BAB III RANCANGAN PENELITIAN
3.4 Skenario Pengujian
3.4.2 Skenario Pengiriman Packet
Pada tahap ini dilakukan pengujian konektivitas jaringan. Pemeriksaan konektivitas dapat dilihat pada gambar 3.11 untuk mengirimkan paket Internet Control Messaging Protocol (ICMP) ke ip yang dituju. Pada gambar 3.13 adalah traffic generator yang digunakan untuk melakukan pengiriman paket Hyper Text Transfer Protocol (HTTP).
Gambar 3. 11 Konektifitas Jaringan ICMP
Pada Gambar 3.4 adalah konektifitas jaringan yang akan dilakukan pengujiannya pada simulator jaringan. Untuk melakukan pengujian konektifitas dilakukan pengiriman paket Internet Control Messaging Protocol dari pc sumber ke pc tujuan. Untuk melakukan pengecekan
konektifitas, dibutuhkan tabel ip seperti pada tabel 3.2 dan tabel 3.3 digunakan untuk mengidentifikasi perangkat lain.
Tabel 3. 4 Traffic tidak sibuk pada ICMP Source IP Destination IP
PC1 PC9
Tabel 3. 5 Traffic sibuk pada ICMP Source IP Destination IP
Pada gambar 3.11 adalah tempat untuk mengisikan ip tujuan dan sumber yang kemudian jika di jalankan memberikan hasil terhubung atau tidak suatu jaringan.
Gambar 3. 12 Traffic Generator PING.
Pada gambar traffic generator menunjukan tahap-tahap pengisian data untuk bisa dikirim ke alamat tujuan. Pada PDU setting terdapat beberapa hal yang harus diisi, untuk mengirimkan suatu packet dapat dipilih di dalam Select Application, kemudian dibawahnya mengisikan alamat ip yang akan dituju beserta ip dari pengirim, pengisian time to live untuk berapa jumlah hop yang bisa dilewati, dan mengisikan Time Off Service digunakan untuk memnentukan kualitas transmisi dari sebuah datagram IP. Pada sequence number digunakan untuk mengindikasi nomor urut oktet pertama dari data. Lalu mengisikan size packet yang akan dikirim. Destination ip address diisi untuk alamat ip tujuan, sedangkan source ip address diisi untuk ip pengirirm atau sumber. Di dalam simulation settings digunakan untuk melakukan waktu kapan packet akan dikirim. Pada langkah ini dapat digunakan dalam mencari delay pada pengiriman packet atau konektifitas.
Gambar 3. 13 Konektifitas Jaringan HTTP
Pada Gambar 3.13 adalah konektifitas jaringan pada HTTP yang akan dilakukan pengujiannya pada simulator jaringan. Untuk melakukan pengujian konektifitas dilakukan pengiriman paket Hypertext Tranfer Protocol (HTTP) dari server ke pc tujuan. Untuk melukan pengecekan konektifitas HTTP, dibutuhkan tabel ip seperti pada tabel 3.4 dan tabel 3.5. ip digunakan untuk mengidentifikasi perangkat lain.
Tabel 3. 6 Traffic tidak sibuk pada HTTP Source IP Destination IP
192.168.2.2 192.168.1.2
Tabel 3. 7 Traffic sibuk pada HTTP Destination IP Source IP
Pengiriman packet HTTP dilakukan setelah konektivitas antar jaringan berhasil dilakukan. Untuk melakukan pengiriman data dan memeriksa konektivitas antar jaringan dapat diliat dari gambar 3.14
Gambar 3. 14 Traffic Generator HTTP
Pada gambar Application HTTP menunjukan tahap-tahap pengisian data untuk bisa dikirim ke alamat tujuan. Pada PDU setting terdapat beberapa hal yang harus diisi, untuk mengirimkan suatu packet dapat dipilih di dalam Select Application, kemudian dibawahnya mengisikan alamat ip yang akan dituju beserta ip dari pengirim, pengisian time to live untuk berapa jumlah hop yang bisa dilewati, dan mengisikan Time Off Service digunakan untuk memnentukan kualitas transmisi dari sebuah datagram IP. Lalu mengisikan size packet yang akan dikirim, dan mengisikan starting source port yang merupakan port sumber untuk mengirimkan packet dan destination port untuk menerima packet. Di dalam simulation settings digunakan untuk melakukan waktu kapan packet akan dikirim berulang. Langkah – langkah diatas dapat digunakan untuk mencari Throughput pada packet HTTP.
Gambar 3. 15 Simulation Panel
Jika sudah melakukan pengiriman, maka akan mendapatkan data untuk dianalis. Data yang akan dianalisis muncul di dalam simulation panel, seperti contoh pada gambar 3.14 . Data yang sudah diambil kemudian dibandingkan dengan pengujian parameter berdasarkan standart TIPHON. Perhitungan packet loss juga dapat dilakukan dengan cara membuka command prompt lalu mengecek konektivitas antar jaringan, dari command promt tersebut, bisa dilihat berapa packet loss nya. Setelah kedua perancangan jaringan melakukan analisis data, dapat menarik kesimplan untuk mengetahui routing mana yang terbaik dalam memilih jalur pengiriman packet.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada BAB ini terdapat beberapa bagian yaitu, perancangan, dan pembahasan,
perubahan perancangan dan pembahasan terjadi menggantikan hasil perancangan pada BAB III. Perubahan terjadi pada hasil akhir pada salah satu parameter yang tidak mengeluarkan hasil.
4.1
Perubahan PerancanganPerubahan perancangan terdapat pada parameter traffic sibuk dan batasan masalah, pada penelitian ini hasil pengujian packet HTTP tidak terlihat hasil nilai troughput, karena tidak terlihat hasil nilai troughput, pengujian packet FTP menggantikan pengujian packet HTTP dan nilai yang terlihat adalah nilai delay. Perubahan parameter FTP (File Transfer protocol) digunakan untuk mengunduh dan mengunggah file ke server atau pc. FTP mempunyai besaran data sendiri yang sudah ditentukan, dan pada file yang akan di transfer sudah di tentukan sesuai besaran data. Pada parameter yang sebelumnya adalah HTTP (Hyper Tranfer Transfer Protocol) yang digunakan untuk mentransfer file. Jadi FTP dikelompokan dalam sistem dua arah, sedangkan HTTP disebut sebagai sistem satu arah.
Perubahan traffic sibuk terjadi pada routing static dan dynamic, karena setelah melakukan simulasi jaringan, hasil yang diperoleh lebih kecil daripada nilai pada traffic tidak sibuk. Pada teori sudah disebutkan bahwa, nilai traffic sibuk lebih besar dari nilai traffic tidak sibuk, karena pada saat sibuk, jalur yang digunakan mengalami kepadataan. Dilakukan percobaan untuk mengambil nilai traffic sibuk pada pc 36 sebanyak 10 kali pengambilan, hasilnya tetap lebih kecil dibanding nilai traffic tidak sibuk. Karena itu, diganti dengan pc 16 yang jarak ke tujuan lebih jauh dibanding pc 36 ke tujuan.
Perubahan untuk traffic sibuk yang digunakan dalam pengiriman FTP. Tabel pengiriman yang digunakan dalam pengiriman FTP sama dengan tabel yang digunakan untuk pengiriman HTTP yang ada pada bab 3. Namun, pc yang diamati untuk pengiriman traffic sibuk berbeda, pada FTP, pc yang diamati adalah pc 20.
33
4.2
Hasil ImplementasiSebelum melakukan pengujian sebuah jaringan, dilakukan implementasi jaringan dalam simulator jaringan terebih dahulu. Dalam implementasi jaringan menggunakan topologi ring dan beberapa komponen lainnya seperti, PC, Router, Switch, server, kabel straight dan kabel serial.
Dalam implementasi jaringan terdapat IP yang berguna untuk menyambungkan antar jaringan satu dengan yang lain. Gambar 4.1 menggunakan 5 router yang berati terdapat 5 buah jaringan dalam setiap router dan terdapat IP jaringan penghubung yang ada pada kabel serial.
Gambar 4. 1 Implementasi Jaringan
Tabel 4.1 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 1. Dalam router 1 yang mempunyai beberapa port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.1.1 yang terhubung sebagai server. Pada port Fastethernet 0/1 dengan ip 192.168.2.1 yang terhubung dengan 8 PC dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 1 terhubung juga dengan port serial 1/0 dengan nomor ip 220.180.20.1 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/5
dengan nomor ip 220.180.20.129 juga untuk menghubungkan router 5 dan dengan kabel serial sebagai penghubung.
Tabel 4. 1 IP Jaringan router 1 Jaringan 2
Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway
Fastethernet 0/0 192.168.1.1 255.255.255.224 . Router 1 Serial 1/0 220.180.20.1 255.255.255.224 . Serial 1/5 220.180.20.129 255.255.255.224 . Fastethernet 0/1 192.168.2.1 255.255.255.224 . PC 1 Fastethernet 0/0 192.168.1.2 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 2 Fastethernet 0/0 192.168.1.3 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 3 Fastethernet 0/0 192.168.1.4 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 4 Fastethernet 0/0 192.168.1.5 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 5 Fastethernet 0/0 192.168.1.6 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 6 Fastethernet 0/0 192.168.1.7 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 7 Fastethernet 0/0 192.168.1.8 255.255.255.224 192.168.1.1 PC 8 Fastethernet 0/0 192.168.1.9 255.255.255.224 192.168.1.1 Server Fastethernet 0/0 192.168.2.2 255.255.255.224 192.168.2.1 Tabel 4.2 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 2. Dalam router 2 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 2 terhubung juga dengan port serial 1/0 dengan nomor ip 220.180.20.2 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/2 dengan nomor ip 220.180.20.33 juga untuk menghubungkan router 3 dan dengan kabel serial sebagai penghubung. Getway pada setiap digunakan untuk terhubung dengan router pada jaringan sendiri.
Tabel 4. 2 Jaringan Router 2 Jaringan 4
Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway
Fastethernet 0/0 192.168.3.1 255.255.255.224 .
Router 2 Serial 1/0 220.180.20.2 255.255.255.224 .
Serial 1/2 220.180.20.33 255.255.255.224 . PC 9 Fastethernet 0/0 192.168.3.2 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 10 Fastethernet 0/0 192.168.3.3 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 11 Fastethernet 0/0 192.168.3.4 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 12 Fastethernet 0/0 192.168.3.5 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 13 Fastethernet 0/0 192.168.3.6 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 14 Fastethernet 0/0 192.168.3.7 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 15 Fastethernet 0/0 192.168.3.8 255.255.255.224 192.168.3.1 PC 16 Fastethernet 0/0 192.168.3.9 255.255.255.224 192.168.3.1
Tabel 4.3 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 3. Dalam router 3 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.4.1 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 3 terhubung juga dengan port serial 1/2 dengan nomor ip 220.180.20.34 untuk menghubungkan router 2 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/3 dengan nomor ip 220.180.20.65 juga digunakan untuk menghubungkan router 4.
Tabel 4. 3 Jaringan Router 3 Jaringan 6
Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway
Fastethernet 0/0 192.168.4.1 255.255.255.224 . Router 3 Serial 1/2 220.180.20.34 255.255.255.224 . Serial 1/3 220.180.20.65 255.255.255.224 . PC 17 Fastethernet 0/0 182.168.4.2 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 18 Fastethernet 0/0 182.168.4.3 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 19 Fastethernet 0/0 182.168.4.4 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 20 Fastethernet 0/0 182.168.4.5 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 21 Fastethernet 0/0 182.168.4.6 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 22 Fastethernet 0/0 182.168.4.7 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 23 Fastethernet 0/0 182.168.4.8 255.255.255.224 192.168.4.1 PC 24 Fastethernet 0/0 182.168.4.9 255.255.255.224 192.168.4.1
Tabel 4.4 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 4. Dalam router 4 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.5.1 yang terhubung dengan 8 PC, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 4 terhubung juga dengan port serial 1/3 dengan nomor ip 220.180.20.66 untuk menghubungkan router 3 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/4 dengan nomor ip 220.180.20.97 juga digunakan untuk menghubungkan router 5.
Tabel 4. 4 Jaringan Router 4 Jaringan 8
Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway
Fastethernet 0/0 192.168.5.1 255.255.255.224 . Router 4 Serial 1/3 220.180.20.66 255.255.255.224 . Serial 1/4 220.180.20.97 255.255.255.224 . PC 25 Fastethernet 0/0 192.168.5.2 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 26 Fastethernet 0/0 192.168.5.3 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 27 Fastethernet 0/0 192.168.5.4 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 28 Fastethernet 0/0 192.168.5.5 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 29 Fastethernet 0/0 192.168.5.6 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 30 Fastethernet 0/0 192.168.5.7 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 31 Fastethernet 0/0 192.168.5.8 255.255.255.224 192.168.5.1 PC 32 Fastethernet 0/0 192.168.5.9 255.255.255.224 192.168.5.1 Tabel 4.5 adalah tabel IP jaringan yang terhubung pada router 5. Dalam router 5 terhubung dengan 3 port, yang pertama adalah pada port Fastethernet 0/0 dengan nomor IP 192.168.6.1 yang terhubung dengan 8 PC dengan switch dan kabel straight sebagai penghubung, dan pada setiap PC menggunakan port Fastethetnet 0/0. Router 5 terhubung juga dengan port serial 1/4 dengan nomor ip 220.180.20.98 untuk menghubungkan router 4 dan dengan kabel serial sebagai penghubung , pada port serial 1/5 dengan nomor ip 220.180.20.130 juga untuk menghubungkan router 1 dan dengan kabel serial sebagai penghubung. Gateway digunakan untuk terhubung dengan router pada jaringan.
Tabel 4. 5 IP Jaringan Router 5 Jaringan 9
Perangkat Port Nomor IP SubnetMask Getway
Fastethernet 0/0 192.168.6.1 255.255.255.224 . Router 5 Serial 1/4 220.180.20.98 255.255.255.224 . Serial 1/5 220.180.20.130 255.255.255.224 . PC 33 Fastethernet 0/0 192.168.6.2 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 34 Fastethernet 0/0 192.168.6.3 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 35 Fastethernet 0/0 192.168.6.4 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 36 Fastethernet 0/0 192.168.6.5 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 37 Fastethernet 0/0 192.168.6.6 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 38 Fastethernet 0/0 192.168.6.7 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 39 Fastethernet 0/0 192.168.6.8 255.255.255.224 192.168.6.1 PC 40 Fastethernet 0/0 192.168.6.9 255.255.255.224 192.168.6.1 Pada simulasi pengiriman sibuk, dikirim secara bersamaan dalam satu waktu. Jalur yang dilewati sesuai routing yang digunakan. Jika menggunakkan routing static, jalur yang akan dilewati bisa dipilih sesuai administrator, jika menggunakkan routing dinamis teknik RIP, jalur tidak bisa dipilih, karena routing dinamis bersifat otomatis. Seperti contoh yang menggunakan routing static pada gambar 4.2.
Gambar 4. 2 simulasi pengiriman tidak sibuk.
Gambar 4.2 adalah simulasi pengiriman tidak sibuk, jalur yang dilewati untuk mengirimkan pesan ICMP atau mengecek koneksi antar pc yang sudah di tentukan. PC 33 mengirimkan pesan ICMP atu mengecek koneksi PC 2, jalur yang dilewati terdapat pada simulation panel yaitu, dimulai dari PC 33 kemudian melewati switch 2, dari switch 2 dikirim ke router 4, dari router 4 dikirim ke router 0, dan sampai pada tujuan pengecekan koneksi, yaitu PC 2. Setelah dari PC 2, jika berhasil, maka akan mengirimkan respon balik ke PC 33 dengan melewati jalur yang sama, jika berhasil diterima PC 33, maka pesan mendapat respon ceklis yang mengartikan berhasil, jika tidak berhasil, maka akan mendapat respon dengan tanda silang.
4.3 Delay
Dari hasil simulasi yang telah dilakukan, didapat data delay. Delay dibandingkan dalam dua routing yaitu, routing static dan dynamic, dalam kedua routing tersebut memiliki dua traffic yaitu, traffic sibuk dan traffic tidak sibuk. Hasil dari perbandingan rata-rata delay dapat dilihat pada tabel 4.6.
Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa hasil pengujian rata-rata delay antara tiga besaran data dalam routing static pada traffic tidak sibuk adalah 28 ms, 37 ms, dan 48 ms, dan pada traffic sibuk adalah 43 ms, 56 ms, 73 ms. Routing dynamic mempunyai rata-rata delay dalam tiga besaran data pada traffic tidak sibuk adalah 31 ms, 36 ms, dan 52 ms, sedangkan pada traffic sibuk adalah 38 ms, 47 ms, dan 65 ms.
Tabel 4. 6 Perbandingan delay routing static dan dynamic.
Delay Rerata Static Routing Delay Rerata Dynamic Routing
Data (ms) (ms)
(bytes)
Tidak sibuk Sibuk Tidak Sibuk Sibuk
500 28 43 31 38
1000 37 56 36 47
1875 48 73 52 65
Pada 500 bytes besaran data memiliki rerata delay traffic tidak sibuk pada routing static adalah 28 ms, sedangkan pada routing dynamic adalah 31 ms. Traffic sibuk dari routing static
adalah 43 ms dan, 38 ms pada routing dynamic. Rerata delay tidak terlalu jauh karena pada routing static, administrator dapat memilih jalur tercepat untuk sampai ke tujuan, sedangkan pada routing dynamic tidak dapat memilih jalur sendiri, akan tetapi secara otomatis memilih jalur tercepat untuk sampai ke tempat tujuan.
Pada 1000 bytes besaran data dalam routing static memiliki rerata delay traffic tidak sibuk 37 ms, sedangkan pada routing dynamic 36 ms. Kedua rerata delay dalam dua routing yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang jauh karena kedua routing mengirimkan pesan melalui jalur tercepat walaupun pada routing static, administrator memilih jalur sendiri dan routing dynamic secara otomatis. Pada traffic sibuk routing static memiliki delay 56 ms, sedangkan pada routing dynamic memiliki delay 47 ms.
Pada 1875 bytes besaran data dalam routing static memiliki rerata delay pada traffic tidak sibuk adalah 48 ms, dan pada routing dynamic adalah 52 ms. Rerata pada traffic sibuk untuk routing static adalah 73 ms, dan roting dynamic 65 ms. Delay pada kedua routing dalam traffic tidak sibuk tidak memiliki perbedaan yang jauh, sedangkan pada traffic sibuk memiliki perbedaan yang sedikit jauh. Hal ini bisa terjadi karena jalur yang dilewati terjadi kepadatan, dan untuk traffic tidak sibuk tidak memiliki perbedaan jauh bisa terjadi karena tidak ada kepadatan saat pengiriman.
Gambar 4. 3 Grafik delay rerata static routing
Gambar 4.3 adalah grafik delay rerata static routing, pada traffic sibuk memiliki kemiringan yang signifikan dibanding dengan traffic tidak sibuk, pada routing static, nilai
delay lebih tinggi pada saat traffic sibuk, pada setiap kenaikan besran data, nilai delay semakin tinggi, karena membutuhkan waktu lebih lama untuk pengiriman. Pada traffic sibuk mempunyai nilai delay lebih besar karena banyaknya data yang dikirim secara bersamaan.
Grafik delay rerata dynamic routing ada pada gambar 4.4 , pada rerata delay routing dynamic. Traffic sibuk dan tidak sibuk dalam setiap tingkatan besaran data memiliki peningkatan atau kenaikan delay. Untuk traffic sibuk, delay yang dihasilkan lebih besar dibanding dengan traffic tidak sibuk, itu terjadi karena waktu yang digunakan dalam pengiriman berbeda, pada traffic sibuk, waktu yang digunakan lebih lama dibanding traffic tidak sibuk. Pada setiap jalur yang dilewati traffic tidak sibuk, tidak memiliki kepadatan jalur, sehingga packet yang dikirm terus berjalan, akan tetapi pada traffic sibuk memiliki kepadatan jalur yang membuat waktu pengiriman lebih lama dan meningkatkan besarnya delay.
Gambar 4. 4 Grafik delay rerata dynamic routing.
Delay rerata traffic tidak sibuk dapat dilihat pada gambar 4.5. kenaikan yang yang terjadi pada routing static dan dynamic tidak jauh berbeda, disetiap besaran data akan mengalami kenaikan, karena besaran data berpengaruh dalam pengiriman pesan. Traffic tidak sibuk disimulasikan dengan mengirimkan pesan secara bergantian.Rerata traffic tidak sibuk pada besaran data 1000 bytes untuk kedua routing mempunyai nilai yang tidak jauh berbeda.
Nilai delay traffic tidak sibuk lebih tinggi pada routing dynamic dengan teknik rip dibanding
routing static. Karena pada rip, besaran data semakin besar akan mempengaruhi waktu pengiriman pada saat traffic tidak sibuk.
Gambar 4. 5 Grafik delay rerata trafik tidak sibuk.
Pada gambar 4.6 adalah rerata delay traffic sibuk pada routing static dan routing dynamic, nilai delay routing static lebih tinggi dibanding dengan nilai delay pada routing rip.
Perbandingan nilai delay traffic sibuk lebih tinggi pada routing static, sedangkan routing dynamic dengan teknik rip mempunyai nilai lebih tinggi pada traffic tidak sibuk.
Gambar 4. 6 Grafik rerata trafik sibuk.
Gambar 4. 7 Contoh pengiriman tunggal
Pada gambar 4.16 adalah contoh pengiriman tunggal untuk 32 bytes yang membutuhkan rerata 10 ms, maka kecepatannya (32x8) : 10 ms = 25 kbps. Pada kabel yang digunakan adalah serial, yang mempunyai kecepatan transfer 128 kbps, maka ketika terjadi traffic sibuk (10 perangkat), kecepatan pengiriman menjadi 50% dari kapasitas jaringan yaitu menjadi 64 kbps.
Jadi, besaran data berpengaruh terhadap rerata delay, semakin tinggi besaran data yang digunakan, semakin tinggi rerata delay yang dihasilkan. Traffic yang disimulasikan ada dua, yaitu traffic sibuk dan traffic tidak sibuk, traffic juga berpengaruh dalam pengiriman pesan atau packet, pada hasil yang diperoleh, traffic sibuk yang memiliki jalur kepadatan dalam pengiriman pesan, menghasilkan rerata delay lebih besar dibandingkan traffic tidak sibuk yang tidak memiliki kepadatan jalur pengiriman.
Nilai rerata delay pada traffic sibuk bisa lebih tinggi karena jalur yang dilewati dari pengamatan simulasi lebih jauh, dan pada traffic sibuk hanya mengamati satu pc pada saat
pengiriman seluruh pc dalam satu waktu, sedangkan pada traffic tidak sibuk memiliki hasil rerata delay lebih rendah dibanding dengan traffic sibuk. Pada traffic tidak sibuk tidak memiliki kepadatan jalur pengiriman, dan melakukan pengiriman secara bergantian. Routing static dan routing dynamic mempunyai hasil rerata delay untuk besaran data 500 bytes, 1000 bytes, dan 1875 bytes, pada traffic sibuk dan tidak sibuk sangat bagus, karena hasil rerata delay <150 ms.
Hasil perbandingan delay sesuai dengan jurnal yang menjadi acuan pada penelitian ini, banyaknya router yang dilewati dari satu jaringan menuju jaringan lainnya sangat mempengaruhi terjadinya peningkatan delay, menurut Febi Uswatun Hasannah dan Naemah Mubarakah[1].
4.4 PacketLoss
Hasil dari simulasi jaringan di dapatkan nilai packetloss, packetloss adalah kegagalan transmisi ke ip tujuan. Besaran data yang digunakan yaitu 500 bytes, 1000 bytes, dan 1875 bytes, traffic yang digunakan ada dua yaitu traffic sibuk dan traffic tidak sibuk. Hasil dari perbandingan rata-rata packetloss untuk kedua routing dapat dilihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7 adalah tabel perbandingan packetloss untuk routing static dan dynamic., menggunakan tiga besaran data pada setiap traffic yang digunakan. Pada besaran data 500 bytes routing static, traffic tidak sibuk memiliki nilai packetloss 18% dan 0% untuk traffic sibuk,untuk besaran data 1000 bytes traffic tidak sibuk memiliki 15% nilai packet yang hilang, dan 0% untuk traffic sibuk, sedangkan untuk besaran data 1875 bytes memiliki 10% nilai packet yang hilang pada traffic tidak sibuk, dan 0% pada traffic sibuk. Besaran data mempengaruhi jalannya pengiriman packet, karena setiap kenaikan besaran data yang terjadi pada traffic tidak sibuk mengalami penurunan pada nilai packetloss. Packetloss terjadi karena pada saat pengiriman packet, dalam jaringan gagal mencapai tujuan.
Tabel 4. 7 Perbandingan packetloss routing static dan dynamic.
Data Packetloss Rerata Static Routing (%) Packetloss Rerata Dynamic Routing (%) Tidak
(bytes) Tidak sibuk Sibuk Sibuk
Sibuk
500 18% 0% 20% 0%
1000 15% 0% 15% 0%
1875 10% 0% 3% 0%
Gambar 4.7 adalah grafik packetloss pada routing static untuk traffic sibuk dan tidak sibuk. Pada garis biru adalah traffic tidak sibuk mengalami penurunan disetiap peningkatan besaran besaran data. Penurunan pada besaran data 500 byte ke 1000 bytes adalah 3%, pada besaran data 1000 bytes ke 1875 bytes 5%. Pada saat traffic sibuk tidak memiliki kegagalan dalam pengiriman data.
Gambar 4. 8 Grafik packetloss rerata static routing
Gambar 4.8 adalah grafik packetloss routing dynamic, garis biru menandakan traffic tidak sibuk dan garis merah menandakan traffic sibuk. Pada traffic tidak sibuk dapat dilihat terjadi penurunan nilai packetloss di setiap kenaikan besaran data, untuk traffic sibuk, nilai packetloss tidak terjadi kenaikan atau penurunan pada setiap besaran data.
Gambar 4. 9 Grafik packetloss rerata dynamic routing.
Gambar 4.9 adalah grafik rerata nilai packetloss untuk routing static dan routing dynamic teknik RIP. Dapat dilihat pada gafik diatas, pada setiap kenaikan besaran data mengalami penurunan nilai rerata packetloss.
Gambar 4. 10 Grafik packetloss rerata trafik tidak sibuk.
Rerata pada besaran data routing static 500 bytes adalah 18% yang termasuk dalam kategori buruk berdasarkan sumber tiphon, pada besaran 1000 bytes, nilai rerata adalah 15%
yang termasuk dalam kategori sedang, dan pada besaran data 1875 bytes, memiliki nilai
rerata 10% dan termasuk kategori sedang. Rerata pada besaran data routing dynamic, untuk besaran data 500 bytes memiliki nilai 20% yang termasuk kategori buruk, untuk besaran data 1000 bytes, memiliki nilai rerata packetloss 15% yang termasuk dalam kategori sedang, dan pada besaran data 1875 bytes, memiliki rerata nilai sebesar 3% dan termasuk dalam kategori bagus.
Jadi, besaran data sangat mempengaruhi jalannya pengiriman, dapat dilihat dari nilai besaran data minimum, sedang, dan maksimum memiliki penurunan packetloss yang lebih baik, dan pada jaringan ini, routing dynamis dengan teknik RIP lebih dapat mengurangi nilai packet yang hilang dibanding dengan routing static. Pada traffic sibuk packetloss, tidak ada perubahan pada setiap kenaikan besaran data untuk routing static dan routing dynamic. Tidak ada traffic yang hilang pada saat pengiriman packet, sudah dilakukan pengujian sebanyak 10 kali untuk mengamati pengiriman pada traffic sibuk, dan untuk kedua routing, mempunyai
Jadi, besaran data sangat mempengaruhi jalannya pengiriman, dapat dilihat dari nilai besaran data minimum, sedang, dan maksimum memiliki penurunan packetloss yang lebih baik, dan pada jaringan ini, routing dynamis dengan teknik RIP lebih dapat mengurangi nilai packet yang hilang dibanding dengan routing static. Pada traffic sibuk packetloss, tidak ada perubahan pada setiap kenaikan besaran data untuk routing static dan routing dynamic. Tidak ada traffic yang hilang pada saat pengiriman packet, sudah dilakukan pengujian sebanyak 10 kali untuk mengamati pengiriman pada traffic sibuk, dan untuk kedua routing, mempunyai