• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KESEHATAN MASYARAKAT

3.2. Penyakit Menular

3.2.2 Kusta

Penyakit Kusta atau sering disebut penyakit Lepra merupakan penyakit infeksi kronis. Penyebabnyaadalah bakteri Mycobacterium

Leprae yang menyerang saraf tepi. Beban penyakit kusta yang utama

adalah kecacatan yang ditimbulkan. Masalah terkait penyakit kusta sangat kompleks, bukan hanya dari segi medis tetapi meluas pada masalah sosial dan ekonomi. Meskipun penyakit kusta dapat diobati dan disembuhkan, Indonesia belum terbebas dari masalah penyakit kusta, karena dari tahun ke tahun masih ditemukan sejumlah kasus baru.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kusta terbesar ketiga di dunia setelah India dan Brasil. Provinsi Jawa Timur sendiri menduduki peringkat pertama di Indonesia sebagai propinsi dengan jumlah penderita kusta terbanyak24. Sementara Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten dengan angka kasus penyakit kusta terbesar di Jawa Timur. Prevalensi kusta tahun 2014 di Kabupaten Sumenep sebesar 4,3 per 10.000 penduduk, dimana target kusta sendiri adalah 1 per 10.000 penduduk. Artinya kasus kusta masih lebih tinggi dari

24

target yang diharapkan. Untuk angka penemuan kasus baru (NCDR) penderita kusta di Kabupaten Sumenep sebesar 48,60 per 100.000.

Gambar 3.9.

Tren Kasus Baru Kusta di Kabupaten Sumenep Tahun 2012-2014 Sumber: Profil Kesehatan Daerah Kabupaten Sumenep Tahun 2014

Dari gambar di atas, kasus kusta di Kabupaten Sumenep mengalami fluktuasi. Pada tahun 2012, angkanya mencapai 540 kasus. Angka tersebut turun drastis menjadi 475 kasus atau sekitar 12% dari tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2014, angka tersebut naik menjadi 517 kasus atau naik sekitar 8%.

Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kusta dilakukan melalui penemuan penderita dan pengobatan dengan MDT (Multi Drug

Therapy),sedangkan untuk mencegah kecacatan penderita dilakukan

pemeriksaan POD (Prevention of disability) setiap bulan selama masa pengobatan dan rehabilitasi medis.

Di Pulau Sapudi, khususnya diwilayah kerja Puskesmas Gayam,penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dihadapi masyarakat. Dari hasil wawancara dengan informan TA, petugas Puskesmas bagian kusta, angka kusta di Kecamatan Gayam mengalami peningkatan tiap tahunnya. Diagram penyakit kusta di Pulau Sapudi dijelaskan di bawah ini:

540 475 517 400 450 500 550 2012 2013 2014

Gambar 3.10. Gambaran Kasus Kusta Di Kecamatan Gayam Sumber: Bagian Kusta Puskesmas Gayam

Dari diagram di atas terlihat bahwakasus kusta cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya. Tahun 2013 terdapat 35 kasus kusta dan angkanya meningkat menjadi 44 pada tahun 2013. Kasus kusta bisa jadi meningkat pada tahun 2015, karena per April saja kasusnya sudah mencapai 17 kasus.

Salah satu penyebab mengapa angka kusta masih tinggi adalah masih banyaknya penderita yang malu untuk berobat ke puskesmas. Mereka lebih suka menunggu didatangi oleh petugas kesehatan di rumah masing-masing daripada harus datang langsung ke puskesmas. Ada juga yang memutuskan pengobatan di tengah jalan karena takut terhadap reaksi obat. Wajah penderita tampak memerah akibat mengonsumsi obat. Putus obat ini banyak terjadi pada pasien perempuan25

Masyarakat Madura di Pulau Sapudi menyebut kusta dengan istilah

kuddu. Kuddu dianggap dan dipercaya sebagai penyakit hasil tarekaan atau

santet dari orang lain yang tidak senang pada penderita. Selain berobat ke tenaga kesehatan, penderita kusta biasanya juga berobat juga ke dukun. Seperti yang dialami oleh informan S. Bapak S pertama kali mengalami kusta pada dua belas tahun yang lalu. Setelah berobat delapan bulan, ia merasa sembuh dan akhirnya menghentikan pengobatan. Desember tahun 2014, sekujur tubuhnya terlihat memerah dan terasa gatal. Karena pernah menderita kusta bapak S langsung berobat ke Pak TL, petugas kesehatan yang menangani bagian kusta di puskemas. Tapi karena tak kunjung sembuh, S juga pergi berobat ke dukun.

25

Hasil wawancara dengan informan TA 0 10 20 30 40 2013 2014 2015* PB MD

Gambar 3.11. Petugas Kusta melakukan Pemeriksaan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pencarian alternatif pengobatan ini dikarenakan sewaktu sang istri mengalami sakit kusta, mereka juga pertama kali berobat ke dukun. Pada saat itu dukun memberikan ramuan tradisional. Ramuan tradisional itu berupa tokek yang dibakar, lalu abunya dikerik dan diminumsatu kali sehari. Alasan kenapa harus mengkonsumsi tokek, karena menurut dukun tokek adalah kadal yang memiliki kulit yang berpola mirip kusta jadi harus dikonsumsi supaya sembuh. Selain itu dukun memberikan pantangan-pantangan makanan, seperti yang dituturkan bapak S;

“Dukun bilang tidak boleh makan sayur, ikan nga’sengnga’ cakalang, malaseng.“

Selain mengonsumsi tokek dan berpantang makanan tersebut, dukun memberi air yang sudah di jampi-jampi/doakan, bedak

palekkeran, dan kayu masoji yang dipakai untuk obat kurap. Bedak palekkeran seperti bedak dingin yang terbuat dari beras. Biasanya diberi

air lalu dibalur ke sekujur tubuh atau diminum. Sedangkan kayu masoji digerus lalu dicampur dengan minyak kelapa dan dibalurkan ke seluruh tubuh.

Gambar 3.12. Bedak Palekkeran dan Kayu Masoji Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kini ia tidak mengonsumsi ramuan dari dukun lagi sebab setelah pergi ke dukun penyakitnya juga tak kunjung sembuh dan berdasarkan pengalaman sang istri yang sudah pernah terkena sebelumnya sembuh setelah berobat dengan petugas medis. Sebulan sekali Pak TL datang membawakan obat untuknya yang harus dikonsumsi per satu bulan. Apabila Pak TL berhalangan sehingga tidak bisa datang, biasanya bapak S yang akan datang mengambil obat. Pada bulan Desember 2015 nanti pengobatan bapak S akan tuntas.

Dalam proses rehabilitasi dan medikasinya bapak S juga mengalami reaksi obat setelah empat bulan. Reaksi obat berupa berubahnya warna kulit menjadi memerah dan melepuh. Lingkaran-lingkaran bekas kusta terlihat seperti baru pecah. Dengan kondisi fisik yang seperti itu, bapak S tidak berani keluar rumahkarena malu. Selain perubahan warna kulit bapak S juga sudah mengalami cacat tingkat dua, yang ditandai dengan tidak bisa digerakkannya satu jari kelingking tangan kiri. Pada saat ini bapak S berlatih menggerakkan tangan dan jari dengan mempergunakan bola tenis agar otot tangan dan jari yang lain tidak kaku. Selain kondisi fisik, kaki dan badan yang sakit-sakit juga berakibat terhambatnya aktifitas fisik sehari-hari dari bapak S.

Sejak menjalani pengobatan bapak S tidak lagi aktif bekerja. Sebelumnya, mata pencaharian bapak S adalah mencari ikan hias disekitar Pulau Raas. Pulau Raas merupakan salah satu daerah di

Sumenep yang memiliki banyak kasus kusta. Biasanya bapak S pergi mencari ikan selama tiga hari di Pulau Raas dan baru kembali ke desa Prambanan setelah ikan hasil tangkapannya terjual. Ia bekerja pada seorang juragan ikan hias di Gayam. Kegiatan mencari ikan hias ini biasanya dilakukan bersama delapan nelayan lain dalam satu kapal. Bapak S bertugas menyelam mencari ikan dengan mempergunakan

sarappo, sejenis kacamata selam tradisional. Penyelaman biasanya

dilakukan pada kedalaman 3 meter. Sehari-hari bapak S merokok dengan rokok linting, dimana tembakau rokok dibeli di pasar. Bapak S tidak pernah menghitung berapa banyak rokok linting yang ia konsumsi setiap harinya. Selain merokok bapak S setiap hari minum kopi sebanyak 2 gelas besar.

Dari hasil pengamatan, keluarga bapak S tinggal di rumah dengan kondisi yang kurang layak. Lantai masih berupa tanah, dengan atap senglangsung tanpa plafon. Rumah keluarga bapak S tidak memiliki sarana sanitasi dasar yang memadai. Kamar mandi berupa tempat mandi sederhana dihalaman depan yang digunakan bersama-sama dengan tetangga yang masih merupakan kekerabatan. Di rumah tidak terdapat jamban. Jadi setiap akan BAK atau BAB S dan keluarganya akan pergi ke kebun. Alat mandi seperti handuk digunakan secara terpisah dengan istri namun sabun yang digunakan tetap sama. Bapak S tidur terpisah dengan sang istri, karena sang istri takut tertular.

Petugas yang penjaringan penderita kusta di Puskesmas Gayam adalah bapak TL. Bapak TL yang tamatan SMA ini sudah memegang program kusta di Puskesmas Gayam sejak tahun 1987. Dalam melakukan kegiatan penjaringan, beliau berkunjung ke rumah pasien sebulan sekali dengan sekaligus membagikan obat. Hambatan yang dirasakann adalah masih kurangnya tenaga kesehatan di bagian kusta. Tidak ada petugas kesehatan yang mau menemani bapak TL di bagian kusta.

“Dulu pernah minta bantuan perawat di bagian kusta. Ndak ada yang mau. Takut tertular katanya. Padahal saya sudah puluhan tahun megang (program kusta) juga tidak kena-kena (kusta).”