BAB II ALAM DAN BUDAYA MASYARAKAT
2.2. Geografi dan Kependudukan
Di wilayah administrasi Kecamatan Gayam, Desa Prambanan adalah desa yang memiliki wilayah yang terluas. Selain terluas desa ini memiliki kondisi geografis yang bervariasi, yang didominasi oleh wilayah dengan kontur geografis yang berbukit-bukit rendah. Dibagian Timur dan Selatan yang berbatasan langsung dengan Selat Raas dan Selat Madura sebagian besar tebing-tebing yang langsung menjorok ke laut, sedikit sekali wilayah pesisir yang memiliki pantai yang landai di Desa Prambanan. Kondisi ini menyebabkan Desa Prambanan memiliki dusun-dusun yang berada di wilayah pesisir maupun non pesisir. Dari kesepuluh dusun yang ada di Prambanan yang merupakan dusun pesisir adalah dusun-dusun yang berada disebelah Timur desa seperti (dari Selatan ke Utara) Dusun Prambanan, Jambusok, Kon Daja, Slat Brata, Karang Nyiur dan Panggung. Sementara dusun nonpesisir adalah Dusun Konlaok, Minomi, Sumberjati dan Blingi.
Jenis lahan di wilayah Desa Prambanan terdiri dari lahan kering dan lahan sawah. Terdapat 18,484 km2 lahan kering dan 0,552 km2 lahan sawah. Mayoritas lahan sawah ini merupakan sawah tadah hujan sedangkan sisanya adalah lahan sawah dengan irigasi sederhana yang berasal dari sumber air. Lahan sawah yang memiliki irigasi sederhana yang berasal dari sumber air terdapat di dusun Karang Nyiur. Adanya pasokan air yang relatif stabil menyebabkan sawah di dusun ini bisa menghasilkan panen padi 2 kali setahun ditambah dengan 1 kali panen kacang hijau. Kecilnya luasan tanah sawah dan lahan kering yang bisa
ditanami menyebabkan lahan menjadi suatu aset yang sangat berharga. Apalagi dengan bertambahnya jumlah penduduk yang berakibat luas kepemilikan lahan perorangan semakin kecil. Hal ini menyebabkan konflik antar warga akibat masalah kepemilikan lahan merupakan hal yang relatif sering terjadi di kalangan masyarakat desa.
Gambar 2.9. Sumber mata air di Desa Prambanan. Dokumentasi peneliti
Sumber air yang berupa mata air selain digunakan sebagai sumber irigasi bagi sawah dan ladang, dipegunakan oleh warga desa untukmemenuhi kebutuhan akan air bersih untuk konsumsi dan MCK (mandi, cuci dan kakus). Mata air yang digunakan oleh warga untuk konsumsi dan kebersihan pada umumnya berasal dari air tanah (ground
water) yang merembes dari tanah yang lalu menggenang dan
membentuk kolam. Kolam-kolam mata air seperti ini kebanyakan terdapat di wilayah yang memiliki struktur geologi yang terdiri dari batuan karst atau kapur seperti kolam-kolam karst yang ada di dekat masjid Dusun Blingi.
Kolam-kolam ini dipergunakan sebagai sarana pengambilan air untuk konsumsi dan tempat mandi umum, dimana kolam untuk mengambil air dipisahkan dengan tembok dari kolam untuk mandi. Ada
pemisahaan bagi perempuan dan laki-laki, dimana tempat mandi perempuan letaknya lebih dekat ke sumber air sementara untuk laki-laki di dalam halaman masjid. Sumber air di tempat pemandian perempuan lebih banyak dibandingkan dengan tempat laki-laki. Hal ini dikarenakan lebih banyak aktifitas yang dilakukan di tempat mandi perempuan, dimana selain mandi biasanya perempuan mengambil air untuk konsumsi dan mencuci pakaian. Sementara di tempat laki-laki kebanyakan hanya digunakan untuk mandi saja atau mengambil air wudlu ketika hendak melakukan sholat di masjid. Selain itu juga ada beberapa kelompok warga yang lokasi tinggalnya jauh dari mata air melakukan pemipaan untuk mengalirkan air langsung dari sumbernya ke tempat tinggal mereka.
Sumber air bersih lain di wilayah Desa Prambanan berupa sumur baik sumur bor maupun gali. Untuk sumur ini biasanya digali secara gotong royong dan digunakan sebagai sumber air bersama oleh beberapa rumah tangga. Biasanya tidak jauh dari sumber air itu dibangun tempat cuci, kamar mandi dan kakus yang dipergunakan secara komunal oleh beberapa rumah tangga.
Ada beberapa dusun yang memiliki keterbatasan sumber air baik mata air atau sumur seperti di wilayah dusun Prambanan dan Jambusok. Di kedua dusun ini pada saat musim penghujan masyarakat tidak menemukan masalah karena bisa menampung air hujan dan persediaan air di sumur sangat berlimpah. Tetapi pada saat musim kering masyarakat harus mencari air ke sumber air diwilayah dusun lain yang berbatasan dengan dusun mereka.
Tabel 2.1. Luas wilayah desa dan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin.
No. Desa Luas
(Km2) Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah 1. Gayam 3,02 1.748 2.063 3.811 2. Jambuir 3,18 845 910 1.755 3. Pancor 12,92 3.467 3.880 7.347 4. Prambanan 19,04 2.294 2.607 4.901
5. Gendang Timur 9,89 858 1.029 1.887 6. Karang Tengah 3,50 880 953 1.833 7. Nyamplong 3,71 518 617 1135 8. Gendang Barat 13,67 1.343 1.569 2.912 9. Kalowang 9,52 1.897 2.236 4.133 10. Terebung 9,94 1.337 1.560 2.897
Sumber : Kecamatan Gayam Dalam Angka 2013
Seperti yang sudah di tuliskan dibagian sebelumnya secara administratif Desa Prambanan terdiri dari 10 dusun dan 23 rukun tetangga, dimana di masing-masing dusun terdapat 2-3 rukun tetangga. Dari data BPS Kecamatan Gayam tahun 2013, Desa Prambanan memiliki jumlah rumah tangga berjumlah 1.935 rumah tangga yang terdiri jumlah penduduk laki-laki adalah 2.294 jiwa dan perempuan 2.607 jiwa. Total jumlah penduduk adalah 4.901 jiwa, dengan luas wilayah desa seluas 19,04 km2 maka kepadatan penduduk adalah 257,41 per-km2. Tabel.2.1 diatas dapat dilihat luas wilayah masing-masing desa dan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Gayam tahun 2013. Selain masih kurangnya berbagai fasilitas infrastruktur seperti transportasi dan listrik di wilayah Desa Prambanan.Hal yang sama berlaku juga bagi fasilitas pendidikan yang ada di Desa Prambanan.
Fasilitas pendidikan yang ada di Desa Prambanan dapat dikatakan belum lengkap, baru terdapat sarana pendidikan dasar berupa 4 (empat) sekolah dasar negri dan tidak ada sekolah lanjutan baik lanjutan pertama maupun atas. Begitu juga fasilitas pendidikan berbasis agama hanya ada 1 (satu) Madrasah Ibtidaiyah. Sementara untuk fasilitas pendidikan agama yang lain terdapat 8 (delapan) madrasah Diniyah di Desa Prambanan.
Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan keagamaan yang berada di luar jalur sekolah, dimana diharapkan lembaga ini mampu secara terus menerus memberikan pendidikan agama Islam kepada anak didik yang tidak terpenuhi pada jalur sekolah yang diberikan dengan
sistem klasikal.7 Untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi siswa harus mencari di sekitar wilayah ibukota kecamatan yaitu Desa Pancor yang berjarak ±8 km dari Desa Prambanan. Kurangnya fasilitas pendidikan itu bisa menjadi salah satu faktor masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Desa Prambanan.
Rata-rata pendidikan masyarakat di desa Prambanan berdasarkan data BPS Kecamatan Gayam pada tahu 2013 adalah setingkat Sekolah Dasar dengan jumlah 3.307 jiwa. Tapi dari hasil pengamatan dan keterangan warga, ada warga masyarakat yang dianggap hanya lulusan sekolah dasar tetapi sebenarnya setelah lulus mereka melanjutkan pendidikan ke pesantren tradisional yang fokus pengajarannya kepada penghafalan kitab suci Al Quran atau hafidz.
“....biasanya anak-anak menyelesaikan pendidikan formalnya dulu setingkat sekolah dasar atau SMP baru meneruskan ke pondok (pesantren) yang ada di wilayah Situbondo. Teman-teman saya banyak yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai SD saja lalu melanjutkan ke pesantren yang hanya mengajarkan sistim hafidz saja....” (wawancara dengan HH toma Desa Prambanan)
Hal ini dapat terjadi karena masyarakat Desa Prambanan sama dengan masyarakat Madura yang lain adalah masyarakat yang cenderung sangat relijius. Jadi dalam hal ini masyarakat lebih mementingkan pendidikan agama dibandingkan pendidikan formal. Dari kutipan diatas bisa disimpulkan bahwa pendidikan walaupun pendidikan formalnya relatif rendah tetapi pengetahuan non formal masyarakat tidaklah rendah. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya pendidikan terutama di kalangan perempuan di Desa Prambanan adalah karena masih adanya kasus pernikahan usia dini.
“....biasanya setelah lulus sekolah dasar, temen saya ada yang langsung menikah. Saya dan teman yang lain lanjut ke pondok (pesantren) tetapi ada teman karena tidak naik kelas terus disuruh pulang dan dinikahkan....” (wawancara dengan SW, warga Desa Prambanan).
7
Dari kutipan diatas tersebut serta informasi masyarakat yang lain kasus pernikahan usia dini masih banyak berlangsung. Biasanya kedua pasangan dijodohkan oleh masing-masing orangtua atau wali dan dipertunangkan pada saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah dianggap cukup umur antara 14-16 tahun untuk anak perempuan biasanya mereka langsung dinikahkan. Ada beberapa teman informan (SW) yang begitu tidak lulus ujian sekolah dasar langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Dapat dikatakan berbagai faktor yang diceritakan diatas menjadi penyebab masih rendahnya taraf pendidikan formal masyarakat Desa Prambanan.
Menurut Kecamatan Gayam dalam Angka tahun 2013 dari 1.935 rumah tangga yang ada di Desa Prambanan 1.352 rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian. Sementara sisanya bekerja di sektor perkebunan dan perikanan. Tetapi dari hasil pengamatan dan informasi warga, banyak rumah tangga tidak hanya bekerja di satu sektor saja tetapi dua bahkan tiga sektor. Di dusun-dusun pesisir Desa Prambanan bahkan ada beberapa rumah tangga yang bergerak di sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
“...warga di dusun ini kerjanya tidak hanya bertani, setelah selesai masa tanam sambil nunggu panen biasanya warga berangkat ke laut mencari ikan dan gurita. Diantara kedua kegiatan tersebut ada juga yang ngurus ternak baik milik sendiri maupun titipan orang...” (wawancara dengan HH toma di Desa Prambanan)
Dari hasil pengamatan kegiatan di sektor pertanian dan peternakan ini lebih banyak dilakukan tidak hanya oleh warga usia produktif tapi juga oleh warga usia lanjut. Beratnya kegiatan fisik yang dilakukan dalam kegiatan pertanian dan peternakan menyebabkan munculnya keluhan dalam masalah kesehatan. Banyak warga yang bekerja sebagai petani-peternak terutama yang sudah berusia lanjut sering mengeluhkan pegal-pegal dan sakit persendian. Karena beratnya kegiatan fisik yang dilakukan dalam ketiga sektor (pertanian, peternakan dan perikanan tangkap) ini serta ditambah semakin sempitnya lahan pertanian menjadi salah satu pendorong bagi sebagian masyarakat usia produktif yang memilih untuk menjadi pekerja migran di luar Sapudi bahkan di luar Madura seperti di Jawa, Bali dan Kalimantan. Alasan lainnya adalah kurang tersedianya lapangan pekerjaan
diluar ketiga sektor tersebut menjadi pendorong warga usia produktif untuk merantau.