BAB II LANDASAN TEORI
C. Foto Prewedding pada Calon Pengantin
2. Foto Prewedding
a. Pengertian Foto Prewedding
Kata foto prewedding berasal dari bahasa Inggris yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti foto, sebelum pernikahan. Akan tetapi hingga saat ini menganggap bahwa foto ini berarti foto disuatu lokasi, dengan konsep serta pakaian yang memang dipersiapkan.
Maraknya kegiatan foto prewedding ini tidak hanya melibatkan calon pengantin namun juga melibatkan fotografer sebagai fasilisator, baik dari peralatan, ide atau konsep yang kemudian hasil dari foto prewedding akan ditampilkan dalam resepsi pernikahan.36
Foto prewedding sudah menjadi life style (gaya hidup) bagi pasangan-pasangan yang akan menikah. Foto hasil prewedding itu digunakan untuk berbagai keperluan pesta pernikahan. Seperti undangan souvenir, hingga sampai dekorasi ruangan.37
Sesi foto prewedding yang dilakukan saat ini sering menampakkan keintiman yang sudah jelas diharamkan untuk kedua calon pengantin, karena saling melihat, menatap dan bersentuhan adalah perbuatan-perbuatan yang mendekati zina.
Foto prewedding sudah menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan calon pengantin sebelum pernikahan. Bahkan hingga saat ini foto prewedding tidak dipermasalahkan.
36Agustina Dwi Cahyati, “Foto Prewedding Dalam Pandangan Hukum Islam” (Metro:
IAIN Metro, 2018),69.
37Adindha Putri Arifianing Kasih, “Pandangan Masyarakat Terhadap Foto Prewedding Dalam Undangan Pernikahan Perspektif Hukum Islam”(Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2019), 5.
b. Tujuan dan Kegunaan Foto Prewedding
Sesi foto prewedding merupakan aktivitas pengambilan gambar yang dilakukan oleh seorang fotografer dan kemudian diserahkan kepada kline dalam wujud file foto, album dan juga frame. Disini merupakan pendapat dari sudut pandang seseorang calon pengantin terhadap foto prewedding .
Sebagaimana telah dijelaskan di atas calon pengantin yaitu seorang laki-laki dan perempuan yang akan melakukan pernikahan dikemudian hari, untuk mengisi waktu kekosongan. Calon pengantin melakukan foto prewedding dengan tujuan dan kegunaan sebagai berikut:
a. Sebagai Media Kenangan
Memberikan kenangan yang sangat berharga bagi calon pengantin, keluarga, dan teman-temannya. Dengan adanya foto-foto tersebut maka pasangan pengantin dan siapapun juga dapat membuka kembali album bersejarah tersebut dan mengenang peristiwa sakral dan membahagiakan dalam hidup tersebut.
b. Sebagai Referensi
Foto prewedding dapat menjadi referensi bagi keluarga atau teman yang hendak melangsungkan pernikahan. Bagi yang akan merencanakan pernikahan dan masih bingung memikirkan konsep pernikahan, model baju pernikahan dan sebagainya, maka foto-foto
tersebut dapat memberikan ide atau konsep yang sama seperti yang mereka lihat di dalam foto prewedding ide dari foto-foto tersebut.38 c. Jenis-jenis Foto Prewedding
1. Tempat Pengambilan FotoPrewedding
Pengambilan foto prewedding biasanya dilakukan 1-2 bulan sebelum hari pernikahan.Tempat pengambilan foto prewedding yang bisa dipilih calon pengantin yaitu outdoor atau indoor. Outdoor, calon pengantin bisa memilih tempat-tempat eksotis yang lokasinya dapat menghasilkan gambar yang unik seperti pantai, taman, puncak, atau hutan.39Indoor, foto prewedding ini dilakukan di dalam studio foto biasanya dengan latar belakang kain abstrak atau walpapper dinding.40
2. Pose Saat Pengambilan Foto Prewedding
Pose diartikan sebagai suatu sikap, gaya atau cara yang diambil atau dilakukan oleh seorang model (duduk atau berdiri) ketika sedang melakukan pemoteratan. Pada bagian prewedding, konsep yang umumnya dimunculkan adalah “gaya sikap badan (pose) pasangan laki-laki dan perempuan dalam sebuah bagian foto”.Konsep ini digambarkan dalam momen-momen romantis yang direkayasa memulai kosep yang kreatif.41
Ada beberapa contoh pose saat pemotretan prewedding yaitu:
38Andik Hermawan, “Foto Prewedding Dalam Prespektif Santri Pondok Pesantren Al-ishlah Bandar Kidul Mojoroto Kota Kediri” (STAIN Kediri), 101.
39 Liza Zakaria, Fitri Liza Aryamega, Fekum Ariesbowo W, Let‟s Get Married, cetakan ke-1, ( Jakarta: Penebar Plus‟, 2007), 62.
40Ibid, 111.
41Agustina Dwi Cahyati, “Foto Prewedding Dalam Pandangan Hukum Islam” (Metro:
IAIN Metro, 2018),79.
1.) Pose Foto Prewedding di Taman42
Dalam pengambilan foto prewedding biasanya calon pengantin memanfaatkan taman sebagai objek. Mereka berpose dengan mengespresikan pandangan mata antara calon pengantin laki-laki dan perempuan. Selain itu mereka juga berpose seperti layaknya pangeran dan puteri yang sedang jatuh cinta dengan mengekpresikan pose foto yang mesra seperti berpegangan tangan ataupun berpelukan untuk mendapatkan hasil pose romantis layaknya pengantin yang penuh bahagia.
2.) Pose Foto Prewedding di Pantai
Pantai tidak hanya dijadikan sebagai wisata oleh wisatawan yang berburu keindahan alam, pantai memang sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tempat liburan bersama keluarga maupun rekan kerja. Namun pantai juga dapat dijadikan objek foto prewedding karena keindahannya yang mempesona terlihat dari keindahan air lautnya, pesisir pantai, serta keindahan langit melengkapi suasana yang santai, objek ini dijadikan untuk menunjang pose romantis dengan pasangan namun terkesan elegan dan casual.
42Dewi Sinta, Rana, Aditya, Martin.,Trik Foto Prewedding, (Jakarta: PT.GRASINDO), 14.
3.) Pose Foto Prewedding di Lapangan43
Pemotretan akan berlangsung disebuah lapangan yang terdapat rerumputan. Rerumputan tersebut dijadikan alas oleh mereka dengan berpose duduk saling bersandar antara punggung laki-laki dan perempuan dan pandangan mata searah seakan-akan mereka tidak sabar untuk hidup bersama, foto prewedding ini dilakukan pada siang hari.
Prewedding sebenarnya hanya masalah budaya yang ingin mengabadikan moment indah sebelum pernikahan.Sehingga menjadi kebiasaan melakukan foto sebelum pernikahan berlangsung.Ada yang berupa foto, video, buku dan sebagainya. Maraknya kegiatan fotoprewedding ini melibatkan fotografer sebagai fasilitator, baik dari peralatan, idea tau konsep, dan juga bagaimana display yang akan ditampilkan dalam resepsi pernikahan.
3. Dari Segi Pakaian
Dalam melakukan foto prewedding ada beberapa hal yang harus dipersiapkan termasuk dalam mengenakan pakaian ketika sessi pemotretan prewedding berlangsung, pakaian yang biasa dikenakan anatara lain :
1.) Gaya Kasual
Lawan dari gaya glamor yang mewah adalah konsep kasual. Berbusana dengan konsep kasual seperti
43Erika Fredina, Arief Agung, Adiel Yuwono, “Perancangan Fotografi Pre-Wedding Gaya Dekontruksi” (Surabaya: Universitas Kristen Petra), 6.
mengenakan kemeja dan celana dasar untuk laki-laki, dan mengenakan gaun simple untuk perempuan.
2.) Gaya Glamor
Konsep pakaian yang digunakan oleh pasangan yang akan melakukan sesi pemotretan prewedding yaitu untuk laki-laki mengenakan pakaian seperti jas dan juga celana dasar sementara untuk perempuan wanita mengenakan gaun yang mewah.
3.) Gaya Tradisional
Salah satu konsep pakaian yang digunakan calon pengantin ketika melakukan foto prewedding yaitu mengenakan pakaian adat, biasanya mereka mengenakan pakaian yang sesuai dengan adat mereka sendiri bahkan ada juga yang sengaja tidak sesuai dengan adatnya.Seperti mengenakan pakaian adat Jawa, Lampung, Sunda, Bali dan lain-lain.
4.) Gaya mengenakan pakaian dengan menunjukkan profesi
Adapun dalam sesi pemotretan prewedding calon pengantin juga biasanya mengenakan pakaian yang menunjukan profesinya masing-masing (pekerjaannya) misalnya mengenakan pakaian jas putih yang identik menunjukan bahwa orang tersebut adalah dokter,
mengenakan pakaian seragam polisi/polwan, mengenakan pakian seragam guru, mengenakan pakaian yang menunjukan bahwa dirinya TNI dan lain-lain.44
Pengambilan foto preweddingpakaian yang digunakan oleh pasangan calon pengantin laki-laki dan perempuan disesuaikan dengan tema yang mereka inginkan.
d. Faktor-faktor Calon Pengantin Melakukan Foto Prewedding Faktor adalah hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu.45Terdapat dua faktor besar yang penyebab terjadinya calon pengantin melakukan foto prewedding, yaitu meliputi faktor Internal dan faktor Eksternal. Faktor internal adalah faktor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga kelahiran.Faktor internal ialah faktor yang datang dari diri individu tanpa pengaruh orang lain. sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri individu, meliputi pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan pengaruh perkembangan zaman.46
1. Faktor Internal
a. Sebagai sarana informasi kepada masyarakat luas, dengan adanya komunikasi seorang dapat menyampaikan informasi kepada orang
44Agustina Dwi Cahyati, “Foto Prewedding Dalam Pandangan Hukum Islam” (Metro:
IAIN Metro, 2018),73-74.
45http: //kbbi.web.id/faktor diakses 19 September 2020 pukul: 20.39
46Abu Azmadi, Psikologi Umum, Cetakan ke-3 (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2003), 198.
lain. Namun yang melatar belakangi hal tersebut ialah dengan cara calon pengantin melakukan foto prewedding. Sarana informasi juga bertujuan agar tidak menimbulkan fitnah, memberitahukan kepada masyarakat luas bahwasannya akan dilaksankannya pernikahan.47
b. Mengabadikan dan memanfaatkan momen pernikahan, menurut Abraham Maslow menusia adalah binatang yang berkeinginan, yang dalam hal ini berarti selama seseorang masih hidup maka kebutuhan dalam kehidupan seseorang akan terus muncul.
Kebutuhan inilah yang Malow golongkan ke dalam kebutuhan-kebutuhan penghargaan (Estreem Needs) sebagai motif atau pendorong seseorang melakukan foto prewedding. Sebagaimana yang penulis pahami dari teori ini, bahwa kecerendungan manusia lebih senang untuk dipuji dan diberi penghargaan atas apa yang ia perbuat.48
c. Pengalaman ialah sesuatu yang dimiliki oleh setiap orang atas apa yang ia pernah lihat, dengar dan rasakan. Setiap orang pasti memiliki pengalaman yang berbeda satu dengan yang lain terkait tentang foto prewedding. Terkadang seorang pernah melihat langsung sesi foto prewedding atau melihat hasil foto preweddingyang sudah jadi dalam bentuk undangan.
47Sharif Hidayah, “Foto Prewedding Dalam Perspektif Ulama Palangkaraya” (Palangka Raya: IAIN Palangka Raya), Vol.8, No. 1 Juni 2018, 101
48Andik Hermawan, “Foto Prewedding Dalam Prespektif Santri Pondok Pesantren Al-ishlah Bandar Kidul Mojoroto Kota Kediri,” (STAIN Kediri), 111.
pengalaman tersebutlah yang dapat mempengaruhi pemikiran mereka yang kemudian dijadikan referensi oleh calon pengantin ketika ia akan melakukan foto prewedding.49
d. Kepribadian dapat diartikan bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu lainnya, hal tersebut juga berpengaruh terhadap foto prewedding. Calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan tentunya mereka membuat moment-moment tersebut menjadi lebih indah bahkan berkesan untuk individu lainnya, salah satunya dengan cara melakukan pemotretan foto prewedding sebelum pernikahan.50
2. Faktor Eksternal
a.) Trend bisa menjadi segalanya pada zaman modern saat ini. Mulai dari pakaian, tempat wisata, bahkan gaya bahasa pun bisa dijadikan trend. Dimana trend tersebut sudah dikategorikan sesuatu yang harus diikuti oleh masyarakat agar tidak ketinggalan zaman. Sama halnya dengan foto prewedding, sebelum akad nikah calon pengantin melakukan foto prewedding. Era modern ini foto prewedding semakin berkembang, seakan-akan calon pengantin yang akan melakukan pernikahan dianggap ketinggalan zaman jika tidak melakukan foto prewedding sebelum akad nikah.51
49Ibid.
50Sunaryo, Psikologi, Cetakan ke-1, (Jakarta: EGC, 2004), 8.
51Agusina Dwi Cahyati, “Foto Prewedding Dalam Pandangan Hukum Islam” (Metro:
IAIN Metro, 2018), 83.
b.) Lingkungan menyangkut segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik fisik, biologis maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap perilaku individu karena lingkungan merupakan lahan untuk perkembangan individu. Begitupun dengan foto prewedding yang semakin berkembang sehingga calon pengantinterpengaruhi untuk melakukan foto prewedding sebelum melakukan pernikahan.
c.) Pendidikan, secara luas pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat. Proses dalam pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku indivdu maupun kelompok. Tingkat pendidikan seseorang berbeda-beda secara pengetahuan, dengan demikian bisa dilihat bahwa foto preewedding mereka tentunya ada perbedaan baik dari segi pakaian maupun lokasi.
d.) Agama, sebagai suatu keyakinan hidup yang masuk ke dalam kontruksi kepribadian seseorang sangat berpengaruh dalam cara berpikir, bersikap, bereaksi, dan berperilaku individu. Seseorang yang mengerti dan rajin melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan, akan berperilaku dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya. Adapun seseorang yang memiliki pengetahuan tentang agama yang luas, tentunya sangat berpengaruh dalam berpakaian ketika melakukan foto prewedding, selain itu mereka juga bisa menentukan bagaimana
cara berpose foto prewedding sesuai dengan syariaat Islam begitupun sebaiknya.
e.) Ekonomi, salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang adalah ingkungan sosial. Lingkungan sosial dapat menyangkut sosial budaya dan sosial ekonomi. Hal ini akan berpengaruh kepada seseorang yang akan melakukan foto prewedding, keluarga yang status sosial ekonominya berkecukupan mereka akan melakukan foto prewedding dengan kemewahan. Berbeda dengan keluarga yang status sosial ekomoninya tidak berkecukupan mereka akan melakukan foto prewedding dengan kesederhanaan sesuai kemampuannya.
f.) Kebudayaan, diartikan sebagai kesenian adat-istiadat atau peradaban manusia dengan sukunya, dimana adat-istiadat menjadi sebuah kebiasaan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut.
Salah satunya tradisi prewedding yang menjadi pengaruh besar bagi masyarakat, karena hampir setiap calon pengantin sebelum akad nikah mereka melakukan foto prewedding.52
Seseorang tidak akan melakukan suatu perbuatan tanpa adanya faktor internal maupun eksternal. Begitupun dengan foto prewedding.Demikianlah uraian diatas dari beberapa faktor internal dan eksternal yang menyebabkan calon pengantin untuk melakukan foto prewedding.
52Sunaryo, Psikologi, Cetakan ke-1, (Jakarta: EGC, 2004), 11-12.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Sifat Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Reserch) merupakan suatu penelitian yang dilakukan ditempat tertentu yang dipilih untuk dijadikan lokasi guna penyelidikan gejala objek yang terjadi.Penelitian lapangan ini pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realis tentang apa yang terjadi pada suatu tempat di tengah-tengah kehidupan masyarakat.53 Penelitian yang bersifat kualitatif bermaksud untuk memiliki karakteristik bahwa datanya dinyatakan dalam keadaan keajaran sebagaimana adanya (natural setting) dengan tidak dirubah dalam bentuk simbol atau bilangan, sedangkan perkataan penelitian pada dasarnya berarti rangkaian kegiatan atau proses pengungkapan rahasia sesuatu yang belum diketahui dengan menggunakan cara bekerja atau metode sistematik, terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.54
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian lapangan merupakan penelitian yang tunjukkan langsung kelokasi peneliti yang akan diteliti, yaitu dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini yang akan diteliti adalah Faktor-faktor Calon Pengantin Melakukan Foto prewedding
53Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 80.
54Kasiram, Metedologi kuantitatif-kualitatif (Malang: Uin Maliki Press,2010), 175.
Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Kecamatan Simpang Pematang Kabupaten Mesuji)
2. Sifat Penelitian
Sifat yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.
Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang terdiri atas satu variabel atau lebih variabel.55Penelitian ini bertujuan untuk membuat pencandraan secara sistematis afaktual, dan akurat mengenaik fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.56
Maka dalam penelitian ini peneliti mencari dan mengumpulkan informasi serta data-data yang berkaitan dengan subjek dan objek penelitian yang berisi tentang Faktor-faktor Calon Pengantin Melakukan Foto prewedding Dalam Perspektif Hukum Islam di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji.
B. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan beberapa sumber data, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpulan data.57
Adapun yang terlibat secara langsung sebagai sumber data primer disini anatara lain digunakan dengan metode wawancara secara langsung,
55Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), 11.
56Ibid, 75.
57Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen (Bandung: Alfabeta, 2013), 376.
yaitu: calon pengantin, tokoh agama, tokoh masyarakat, orangtua dan pemuda masyarakat di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber penunjang yang berkaitan dapat berupa buku-buku tentang subjek materi yang ditulis orang lain, dokumen-dokumen yang ditulis dalam laporan orang lain.58
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami oleh peneliti bahwa, sumber data sekunder juga diharapkan sebagai sumber data penunjang peneliti dalam mengungkap data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.Data tersebut berupa dokumentasi, hasil penelitian buku-buku yang sudah relevansi dengan penelitian.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian.Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Observasi adalah suatu proses untuk melihat, mengamati dan mencermati serta merekam prilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu.Observasi merupakan suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis. Observasi dapat dilakukan dengan cara ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang
58Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, 6.
diobservasi ataupun tidak. Metode observasi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu observasi partisipatif dan observasi non partisipatif.59
Penelitian ini mengguanakan observasi non partisipatif yaitu observer tidak melibatkan diri kedalam penelitian hanya pengamatan dilakukan secara sepintas pada saat tertentu kegiatan penelitiannya.
Pengamatan tidak terlibat, ini hanya mendapatkan gambaran obyeknya sejauh penglihatan dan terlepaspada saat tertentu tersebut, tidak dapat merasakan keadaan sesungguhnya terjadi pada observernya. Metode ini penulis terapkan sebagai metode bantu untuk mendapatkan kejelasan dan memberikan keyakinan tentang data yang perlu untuk dilaporkan.
2. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui percakapan dan berhadapan mukadengan orang memberikan keterangan kepada peneliti.60 Dalam penelitian ini metode wawancara yang digunakan adalah wawancara semiterstruktur dan tidak terstruktur yaitu dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada narasumber untuk menggali data tentang foto prewedding dari calon pengantin, pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat dan orang tua calon pengantin. Peneliti akan mewawancarai sebagaimana pandangan masyarakat tentang foto prewedding yang terjadi di Desa Simpang Peamatang Kabupaten Mesuji.
59Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), 145.
60Mardalis, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 64
Metode wawancara secara langsung tersebut, peneliti akan meneliti yaitu, dari calon pengantin, peneliti akan mencari tahu faktor apa saja yang mempengaruhi calon pengantin melakukan foto prewedding. Dari orang tua peneliti akan mencari tau apakah orangtua mendukung anak melakukan foto prewedding dan bagaimana orangtua mengarahkan anak pada saat pemotretan foto prewedding. Kemudian kepada pemuda, peneliti mencari tahu apakah dengan adanya foto prewedding yang dilakukan di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji tidak meresahkan masyarakat dan bagaimana saran yang diberikan kepada calon pengantin yang akan melakukan foto prewedding. Selanjutnya tokoh agama, peneliti akan mencari tahu bagaimana tanggapan tokoh agama terhadap foto prewedding yang terjadi di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji, apakah tokoh agama mengetahui hukum melakukan foto prwedding dan peneliti mencari tahu saran apa yang akan diberikan tokoh agama kepada calon pengantin yang akan melakukan foto prewedding. Dari tokoh masyarakat, peneliti akan mencari tahu bagaimana tanggapan tokoh masyarakat terhadap tradisi foto prewedding yang semakin berkembang di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji.
3. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi adalah tehnik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data responden.61Metode dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk
61 Abdurarahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skrpsi, 105.
mengumpulkan data yang bersumber dari buku, catatan harian, agenda dan sebagainya.
Dokumentasi ini digunakan untuk mencari data dan sumber yang berkaitan dengan penelitian Faktor-faktor Calon Pengantin Melakukan Foto prewedding Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji).
D. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.
Dalam penelitian ini yakni Faktor-faktor Calon Pengantin Melakukan Foto prewedding Dalam Perspektif Hukum Islam di Desa Simpang Pematang Kabupaten Mesuji, data diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan tehnik analisis data bermacam-macam (Triangulasi) dimana dalam analisis data dalam penelitian ini.
1. Reduksi Data
Mereduksi data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu, maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak.
Peneliti harus segera melakukan analisis data melalui reduksi data.
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mecarinya jika diperlukan.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya.
Sehingga dengan menyajikan data, memudahkan peneliti untuk memahami apa yang telah terjadi, kemudian merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Berdasarkan pemahaman sajian data dapat berupa berbagai jenis matriks, gambar/skema, jaringan kerja kaitan kegiatan dan juga tabel.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Sejak awal kegiatan dan pengumpulan data harus sudah memahami arti berbagai hal yang ditemui dengan muli pencatatan peraturan pola, pernyataan, kofigurasi yang mungkin, arahan sebab akibat dan berbagai proposisi.
Langkah berikutnya dalam menganalisis data adalah dengan menarik kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang telah dinyatakan sifatnya masih sementara, dan akan berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi jika kesimpulan yang dinyatakan diawal sudah didukung oleh teori-teori yang kuat, valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.62
Langkah berikutnya dalam menganalisis data adalah dengan menarik kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang telah dinyatakan sifatnya masih sementara, dan akan berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi jika kesimpulan yang dinyatakan diawal sudah didukung oleh teori-teori yang kuat, valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.62