• Tidak ada hasil yang ditemukan

H AMZAH M UHAMMAD H AFIQ

MENYONGSONG INDONESIA PASCA

H AMZAH M UHAMMAD H AFIQ

(Anggota Kementrian Kajian Strategis BEM KM UGM 2013)

Sebentar lagi rentang waktu yang telah di tentukan oleh pemerintahan di seluruh dunia mengenai Tujuan Perkembangan Millenium Development Goals (MDGs) akan habis masanya pada tahun 2015. Apa saja pencapaiannya dan bagaimana prospek kedepan? Apa pula peran mahasiswa dalam meningkatkan capaian tujuan pembangunan milenium ini?

Millenium Development Goals, Awal Mula Partisipasi Indonesia

Millenium Development Goals atau Tujuan Pembangunan Milenium berasal dari ratifikasi Deklarasi Milenium oleh seluruh pemimpin-pemimpin 189 negara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September 2000. Proses ratifikasi ini dilandasi oleh begitu banyaknya manusia yang hidup dengan tak terpenuhinya syarat-syarat kehidupan minimal bagi keberlangsungan hidup yang normal dan produktif.

Sebelum Deklarasi Millenium ini diratifikasi, terdapat banyak sekali permasalahan yang mencuat seperti 800 juta orang tertidur dalam kondisi lapar setiap harinya, hampir separuh penduduk dunia hidup dengan pendapatan kurang dari $2 setiap harinya, setiap tahun hampir 11 juta anak tidak berhasil bertahan hidup sampai umur 5 tahun serta hampir 18 juta orang meninggal setiap tahun akibat hal-hal yang berhubungan dengan kemiskinan, kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan, memiliki tenggat waktu dan indikator yang terukur, sementara negara berkembang berusaha untuk memenuhi target mereka, negara maju wajib untuk mendukung upaya tersebut karena MDGs merupakan hasil konsensus pemerintahan negara-negara di dunia dan menuntut kemitraan global yang membangun.

Pertama kalinya dalam sejarah dimana pemimpin negara-negara di dunia sepakat untuk menjawab tantangan yang ada dan berkembang pada abad ke 21 ini. Ke – 189 pemimpin dunia tersebut sepakat untuk membebaskan dunia dari kemiskinan dan kelaparan dimana setiap orang dapat hidup sehat dan layak, dan setiap anak lelaki dan perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan. MDGs memaksa semua orang untuk peduli terhadap lingkungan dan menjebatani solidaritas internasional.

Indikator Tujuan dan Capaian Saat Ini

Tujuan Pembangunan Milenium seperti yang telah disepakati pada bulan September terdapat 8 poin yakni:

1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Ekstrim.

Indikator tujuannya adalah setengah dari populasi miskin dunia telah berkurang. Sementara capaian saat ini luar biasa sekali, target MDGs telah terpenuhi yaitu rata-rata kemiskinan dunia telah menjadi setengah (dari 47 persen menjadi 22 persen) dan 700 juta orang telah keluar dari garis kemiskinan ekstrim (pendapatan kurang dari $1,25) dalam rentang waktu 1990- 2010. Hal ini tentu memberikan harapan, seperti mengutip ucapan Sekretaris Jendral PBB saat ini, Ban Ki Moon bahwa MDGs merupakan gerakan mendorong anti kemiskinan terkuat di dunia. Bila dilihat dari hubungannya dengan tingkat

Hamzah Muhammad Hafiq

kesejahteraan manusia, kemiskinan merupakan bentuk kekerasan terparah sepanjang sejarah, karena kemiskinan mengekang kebebasan manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, terlibat dalam proses demokrasi dan politik serta terjamin dari rasa takut dan teror. Namun walaupun dengan pencapaian yang impresif ini, 1,2 miliar orang di dunia masih hidup dengan pendapatan kurang dari $1,25 dan sedikitnya 1 dari 6 orang anak dibawah umur 5 tahun menderita kekurangan berat badan di seluruh dunia.

2. Mencapai Pendidikan Bagi Semua.

Targetnya adalah memastikan seluruh anak-anak di dunia dapat menyelesaikan seluruh pendidikan wajib. Tercatat di seluruh dunia, negara-negara berkembang memenuhi tanggung jawab mereka dengan sangat baik dimana laju pendaftaran pendidikan dasar berkembang dari 83 persen menjadi 90 persen dan jumlah anak putus sekolah berkurang dari 102 juta menjadi 57 juta. Tetapi apabila dilihat lebih lanjut, data ini menuturkan kisah yang berbeda. Terjadi penurunan pencapaian saat memasuki dekade baru dimana terjadi penurunan upaya di tahun 2008 ke 2011 yaitu jumlah anak-anak yang putus sekolah hanya berkurang 3 juta. Dengan tren seperti ini target Pendidikan Primer Universal pada tahun 2015 tidak akan tercapai. Banyak hal yang dapat menghambat kesempatan anak- anak untuk memperoleh pendidikan dasar yakni kemiskinan dan kesetaraan gender.

3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan

Perempuan.

Targetnya adalah menghilangkan disparitas gender pada pendidikan primer dan sekunder pada tahun 2005 dan di semua level pendidikan pada tahun 2015. Indikator ini dilihat melalui Gender Parity Index (GPI) yaitu sebesar 0,97 – 1,03. GPI merupakan indeks sosial ekonomi yang mengukur akses relatif tiap gender terhadap pendidikan, menggambarkan rasio partisipasi wanita pada pendidikan. Sehingga target dari MDGs yaitu adanya kesetaraan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan wanita. Menurut laporan MDGs

2013 terjadi kenaikan yang stabil pada akses yang sama bagi laki- laki dan perempuan bagi pendidikan yaitu di area sub sahara afrika yang rendah indeks paritasnya, laju pendaftaran bagi wanita di pendidikan dasar meningkat dari 47 persen ke 75 persen, tapi lebih banyak aksi dibutuhkan untuk melejitkan pencapaian ini karena walapun kita hampir mencapai target, tapi faktanya hanya 2 dari 130 negara berkembang yang mampu mencapai target.

4. Menurunkan Angka Kematian Balita.

Mengurangi dua pertiga (2/3) angka kemtian balita dari 1990-2015 adalah targetnya. Pencapaian yang besar telah diraih dalam jumlah anak yang berhasil bertahan hidup, tapi usaha ini harus di lipat gandakan untuk memenuhi terget dunia. Faktanya adalah sejak 1990 angka kematian balita telah menurun 41 persen, sebanyak 14.000 balita telah terhindar dari kematian setiap harinya. Tapi tetap saja sebanyak 6,9 juta balita meninggal pada 2011 terutama dari penyakit yang dapat dicegah. Di Indonesia sendiri menurut SDKI 2012 jumlah kematian balita telah meunurun dari 58 kematian anak per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2002 menjadi 40 kematian per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2011. Tentu saja pencapaian ini belum cukup dan belum memenuhi target.

5. Meningkatkan Kesehatan Ibu.

Mengurangi tiga perempat (3/4) angka kematian ibu dari tanggal 1990-2015 adalah targetnya. Adalah Asia Timur, Afrika Utara dan Asia Selatan yakni daerah yang telah menurunkan angka kematian ibu sebanyak 2/3. Tetapi tetap saja faktanya angka kematian ibu hanya menurun sejauh setengah saja. Sekitar 50 juta kelahiran bayi tidak dibantu dengan tenaga kesehatan yang ahli. Di Indonesia sendiri terjadi kenaikan angka kematian ibu sebanyak 359 per 100.000 kelahiran hidup (2013) padahal tren dari tahun 2000 selalu beranjak turun sedangkan target MDGs bagi angka kematian ibu di Indonesia adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Hamzah Muhammad Hafiq

Target dari tujuan ini adalah menghentikan secara total infeksi HIV pada 2015 dan mulai membalikkan penyebarannya. Dalam kenyataannya memang terjadi penurunan tingkat infeksi HIV secara stabil tapi tetap saja sebanyak 2,5 juta orang terinfeksi setiap tahunnya.

7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup.

Inti pencapaian dari tujuan ini adalah mengintegrasikan prinsip dari perkembangan berkelanjutan menjadi kebijakan dan program negara dan membalikkan kehilangan sumber daya lingkungan. Hutan merupakan jaring pengaman bagi masyarakat yang miskin tetapi hutan terus menghilang pada laju yang mengkhawatirkan. Dimana kehilangan terbesar terjadi di wilayah Amerika Selatan, yaitu sebanyak 3,6 juta hektar hutan menghilang setiap tahunnya dalam 2005-2010.

8. Membangun Kemitraan Global bagi Pembangunan.

Indikator tujuan ini adalah membangun sistem finansial yang terbuka, teratur, bisa di prediksi dan non diskriminatif serta memperhatikan kebutuhan negara yang terbelakang, terkurung, dan kepulauan kecil. Akibat adanya krisis finansial global menyebabkan dana bantuan bagi pengembangan daerah terhambat, menurun sebesar 4% menjadi $125,6 miliar.

Rentang Waktu Sudah Mendekat

Menurut Laporan Panel Tingkat Tinggi Para Tokoh terkemuka mengenai agenda pasca pembangunan 2015, bahwa dengan adanya agenda MDGs, dunia telah menyaksikan pengentasan kemiskinan tercepat dalam sejarah manusia, yaitu orang yang hidup dibawah garis standar kemiskinan internasional, yaitu $1,25 telah berkurang setengah miliar orang. Laju kematian anak turun lebih dari 30%, dengan setiap tiga juta anak terselamatkan setiap tahun dibandingkan dengan tahun 2000. Kematian akibat malaria turun hingga seperempatnya. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan ekonomi, kebijakan yang lebih baik dan komitmen dalam menjalankan agenda MDGs demi kesejahteraan manusia.

Menurut Monrovia Communique of the High Level Panel pada 1 Februari 2013, visi dan tanggung jawab kita semua untuk menghentikan dan menghapus kemiskinan ekstrem dan segala bentuknya dalam

konteks pembangunan berkelanjutan dan meletakkan dasar-dasar kesejahteraan yang berkesinambungan bagi semua.

Kemudian melihat dari berbagai prestasi gemilang yang telah dicapai oleh dunia dalam mengakhiri kemiskinan yang ekstrem, maka adalah kesalahan besar untuk membongkar MDGs dan memulai target baru dari awal. Seperti yang disepakati oleh para pemimpin dunia di Rio pada tahun 2012, sasaran dan target baru perlu dilengkapi dengan informasi dasar sehubungan dengan HAM universal, dan menyelesaikan kerja yang telah dimulai oleh MDGs. Dalam hal ini yang terpenting adalah penghapusan kemiskinan ekstrem dari muka bumi ini menjelang 2030.

Dalam hal ini, pembangunan berkelanjutan merupakan harus meneruskan semangat baru dalam melaksanakan agenda setelah MDG yaitu pemerintahan yang bersih dan akuntabel, kesehatan masyarakat yang terjaga, sanitasi air, akses pendidikan bagi semua, keadaan sosial dan ekonomi yang stabil dan juga kesejahteraan warganya. Tetapi guna menjalankan visi ini diperlukan lebih dari sekadar tujuan dan capaian yang ada di MDGs. Fokus MDGs tidak menjangkau masyarakat yang terkuci maupun terpencil. Pun juga tidak memuat mengenai kekerasan sebagai hasil samping dari pembangunan. Untuk itulah diperlukan pemerintahan yang akuntabel, dapat dipercaya, tidak korup serta menegakkan jalannya hukum demi lancarnya pembangunan yang berkesinambungan ini.

Berdasarkan pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan oleh panel tingkat tinggi ini dalam menentukan target dari Pembangunan Milenium Pasca 2015 adalah sebanyak lima tranformasi besar yakni:

1. Tidak meninggalkan siapapun

2. Menempatkan pembangunan berkelanjutan sebagai inti

3. Mentransformasikan ekonomi untuk lapangan kerja dan pertumbuhan inklusif

4. Membangun perdamaian, kelembagaan yang efektif, terbuka dan akuntabel.

5. Membangun sebuah kemitraan global yang baru

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tidak meninggalkan siapapun. Kita harus memastikan bahwa tiada seorangpun, terlepas dari jenis kelamin, etnis, wilayah geografis, keterbatasan fisik, ras atau status lainnya ditolak pemenuhan HAM

Hamzah Muhammad Hafiq

universal dan kebutuhan ekonomi dasarnya. Kita harus menjangkau seluruh masyarakat sampai ke daerah yang paling terpencil untuk memastikan haknya terpenuhi dengan baik dan layak. Kita juga harus merancang sasaran yang terfokus untuk memastikan bahwa masyarakat di pedalaman sekalipun masih terjangkau oleh negara dan masyarakat yang lain. Kita harus pastikan untuk tetap menelusuri kejadian yang ada di tempat dan meningkatkan daya tahan masyarakat agar lebih dapat bisa bertahan ditengah gejolak kehidupan yang serba tidak pasti.

Selain itu, kita sebagai mahasiswa mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengawali isu ini agar target-target MDGs yang mengarah kepada kesejahteraan rakyat Indonesia dapat tercapai dengan baik dengan proses yang efektif. Mahasiswa sendiri dapat menciptakan program kerja yang inspiratif terhadap masyarakat, misalnya membuka ladang usaha baru yang kreatif seperti di bidang pertanian dan peternakan. Program kerja mengenai kesehatan sendiri pun tidak melulu mengutamakan aspek kuratif dan rehabilitatif, tetapi mulai sekarang lebih ditekankan kepada aspek preventif dan promotif sehingga kesehatan masyarakat dapat terjamin keberlanjutannya dan menciptakan generasi yang paham dan sejahtera. Tidak lupa bahwa membuat program kerja maupun pengabdian kepada masyarakat harus menyeluruh sampai menyentuh tempat terpenci dan pelosok.

Terakhir adalah kita harus turut serta membangun kesejahteraan rakyat Indonesia dengan segala pengetahuan, daya dan upaya yang kita terima dari bangku kuliah agar kelak target-target MDGs ini dapat tercapai sehingga tak ada lagi orang yang sakit maupun kelaparan. Hingga pada akhirnya kata sejahtera dapat terbit dari raut wajah rakyat Indonesia.

Referensi:

Badan Pusat Statistik. 2012. Standar Demografi Kesehatan Indonesia.

Jakarta.

United Nations Development Programme. 2013. Annual Report. New York.

United Nations. 2013. High Level Panel on the post-2015 Development Agenda. New York.

United Nations. 2013. Millenium Development Goals Report. New York.

Michael

MERAIH KEDAULATAN ENERGI,