• Tidak ada hasil yang ditemukan

GURU PEMULA SEKOLAH DASAR NEGERI DI DKI JAKARTA

Dalam dokumen ISQAE 2016 Proceeding (Halaman 146-154)

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 133

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 134 pedoman pelaksanaan, memberikan masukan positif bagi pihak-pihak terkait untuk pelaksanaan berikutnya.

Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan tempat untuk mengevaluasi program induksi bagi guru pemula. Terdapat banyak problematika yang terjadi dalam mengevaluasi program induksi. Seperti yang dilansir Pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta bidang Sumber Daya Manusia Retno Eka Wulandari,

“Masih banyak masalah yang terjadi dalam pengevaluasian program induksi, diantaranya kurangnya sosialisasi pihak Dinas dan Suku Dinas, perubahan pengawas, kurangnya guru senior di sekolah, mata pelajaran yang tidak linear”. Mengingat peran guru yang sangat strategis dalam pembangunan pendidikan, maka seorang guru harus dipersiapkan dengan matang. Persiapan tersebut haruslah berkesinambungan mulai dari pre-service dan pendidikan profesi guru di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan sampai menjadi guru pemula di satuan pendidikan.

Bertitik tolak dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian terkait “Evaluasi Program Induksi bagi Guru pemula SDN di DKI Jakarta”

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode evaluatif dengan model CIPP. Dasar kegiatan dalam evaluasi program induksi guru pemula ini melalui tahapan context, input, process dan product.

Secara rinci komponen evaluasi program induksi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1 Komponen Evaluasi Program Induksi

Context Input Process Product

 Latar belakang program

 Tujuan dan sasaran program

 Tahapan kegiatan program

 Peserta Induksi

 Pembimbing

 Kepala Sekolah

 Pengawas Sekolah

 Persiapan

 Pengenalan

Sekolah/Madrasah dengan

lingkungannya

 Pelaksanaan dan Observasi Pembelajaran

 Metode Penilaian

 Evaluasi (tambahan)

 Pelaporan

Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Input

Komponen input yang dievaluasi meliputi peserta, pembimbing, kepala sekolah dan pengawas sekolah:

Peserta induksi

Peserta Induksi adalah guru pemula yang berstatus CPNS yang ditugaskan pada sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah serta yang sudah memiliki pengalaman mengajar selama satu tahun.

Guru pemula adalah guru yang baru pertama kali ditugaskan melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat. Tanggungjawab guru pemula dalam program induksi; (1) mengamati situasi dan kondisi sekolah serta lingkungannya, termasuk mempelajari data-data sekolah, tata tertib sekolah dan sarana serta sumber belajar di sekolah; (2) mempelajari latar belakang siswa; (3) mempelajari dokumen administrasi guru;

(4) mempelajari kurikulum tingkat satuan pendidikan; (5) menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (6) melaksanakan proses pembelajaran; (7) menyusun

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 135 rancangan dan instrumen penilaian (ranah kognitif, afektif dan psikomotorik); (8) melaksanakan penilaian proses dan penilaian hasil belajar siswa; (9) melaksanakan tugas lain yang terkait dengan tugasnya sebagai guru, seperti pembina ektra kurikuler, instruktur TIK.

(10) melakukan observasi di kelas lain; (11) melakukan diskusi dengan pembimbing, kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran maupun tugas lain yang terkait dengan tugasnya sebagai guru.

Pembimbing

Pembimbing adalah guru senior dan berpengalaman yang memiliki kriteria sepuluh tahun dalam mengajar dan mempunyai kemampuan membimbing serta kompetensi yang bagus. Memiliki pengalaman mengajar atau mengajar pada jenjang kelas yang sama dan pada mata pelajaran yang sama dengan guru pemula. Memiliki kemampuan bekerja sama dengan baik, kemampuan komunikasi yang baik, serta kemampuan menganalisis dan memberikan saran-saran perbaikan terhadap proses pembelajaran/bimbingan dan konseling.

Pembimbing diberi tugas untuk membimbing guru pemula dalam melaksanakan program induksi. Dalam pelaksanaan program induksi pembimbing diberikan arahan oleh pengawas tentang teknis dan tanggungjawab pembimbing. Pembimbing ditunjuk oleh kepala sekolah dengan kriteria memiliki : (1) kompetensi sebagai guru profesional; (2) pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 8 tahun dan memiliki jabatan sebagai Guru Madya; (3) pengalaman mengajar atau mengajar pada jenjang kelas yang sama dan pada mata pelajaran yang sama dengan guru pemula; (4) kemampuan bekerja sama dengan baik dengan guru pemula; (5) kemampuan komunikasi yang baik; (6) kemampuan menganalisis teknik mengajar/proses pembelajaran dan dapat memberikan saran-saran perbaikan; (7) kemampuan untuk membimbing dan membantu guru pemula dalam melaksanakan pembelajaran profesional.

Kepala Sekolah

Kepala sekolah bertanggungjawab atas pelaksanaan program induksi, dengan demikian seorang kepala sekolah wajib membimbing dan memfasilitasi guru pemula agar berhasil mengikuti program induksi dengan baik. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk:

(1) melakukan analisis kebutuhan guru pemula; (2) menyiapkan Buku Pedoman Pelaksanaan Program Induksi (3) menunjuk pembimbing yang sesuai dengan kriteria; (4) menjadi pembimbing, jika pada satuan pendidikan yang dipimpinnya tidak terdapat guru yang memenuhi kriteria sebagai pembimbing; (5) mengajukan pembimbing dari satuan pendidikan lain kepada dinas pendidikan terkait jika tidak memiliki pembimbing dan kepala sekolah tidak dapat menjadi pembimbing; (6) memantau pelaksanaan pembimbingan dan penilaian oleh pembimbing; (7) berkomunikasi dengan guru pemula dan pembimbing; (8) memfasilitasi guru pemula dalam upaya peningkatan kompetensi dan pengembangan profesi;

(9) melakukan penilaian tahap ke dua terhadap guru pemula serta memberikan saran perbaikan; (10) menyusun Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula; (11) mengajukan penerbitan Sertifikat kepada Kepala Dinas.

Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah bertanggungjawab dalam menjamin mutu pelaksanaan program induksi, untuk itu seorang pengawas sekolah harus terlibat mulai saat persiapan hingga berakhirnya program induksi. Pengawas sekolah bertanggungjawab untuk : (1) memberikan penjelasan kepada kepala sekolah dan pembimbing dan guru pemula tentang pelaksanaan program induksi termasuk proses penilaian; (2) melatih pembimbing dan kepala sekolah tentang pelaksanaan pembimbingan dan penilaian dalam program induksi; (3) melakukan observasi pelaksanaan proses pembelajaran dan berkomunikasi dengan guru pemula sebagai bagian dari proses pembimbingan dan penilaian; (4) melakukan penilaian tahap ke dua terhadap guru pemula serta memberikan saran perbaikan; (5) memberikan masukan dan saran atas isi Laporan Penilaian Kinerja Guru Pemula; (6) melakukan fungsinya sebagai mitra, inovator, konselor, motivator, kolaborator, konsultan dan evaluator bagi kepala sekolah, pembimbing dan guru pemula. (7) memantau, membina, menilai, mengevaluasi dan

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 136 menyusun laporan serta memberikan rekomendasi program tindak lanjut pada keseluruhan pelaksanaan program induksi di sekolah yang menjadi tanggungjawabnya.

Hasil Penelitian Evaluasi Process

Komponen proses yang dievaluasi meliputi persiapan, pengenalan sekolah dengan lingkungannya, pelaksanaan dan observasi pembelajaran dan metode penilaian.

Persiapan

Proses persiapan pelaksanaan induksi oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terdiri dari beberapa kegiatan antara lain; Pengarahan/sosialisasi tentang pelaksanaan program induksi yang diadakan di Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yang dihadiri oleh pengawas perwakilan setiap wilayah Jakarta. Dan dari pengawas menginformasikan kepada Kepala sekolah dan calon pembimbing serta guru pemula yang ingin mengikuti kegiatan induksi ini.

Pengenalan Sekolah dengan Lingkungannya

Sebagai awal dari proses pengenalan sekolah dengan lingkungannya, dilakukan pengamatan terhadap situasi dan kondisi sekolah. Kegiatan ini bagi sebagian guru pemula bukan lagi hal yang aneh karena sebelumnya sudah beradaptasi dengan lingkungan yang menjadi tempat tugas dari guru pemula tersebut. Mereka mampu memberikan penjelasan tentang situasi dan kondisi sekolah, bahkan menguasai tata letak bangunan dan fungsi dari gedung atau prasarana sekolah lainnya.

Pelaksanaan dan Observasi Pembelajaran

Pelaksanaan dan observasi pembelajaran difokuskan pada penyusunan rencana pengembangan profesional guru pemula, penyusunan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil analisis dokumen, aspek pengembangan keprofesian guru pemula disusun mengacu pada kesaragaman format yang berisi data, tujuan, pelaksanaan, waktu, keterlibatan unsur lain dan hasil evaluasi.

Metode Penilaian

Penilaian guru pemula dilaksanakan berdasarkan panduan penilaian induksi guru pemula, antara lain; Penilaian tahap I, dilakukan oleh pembimbing setelah melalui proses pembimbingan terhadap guru pemula. Pembimbing tahap I pada dasarnya adalah pembimbingan untuk mengembangkan kompetensi guru pemula. Aspek-aspek yang dinilai seperti pada gambar dibawah ini:

Gambar 1 Penilaian pada Program Induksi bagi Guru Pemula

Kompetensi Guru Penilai Pelaksanaan

Penilaian Pedagogik

Kepribadian

Profesional

Guru Pembimbing Kepala Sekolah

Pra Observasi

Observasi Pembelajaran

Pasca Observasi Sosial

Pengawas Sekolah

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 137 Setelah melaui proses bimbingan pengembangan silabus dan RPP, maka dilakukan observasi pelaksanaan pembelajaran oleh pembimbingan dengan fokus observasi yang telah disepakati sebelumnya. Dalam melaksanakan observasi pembelajaran selain oleh pembimbing juga dibantu oleh seksi kurikulum. Penilaian tahap II dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas untuk menilai kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional guru pemula. Penilaian kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dilakukan melalui pengamatan sikap keseharian guru pemula dan pelaksanaan tugas lain. Kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional dilakukan melalui observasi pembelajaran. Observasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah minimal dua kali dalam satu semester dan empat kali dalam satu tahun. Guru pemula mengisi lembar refleksi pembelajaran setelah pembelajaran dilaksanakan yang ditindaklanjuti dengan adanya pertemuan antara kepala sekolah/pengawas dan guru pemula yang diobservasi. Pertemuan ini membahas tentang pembelajaran yang telah dilakukan guru pemula. Kepala sekolah/pengawas memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran dan catatan-catatan. Hasil penilaian diproses sesuai gambar dibawah ini:

Gambar 2. Hasil Penilaian pada Program Induksi bagi Guru Pemula

Guru Pemula Hasil Penilaian

Guru Pemula

Setelah Perpanjangan

Nilai minimal kategori baik

Belum mendapat nilai minimal kategori baik

Tidak dapat minimal baik

Sertifikat Program Induksi

Perpanjangan masa induksi maksimal 1 tahun

PNS yang diberi tugas mengajar tanpa jabatan

fungsional Dinas Pendidikan/kantor kementerian agama setempat

Dapat diusulkan untuk diangkat dalam Jabatan fungsional Guru bila telah dapat nilai minimal Baik

pada tahun berikutnya.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 138 Hasil Penilitian Evaluasi Product

Komponen produk yang dievaluasi meliputi pelaporan. Pelaporan dilaksanakan pada bulan ke-11 setelah Penilaian Tahap 2 selesai dengan langkah-langkah:

1. Pembuatan Draft Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula oleh Kepala Sekolah/madrasah yang didiskusikan dengan pembimbing dan dikonsultasikan dengan pengawas sekolah/madrasah berdasarkan Hasil Penilaian tahap II.

2. Pengkajian hasil penilaian Tahap I dan II oleh pengawas sekolah/madrasah dengan kepala sekolah/madrasah, pembimbing, dan guru pemula.

3. Penentuan Keputusan pada Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula berdasarkan pengkajian Penilaian Tahap 2 dengan mempertimbangkan Penilaian Tahap 1, yang selanjutnya guru pemula dinyatakan memiliki Nilai Kinerja dengan Kategori Amat Baik, Baik, Cukup, Sedang dan Kurang. Amat Baik, jika skor penilaian antara 91-100; Baik, jika skor penilaian antara 76-90; Cukup; jika skor penilaian antara 61-75; Sedang, jika skor penilaian antara 51-60, Kurang, jika skor penilaian kurang dari 50. Nilai tersebut jika >

76 maka akan diterbitkan Sertifikat Induksi Guru Pemula oleh Dinas Pendidikan, namun jika < 76 maka akan diperpanjang satu tahun lagi masa induksidi sekolah.

4. Penandatanganan Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula oleh guru pemula, kepala sekolah/madrasah, dan pengawas sekolah/madrasah

5. Pengajuan penerbitan Sertifikat oleh kepala sekolah/ madrasah kepada Kepala Dinas Pendidikan atau Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota bagi guru pemula yang telah memiliki Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula dengan nilai minimal berkategori Baik. Sertifikat menyatakan bahwa peserta program Induksi telah Berhasil menyelesaikan Program Induksi dengan baik.

Pembahasan

Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Context

Dalam proses evaluasi komponen context terbagi menjadi tiga fokus aspek. Fokus pertama aspek tujuan telah mengacu pada pedoman pelaksanaan induksi bagi guru pemula, sehingga acuan pelaksanaan program induksi, terutama dalam pembekalan guru pemula memulai tugas pokok dapat dicapai. Selanjutnya pada fokus kedua aspek tahapan pelaksanan, menunjukkan bahwa seluruh komponen yang terlibat dakam pelaksanaan induksi memiliki pemahaman yang lebih tinggi mulai dari persiapan hingga pelaporan, dan semua tahapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan. Sedangkan aspek yang perlu mendapat perhatian adalah latar belakang penyelenggaraan induksi. Hal ini dibuktikan dengan sebagian peserta induksi mengemukakan bahwa sosialisasi oleh pihak dinas perlu ditingkatkan lagi, terutama menyangkut latar belakang penyelenggaraan induksi oleh pengawas masih kurangnya informasi mengenai induksi sehingga adanya ketidak efektifan dalam pengawasan peserta induksi. Berdasarkan prinsip penyelenggaraan program induksi guru pemula yang terdapat dalam Permendiknas No. 27 tahun 2010. Khususnya prinsip profesionalisme bahwa penyelenggara bekerja sesuai dengan tupoksinya, kemudian prinsip Berkelanjutan, dilakukan secara terus-menerus dengan selalu mengadakan perbaikan atas hasil sebelumnya maka ketuntasan pada aspek latar belakang yang berhubungan dengan kegiatan sosialisasi penyelenggaraan induksi dapat teratasi.

Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Input

Pada komponen Input terdapat dua fokus aspek evaluasi yang terbagi dalam empat kelompok. Permasalahan yang dihadapi guru pemula terutama dalam penyusunan satuan kegiatan layanan bimbingan dan penyuluhan, antara lain: materi yang disampaikan merupakan informasi yang dibutuhkan oleh sebagian siswa saja, terlalu sering menyelenggarakan layanan bimbingan kelompok, kurangnya bahan bacaan untuk dijadikan bahan materi satuan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah peran pengawas, bahwa masih terdapat di sekolah menengah pertama penunjukkan pengawas tidak memenuhi standar sebagai pengawas sekolah.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 139 Kurangnya informasi mengenai induksi, membuat pengawas tidak melakukan pengawasan dengan baik.

Menurut pedoman penyelenggaraan induksi guru pemula, pada bagian pengawas seharusnya pengawas bertanggungjawab untuk: memberikan penjelasan kepada kepala sekolah dan pembimbing dan guru pemula tentang pelaksanaan program induksi termasuk proses penilaian, melatih pembimbing dan kepala sekolah tentang pelaksanaan pembimbingan dan penilaian dalam program induksi; melakukan observasi pelaksanaan proses pembelajaran dan berkomunikasi dengan guru pemula sebagai bagian dari proses pembimbingan dan penilaian; melakukan penilaian tahap ke dua terhadap guru pemula serta memberikan saran perbaikan; memberikan masukan dan saran atas isi Laporan Penilaian Kinerja Guru Pemula; melakukan fungsinya sebagai mitra, inovator, konselor, motivator, kolaborator, konsultan dan evaluator bagi kepala sekolah, pembimbing dan guru pemula.

memantau, membina, menilai, mengevaluasi dan menyusun laporan serta memberikan rekomendasi program tindak lanjut pada keseluruhan pelaksanaan program induksi di sekolah yang menjadi tanggungjawabnya.

Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Process

Komponen evaluasi process terdiri atas 10 (sepuluh) fokus yang terbagi dalam empat kelompok. Secara umum semua fokus yang dievaluasi dalam komponen proses terlaksana sesuai dengan pedoman induksi bagi guru pemula, meskipun beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain kurangnya interaksi sosial pengenalan guru pemula terhadap peserta didik . Dengan karakter siswa yang bermacam-macam, membuat guru pemula sulit memberikan materi dalam pembelajaran. Penilaian hasil belajar siswa juga perlu mendapat perhatian, hal ini dibuktikan dengan penguasaan guru pemula terhadap konsep dan proses penilaian yang belum maksimal meskipun sebagian kecil saja. Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi tersebut, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan.

Menurut Permendiknas No. 27 tahun 2010 mengharuskan peserta induksi untuk menguasai sejumlah kompetensi sebagai profil lulusan program induksi. Kompetensi sosial menjadi petunjuk bagi guru untuk menguasai cara berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Pembahasan Hasil Penelitian Evaluasi Product

Dalam komponen evaluasi product, peneliti lebih memfokuskan pada aspek laporan hasil penilaian kinerja guru pemula. Meskipun termasuk kategori baik, atau sesuai dengan pedoman pelaksanaan induksi guru pemula, namun aspek pelaporan perlu juga mendapat perhatian, terutama sistematika dalam pelaporan yang disampaikan ke Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Peneliti menemukan sebagian laporan hasil penilaian kinerja guru pemula tidak memenuhi unsur keseragaman. Hal ini lebih kepada lampiran data-data pendukung yang berbeda-beda.

Berkas laporan hasil pelaksanaan induksi guru pemula yang dilaksanakan selama satu tahun oleh guru pemula/peserta induksi akan diberikan nilai oleh tim penilai sesuai dengan kelengkapan berkas yang dikumpulkan. Setelah diberi nilai oleh tim penilai, berkas tersebut dikumpulkan ke Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta untuk dievaluasi ulang nilai dan berkas yang dikumpulkan. Dalam proses pengumpulan berkas laporan hasil pelaksanaan induksi guru pemula, banyak laporan yang telat diakibatkan karena harus menunggu tim penilai selesai menilai laporan hasil pelaksanaan induksi guru pemula.

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 140 Simpulan

Berdasarkan hasil evaluasi serta pembahasan yang peneliti lakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pada komponen konteks, dari hasil analisis dokumen pengelola program induksi ditemukan bahwa tujuan pelaksanaan program induksi sudah sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. (2) Komponen input memiliki kemampuan sumber daya yang dilibatkan dalam program induksi guru pemula. Banyak unsur yang memenuhi standar pelaksanaan induksi. Dari setiap unsur tersebut sudah melakukan tugasnya dengan baik dan penuh tanggungjawab. (3) Komponen proses, yang dievaluasi sudah sesuai dengan persiapan, pengenalan sekolah dengan lingkungannya, pelaksanaan dan observasi pembelajaran dan metode penilaian yang mengacu pada buku pedoman pelaksanaan yang diarahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. (4) Komponen produk belum sesuai dengan keseragaman format pelaporan hasil penilaian guru pemula. Hal ini penting karena bagi sekolah yang akan memiliki orientasi terhadap pelaporan yang sama dengan mengacu pada sistematika yang ditetapkan pihak terkait.

Dari simpulan tersebut, peneliti menyampaikan beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan pelaksanaan program induksi bagi guru pemula: (1) Kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta sebaiknya dilakukan perbaikan dalam bentuk sosialisasi kepada para Kepala Suku Dinas, Pengawas Sekolah, dan Kepala Sekolah, sehingga mereka lebih memahami faktor yang melatarbelakangi program induksi, (2) Kepada pengawas dan kepala sekolah baik yang membimbing guru maupun tidak membimbing guru induksi diharapkan untuk mengikuti sosialisasi dan mengetahui informasi mengenai induksi. Agar dapat meningkatkan layanan bimbingan berupa pengawasan kepada kepala sekolah dan pembimbing serta guru pemula tentang pelaksanaan program induksi. Melatih pembimbing dan kepala sekolah tentang pelaksanaan pembimbingan dalam program induksi termasuk proses penilaian kepada kepala sekolah dan guru pembimbing. Peran penting yang perlu diupayakan adalah perlu adanya penataran bagi pengawas sekolah yang akan menjadi pengawas dalam kegiatan program induksi.

Referensi

Fitzpatrick, Jody L., dkk. 2012. Program Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Hamalik, Oemar. 2006. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Langbein, Laura. 2006. Public Program Evaluation A Statistical Guide. NewYork: M.E. Sharpe.

MQ, Patton. 2000. Qualitative Evaluation and Research Methods. London: Sage Publication.

Owen, John M. 2006. Program Evaluation Sydney: Allen and Unwin.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2010 tentang Induksi Bagi Guru Pemula Pasal 1, ayat 3, dan Pasal 2.

Petunjuk Teknis Program Induksi bagi Guru Pemula (Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik & Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional, 2009). h. 3.

Royse, David, dkk. 2010. Program Evaluation: An Introduction. Canada: Cengage Learning.

Stufflebeam, Daniel L. and Anthony J. Shinkfield. 2007. Evaluation Theory, Models, &

Applications. San Francisco: Jossey-Bass.

Usman, M. Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Widoyoko, Eko Putro. 2011. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yamin, Martinis. 2007. Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press.

Yusi Arisandi, dan Daryanto. 2015. Program Induksi untuk guru Pemula. Yogyakarta: Gava Media

Enriching Quality and Providing Affordable Education through New Academia | 141

USE OF AUDIO VISUAL MEDIA AND TECHNICAL WRITING FEATURE

Dalam dokumen ISQAE 2016 Proceeding (Halaman 146-154)

Garis besar

Dokumen terkait