DAFTAR LAMPIRAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kondisi Biofisik 1 Iklim
4.2.2. Geologi dan Tanah
Kondisi geologi di Kota Makassar disusun oleh dua jenis batuan, yaitu batuan gunung api dan endapan alluvial (Lampiran 6). Kondisi geologi tersebut menunjukkan bahwa di Kota Makassar tidak dijumpai adanya gejala yang memberikan indikasi terdapatnya struktur geologi yang dinamis dan penting, yaitu sesar (patahan), lipatan, dan kekar sehingga relatif aman dari proses geologi.
Jenis tanah yang ada di Kota Makassar terdiri atas tanah inceptisol dan tanah ultisol. Jenis tanah inceptisol terdapat hampir di seluruh wilayah Kota Makassar. Jenis ini tergolong sebagai tanah muda dengan tingkat perkembangan lemah dengan horison kambik yang dicirikan dengan adanya kandungan liat yang belum terbentuk dengan baik akibat proses basah kering dan proses penghayutan pada lapisan tanah. Tanah ini terbentuk dari berbagai macam bahan induk, yaitu aluvium (fluviatil dan marin), batu pasir, batu liat, dan batu gamping.
Jenis tanah ultisol merupakan tanah berwarna kemerahan yang banyak mengandung lapisan tanah liat dan bersifat asam. Jenis ini berkembang dari batuan sedimen masam (batu pasir dan batu liat) dan sedikit dari batuan volkan tua. Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik ini telah mengalami pelapukan lanjut dan terjadi translokasi liat pada bahan induk yang umumnya terdiri atas bahan kaya aluminium silika dengan iklim basah (Bappeda, 2005).
4.2.3. Topografi
Kota Makassar memiliki kondisi topografi relatif datar dengan kemiringan lahan 0-15% dan ketinggian 0-25 m di atas permukaan laut. Kondisi topografi yang relatif datar tersebut sesuai untuk berbagai jenis penggunaan lahan, seperti pelabuhan, rekreasi, pertanian/tambak, dan konservasi.
4.2.4. Hidrologi
Secara hidrologis, Kota Makassar dipengaruhi oleh Sungai Jeneberang di bagian selatan dan Sungai Tallo di bagian utara. Sebagian permukaan Kota Makassar memiliki wilayah yang lebih rendah dari permukaan air laut sehingga hampir setiap tahunnya beberapa bagian kota mengalami banjir. Bagian kota terutama di sepanjang DAS Jeneberang dan Tallo yang peka terhadap banjir merupakan daerah rendah, yang sebelumnya berupa empang atau rawa-rawa yang
berkembang menjadi daerah permukiman. Peta rawan banjir di Kota Makassar dapat dilihat pada Lampiran 7.
Berdasarkan parameter fisika kimia, kondisi perairan pantai Kota Makassar telah mengalami pencemaran terutama bahan organik dan padatan tersuspensi. Beberapa parameter fisika kimia telah melebihi baku mutu air laut yang tergolong tercemar adalah total padatan tersuspensi (total suspended solid, TSS), kebutuhan oksigen secara kimia (chemical oxygen demand, COD), nitrat, fosfat, logam timbal (Plumbum, Pb), dan logam kadmium (Cadmium, Cd) (Tabel 12).
Tabel 12. Kondisi perairan berdasarkan parameter fisika kimia
Baku mutu
No. Parameter Satuan Min Maks Rerata
Daerah Nasional EC* Keterangan
1. TSS mg/L 54 397,5 152,1 50 80 25 Tercemar
2. pH - 7,75 8,14 7,94 - 7-8,5 6-9 Sesuai untuk biota
laut
3. Suhu oC 30,1 30,7 30,43 - 28-32 - Tidak tercemar
4. DO mg/L 3,8 5,1 4,7 4 >5 5,6-9 Tidak tercemar, kecuali muara Sungai Jeneberang proses fotosintesis terhambat oleh padatan tersuspensi
5. BOD mg/L 2,3 2,7 2,5 3 20 3-6 Tidak tercemar
6. COD mg/L 98 156 119,1 25 80 - Tercemar
7. Amonia mg/L 0,01 0,04 0,018 - 0,3 0,025 Tidak tercemar
8. Nitrat mg/L 0,01 1,326 0,258 - 0,008 0,03 Tercemar
9. Fosfat mg/L 0,09 0,224 0,135 - 0,015 - Tercemar
10. Pb mg/L 0,115 0,415 0,215 - 0,008 0,001 Tercemar
11. Cd mg/L 0,003 0,125 0,047 - 0,001 0,0018 Tercemar
12. Cu mg/L 0 0,011 0,018 - 0,008 0,005 Tidak tercemar
Sumber: Diolah dari Samawi (2007)
* EC: European Community
4.2.5. Oseanografi
Kondisi oseanografi di perairan pantai Kota Makassar dipengaruhi oleh kondisi arah dan kecepatan angin. Pada saat kecepatan angin maksimum arah angin yang terjadi dominan dari arah barat laut dan diikuti dari arah barat serta arah barat daya. Selain itu, ombak di perairan juga dibangkitkan oleh angin. Menurut DKKP (2006), tinggi ombak maksimum pada tahun 2005-2006 di Pantai Barombong berada pada kisaran 0,5-4,0 m, sedangkan di Pantai Losari lebih rendah yaitu berada pada kisaran 0,5-1,3 m (Lampiran 8).
44
Pola arus di perairan pantai Kota Makassar dipengaruhi oleh arus pasang surut yang bergerak dari arah utara ke selatan dan sebaliknya dari selatan ke utara. Arus tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi di daratan dan dasar laut yang landai dengan keberadaan pulau-pulau di sekitar Kota Makassar dan juga adanya karang dan lamun. Pada daerah tertentu terdapat teluk yang berfungsi sebagai penghalang sehingga aksi arus dari laut lepas teredam oleh keberadaan tanjung yang menyebabkan arus menjadi lemah. Data tunggang air pasang surut di perairan Kota Makassar dapat dilihat pada Lampiran 9.
Dominansi arus dari selatan ke utara cenderung membawa sedimen ke arah utara. Selain berasal dari erosi dan abrasi pantai akibat arus susur pantai dan arus tolak pantai, sedimen juga berasal dari DAS Jeneberang dan DAS Tallo. Sedimentasi tersebut menyebabkan kekeruhan, pendangkalan (terutama di kawasan pelabuhan), timbulnya delta, dan lidah pasir (spit) ke arah Pantai Losari.
Daerah Aliran Sungai Jeneberang memiliki luas 72.700 ha dengan panjang sungai utama 75 km dan debit sungai berkisar 4,5 - 2.800 m3/detik. Angkutan sedimen diketahui dengan mengacu pada debit sungai Jeneberang, yaitu antara 238,8 - 1.152 m3/detik (debit rata-rata tahunan sebesar 33,05 m3/detik) dengan kadar lumpur yang terbawa antara 25 - 200 gr/liter (DKKP, 2007a). Pengaruh perkembangan sedimentasi ini berdampak pada daerah sekitar Tanjung Bunga ke arah barat laut hingga utara. Sebagai alternatif untuk mengatasi masalah sedimentasi, dibangun Dam Bili-bili yang diperkirakan akan menurunkan muatan sedimen ke perairan pantai Makassar hingga 0,2×106 m/tahun atau seperempat kali volume semula.
Selain itu, pengaruh ombak dan arus dekat pantai juga menimbulkan gaya- gaya hidrodinamis sehingga membentuk spit yang ujungnya membelok ke arah daratan seakan-akan menyerupai spiral. Antara spit dengan daratan di Kecamatan Mariso terbentuk teluk yang cenderung membentuk perairan tertutup dari arah barat sehingga proses dauran ombak relatif kecil (Bappeda, 2003).
Berdasarkan data pada Lampiran 10, suhu permukaan laut di sekitar pantai Kota Makassar berkisar antara 25 – 31oC, sedangkan di sekitar pulau-pulau kecil suhu permukaan laut berkisar 27 – 32oC. Salinitas permukaan laut di sekitar pantai Kota Makassar berkisar antara 20 – 38o/oo, sedangkan di sekitar pulau-
pulau kecil berkisar 28 - 35 o/oo. Nilai kecerahan perairan di Pantai Barombong
adalah 4-6 m, sedangkan di kawasan Pelabuhan Makassar hanya sebesar 2,6-3,5 m. Kecerahan tinggi sekitar 11-20 m terdapat di perairan yang jauh dari daratan utama yaitu di sekitar pulau-pulau terluar, seperti Pulau Lumu-lumu dan Pulau Lanyukang.