DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Wilayah Pesisir dan Panta
Berdasarkan Undang-undang RI No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Penentuan batas-batas wilayah pesisir di dunia umumnya berdasarkan pada tiga kriteria, yaitu 1) garis linier secara arbiter tegak lurus terhadap garis pantai (coastline atau shoreline), seperti yang terlihat pada Gambar 2 (Pernetta & Milliman, 1995 diacu dalam Dahuri, 1998), 2) batas-batas administrasi, misalnya di Indonesia, batas wilayah pesisir provinsi adalah 12 mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan, sedangkan batas wilayah pesisir kabupaten/kota adalah 1/3 dari wilayah provinsi atau 4 mil diukur dari garis pantai ke arah laut lepas, dan 3) karakteristik dan dinamika ekologis (biofisik) berdasarkan sebaran spasial dari karakteristik alamiah (natural features) atau kesatuan proses-proses ekologis (seperti aliran air sungai, migrasi biota, dan pasang surut). Contoh batas satuan pengelolaan wilayah pesisir menurut kriteria ketiga ini adalah batasan menurut daerah aliran sungai (DAS).
Gambar 2. Batasan wilayah pesisir (Pernetta & Milliman, 1995 diacu dalam Dahuri, 1998)
Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi dan air surut terendah (Pratikto & Sambodho, 2001). Daerah daratan adalah daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan dimulai dari batas garis pasang tertinggi, sedangkan daerah lautan adalah daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis surut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Garis pantai adalah garis pertemuan antara daratan dan air laut yang posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi (Triatmodjo, 1999).
Wilayah pesisir apabila ditinjau dari garis pantai (coastline) memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Untuk keperluan pengelolaan, penetapan batas-batas wilayah pesisir yang sejajar dengan garis pantai relatif lebih mudah, misalnya batas wilayah pesisir antara Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, atau batas wilayah pesisir Kabupaten Kupang adalah antara Tanjung Nasikonis dan Pulau Sabu, dan batas wilayah pesisir Jakarta adalah antara Sungai Dadap di sebelah barat dan Tanjung Karawang di sebelah timur (Dahuri, 1998). Batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat ditetapkan dua jenis, yaitu batas untuk wilayah perencanaan (planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day management) (Diposaptono, 2005).
Wilayah pesisir merupakan sistem yang kompleks, tempat terjadinya interaksi berbagai proses biofisik, sosial, budaya, ekonomi, administrasi, dan pemerintahan. Faktor-faktor biofisik yang menyusun keunikan wilayah ini ditunjukkan dengan sangat nyata, misalnya tingkat elevasi (rendah-sedang-tinggi), jenis air (asin-payau-tawar), tingkat pasang surut, dan jenis tanah (pasir-tanah liat). Di wilayah ini, banyak ditemukan bukit pasir (sand dunes) dan jenis tumbuhan asli (indigenous). Kebanyakan dari jenis-jenis tumbuhan yang bersifat endemik (Sjaifuddin, 2007). Selain itu, wilayah pesisir juga memiliki nilai penting dalam konteks sosial ekonomi. Berbagai aktivitas ekonomi penting seperti permukiman, industri, pertanian, dan pariwisata yang terkonsentrasi di wilayah pesisir memberikan dampak pada terjadinya peningkatan kepadatan penduduk
8
secara nyata (Tol et al., 1996; Joseph & Balchand, 2000). Pariwisata sebagai salah satu sektor penting penyangga ekonomi dunia, bahkan menempatkan wilayah pesisir sebagai salah satu daerah tujuan wisata paling dominan.
Menurut Dahuri et al. (2001), suatu kawasan pesisir dapat memiliki satu atau lebih ekosistem pesisir dan sumber daya pesisir. Berdasarkan sifat ekosistem, ekosistem pesisir dapat bersifat alamiah (natural) atau buatan (man made). Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove, padang lamun (seagrass beds), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescarpae, formasi barringtonia, estuaria, laguna, dan delta. Ekosistem buatan, antara lain, tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, dan kawasan permukiman. Indonesia sebagai daerah tropis memiliki ekosistem pesisir sebagai berikut.
1. Hutan mangrove merupakan tipe hutan khas tropika yang tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai. Kehidupan tumbuhan ini sangat dipengaruhi oleh suplai air tawar dan salinitas, pasokan nutrien dan stabilitas substrat. Hutan mangrove banyak dijumpai di pantai yang landai dengan muara sungai yang berlumpur dengan kondisi perairan yang tenang dan terlindung dari ombak. Menurut Kawaroe et al. (2001), keunikan ekosistem mangrove adalah batas yang menghubungkan antara ekosistem darat dan ekosistem laut sehingga dapat mempengaruhi proses kehidupan biota (flora dan fauna) di wilayah tersebut. Berbeda dengan ekosistem darat, mangrove adalah ekosistem terbuka yang dihubungkan dengan ekosistem laut melalui arus pasang surut.
2. Padang lamun (sea grass beds) merupakan semacam rumput (padang ilalang) laut yang hidup terbenam di perairan dangkal yang agak berpasir. Secara ekologis padang lamun memiliki beberapa fungsi penting bagi daerah pesisir, yaitu sebagai sumber utama produktivitas primer, sumber makanan penting bagi organisme, penstabil dasar perairan yang lunak karena memiliki sistem perakaran rapat, tempat berlindung organisme, tempat pembesaran bagi beberapa spesies, peredam arus gelombang, dan tudung pelindung panas matahari. Kehidupan padang lamun sangat dipengaruhi oleh kondisi kecerahan air laut, suhu air laut, salinitas, substrat, dan kecepatan arus.
3. Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem khas di daerah tropis. Ekosistem terumbu karang memiliki produktivitas organik yang tinggi dan kaya akan keragaman spesies penghuninya seperti ikan karang. Terumbu karang merupakan ekosistem pesisir yang memiliki nilai estetika alam yang sangat tinggi. Terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung ekosistem pesisir dan laut dari tekanan gelombang. Keberadaan terumbu karang sangat ditentukan oleh kondisi kecerahan perairan, suhu, salinitas, kecepatan arus air, sirkulasi, dan sedimentasi.
4. Rumput laut (sea weeds) merupakan tumbuhan pada perairan yang memiliki substrat keras yang kokoh untuk tempat melekat. Tumbuhan ini hanya dapat hidup pada perairan tempat tumbuhan mudanya mendapatkan cukup cahaya. Parameter lingkungan utama untuk ekosistem rumput laut adalah kekeruhan/kecerahan air, kandungan padatan terlarut dan tersuspensi, serta arus laut.
5. Estuariaadalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bercampur. Kebanyakan estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang kaya bahan organik dan menjadi cadangan makanan utama bagi organisme estuaria. Akan tetapi, organisme dan tumbuhan yang berkembang di estuaria relatif sedikit karena merupakan kawasan pertemuan air laut dan air tawar. 6. Pantai pasir (sandy beach) terdiri atas kwarsa dan feldspar yang merupakan
sisa-sisa pelapukan batuan di gunung yang dibawa oleh aliran sungai. Pantai pasir lainnya terbentuk oleh rombakan pecahan terumbu karang yang diendapkan oleh ombak. Partikel yang kasar menyebabkan hanya sebagian kecil bahan organik yang terserap sehingga organisme yang hidup di pantai berpasir relatif sedikit. Meskipun demikian, pantai berpasir sering dijadikan beberapa biota (seperti penyu) untuk bertelur. Parameter utama dari pantai berpasir adalah pola arus yang mengangkut pasir, gelombang yang melepas energinya, dan angin yang mengangkut pasir ke arah darat.
7. Pantai berbatu (rocky beach) merupakan pantai dengan batu-batu memanjang ke laut dan terbenam di air. Batuan yang terbenam ini menciptakan zonasi kehidupan organisme yang menempel di batu karena pengaruh pasang.
10
Parameter utama yang mempengaruhi pantai berbatu adalah pasang laut dan gelombang laut yang mengenainya.
8. Formasi Pescaprae umumnya terdapat di belakang pantai berpasir. Formasi pescarpae didominasi oleh vegetasi pionir, khususnya kangkung laut (Ipomoea pescaprae) untuk menahan gelombang.
9. Formasi Barringtonia merupakan ekosistem yang berkembang di pantai berbatu tanpa deposit pasir, tempat formasi pescarpae tidak dapat tumbuh. Habitat berbatu ini ditumbuhi oleh komunitas rerumputan dan belukar yang dikenal sebagai formasi Barringtonia.