• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI

2.5 Analisa QoS (Quality of Services)

2.5.4 Fungsi QoS (Quality of Service)

Fungsi-fungsi QoS sebagai berikut[10] :

1. Pengkelasan paket untuk menyediakan pelayanan yang berbeda-beda untuk kelas paket yang berbeda-beda.

2. Penanganan kongesti untuk memenuhi dan menangani kebutuhan layanan yang berbeda-beda.

3. Pengendalian lalu lintas paket untuk membatasi dan mengendalikan pengiriman paket-paket data.

4. Pensinyalan untuk mengendalikan fungsi perangkat yang mendukung komunikasi di dalam jaringan IP.

BAB III

RANCANGAN PENELITIAN

3.1 Proses Simulasi

Pada gambar 3.1 proses simulasi jaringan yang digunakan dalam topologi ring dengan routing protocol statis dan dinamis.

Gambar 3. 1 Proses Simulasi

Pada diagram blok perancangan sistem diatas, data yang akan dikirim berupa data random dengan besaran data 500byte, 1000byte, dan 1875byte. Kemudian dilakukan konfigurasi routing untuk mengirimkan pesan atau packet, konfigurasi routing dilakukan dengan routing statis dan routing dinamis. Selanjutnya adalah, data yang diterima. Data yang diterima dari parameter pengujian yaitu delay, troughput, dan packet loss.

17

Tabel 3. 1 Parameter Simulasi

Parameters Value

Routing Protocol Statis dan RIP

Tipe Jaringan Campus

jenis kabel straight trough dan serial DTE

Pada simulasi jaringan sudah ditentukan parameter-parameter jaringan. Parameter-parameter jaringan akan digunakan secara terus menerus pada setiap pengujian yang dilakukan terdapat pada tabel 3.1.

3.2

Implementasi topologi

Jaringan yang akan buat pada perancangan ini adalah jaringan LAN yang menggunakan topologi ring sebagai koneksi pada setiap perangkat, masing – masing komputer terhubung dengan komputer selanjutnya, pesan berjalan satu arah sepanjang cincin dan pengirimannya bergantian, masing-masing komputer melakukan transmisi disetiap pesan dari komputer sebelumnya dan meneruskan ke komputer berikutnya. Pada gambar 3.2 adalah implementasi topologi ring dengan routing statis dan dinamis, berikut adalah tahapan pembuatan model jaringan :

1.

Gambar 3. 2 Toolsbar Router

Gambar toolsbar router diatas adalah untuk memilih router mana yang akan dipilih, pada model jaringan ini menggunakan 5 buah router 2811. Kemudian disambungkan dengan kabel serial-DTE yang ada pada gambar 3.7.

2.

Gambar 3. 3 Toolsbar Switch

Pilih menu switch yang disediakan toolsbar diatas, yang akan digunakan dalam model jaringan ini adalah 6 buah switch 2950-24, yang akan disambungkan ke PC, sever, dan router menggunakan kabel straight yang ada pada gambar 3.6.

3.

Gambar 3. 4 Toolsbar PC

Pada toolsbar diatas untuk memilih perangkat yang akan disambungkan. Dapat dilihat perangkat yang digunakan adalah PC (personal computer)-PT, yang akan disambungkan dengan kabel straight agar bisa terhubung dengan switch.

4.

Gambar 3. 5 Toolsbar Server

Pada gambar toolsbar diatas terdapat beberapa perangkat, yang akan digunakan dalam model jaringan adalah server. Server akan disambungkan dengan switch menggunakan kabel straight.

5.

Gambar 3. 6 Toolsbar Kabel Straight

Pada toolsbar diatas terdapat tanda petir yang berisikan kabel untuk saling menyambungkan antar perangkat satu dengan yang lain. Untuk menghubungkan perangkat antar pc ke switch atau server ke switch menggunakan kabel copper staright-trough.

6.

Gambar 3. 7 Toolsbar Kabel Serial-DTE

Pada toolsbar diatas terdapat tanda petir yang beisikan kabel penghulung antar perangkat, pada kabel serial DTE digunakan untuk menghubungkan perangkat router dengan router atau server dengan router.

Gambar 3. 8 Perancangan Jaringan Catatan :

: Router : Switch

: PC (Personal Computer)

: Server

: Kabel Serial DTE : Kabel Straight

3.3 Konfigurasi IP Address

Sebuah jaringan memiliki nomor unik yang disebut IP Address, karena nomor IP address tidak bisa sama satu dengan yang lainnya. Pada tabel 3.1 adalah konfigurasi IP address router agar dapat mengirimkan packet atau agar dapat berjalannya sebuah jaringan.

Gambar 3. 9 Penomoran Router

Pada gambar 3.3 adalah perancangan jaringan yang akan di simulasikan dalam aplikasi simulator jaringan. Dari gambar diatas dapat dilihat letak router atau berapa jaringan yang digunakan, untuk memasukkan IP atau mengkonfigurasi jaringan dapat dilihat dari letak router ke -1 sampai router ke-5 dan dihubungkan dengan tabel 3.1 yang berisi nomor IP yang akan digunakan dalam perancangan jaringan ini.

Tabel 3. 2 Konfigurasi IP address

Perangkat Network NetMask

Router 1 192.168.1.0 255.255.255.240

192.168.2.0 255.255.255.240 220.180.20.0 255.255.255.240 220.180.20.128 255.255.255.240

Router 2 192.168.3.0 255.255.255.240

220.180.20.0 255.255.255.240 220.180.20.32 255.255.255.240

Router 3 192.168.4.0 255.255.255.240

220.180.20.64 255.255.255.240 220.180.20.32 255.255.255.240

Router 4 192.168.5.0 255.255.255.240

220.180.20.96 255.255.255.240 220.180.20.64 255.255.255.240

Router 5 192.168.6.0 255.255.255.240

220.180.20.96 255.255.255.240 220.180.20.18 255.255.255.240

Ip yang digunakan adalah ip private dengan nomor ip 192.168.1.0 dan ip public dengan nomor ip 220.180.20.0. Menggunakkan kelas ip yang sering digunakan untuk ip private da ip public adalah kelas C. Dalam perancangan jaringan ini digunakan ip private untuk perangkat switch, pc, dan server karena ip private tidak dapat dipakai berulang kali, hanya dapat diakses dari jaringan lokal dan tidak bisa diakses melalui internet tanpa bantuan router. Untuk ip public digunakan dalam router karena ip public dapat digunakan berulang kali, ip ini dapat diakses langsung melalui intenet.

3.4 Skenario Pengujian

Terdapat dua skenario pengujian yaitu, skenario routing dan skenario pengiriman packet data. Skenario routing yang digunakan ada dua yaitu routing dinamis dan routing statis, dalam kedua skenario memiliki dua keadaan pada waktu pengiriman yaitu, ketika traffic sibuk dan traffic tidak sibuk. Pada skenario pengiriman packet data menjelaskan packet apa saja yang akan dikirim dengan perangkat yang sudah ditentukan.

3.4.1

Skenario Routing

Skenario routing statis dalam perancangan jaringan ini memilih jalur mana yang akan dilewati untuk mengirimkan pesan dari sumber ke tujuan. Pesan yang akan dikirim dapat melewati jalur kanan atau jalur kini karena menggunakan topologi ring, dilihat dari jalur yang terdekat dengan tujuan. Karena pada perancangan jaringan ini menggunakan topologi jaringan ring, jadi pengiriman pesan dapat dikirim melalui jalur-jalur tetangga.

Gambar 3. 10 routing statis Catatan:

: node

Pada routing statis, administrator menentukan jalur mana yang akan dilewati. Gambar 3.9 adalah jaringan pada routing statis, terdapat lingkaran merah atau biasa disebut node yang menandakan pintu masuk jaringan.

Tabel 3. 3 Contoh Jalur routing statis Jaringan Asal Jaringan Tujuan Jalur yang dilewati 192.168.1.0 192.168.5.0 220.180.20.130

220.180.20.98

Tabel diatas adalah via atau jalur mana yang dilewati routing statis saat mengirimkan pesan. Ip yang berada di jalur yang dilewati berada pada gambar titik merah atau node. Seperti pada contoh tabel, dari jaringan dengan asal dengan ip 192.168.1.0 yang akan mengirimkan pesan ke jaringan dengan ip 192.168.5.0 melewati jalur dengan ip 220.180.20.130 dan 220.180.20.98. karena dengan routing statis dapat memilih jalur terdekat untuk mengirim packet tujuan, jaringan asal berada pada router 1 dan jaringan tujuan berada pada router 4, maka lebih dekat jila melewati jaringan yang berada di router 5.

Skenario routing dinamis dengan teknik RIP dalam jaringan ini tidak bisa melakukan pemilihan jalur oleh administrator, karena pada routing dinamis, pemilihan jalur dilakukan dengan otomatis. Pada routing ini akan mempelajari sendiri jalur mana yang akan dilewati untuk dapat menyampaikan pesan dengan cepat ke tujuan.

Pada kedua skenario routing diatas, dilakukan pengiriman pesan dengan dua keadaan yaitu, ketika Traffic tidak sibuk dan traffic sibuk. Pada saat traffic tidak sibuk dilakukan pengiriman data secara manual yaitu, antar pc ke pc dan pc ke server. Pada saat Traffic sibuk dilakukan pengiriman data secara bersamaan seperti tabel 3.3 dan tabel 3.5 dengan cara melakukan pengiriman paket secara bersamaan, pada bagian yang diberi warna adalah perangkat yang akan diamati untuk dilakukan analisis. Dalam simulator jaringan terdapat beberapa paket yang akan dikirim. Packet yang akan dikirim adalah paket Internet Control Messaging Protocol (ICMP) dari protocol TCP/IP dan packet HTTP, simulasi pengiriman packet dapat dilakukan pada traffic generator yang sudah disediakan di dalam simulator jaringan. Untuk packet data yang akan dikirim harus dapat menguji kinerja jaringan dengan

menggunakan 3 besaran paket data yaitu, 500byte (minimum), 1000byte (sedang), dan 1875byte (maksimal).

3.4.2

Skenario Pengiriman Packet

Pada tahap ini dilakukan pengujian konektivitas jaringan. Pemeriksaan konektivitas dapat dilihat pada gambar 3.11 untuk mengirimkan paket Internet Control Messaging Protocol (ICMP) ke ip yang dituju. Pada gambar 3.13 adalah traffic generator yang digunakan untuk melakukan pengiriman paket Hyper Text Transfer Protocol (HTTP).

Gambar 3. 11 Konektifitas Jaringan ICMP

Pada Gambar 3.4 adalah konektifitas jaringan yang akan dilakukan pengujiannya pada simulator jaringan. Untuk melakukan pengujian konektifitas dilakukan pengiriman paket Internet Control Messaging Protocol dari pc sumber ke pc tujuan. Untuk melakukan pengecekan

konektifitas, dibutuhkan tabel ip seperti pada tabel 3.2 dan tabel 3.3 digunakan untuk mengidentifikasi perangkat lain.

Tabel 3. 4 Traffic tidak sibuk pada ICMP Source IP Destination IP

PC1 PC9

Tabel 3. 5 Traffic sibuk pada ICMP Source IP Destination IP

Pada gambar 3.11 adalah tempat untuk mengisikan ip tujuan dan sumber yang kemudian jika di jalankan memberikan hasil terhubung atau tidak suatu jaringan.

Gambar 3. 12 Traffic Generator PING.

Pada gambar traffic generator menunjukan tahap-tahap pengisian data untuk bisa dikirim ke alamat tujuan. Pada PDU setting terdapat beberapa hal yang harus diisi, untuk mengirimkan suatu packet dapat dipilih di dalam Select Application, kemudian dibawahnya mengisikan alamat ip yang akan dituju beserta ip dari pengirim, pengisian time to live untuk berapa jumlah hop yang bisa dilewati, dan mengisikan Time Off Service digunakan untuk memnentukan kualitas transmisi dari sebuah datagram IP. Pada sequence number digunakan untuk mengindikasi nomor urut oktet pertama dari data. Lalu mengisikan size packet yang akan dikirim. Destination ip address diisi untuk alamat ip tujuan, sedangkan source ip address diisi untuk ip pengirirm atau sumber. Di dalam simulation settings digunakan untuk melakukan waktu kapan packet akan dikirim. Pada langkah ini dapat digunakan dalam mencari delay pada pengiriman packet atau konektifitas.

Gambar 3. 13 Konektifitas Jaringan HTTP

Pada Gambar 3.13 adalah konektifitas jaringan pada HTTP yang akan dilakukan pengujiannya pada simulator jaringan. Untuk melakukan pengujian konektifitas dilakukan pengiriman paket Hypertext Tranfer Protocol (HTTP) dari server ke pc tujuan. Untuk melukan pengecekan konektifitas HTTP, dibutuhkan tabel ip seperti pada tabel 3.4 dan tabel 3.5. ip digunakan untuk mengidentifikasi perangkat lain.

Tabel 3. 6 Traffic tidak sibuk pada HTTP Source IP Destination IP

192.168.2.2 192.168.1.2

Tabel 3. 7 Traffic sibuk pada HTTP Destination IP Source IP

Pengiriman packet HTTP dilakukan setelah konektivitas antar jaringan berhasil dilakukan. Untuk melakukan pengiriman data dan memeriksa konektivitas antar jaringan dapat diliat dari gambar 3.14

Gambar 3. 14 Traffic Generator HTTP

Pada gambar Application HTTP menunjukan tahap-tahap pengisian data untuk bisa dikirim ke alamat tujuan. Pada PDU setting terdapat beberapa hal yang harus diisi, untuk mengirimkan suatu packet dapat dipilih di dalam Select Application, kemudian dibawahnya mengisikan alamat ip yang akan dituju beserta ip dari pengirim, pengisian time to live untuk berapa jumlah hop yang bisa dilewati, dan mengisikan Time Off Service digunakan untuk memnentukan kualitas transmisi dari sebuah datagram IP. Lalu mengisikan size packet yang akan dikirim, dan mengisikan starting source port yang merupakan port sumber untuk mengirimkan packet dan destination port untuk menerima packet. Di dalam simulation settings digunakan untuk melakukan waktu kapan packet akan dikirim berulang. Langkah – langkah diatas dapat digunakan untuk mencari Throughput pada packet HTTP.

Gambar 3. 15 Simulation Panel

Jika sudah melakukan pengiriman, maka akan mendapatkan data untuk dianalis. Data yang akan dianalisis muncul di dalam simulation panel, seperti contoh pada gambar 3.14 . Data yang sudah diambil kemudian dibandingkan dengan pengujian parameter berdasarkan standart TIPHON. Perhitungan packet loss juga dapat dilakukan dengan cara membuka command prompt lalu mengecek konektivitas antar jaringan, dari command promt tersebut, bisa dilihat berapa packet loss nya. Setelah kedua perancangan jaringan melakukan analisis data, dapat menarik kesimplan untuk mengetahui routing mana yang terbaik dalam memilih jalur pengiriman packet.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada BAB ini terdapat beberapa bagian yaitu, perancangan, dan pembahasan,

perubahan perancangan dan pembahasan terjadi menggantikan hasil perancangan pada BAB III. Perubahan terjadi pada hasil akhir pada salah satu parameter yang tidak mengeluarkan hasil.

4.1

Perubahan Perancangan

Perubahan perancangan terdapat pada parameter traffic sibuk dan batasan masalah, pada penelitian ini hasil pengujian packet HTTP tidak terlihat hasil nilai troughput, karena tidak terlihat hasil nilai troughput, pengujian packet FTP menggantikan pengujian packet HTTP dan nilai yang terlihat adalah nilai delay. Perubahan parameter FTP (File Transfer protocol) digunakan untuk mengunduh dan mengunggah file ke server atau pc. FTP mempunyai besaran data sendiri yang sudah ditentukan, dan pada file yang akan di transfer sudah di tentukan sesuai besaran data. Pada parameter yang sebelumnya adalah HTTP (Hyper Tranfer Transfer Protocol) yang digunakan untuk mentransfer file. Jadi FTP dikelompokan dalam sistem dua arah, sedangkan HTTP disebut sebagai sistem satu arah.

Perubahan traffic sibuk terjadi pada routing static dan dynamic, karena setelah melakukan simulasi jaringan, hasil yang diperoleh lebih kecil daripada nilai pada traffic tidak sibuk. Pada teori sudah disebutkan bahwa, nilai traffic sibuk lebih besar dari nilai traffic tidak sibuk, karena pada saat sibuk, jalur yang digunakan mengalami kepadataan. Dilakukan percobaan untuk mengambil nilai traffic sibuk pada pc 36 sebanyak 10 kali pengambilan, hasilnya tetap lebih kecil dibanding nilai traffic tidak sibuk. Karena itu, diganti dengan pc 16 yang jarak ke tujuan lebih jauh dibanding pc 36 ke tujuan.

Perubahan untuk traffic sibuk yang digunakan dalam pengiriman FTP. Tabel pengiriman yang digunakan dalam pengiriman FTP sama dengan tabel yang digunakan untuk pengiriman HTTP yang ada pada bab 3. Namun, pc yang diamati untuk pengiriman traffic sibuk berbeda, pada FTP, pc yang diamati adalah pc 20.

33

4.2

Hasil Implementasi

Sebelum melakukan pengujian sebuah jaringan, dilakukan implementasi jaringan dalam simulator jaringan terebih dahulu. Dalam implementasi jaringan menggunakan topologi ring dan beberapa komponen lainnya seperti, PC, Router, Switch, server, kabel straight dan kabel serial.

Dalam implementasi jaringan terdapat IP yang berguna untuk menyambungkan antar jaringan satu dengan yang lain. Gambar 4.1 menggunakan 5 router yang berati terdapat 5 buah jaringan dalam setiap router dan terdapat IP jaringan penghubung yang ada pada kabel serial.

Gambar 4. 1 Implementasi Jaringan

Tabel 4.1 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 1. Dalam router 1 yang mempunyai beberapa port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.1.1 yang terhubung sebagai server. Pada port Fastethernet 0/1 dengan ip 192.168.2.1 yang terhubung dengan 8 PC dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 1 terhubung juga dengan port serial 1/0 dengan nomor ip 220.180.20.1 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/5

dengan nomor ip 220.180.20.129 juga untuk menghubungkan router 5 dan dengan kabel serial sebagai penghubung.

Tabel 4. 1 IP Jaringan router 1 Jaringan 2

Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway

Fastethernet 0/0 192.168.1.1 255.255.255.224 . Router 1 Serial 1/0 220.180.20.1 255.255.255.224 . Serial 1/5 220.180.20.129 255.255.255.224 . Fastethernet 0/1 192.168.2.1 255.255.255.224 . PC 1 Fastethernet 0/0 192.168.1.2 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 2 Fastethernet 0/0 192.168.1.3 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 3 Fastethernet 0/0 192.168.1.4 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 4 Fastethernet 0/0 192.168.1.5 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 5 Fastethernet 0/0 192.168.1.6 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 6 Fastethernet 0/0 192.168.1.7 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 7 Fastethernet 0/0 192.168.1.8 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 8 Fastethernet 0/0 192.168.1.9 255.255.255.224 192.168.1.1 Server Fastethernet 0/0 192.168.2.2 255.255.255.224 192.168.2.1 Tabel 4.2 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 2. Dalam router 2 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 2 terhubung juga dengan port serial 1/0 dengan nomor ip 220.180.20.2 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/2 dengan nomor ip 220.180.20.33 juga untuk menghubungkan router 3 dan dengan kabel serial sebagai penghubung. Getway pada setiap digunakan untuk terhubung dengan router pada jaringan sendiri.

Tabel 4. 2 Jaringan Router 2 Jaringan 4

Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway

Fastethernet 0/0 192.168.3.1 255.255.255.224 .

Router 2 Serial 1/0 220.180.20.2 255.255.255.224 .

Serial 1/2 220.180.20.33 255.255.255.224 . PC 9 Fastethernet 0/0 192.168.3.2 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 10 Fastethernet 0/0 192.168.3.3 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 11 Fastethernet 0/0 192.168.3.4 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 12 Fastethernet 0/0 192.168.3.5 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 13 Fastethernet 0/0 192.168.3.6 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 14 Fastethernet 0/0 192.168.3.7 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 15 Fastethernet 0/0 192.168.3.8 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 16 Fastethernet 0/0 192.168.3.9 255.255.255.224 192.168.3.1

Tabel 4.3 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 3. Dalam router 3 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.4.1 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 3 terhubung juga dengan port serial 1/2 dengan nomor ip 220.180.20.34 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/3 dengan nomor ip 220.180.20.65 juga digunakan untuk menghubungkan router 4.

Tabel 4. 3 Jaringan Router 3 Jaringan 6

Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway

Fastethernet 0/0 192.168.4.1 255.255.255.224 . Router 3 Serial 1/2 220.180.20.34 255.255.255.224 . Serial 1/3 220.180.20.65 255.255.255.224 . PC 17 Fastethernet 0/0 182.168.4.2 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 18 Fastethernet 0/0 182.168.4.3 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 19 Fastethernet 0/0 182.168.4.4 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 20 Fastethernet 0/0 182.168.4.5 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 21 Fastethernet 0/0 182.168.4.6 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 22 Fastethernet 0/0 182.168.4.7 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 23 Fastethernet 0/0 182.168.4.8 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 24 Fastethernet 0/0 182.168.4.9 255.255.255.224 192.168.4.1

Tabel 4.4 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 4. Dalam router 4 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.5.1 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 4 terhubung juga dengan port serial 1/3 dengan nomor ip 220.180.20.66 untuk menghubungkan router 3 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/4 dengan nomor ip 220.180.20.97 juga digunakan untuk menghubungkan router 5.

Tabel 4. 4 Jaringan Router 4 Jaringan 8

Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway

Fastethernet 0/0 192.168.5.1 255.255.255.224 . Router 4 Serial 1/3 220.180.20.66 255.255.255.224 . Serial 1/4 220.180.20.97 255.255.255.224 . PC 25 Fastethernet 0/0 192.168.5.2 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 26 Fastethernet 0/0 192.168.5.3 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 27 Fastethernet 0/0 192.168.5.4 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 28 Fastethernet 0/0 192.168.5.5 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 29 Fastethernet 0/0 192.168.5.6 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 30 Fastethernet 0/0 192.168.5.7 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 31 Fastethernet 0/0 192.168.5.8 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 32 Fastethernet 0/0 192.168.5.9 255.255.255.224 192.168.5.1 Tabel 4.5 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 5. Dalam router 5 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.6.1 yang terhubung dengan 8 PC dengan switch dan kabel straight sebagai penghubung, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 5 terhubung juga dengan port serial 1/4 dengan nomor ip 220.180.20.98 untuk menghubungkan router 4 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/5 dengan nomor ip 220.180.20.130 juga untuk menghubungkan router 1 dan dengan kabel serial sebagai penghubung. Gateway digunakan untuk terhubung dengan router pada jaringan.

Tabel 4. 5 IP Jaringan Router 5 Jaringan 9

Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway

Fastethernet 0/0 192.168.6.1 255.255.255.224 . Router 5 Serial 1/4 220.180.20.98 255.255.255.224 . Serial 1/5 220.180.20.130 255.255.255.224 . PC 33 Fastethernet 0/0 192.168.6.2 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 34 Fastethernet 0/0 192.168.6.3 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 35 Fastethernet 0/0 192.168.6.4 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 36 Fastethernet 0/0 192.168.6.5 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 37 Fastethernet 0/0 192.168.6.6 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 38 Fastethernet 0/0 192.168.6.7 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 39 Fastethernet 0/0 192.168.6.8 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 40 Fastethernet 0/0 192.168.6.9 255.255.255.224 192.168.6.1 Pada simulasi pengiriman sibuk, dikirim secara bersamaan dalam satu waktu. Jalur yang dilewati sesuai routing yang digunakan. Jika menggunakkan routing static, jalur yang akan dilewati bisa dipilih sesuai administrator, jika menggunakkan routing dinamis teknik RIP, jalur tidak bisa dipilih, karena routing dinamis bersifat otomatis. Seperti contoh yang menggunakan routing static pada gambar 4.2.

Gambar 4. 2 simulasi pengiriman tidak sibuk.

Gambar 4.2 adalah simulasi pengiriman tidak sibuk, jalur yang dilewati untuk mengirimkan pesan ICMP atau mengecek koneksi antar pc yang sudah di tentukan. PC 33 mengirimkan pesan ICMP atu mengecek koneksi PC 2, jalur yang dilewati terdapat pada simulation panel yaitu, dimulai dari PC 33 kemudian melewati switch 2, dari switch 2 dikirim ke router 4, dari router 4 dikirim ke router 0, dan sampai pada tujuan pengecekan koneksi, yaitu PC 2. Setelah dari PC 2, jika berhasil, maka akan mengirimkan respon balik ke PC 33 dengan melewati jalur yang sama, jika berhasil diterima PC 33, maka pesan mendapat respon ceklis yang mengartikan berhasil, jika tidak berhasil, maka akan mendapat respon dengan tanda silang.

4.3 Delay

Dari hasil simulasi yang telah dilakukan, didapat data delay. Delay dibandingkan dalam dua routing yaitu, routing static dan dynamic, dalam kedua routing tersebut memiliki dua traffic yaitu, traffic sibuk dan traffic tidak sibuk. Hasil dari perbandingan rata-rata delay dapat dilihat pada tabel 4.6.

Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa hasil pengujian rata-rata delay antara tiga besaran data dalam routing static pada traffic tidak sibuk adalah 28 ms, 37 ms, dan 48 ms, dan pada traffic sibuk adalah 43 ms, 56 ms, 73 ms. Routing dynamic mempunyai rata-rata delay dalam tiga besaran data pada traffic tidak sibuk adalah 31 ms, 36 ms, dan 52 ms, sedangkan pada traffic sibuk adalah 38 ms, 47 ms, dan 65 ms.

Tabel 4. 6 Perbandingan delay routing static dan dynamic.

Delay Rerata Static Routing Delay Rerata Dynamic Routing

Data (ms) (ms)

(bytes)

Tidak sibuk Sibuk Tidak Sibuk Sibuk

500 28 43 31 38

1000 37 56 36 47

1875 48 73 52 65

Pada 500 bytes besaran data memiliki rerata delay traffic tidak sibuk pada routing static adalah 28 ms, sedangkan pada routing dynamic adalah 31 ms. Traffic sibuk dari routing static

adalah 43 ms dan, 38 ms pada routing dynamic. Rerata delay tidak terlalu jauh karena pada routing static, administrator dapat memilih jalur tercepat untuk sampai ke tujuan, sedangkan pada routing dynamic tidak dapat memilih jalur sendiri, akan tetapi secara otomatis memilih jalur tercepat untuk sampai ke tempat tujuan.

Pada 1000 bytes besaran data dalam routing static memiliki rerata delay traffic tidak sibuk 37 ms, sedangkan pada routing dynamic 36 ms. Kedua rerata delay dalam dua routing yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang jauh karena kedua routing mengirimkan pesan melalui jalur tercepat walaupun pada routing static, administrator memilih jalur sendiri dan routing dynamic secara otomatis. Pada traffic sibuk routing static memiliki delay 56 ms, sedangkan pada routing dynamic memiliki delay 47 ms.

Pada 1875 bytes besaran data dalam routing static memiliki rerata delay pada traffic tidak sibuk adalah 48 ms, dan pada routing dynamic adalah 52 ms. Rerata pada traffic sibuk untuk routing static adalah 73 ms, dan roting dynamic 65 ms. Delay pada kedua routing dalam traffic tidak sibuk tidak memiliki perbedaan yang jauh, sedangkan pada traffic sibuk memiliki

Pada 1875 bytes besaran data dalam routing static memiliki rerata delay pada traffic tidak sibuk adalah 48 ms, dan pada routing dynamic adalah 52 ms. Rerata pada traffic sibuk untuk routing static adalah 73 ms, dan roting dynamic 65 ms. Delay pada kedua routing dalam traffic tidak sibuk tidak memiliki perbedaan yang jauh, sedangkan pada traffic sibuk memiliki

Dokumen terkait