B. Bunda Maria
5. Gelar-gelar Bunda Maria a. Cermin Kebenaran
Bunda Maria disebut sebagai Cermin Kebenaran, karena pribadi Maria mencerminkan tentang kebenaran akan tindakan Tuhan bagi semua orang yang beriman. Groenen (1988: 179) mengatakan bahwa
Dengan julukan Cermin Kebenaran (speculum justitiae) dimaksudkan bahwa diri Maria bagaikan cermin, mencerminkan, memantulkan, memperlihatkan bagi orang beriman “kebenarana Allah”, artinya “tindakan Allah” (berupa Yesus Kristus, I Kor.1:30), yang “membenarkan”, menyelamatkan, menguduskan manusia.
Jadi, semua umat yang benar dan kudus merupakan berkat pertolongan Tuhan. Hal tersebut tampak dalam kepribadian Bunda Maria, sehingga sudah sepantasnya bahwa Bunda Maria dijuluki Cermin Kebenaran.
b. Tahta Kebijaksanaan
Bunda Maria sebagai Tahta Kebijaksanaan, artinya Kebijaksanaan ilahi bertahta di dalam rahim ibu-Nya, Bunda Maria sendiri. Kebijaksanaan ilahi ialah Yesus Kristus sendiri. Groenen (1988: 179) mengutarakan bahwa
Maria juga dijuluki “Tahta Kebijaksanaan” (sades sapientiae). Orang teringat akan Sirakh 24:4. Kebijaksanaan ilahi berkata tentang dirinya sendiri bahwa bertahta di atas tiang awan (yang menyertai umat Israel di gurun menurut Alkitab). Umat Kristen sudah lama menyamakan Kristus dengan Kebijaksanaan ilahi. Dengan menjadi Kebijaksanaan ilahi tidak lagi bertahta di atas tiang awan, tetapi dalam rahim ibu-Nya.
Oleh sebab itu, Kebijaksaan ilahi juga terlihat dalam diri Bunda Maria. Bahkan Yesus Kristus tidak hanya bertahta di atas tiang awan, melainkan juga bertahta di dalam rahim Bunda Maria sebagai ibu-Nya.
c. Bejana Rohani dan Bejana Kebaktian Utama
Maria disebut juga sebagai Bejana Rohani yang berarti suatu bejana yang berisi penuh dengan Roh Kudus. Hal itu dikatakan oleh Greoenen (1988: 180) sebagai berikut: juga julukan “Bejana Rohani” (Vas Spirituale) menyinggung inkarnasi. Maria kan mengandung dari Roh Kudus (Mat.1:18) dan dituruni Roh Kudus (Lukas 1:35). Jadi “bejana rohani” tidak berarti berlawanan dengan “bejana jasmani”, tetapi berarti Bejana yang penuh dengan Roh Kudus. Maka dari itu, bejana rohani tidak mungkin terpisah dari bejana jasmani, justru keduanya saling berhubungan, artinya bejana tersebut berisi penuh dengan Roh Kudus yang berasal dari Allah.
Bunda Maria pun merupakan Bejana Kebaktian Utama yang berarti tempat yang paling utama untuk berpasrah diri hanyalah kepada Tuhan, Maria sebagai perantara bagi umat untuk berkomunikasi dengan-Nya. Groenen (1988: 180) menyatakan bahwa
Terjemahan Indonesia yang berkata tentang “Bejana Kebaktian Utama” kiranya kurang jelas (dan kurang tepat). “Vas insigne devotionis” berarti bahwa Maria merupakan tempat unggul (vas insigne) penyerahan diri, keterarahan diri manusia kepada Allah semata-mata. Maria sepenuh-penuhnya merelakan diri bagi maksud Allah.
Jadi, berdevosi atau melaksanakan kebaktian kepada Bunda Maria sama halnya dengan berpasrah diri sepenuhnya kepada Tuhan, karena sasaran utama dalam devosi itu adalah Tuhan sendiri dengan perantara Bunda Maria.
d. Benteng Daud dan Benteng Gading
Bunda Maria dijuluki sebagai Benteng (menara, turris) Daud dan Benteng Gading (turris eburneus), sehingga membuat umat berpikir tentang Kid.4:4 dan 7:4. Kidung Agung menyebutkan Benteng Daud yang melambangkan pengantin laki-laki yaitu Kristus sendiri, sedangkan Benteng Gading berarti pengantin perempuan yaitu Gereja. Maka Bunda Maria juga dijuluki seperti itu, artinya persatuan antara jiwa orang beriman dengan Maria. Dalam Litani Santa Maria menyebut Maria sebagai “Menara Gading” dan “Menara Daud”, hampir sama dengan yang disebutkan dalam Kidung Agung, yang dimaksud dengan hal tersebut adalah untuk melambangkan cinta kasih Bunda Maria yang hangat bersama Kristus yang melahirkan umat dalam karya keselamatan Allah (Groenen, 1988: 180).
e. Rumah Kencana
Bunda Maria disebut juga Rumah Kencana, karena umat teringat tentang Bait Allah di bagian belakang dalam I Raj.6:20-22 dilapisi penuh dengan emas, sehingga Groenen (1988: 180) menyebutkan hal tersebut sebagai berikut:
Julukan “Rumah Kencana” mengingatkan orang kepada Bait Allah (bagian belakang) yang menurut I Raj.6:20-22 dilapisi dengan emas. Maria yang mengandung Yesus, Allah dan manusia, mirip dengan bagian terdalam Bait Allah itu, tempat Allah dianggap hadir di tengah-tengah umat-Nya.
Jadi, julukan tersebut melambangkan bahwa Bunda Maria yang mengandung Yesus itu seperti Bait Allah. Bait Allah merupakan tempat kehadiran Tuhan bagi umat-Nya yang dengan sungguh-sungguh mendalami kehidupan menggereja.
f. PintuBSurgaB
Bunda Maria pun memperoleh julukan Pintu Surga yang artinya jalan Allah untuk keluar dari surga karena akan mendatangi umat-Nya sekaligus jalan bagi umat beriman untuk masuk ke dalam surga. Untuk itu, Groenen (1988: 181) mengutarakan gagasannya sebagai berikut: Maria pun disebut “Pintu Surga”. Artinya: Tempat Allah ”keluar dari surga” untuk mendekati manusia dan serentak “Pintu Surga” itu tempat manusia dapat “masuk surga” berkat Anak Maria. Maka dari itu, sebaiknya umat waspada akan kehadiran Tuhan dan selalu siap sedia karena Tuhan akan hadir dalam waktu yang tidak dapat diduga oleh umat, sehingga umat perlu menjalin keakraban dengan Tuhan selama menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.
g. BintangBTimur/KejoraBB
Bunda Maria yang hadir di tengah-tengah umat diberi sebutan Bintang Timur/Kejora, karena bintang tersebut muncul sebelum matahari terbit, sehingga Groenen (1988: 181) menyampaikan bahwa
Dengan tampilnya Maria di muka bumi dalam sejarah tata penyelamatan untuk menjadi ibu Yesus, Juru selamat, fajar penyelamatan menyingsing (Luk.1:79). Maka Litani menjuluki Maria sebagai “Bintang Timur/Kejora”(atau: Stella Matutina). Sebab bintang itu memang tampil di ufuk sebelum matahari terbit (Venus). Venus oleh orang Roma dahulu dipuja sebagai dewi kecantikan dan cinta.
Oleh sebab itu, memang pantas bahwa Maria mendapat sebutan Bintang Timur/Kejora, karena Maria berperan dalam karya keselamatan Allah bagi semua orang yang berdosa.
h. BungaBMawarByangBAjaibB
Maria diberi julukan juga sebagai Bunga Mawar yang Ajaib (Rosa Mystica) yang mengingatkan umat akan sebuah lagu terkenal yang menafsirkan kitab Yes.11:1 yang berbunyi bahwa suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan
tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Kata “tunas” dalam ayat itu mempunyai maksud keturunan baru dari Isai, ayah Daud, sedangkan kata “taruk” berarti Maria melahirkan Yesus sebagai buah rahimnya. Pohon mawar yang mati, secara ajaib bertumbuh dan bersemi kembali lalu berbunga, mirip dengan tongkat Harun (Bil.17:8). Menurut tradisi ibu dari Maria yaitu Anna, memang mandul dan secara ajaib juga telah mengandung Maria, sehingga Maria berperan sebagai perawan yang melahirkan Yesus, memang nyata bahwa pokok mawar itu adalah ajaib (Groenen, 1988: 181).
i. Perlindungan Orang Berdosa dan Ratu Damai
Akhirnya Bunda Maria dijuluki sebagai Perlindungan Orang Berdosa dan Ratu Damai, perlindungan orang berdosa artinya perlindungan yang diberikan bagi orang-orang berdosa dan doanya tergabung dalam doa Maria dan terbebas dari murka Allah. Sedangkan Ratu damai adalah berasal dari Sang Raja Damai, karena Maria adalah ibu Raja Damai yaitu Yesus Kristus. Groenen (1988: 182) berkata bahwa
Maria masih dijuluki sebagai “Perlindungan orang berdosa” (refugium peccatorum). Orang berdosa yang dalam doanya berbagung dengan kasih Maria, tentu saja tidak terkena “murka” Allah, Hakim. Kalau Kristus diberi gelar “Raja Damai” (Yes.9:5), wajarlah juga ibu suri, Maria, yang melahirkan-Nya, dijuluki sebagai “Ratu Damai” artinya damai-sejahtera, keselamatan, yang berpancar dari Anak ibu suri itu.
Dengan demikian, julukan Perlindungan Orang Berdosa dan Ratu Damai sungguh tercermin dalam diri Maria yang menjadi perantara bagi Tuhan, untuk membantu umat beriman supaya semakin dekat dengan-Nya, sehingga para umat beriman semakin terbebaskan dari belenggu-belenggu dosa yang dibuatnya sendiri demi hidup yang damai dan sejahtera seperti julukan Bunda Maria, Ratu Damai.