BAB III KESEHATAN MASYARAKAT
3.2. Penyakit Menular
3.2.1 Tuberkulosis
Penyakit Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyakit infeksi yang mematikan. Dimana penyakit inimenyerang golongan usia produktif (15-50 tahun), anak-anak serta golongan sosial ekonomi lemah. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui percikan dahak penderita yang BTA positif. Sebagian besar penyakit ini menyerang paru-paru sebagai organ tempat infeksi primer, namun dapat juga menyerang organ lain seperti kulit, kelenjar limfa,
21
tulang dan selaput otak. Di tingkat nasional, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu penyumbang jumlah penemuan penderita TB Paru. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur sendiri, Kabupaten Sumenep menduduki peringkat keempat terbesar kasus TB Paru se Jawa Timur.22
Gambar 3.7.
Kasus TB Paru di Kabupaten Sumenep Tahun 2012-2014 Sumber: Profil Kesehatan Daerah Kabupaten Sumenep Tahun 2014
Pada tahun 2014 jumlah kasus TB dengan BTA positif tercatat sebesar 1.555 kasus. Angka tersebut mengalami kecenderungan peningkatan tiap tahunnya. Pada tahun 2012, angkanya naik dari 1244 kasus menjadi menjadi 1307 kasus pada tahun 2013. Sedangkan pada tahun berikutnya terjadi kenaikan dari 1307 kasus menjadi 1555 kasus pada tahun 2014. Artinya, dalam kurun waktu tiga tahun terjadi peningkatan 311 kasus dengan BTA+ baru.
Angka prevalensi TB Paru yang meningkat juga diikuti dengan peningkatan succses rate untuk program TB Paru itu sendiri. Angka kesembuhan pada tahun 2014 sebesar 83,75% dengan angka keberhasilan (success rate) 95,45%. Jika dibandingkan dengan Tahun 2013 yang memilikisuccess ratesebesar 92,37%, tahun 2014 telah terjadi kenaikan keberhasilan dalam penanggulangan pengobatan TB. TB Paru telah menjadi prioritas dalam penanggulangan masalah penyakit di Kabupaten Sumenep yang diikuti dengan keberhasilan penanggulangannya.
22
Profil Kesehatan Propinsi Jawa Timur Tahun 2013 0 500 1000 1500 2000 2012 2013 2014 1244 1307 1555 1037 1062 866 94.13 92.37 95.45 BTA + Kesembuhan Succes Rate
Gambar 3.8. Kebiasaan Minum Dari Wadah Yang Sama Sumber: Dokumentasi Peneliti
Masyarakat di Pulau Sapudi menyebut penyakit TB Paru dengan istilah cekek. Penyakit ini konon disebabkan racun yang dimasukkan pada air dan gelas yang kita minum23. Padahal jika dikaji dari segi medis, racun yang dimaksud adalah bakteri yang bisa ditularkan melalui tukar menukar minuman. Pada masyarakat di Pulau Sapudi terdapat semacam kebiasaan minum beramai-ramai dari wadah yang sama yang berupa gayung, baik di rumah maupun di kebun. Kebiasaan ini bisa menjadi salah satu perilaku yang memungkinkan penularan TB Paru dari penderita ke orang lain.
Jumlah kasus TB Paru di Kecamatan Gayam pada tahun 2014 mencapai 21 kasus. Angka tersebut diperkirakan lebih tinggi karena proses penjaringan kasus TB Paru masih dilakukan secara pasif. Seperti hasil wawancara dengan Informan NH, petugas kesehatan Puskesmas Gayam:
23
“Itu gimana ya terus terang kalau Active finding tidak pernah dilakukan, hanya mengandalkan passive finding saja. Kita tidak pernah melakukan sosialisasi ke masyarakat, menunggu masyarakat datang atau rujukan dari rumah sakit di pamekasan. Sehingga target suspect hanya separuh dari yang ditargetkan dan yang positif juga jauh dari capaian yang diharapkan. ”
Alasan Active finding tidak bisa dilakukan karena terbatasnya tenaga kesehatan terlatih. Rangkap jabatan di bagian penanggulangan TB Paru di Puskesmas menyebabkan tugas penjaringan kasus tidak bisa dilakukan dengan optimal. Lebih jauh, informan NH menyatakan jika dilakukan sosialisasi masyarakat akan lebih banyak yang sadar tentang penyakit TB Paru.
“Masalahnya gini, asumsi masyarakat terhadap batuk dia menitikberatkan pada guna-guna. Istilah maduranya apa ya..cekek. Setelah parah dan parah baru ke Puskesmas”
Pada masyarakat yang berobat ke dukun, masih terdapat pantangan-pantangan makanan. Misalnya tidak boleh makan ikan, sayur, dan kacang hijau. Dukun mengatakan hanya boleh makan nasi putih saja. Padahal pasien TB Paru perlu mendapatkan asupan makanan yang bergizi tinggi.
Dari manajemen pelayanan, hambatan dalam upaya penanggulangan TB Paru di Kecamatan Gayam, adalah ketidakjelasan penggunaan protap dalam tatalaksana TB Paru. Misalnya dalam kasus pasien TB Paru Multi Drug
Resistence (MDR), FR. Saat berobat untuk kedua kali diakhir lini kedua, FR
dinyatakan positif TB Paru MDR. Menurut protap yang saat itu dipegang di Puskesmas, jika positif pengobatan masih harus dilanjutkan. Sementara pada protap sudah diperbarui, dikemukakan apabila diakhir lini kedua pengobatan, ternyata pasien masih positif, maka yang bersangkutan harus dirujuk ke rumah sakit umum provinsi. Informasi tersebut belum sampai di tingkat Puskesmas sehingga pasien FR tetap melanjutkan pengobatan sampai akhirnya batuk darah dan terdiagnosis MDR. Kesiapan Puskesmas dalam perubahan sistem pencatatan online perlu diperhatikan. Dari segi
ketersediaan obat selalu ada, tetapi obat yang diberi biasanya yang sudah mendekati kadaluwarsa.
Saat ini FR pasien TB Paru MDR tengah menjalani pengobatan lanjutan di Puskesmas Gayam setelah dirujuk dari RS Soetomo Surabaya. LR, istri dari FR, menceritakan bahwa suaminya pertama kali berobat tahun 2010 dengan keluhan batuk-batuk. Setelah diperiksa FR menjalani pengobatan lini satu. Selesai pengobatan lini satu, FR dan LR merantau ke Jakarta sebagai pedagang. Pada tahun 2012 mereka kembali ke Pulau Sapudi, karena FR mengalami batuk-batuklagi dan harus menjalani pengobatan lini kedua. Setelah sembuh, mereka kembali lagi ke Jakarta. Kemudian pada awal tahun 2015, FR mengalami batuk darah dan dibawa ke RS Sutomo Surabaya. Disana diperiksa dan dinyatakan positif TB Paru MDR. Oleh RS Sutomo dirujuk kembali untuk diberi pengobatan dengan Pengawas Minum Obat (PMO) berasal dari petugas kesehatan di Puskesmas Gayam.
FR mulai menjalani program MDR di Puskesmas pada pertengahan April lalu. Setiap hari, LR dan FR pergi ke Puskesmas kecuali minggu untuk minum obat. Setiap kali pengobatan memakan waktu 1-1,5 jam. Lama pengobatan satu program 18-25 bulan. Seperti wawancara dengan informan LR, istri penderita TB MDR:
“Tujuh bulan dari berhenti, langsung sakit lagi. Waktu yang ikut delapan bulan di Pamekasan. Tiga hari di Pamekasan mampet. Disini ganti penyakit batuknya kering ngap-ngapan. Langsung dibawa ke Surabaya. Dianterin sama Mas Nunu. Di Surabaya langsung ketahuan sudah TB MDR”
Dilihat dari riwayat penyakitnya, FR pernah tinggal serumah dengan ibu dan bibinya yang menderita TB. Sudah menjalani pengobatan TB saat masih duduk di sekolah dasar. Merokok adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari sebelum difonis sakit. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan kurang sehat dan beratnya beban pekerjaan selama merantau di Jakarta.Lamanya proses pengobatan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita, membuat FR mencoba berobat ke pengobat tradisional. Cara pengobatan ini ternyata tidak juga menyembuhkan penderitaannya.
Pada saat menderita MDR, FR mengalami permasalahan dengan fisik dan psikisnya. Dari segi fisik FR mengalami penurunanberat badan secara drastis. Untuk psikisnya, diakui oleh sang istri bahwa FR sering mengalami kondisi emosi yang tidak stabil.
“Iya gampang tersinggung. Ya saya yang harus ngalah dan banyak sabar. Kalau ga sabar ya sudah ditinggal (sambil tertawa)”
Pada saat ini asupan gizi FR lebih diperhatikan. Setiap hari FRminum susu yang ditambah dengan putih telur ayam kampung. Setiap hari FR dapat 4-5 kali makan yaitu setiap pagi sehabis lari pagi, setelah pulang dari Puskesmas, sore dan malam hari. Ketika mengkonsumsi obat di puskesmas dihadapan petugas pengawas minum obat (PMO) biasanya FRmengkonsumsi camilan. Hal tersebut dilakukan karena menurut FR pada saat mengkonsumsi obat lidahnya terasa tebal. Sedangkan untuk minum, FR bisa menghabiskan air sebanyak dua liter setengah sehari.