DAFTAR LAMPIRAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pengelolaan kawasan multi-pemanfaatan
Pengelolaan kawasan multi-pemanfaatan ditujukan untuk pemanfaatan sebagai kawasan permukiman, bisnis/perdagangan, transportasi, dan kegiatan- kegiatan perkotaan lainnya. Beberapa tindakan pengelolaan yang diusulkan sebagai berikut.
a. Penataan bangunan di sepanjang pantai dengan memanfaatkan pantai dan laut sebagai “halaman depan”. Untuk menerapkan konsep waterfront, bangunan yang berada di sepanjang pantai harus mengarah dan berorientasi ke laut. Apabila konsep waterfront tidak diterapkan, kawasan pantai akan kehilangan ciri dan karakteristiknya sebagai waterfront city. Umumnya bangunan yang berada di kawasan pantai Kota Makassar belum mengarah ke laut. Jika terdapat beberapa hotel, rumah sakit, dan bangunan toko yang menghadap ke laut disebabkan oleh bangunan tersebut berorientasi ke jalan yang sejajar dengan laut. Bangunan yang baru dibangun pun seperti Celebes Convention Centre dibangun membelakangi laut. Akan tetapi, konsep waterfront
sebenarnya telah diterapkan di permukiman nelayan tradisional. Menurut Yanti (2002), umumnya perkampungan nelayan berada dekat sumber mata pencaharian dan letak rumah nelayan mengikuti empat penjuru mata angin. Biasanya rumah tersebut mengarah ke Timur tempat matahari terbit atau menghadap ke sumber mata pencaharian seperti danau, sungai, atau laut. b. Peningkatan nilai estetika fasade bangunan yang berada di sepanjang pantai.
Menurut Wijanarka (2008), estetika fasade bangunan dapat diperoleh, antara lain, dengan pola desain yang sama, keserasian antara fasade bangunan yang
satu dengan lainnya meskipun pola desainnya berbeda, adanya garis pengatur ketinggian bangunan, dan pola bukaan fasade (pintu dan jendela) yang indah. Di kawasan pantai Kota Makassar, berdasarkan hasil analisis keindahan terlihat bahwa beberapa bangunan telah memiliki nilai fasade yang indah, seperti bangunan Benteng Ujung Pandang, RS Stella Maris, dan Celebes Convention Centre. Akan tetapi, beberapa bangunan lainnya seperti ruko di sepanjang pantai dan bangunan di Pantai Laguna belum terlihat indah.
c. Pengaturan sirkulasi atau jaringan jalan sebagai penghubung dalam kawasan
waterfront. Pengaturan sirkulasi dilakukan sejajar, berpola lurus dengan sisi pengairan, atau pola jalan mengikuti pola air untuk memudahkan orang menikmati view ke arah laut. Menurut Soesanti dan Sastrawan (2006), sirkulasi yang tidak berdekatan dengan area perairan mengakibatkan salah orientasi dan hilangnya citra dari waterfront itu sendiri. Pengaturan jalur jalan juga dilakukan searah untuk menghindari kemacetan lalu lintas terutama pada saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan publik di kawasan pantai serta dilakukan pemisahan jalur pejalan kaki untuk keamanan pengunjung. Selain itu, jalur jalan yang berada dekat laut juga dapat digunakan untuk membedakan dua area yang berbeda (darat dan air).
d. Pengelolaan air mencakup kuantitas dan kualitas air bersih. Diagram sistem pengelolaan air mulai dari skala rumah tangga hingga kota dapat dilihat pada Gambar 20. Sumber air yang berasal dari Dam Bili-bili sebanyak 125 liter dapat dihemat menjadi 76 liter yang digunakan untuk masak, mandi, dan mencuci, sedangkan untuk kebutuhan air siraman toilet dapat menggunakan air hujan. Limbah dari rumah tangga selanjutnya dialirkan ke sistem pembuangan untuk diolah pada unit pengolahan limbah. Limbah yang masuk saluran melalui aliran permukaan mengalir ke kanal-kanal, tetapi harus ada tindakan pengawasan, pencegahan, penampungan sementara, dan pembersihan sebelum dialirkan ke sungai atau laut. Adanya ruang terbuka hijau sebagai
green infrastructure seperti taman-taman kota, area rekreasi, dan kawasan konservasi hutan mangrove diharapkan dapat mendukung ketersediaan air. Menurut Benedict dan McMahon (2001), green infrastructure dapat merujuk pada engineered structure, seperti fasilitas pengelolaan air dan green roof
96
yang didesain ramah lingkungan. Green infrastructure sebaiknya menjadi kerangka dalam pengembangan dan konservasi kawasan, yang digambarkan sebagai suatu jaringan yang menghubungkan ruang terbuka hijau untuk melindungi fungsi dan nilai ekosistem alami sehingga memberikan manfaat bagi manusia. Green infrastructure memiliki sistem poros atau pusat kegiatan (hubs) dan penghubung (link) untuk memulihkan ekosistem dan fitur-fitur lanskap. Hubs mencakup kawasan yang dilindungi, lanskap alami yang dikelola sebagai area rekreasi, lahan-lahan pertanian, dan taman lingkungan, sedangkan link mencakup landscape linkages, koridor-koridor yang dilindungi, jalur-jalur hijau (greenway), dan sabuk-sabuk hijau (greenbelt).
Gambar 20. Diagram pengelolaan air (diadaptasi dari Tjallingi, 1995)
RUM AH KE CA MAT A N KOT A REGI ON
AL Sumber air bersih dari
DAM Bili-bili Pemanfaatan untuk masak, mandi, dan mencuci Pemanfaatan untuk air siraman
toilet Air hujan Penampungan sementara Kanal-kanal Pengawasan dan pencegahan Sistem pembuangan PENGOLAHAN LIMBAH Hutan mangrove Area rekreasi Taman- taman kota
e. Pemanfaatan potensi energi yang berasal dari laut untuk menghasilkan listrik. Menurut Gunawan (2008), energi yang berasal dari laut (ocean energy) dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu (1) energi ombak (wave energy), energi pasang surut (tidal energy), dan (3) hasil konversi energi panas laut (ocean thermal energy conversion). Energi laut juga dapat dimanfaatkan juga untuk kegiatan-kegiatan publik yang membutuhkan kapasitas listrik besar seperti konser musik.
f. Pengelolaan sampah domestik terutama dari rumah tangga, hotel, restoran, dan industri. Walaupun pemerintah Kota Makassar telah mencanangkan kampanye Makassar Bersih pada tanggal 15 Mei 2004 dan mengeluarkan kebijakan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2005 mengenai larangan membuang sampah, permasalahan sampah masih belum teratasi. Dalam kurun waktu dua tahun penerapan Perda ini di wilayah percontohan Kecamatan Ujung Pandang baru menjaring 68 pelanggar untuk diproses secara hukum melalui pengadilan. Sementara kondisi persampahan di kecamatan tersebut masih sangat memprihatinkan, dan pelanggar yang lolos dipastikan jauh lebih banyak daripada yang terjaring.
g. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebijakan pengelolaan lingkungan secara rutin. Pemerintah Kota Makassar telah merencanakan beberapa kegiatan pengelolaan lingkungan, tetapi tidak dilaksanakan secara rutin. Program tersebut antara lain program kali bersih (Prokasih), program udara bersih (Prodasih), dan program pantai dan laut lestari. Untuk mendukung program tersebut, sebaiknya diberikan sanksi dan penghargaan kepada individu yang terkait.