0,25

0,3

0,35

0,3

0,32

0,36

0,33

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Provinsi Jawa Barat Sukabumi

0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45

Provinsi Jawa Barat Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Bandung Barat Pangandaran Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kota Banjar

Membangun Sumber Daya Manusia yang Berdaya Saing

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 46-55)