B. Bunda Maria
3. Hidup sebagai Keluarga yang Sehat
Keluarga menjadi tempat bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan yang membangun cinta kasih dalam suka dan duka selama menjalani hidup dan mendidik anak-anak sebagai buah cinta kasih mereka. Mereka tumbuh sebagai kesatuan yang penuh kasih sayang dan mau menghargai ciri khas serta kemampuan setiap pribadi. Mereka mampu berdialog secara jujur antar generasi dengan menghargai masa lalu dan membuka hidup baru serta berperan sebagai ahli waris tradisi-tradisi kemanusiaan untuk membentuk tradisi-tradisi keluarga kristiani. Mereka pun mampu mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh setiap pribadi dalam keluarga, mampu mengabdi kepada gerejawi dan masyarakat, serta menyiapkan tenaga untuk terlibat aktif dalam menumbuhkan panggilan hidup Gereja dan masyarakat (PGKI, 1995: 10-11).
Semua pribadi suami-istri merupakan suatu keberuntungan yang memberikan diri bagi kehidupannya dalam bentuk ikatan perkawinan. Ikatan perkawinan tersebut untuk menciptakan kehidupan baru berdasarkan kehendak Tuhan dalam hidup sebagai keluarga. Pasangan tersebut hendaknya memberi dan menerima diri secara berkelanjutan supaya mereka sama-sama berusaha membahagiakan dan memuaskan pasangan. Eminyan (2001: 88) menyatakan bahwa karena kesamaan martabat pribadi antara suami-istri, yang harus tampil dalam kasih sayang timbal balik yang
penuh-purna, jelas sekali tampak kesatuan perkawinan yang dikukuhkan oleh Tuhan. Jadi, suami-istri memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam keluarga di hadapan Tuhan.
Cinta kasih yang sejati dan penuh kesetiaan pasangan suami-istri semakin subur dengan adanya keturunan, tetapi perlu menciptakan relasi yang subur antara dua pribadi yang tidak bisa dipisahkan. Memang tindakan hubungan seksualitas pasangan suami-istri bersifat prokreatif yaitu terbuka pada keturunan yang mampu menciptakan kehidupan baru berarti orangtua berperan sebagai penyangga dan dasar bagi kehidupan secara berkelanjutan (Eminyan, 2001: 93).
Oleh sebab itu, menurut Jack Dominian pasangan suami-istri perlu melalui fase-fase penting yang saling memberikan diri yaitu sebagai berikut:
a. Fase Pertama adalah Proses Memberi Dukungan
Suami-istri hendaknya mampu menciptakan suatu komunikasi yang menimbulkan rasa aman dan damai bagi layaknya suami-istri dengan berbagai macam cara, supaya tampak bahwa mereka saling mendukung dan sebagai bukti dari buah cinta kasih mereka (Eminyan, 2001: 94-97).
b. Fase Kedua adalah Menyembuhkan
Setelah memberi dukungan, secara tidak sadar pasangan suami-istri dalam keluarga saling mengungkapkan luka-luka yang dialami sebelumnya yang terpendam sampai sekarang ini. Mereka juga memperlihatkan dan menunjukkan cinta kasih mereka, supaya pengalaman kesedihan tersebut mengalami penyembuhan dengan cara memberikan pengalaman baru demi terciptanya rasa aman, saling percaya, saling memotivasi, dan saling menghilangkan rasa takut diantara pasangan
suami-istri. Proses penyembuhan ini dimulai dengan mengungkapkan luka-luka tersebut, supaya setiap pribadi bisa membantu untuk menghapus hal-hal negatif dan menjadi seorang pribadi yang mau menerima diri secara positif. Namun, hal tersebut memerlukan jangka waktu yang lama dan menuntut adanya rasa saling percaya. Keluarga yang disebut berhasil adalah keluarga yang dapat menciptakan penyembuhan terhadap luka-luka yang terpendam dalam hati setiap pribadi (Eminyan, 2001: 97-100).
c. Fase Ketiga adalah Bertumbuh dan Berkembang
Pertumbuhan berarti perubahan secara bertahap dalam mewujudkan potensi dan aktualisasi. Potensi dan aktualisasi berarti setiap orang mempunyai kemampuan untuk bertindak sesuatu secara konkret dalam hidup sehari-hari. Pertumbuhan pun hanya terjadi melalui relasi-relasi yang tetap dan berkelanjutan serta terdapat dalam keluarga yang dapat menciptakan kemesraan diantara suami-istri, sehingga penerus kehidupan keluarga sungguh-sungguh berasal dari buah cinta kasih mereka dan membiarkan Allah meneguhkan perjanjian cinta-Nya terhadap umat melalui mereka (Eminyan, 2001: 100-102).
Keluarga berlandaskan pada pernikahan. Pernikahan adalah persatuan atau ikatan hidup antara laki-laki dan perempuan yang dinyatakan secara publik dan dalam ikatan pernikahan yang menjadi tempat bagi para generasi penerus kehidupan supaya saling membantu dan mengembangkan setiap pribadi melalui tuntutan kehidupan sosial dalam masyarakat (Eminyan, 2001: 273).
e. Peran dan Keterlibatan Keluarga
Peran keluarga bagi Gereja dan masyarakat adalah sebagai berikut:
a. Membentuk Persekutuan Pribadi-pribadi
Menurut Familiaris Consortio yaitu dokumen Gereja yang berbicara tentang keluarga mengatakan bahwa cinta kasih menjadi dasar terbentuknya keluarga dan dihidupkan oleh karenanya. Hal itu sebagai bentuk persekutuan dari masing-masing pribadi yang terdiri dari suami-istri dan anak serta sanak saudara. Tugas dan tanggung jawab keluarga yang paling pokok yaitu berusaha untuk selalu menghayati persekutuan untuk mengembangkan kerukunan hidup yang sungguh-sungguh murni dari setiap pribadi. Asas, kekuatan, dan tujuan akhir setiap pribadi hanyalah cinta kasih, karena tanpa adanya cinta kasih keluarga tidak bisa hidup dan berkembang untuk membentuk persekutuan antar pribadi, sehingga persekutuan mendasari dan menjiwai kerukunan hidup dalam pernikahan dan keluarga (FC 18).
b. Mengabdi kepada Kehidupan
Tugas mendasar setiap keluarga yaitu mengabdi kepada kehidupan mewujudkan peristiwa historis dari Tuhan secara nyata melalui pasangan suami-istri yang bersifat prokreatif artinya keterbukaan dan pengadaan keturunan untuk meneruskan gambar ilahi dari setiap pribadi. Kesuburan menjadi simbol dan hasil dari hubungan cinta kasih suami-istri dan kesaksian hidup melalui penyerahan diri seutuhnya diantara keduanya tanpa mengabaikan tujuan-tujuan pernikahan, yaitu supaya suami-istri selalu siap dan kuat bekerja sama dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta dan penyelamat melalui mereka untuk memperkaya keluarga-Nya sendiri (FC 18).
Ciri khas yang mendasar bagi orangtua dalam keluarga adalah berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama. Ungkapan cinta kasih orangtua yang terwujud dalam tugas tersebut akan memperkaya dan menyempurnakan bentuk pengabdian bagi kehidupan. Cinta kasih juga menjadi prinsip bagi orangtua untuk melaksanakan tugasnya dalam mengembangkan nilai-nilai keramahan, ketabahan, kebaikan hati, pengabdian, sikap tanpa pamrih, dan pengorbanan sebagai hasil cinta kasih yang sangat berharga (FC 36).
Bentuk pengabdian kepada kehidupan melalui cinta kasih yang paling utama dan tidak dapat digantikan yaitu cara melahirkan dan mendidik anak. Keluarga-keluarga yang beriman dan mengakui diri sebagai putera-Nya akan bermurah hati menanggapi anak-anak yang kurang mampu di luar keluarganya sendiri berupa motivasi dan cinta kasih, karena mereka sebagai satu keluarga anak-anak Allah, sehingga mereka mampu tumbuh dan berkembang melalui ketenangan dan kepercayaan terhadap kehidupan dengan menerapkan nilai-nilai rohani dan persaudaraan. Oleh karenanya, Tuhan Yesus tetap tergerak hati-Nya oleh belaskasihan terhadap banyak orang melalui perantara keluarga-keluarga (FC 41).
c. Ikutserta dalam Pengembangan Masyarakat
Keluarga berperan sebagai sel pertama dan utama yang penting bagi masyarakat. Keluarga mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan masyarakat karena menjadi landasan dan selalu mengembangkannya melalui pengabdian keluarga bagi kehidupan. Keluarga-keluargalah yang melahirkan masyarakat untuk menemukan keistimewaan-keistimewaan sosial masyarakat (FC 42).
d. Berperanserta dalam Kehidupan dan Misi Gereja
Keluarga-keluarga diutus untuk mengabdi dalam membangun Kerajaan Allah dengan turut serta dalam menghayati kehidupan dan misi Gereja. Keterlibatan akan menjadi sarana untuk menghubungkan Gereja dengan keluarga dan menjadikan Gereja sebagai Gereja kecil atau Gereja rumah tangga, sehingga keluarga menjadi simbol yang hidup dalam peristiwa sejarah Gereja, karena keluarga terlibat pula dalam melanjutkan misi Gereja. Hal itu terbukti tidak hanya menerima cinta kasih Tuhan dengan semaunya sendiri, tetapi juga diharapkan mampu mewartakan cinta kasih tersebut bagi semua orang untuk membentuk persekutuan yang saling menyelamatkan (FC 49).
Keluarga kristiani terlibat dalam membangun Kerajaan Allah melalui tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga berpartisipasi dalam mewujudkan peristiwa perutusan Gereja yang mengacu pada tugas Tuhan sebagai nabi, imam, dan raja. Tiga pribadi tersebut menjadi dasar bagi keluarga yang berperan sebagai persekutuan yang beriman dan mewartakan injil, sebagai persekutuan dalam dialog dengan Allah dan sebagai persekutuan dalam pengabdian bagi sesama (FC 50).
Keluarga tercipta dengan adanya persekutuan suami-istri yang saling memotivasi untuk saling menerima, mendidik, dan memenuhi keperluan anak yang dianugerahkan Tuhan pada pasangan tersebut dengan penuh cinta dan kemesraan. Gereja Katolik penuh dengan kepercayaan bahwa perkawinan sebagai monogam, yaitu hubungan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki. Keluarga Katolik diteguhkan dengan dasar keyakinan bahwa suami-istri menyatakan di hadapan Tuhan dan publik bahwa mereka saling setia sampai kematian memisahkan
mereka, sehingga mereka bertekad mengatasi segala tantangan yang terjadi di dalam keluarga secara bersama-sama (PGKI, 1995: 132).
Pada saat ini keluarga Katolik ditantang dengan adanya perubahan masyarakat sebagai akibat munculnya globalisasi, industrialisasi, urbanisasi, pendewasaan seksualitas, hak yang mutlak dalam mencari kepuasan diri sendiri, meremehkan kesetiaan, dan dengan mudah terjadi perceraian. Tantangan-tantangan tersebut akan semakin menghambat tercapainya cita-cita kehidupan keluarga Katolik yang sejati. Contoh nyata kesulitan dalam menghadapi tantangan dalam keluarga terutama di kota-kota besar adalah orangtua tidak mampu untuk mendidik sekaligus mendampingi anak-anak mereka yang mengikuti cara hidup di kota yang semakin cepat berubah. Selain itu, pengaruh adat dan budaya di kota mempersulit pernikahan sesuai ajaran Gereja, maka di sana banyak terjadi perkawinan campur. Perkawinan campur terjadi karena kurangnya persiapan dan pastoral bagi pasangan suami-istri yang menjadi tantangan, sehingga perlu dihadapi oleh keluarga Katolik dan pelayan pastoral dari Gereja (PGKI, 1995: 132-133).
Sarana penunjang dalam pastoral keluarga yang disediakan antara lain perangkat informasi sehubungan dengan pernikahan dan kehidupan kekeluargaan Katolik, adanya usaha pastoral dalam persiapan pernikahan, pendampingan keluarga Katolik, pastoral orangtua tunggal dan pastoral bagi keluarga pasca cerai. Maka pembinaan terhadap keluarga perlu adanya tindak lanjut, perhatian khusus, adanya pemeliharaan hidup berkeluarga yang nantinya bisa menjadi sumbangan umat untuk mewujudkan Gereja yang sejati (PGKI, 1995: 133-134).
5. Hal-ikhwal Hidup Berkeluarga