Pendidikan Agama adalah salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional, sebagaimana diamanahkan oleh UU No. 20 tahun 2003. Keberadaan Pendidikan Agama dirasakan semakin penting untuk diberikan kepada para peserta didik di saat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama hadirnya media baru (new media), dapat menyebabkan manusia tidak memiliki karakter positif yang kuat dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak. Pendidikan Agama dipandang mampu memberikan landasan yang kuat bagi peserta didik untuk membentuk dan mengembangkan karakter-karakter positif yang mereka miliki.
Penyusunan fokus-fokus pembelajaran Pendidikan Agama dilakukan berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar isi yang telah dikembangkan untuk setiap level pendidikan:
SD, SMP, dan SMA. Standar kompetensi lulusan Pendidikan Agama memuat karakter-karakter positif peserta didik sebagai individu beriman yang menghayati ajaran-ajaran agamanya serta menjunjung nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan kehidupan. Standar isi Pendidikan Agama mencakup lima aspek, yaitu: Kitab Suci, keimanan, ibadah, akhlak mulia, dan sejarah serta tradisi iman. Aspek-aspek ini diramu di dalam fokus-fokus pembelajaran, yang akan menjadi rujukan para guru untuk mengembangkan kurikulum dan menyusun rencana proses pembelajaran untuk setiap kelas. Pada tiap-tiap fokus pembelajaran ditekankan aspek-aspek tertentu, namun tidak berarti aspek-aspek yang lain dilupakan.
Demikian pula, pemilihan fokus-fokus pembelajaran pada setiap level tidak dimaksudkan untuk mengabaikan keutuhan kebenaran ajaran agama. Pemilihan fokus-fokus pembelajaran untuk memberikan waktu yang cukup bagi peserta didik untuk mendalami konsep-konsep kunci ajaran agama dan menerapkannya.
Di dalam mengembangkan kurikulum dan rencana proses pembelajaran Pendidikan Agama secara rinci berdasarkan fokus-fokus pembelajaran ini, guru perlu memperhatikan relevansi antara materi pembelajaran dan kebutuhan peserta didik serta materi pembelajaran bidang-bidang studi yang lain. Guru perlu juga memperhatikan karakteristik dan potensi sekolah serta lingkungan sekitarnya agar kurikulum dan proses pembelajaran bersifat kontekstual. Guru perlu pula mengupayakan pengembangan 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki peserta didik sebagai warga masyarakat global saat ini, yaitu kemampuan-kemampuan berkreativitas, berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi.
Untuk itu, guru perlu memiliki paradigma baru “pembelajaran yang berpusat pada peserta didik”, dan meninggalkan paradigma “pengajaran yang berpusat pada guru”. Dengan paradigma baru, guru berperan sebagai fasilitator di dalam proses pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar yang utama, melainkan memberikan kebebasan dan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dari sumber-sumber lain, selain dirinya.
38 | F o k u s P e m b e l a j a r a n P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k
Guru menumbuhkan kemandirian peserta didik untuk belajar dan mengembangkan berbagai karakter positif serta kemampuan dirinya.
Fokus pembelajaran Pendidikan Agama (PA) Katolik untuk Kelas 1 sampai dengan Kelas 12 yang ditawarkan di sini ditata mengikuti arahan Gereja Katolik tentang isi pendidikan iman yang berpusat pada “Allah dan misteri pribadi-Nya, dan campur tangan-Nya menyelamatkan [manusia dan kehidupannya] dalam sejarah” (Direktorium Kateketik Umum, artikel 39). Kebenaran-kebenaran iman yang terkandung di dalamnya disajikan dalam empat kelompok tematik, yaitu: Allah Trinitaris Sang Pencipta, Yesus Kristus Sang Sabda yang menjelma, Roh Kudus pembimbing Gereja, dan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus.
Kebenaran-kebenaran iman ini disajikan melalui proses perjalanan iman para peserta didik, yang ditempuh secara bertahap sesuai usia, kebutuhan, dan kemampuan mereka (Petunjuk Umum Kateketik, artikel 111-112, 171). Pada tingkat pertama (Kelas 1, 2, 3), pembelajaran berfokus Allah Sang Pencipta, yang cinta kasih-Nya nyata bagi peserta didik melalui orangtua, keluarga, orang-orang di sekitar, dan alam ciptaan-Nya. Pada tingkat kedua (Kelas 4, 5, 6), pembelajaran berfokus Pribadi Yesus Kristus, yang memberikan pengajaran dan keteladanan bagi peserta didik dalam hal memilih keutamaan-keutamaan hidup, membentuk karakter-karakter diri, serta mencintai masyarakat, bangsa, dan tanah air. Pada tingkat ketiga (Kelas 7, 8, 9), fokus pembelajaran adalah daya dan peran Roh Kudus di dalam kehidupan umat beriman Katolik, baik sebagai anggota Gereja maupun sebagai anggota masyarakat. Pada tingkat keempat (Kelas 10, 11, 12), pembelajaran berfokus Gereja dan tugas perutusannya di tengah-tengah masyarakat dunia.
Fokus Pembelajaran di SD
1. Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Tingkat 1 (Kelas 1-3) Fokus pembelajaran PA Katolik Kelas 1, 2, dan 3 adalah pengenalan tentang Allah Pencipta yang mencintai semua ciptaan-Nya, termasuk diri peserta didik, juga tentang sikap dan perbuatan yang menjadi ungkapan syukur kepada-Nya. Di Kelas 1, peserta didik belajar mengenal Allah yang menunjukkan cinta-Nya kepada peserta didik melalui orangtua dan anggota-anggota keluarga. Sikap santun kepada orangtua dan anggota-anggota keluarga merupakan tanda syukur atas kasih sayang mereka dan Allah. Di Kelas 2, peserta didik mengenal Allah yang selalu membimbing umat-Nya dengan Sabda-Nya, yang disampaikan melalui nabi, yakni orang pilihan dari antara umat itu sendiri. Peserta didik pun belajar menjadi nabi bagi sesama di sekitarnya. Di Kelas 3, peserta didik belajar mengenal Allah melalui alam ciptaan-Nya serta belajar memelihara alam sekitar sebagai tanda syukur kepada Allah Pencipta.
Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Kelas 1
Cinta Allah melalui orangtua dan keluarga; Berbicara sopan dan berlaku santun merupakan ungkapan syukur/terima kasih atas cinta Allah, orangtua, dan keluarga Aspek: keimanan, akhlak mulia, tradisi Gereja Katolik
Pengalaman Belajar:
▪ Peserta didik menyimak gambaran sederhana mengenai Keluarga Kudus dari Nazaret:
Yusuf, Maria, dan Yesus. Gambaran tentang Keluarga Kudus mencakup, antara lain:
peran Yusuf menjaga Maria dan Yesus, peran Maria sebagai ibu Yesus, kegiatan beribadah bersama yang mereka lakukan di Bait Allah, dan ketaatan Yesus kepada kedua orangtua-Nya. Peserta didik bercerita mengenai anggota-anggota keluarganya (nama, gender, ciri fisik, kegemaran, peran) dan kegiatan-kegiatan bersama keluarga, termasuk kegiatan-kegiatan rohaniah, seperti: berdoa bersama, mengikuti ibadat/perayaan sakramen di lingkungan dan/atau di paroki.
▪ Peserta didik mempelajari makna Sakramen Baptis sebagai inisiasi orang beriman menjadi anggota keluarga Allah, dan ajaran Yesus Kristus untuk menyapa Allah “Bapa”
(doa Bapa Kami; Mat. 6:5-15). Peserta didik membiasakan diri menyapa Allah sebagai Bapa dengan berdoa/bernyanyi “Bapa Kami” bersama keluarga di rumah dan teman-teman di sekolah.
▪ Peserta didik mengidentifikasi wujud cinta Allah Bapa melalui orangtua dan keluarganya di dalam berbagai peristiwa dan kegiatan bersama keluarga. Peserta didik mengungkapkan sikap dan tindakan yang ia dapat lakukan untuk menanggapi cinta Allah Bapa melalui orangtua dan keluarganya.
▪ Peserta didik membaca kisah santo/santa yang memberikan keteladanan sikap santun dan perbuatan baik kepada orangtua dan keluarga, misalnya: Santo Dominic Savio, Santa Maria Goretti, Santo Tarsisius, dan Santa Theresa dari Lisieux.
▪ Peserta didik membiasakan diri berbicara dan bersikap santun, serta berbuat baik kepada orangtua dan anggota-anggota keluarganya sebagai ungkapan terima kasih atas cinta mereka dan cinta Allah Bapa kepada dirinya. Contoh: menggunakan kata “tolong”
(please) ketika meminta sesuatu; mengucapkan “terima kasih” setelah menerima sesuatu; meminta maaf apabila melakukan kesalahan; membantu orangtua membersihkan rumah; menolong adik/kakak dan anggota keluarga lainnya;
memperhatikan anggota keluarga yang sedang sakit.
Sasaran Kompetensi yang diharapkan
• Peserta didik memiliki keyakinan bahwa Allah Bapa mencintainya melalui orangtua dan anggota-anggota keluarganya.
• Peserta didik mampu bersikap santun dan melakukan perbuatan-perbuatan baik di rumah sebagai ungkapan syukur kepada Allah Bapa yang mencintainya.
Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Kelas 2
Cinta Allah melalui para nabi yang menyampaikan firman-firman-Nya; Dasa Firman sebagai dasar untuk berelasi dengan Allah dan sesama
Aspek: Kitab Suci, akhlak mulia Pengalaman Belajar:
▪ Peserta didik mempelajari kisah-kisah para nabi yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk membimbing umat-Nya (Israel) agar selalu setia beriman kepada Allah dan berelasi harmonis dengan sesama, antara lain: Nuh, Yesaya, Yeremia, Daniel, dan Yunus.
Secara khusus, peserta didik mendalami kisah Nabi Musa dan Dasa Firman (Kel. 20:2-17) sebagai panduan hidup sehari-hari bagi umat Allah untuk berelasi dengan Allah dan sesama.
▪ Peserta didik membuat inventarisasi berbagai sikap dan perbuatan yang ia dapat lakukan sebagai penerapan Dasa Firman di dalam hidup sehari-hari.
▪ Peserta didik mengidentifikasi figur-figur “nabi” di sekitarnya (di dalam keluarga, lingkungan sekitar, komunitas beragama, dan sekolah), serta bimbingan yang mereka berikan yang sesuai dengan isi Dasa Firman.
▪ Peserta didik mengungkapkan pengalaman mengikuti bimbingan figur-figur nabi tersebut menerapkan sikap dan perbuatan sesuai Dasa Firman.
▪ Peserta didik mengekspresikan rasa terima kasih kepada figur-figur nabi yang telah membimbingnya untuk hidup sesuai Dasa Firman.
▪ Peserta didik melatih diri menjadi “nabi” bagi orang-orang di sekitarnya dengan berbagai sikap dan perbuatan sederhana di dalam hidupnya sehari-hari, seperti:
40 | F o k u s P e m b e l a j a r a n P e n d i d i k a n A g a m a K a t o l i k
mengajak keluarga berdoa sebelum makan dan sebelum tidur, membaca firman Allah, dan beribadat bersama; mengingatkan teman untuk bersikap jujur.
Sasaran Kompetensi yang diharapkan
• Peserta didik menunjukkan ketaatan mengikuti bimbingan orang-orang di sekitarnya dan ketaatan pada berbagai peraturan di dalam hidup sehari-hari.
• Peserta didik memiliki karakter-karakter “nabi” di dalam dirinya, yakni penolong orang-orang di sekitarnya untuk berelasi harmonis dengan Allah dan sesama.
Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Kelas 3
Cinta Allah melalui alam ciptaan dan isinya; Tindakan merawat dan memelihara alam sekitar sebagai ungkapan syukur kepada Allah Pencipta
Aspek: Kitab Suci, tradisi Gereja Katolik, akhlak mulia Pengalaman Belajar:
▪ Peserta didik mempelajari kisah penciptaan (Kej. 1) untuk menemukan maknanya, antara lain: Allah─yang mencintai manusia─menyediakan alam yang tertata baik sebagai tempat hidup manusia; memberikan kawan bagi manusia (burung di udara, ikan di laut, hewan di darat, dan sesama manusia); mengajak manusia ikut menata alam ciptaan dan memanfaatkannya dengan kebebasan yang bertanggung jawab.
▪ Peserta didik mempelajari pula kisah Nabi Nuh (Kej. 6-8; contoh nabi yang dibahas di Kelas 2), yang memuat memuat pesan tentang relasi manusia dan seluruh ciptaan.
▪ Peserta didik mengeksplorasi alam di sekitarnya (di sekolah dan/atau di rumah) untuk mengumpulkan data sederhana tentang keanekaragaman unsur ciptaan dan relas-relasi mutual dan harmonis antar unsur ciptaan. Contoh: bunga-bunga menyediakan makanan bagi serangga, serangga membantu bunga memindahkan serbuk-serbuknya ke bunga-bunga lain; berbagai hewan menjadi sahabat manusia bahkan menjadi penolong dan pelindung bagi manusia, manusia memberi makan dan merawat mereka.
▪ Peserta didik mempelajari pesan Paus Fransiskus tentang “bumi sebagai rumah kita bersama”; mengidentifikasi berbagai sikap dan perilaku merusak bumi yang ditunjukkan oleh orang-orang saat ini.
▪ Peserta didik mempelajari kisah Santo Fransiskus Asisi untuk menemukan keteladanan
“menjadi saudara” bagi alam dan sesama ciptaan Allah dengan sikap dan perilaku merawat bumi/alam sekitar.
▪ Peserta didik menjumpai orang-orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana dalam rangka memelihara lingkungan/alam sekitar; berdialog dengan mereka tentang motivasi mereka, kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi, dan manfaat memelihara lingkungan/alam bagi diri mereka, bagi orang lain, dan bagi “bumi sebagai rumah bersama”.
▪ Peserta didik berlatih melakukan kegiatan/gerakan memelihara alam sekitar di rumah dan di sekolah; merefleksikan pengalamannya dari latihan tersebut untuk menemukan makna memelihara alam bagi dirinya.
Sasaran Kompetensi yang diharapkan
• Peserta didik memiliki keyakinan bahwa Allah Pencipta mencintainya melalui alam beserta isinya.
• Peserta menunjukkan sikap-sikap menghargai dan memelihara alam sekitar sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah Pencipta.
2. Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Tingkat 2 (Kelas 4-6) Fokus pembelajaran PA Katolik Kelas 4, 5, dan 6 adalah pengenalan tentang Yesus Kristus sebagai Guru dan Sahabat bagi orang-orang beriman kristiani, juga tentang berbagai ajaran dan keteladanan hidup-Nya. Pengenalan tentang Yesus Kristus diperoleh melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan menggembirakan, yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mempelajari sumber-sumber ajaran imannya, mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, berefleksi, dan melatih diri menerapkan isi ajaran imannya di dalam kehidupannya sehari-hari. Pada level ini, apabila ada fasilitas yang mendukung, peserta didik dapat memanfaatkan media digital berbasis komputer dan/atau internet sebagai media belajarnya. Selain untuk mencari informasi, media digital dapat digunakan untuk ruang untuk menampilkan laporan hasil belajar dan hasil refleksi, misalnya jurnal berbentuk video blog (vlog); presentasi daring dengan YouTube; atau portofolio sederhana dalam Instagram. Penggunaan media digital melatih siswa untuk memilah dan memilih konten yang layak, serta menanggapi respon dan komentar publik secara tepat. Dengan kata lain, peserta didik menjadi cerdas bermedia. Pembekalan yang memadai sangat diperlukan sebelum menggunakan media-media tersebut.
Fokus Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik Kelas 4
Yesus Kristus Sang Guru dan keutamaan-keutamaan yang diajarkan-Nya; Sakramen-Sakramen Inisiasi (Baptis, Ekaristi, Penguatan) dan Sakramen-Sakramen Tobat
Aspek: Kitab Suci, ibadah dan peribadatan, akhlak mulia Pengalaman Belajar:
▪ Peserta didik mengeksplorasi berbagai peristiwa, ajaran, sikap, dan perbuatan Yesus Kristus untuk menemukan keutamaan-keutamaan yang diajarkan-Nya dan cara-cara-Nya mengajarkan keutamaan-keutamaan tersebut. Keutamaan-keutamaan itu, antara lain: hidup dalam persatuan dengan Allah; ketaatan kepada Allah; kesetiaan mengikuti kehendak-Nya; kerelaan berkurban bagi Allah dan sesama; syukur atas anugerah-anugerah Allah; hidup bersaudara, rukun, dan damai dengan sesama dan semesta alam.
Teks-teks Injil-nya antara lain: Yoh. 17:1-26; Mat. 4:1-11; Mat. 26:14-46; Luk. 7:1-10;
11-17; Luk. 10:25-37. Yesus menceritakan kisah-kisah perumpamaan menggunakan metafora unsur-unsur alam, seperti: benih (Mrk. 4:1-29), biji sesawi (Mrk. 4:330-32), pohon ara (Luk. 21:25-33), kebun anggur (Mrk. 12:1-11), dan air hidup (Yoh. 4:1-26;
7:37-44).
▪ Peserta didik mempelajari Sakramen-Sakramen Inisiasi (Baptis, Ekaristi, dan Penguatan) dan Sakramen Tobat untuk menemukan keutamaan-keutamaan yang diajarkan Yesus Kristus yang terus dihidupkan dan dirayakan oleh Gereja.
▪ Peserta didik mengelaborasi penerapan keutamaan-keutamaan yang Yesus Kristus ajarkan: relevansi dan urgensinya bagi diri peserta didik, juga bagi umat beriman dan masyarakat masa kini; tantangan-tantangan untuk menerapkan keutamaan-keutamaan tersebut; dan upaya-upaya untuk menghadapi berbagai tantangan.
▪ Peserta didik menerapkan keutamaan-keutamaan yang diajarkan Yesus Kristus di dalam hidupnya sehari-hari di rumah, di sekolah, di lingkungan sekitar. Peserta didik merefleksikan pengalamannya dan menyusun hasil refleksinya dalam sebuah bentuk portofolio sederhana, misalnya: bentuk scrap book; atau bentuk portofolio menggunakan media digital.
Sasaran Kompetensi yang diharapkan
• Peserta didik memiliki keutamaan-keutamaan yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus Kristus.
• Peserta didik memiliki kebiasaan merayakan Sakramen-Sakramen Inisiasi dan Sakaramen Tobat sebagai salah satu upaya mewujudkan keutamaan-keutamaan yang