BATANG TEMBAKAU 9 SENTI YANG MERUSAK SEGALANYA
C IPUK W ULAN A DHASAR
(Menteri Advokasi BEM KM UGM 2013)
Berbicara masalah rokok, tidak akan ada habisnya. Sebatang tembakau linting berukuran 9 senti mampu mengubah segalanya. Orang tua, remaja, bahkan anak-anak, menyukainya. Ia tidak hanya berimbas pada kesehatan raga, tapi juga devisa sebuah negara. Siapa pemenangnya?
Sebatang rokok, yang terdiri dari ribuan zat beracun, terdiri juga dari zat candu. Sayangnya, masyarakat mudah terjerat pada zat candunya, sehingga bagaimanapun sosialisasi tentang bahaya rokok, tetap tidak akan berhasil. Namun, kita sebagai mahasiswa yang peduli akan kesehatan masyarakat, harus tetap berperang melawan rokok, meskipun bukan pada saat Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei. Pada tahun 2013 ini, HTTS bertema
Tolak Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok . “ebagai ahasis a UGM
mengedepanan nilai-nilai kebaikan, kita harus menerapkan tema HTTS 2013 tersebut dalam lingkungan kampus.
Lihat saja, sudah banyak iklan, promosi, dan sponsor rokok yang masuk ke wilayah kampus UGM. Iklan, promosi, dan sponsor rokok
tersebut bisa masuk secara terang-terangan, namun bisa juga secara tidak langsung dalam bentuk beasiswa dan pembangunan fasilitas kampus. Adapun promosi rokok secara tidak langsung bisa kita saksikan di Perpustakaan Pusat yang menyediakan ruang khusus untuk
e ba a, yaitu “a poer a Cor er . Ke udia , Perpustakaa Fakultas
Teknik yang telah disponsori oleh Djarum sehingga mahasiswa lebih
se a g e yebut ya de ga Perpustakaa Djaru . Ada pula Gedung
Pertamina Tower di Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang kursi kuliahnya disponsori oleh Djarum. Bahkan, terdapat satu spot di gedung tersebut
ya g disebut Djaru Cor er . “elai itu, beberapa sepeda ka pus juga
disponsori oleh Wismilak.
Selain dalam bentuk penyediaan fasilitas belajar-mengajar, perusahaan rokok juga memberikan bantuan berupa beasiswa, misalnya Beswan Djarum atau Beasiswa Sampoerna Foundation. Tidak ketinggalan, mereka juga menjadi sponsor utama untuk berbagai kegiatan mahasiswa. Memang, beasiswa dan bantuan sponsor tersebut berasal dari Foundation atau Yayasan, bukan PT Djarum Tbk, PT Sampoerna Tbk, dsb. Namun, kita tetap perlu berhati-hati. Meskipun berupa badan hukum yang berbeda, nama rokok tersebut tetap melekat. Bisa saja, beasiswa tersebut merupakan dana dari perusahaan rokok yang disisihkan untuk pengembangan pendidikan. Yang ditakutkan adalah, dengan menerima beasiswa dan sponsor dari perusahaan rokok, mulut kita dibungkam untuk berperang melawan bahaya rokok.
UGM hanyalah bagian kecil dari perang terhadap rokok yang berskala nasional. Contoh di atas merupakan hal nyata yang berpotensi pada berkurangnya kualitas pendidikan karena rokok. Perlawanan terhadap rokok tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kita menyatakan sikap untuk menolak segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok, pasti ada pihak yang tidak menyetujuinya. Mereka selalu berdalih bahwa rokok merupakan penyumbang cukai terbesar untuk Indonesia. Selain itu, jika rokok dilarang beredar, bagaimana nasib para petani tembakau dan buruh pabrik rokok?
Namun, coba kita buka fakta yang sesungguhnya. Benarkah rokok merupakan penyumbang cukai terbesar dan petani serta buruh pabrik rokok akan kehilangan mata pencahariannya? World Bank telah melakukan penelitian bahwa rokok justru menyebabkan kerugian bagi negara. Meskipun perusahaan rokok berdalih bahwa mereka
Cipuk Wulan Adhasari
memberikan pemasukan yang cukup besar ke kas negara, pengeluaran negara akibat rokok justru jauh lebih besar. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bahwa pendapatan negara dalam setahun dari cukai rokok hanya Rp 55 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran makro negara yang mencapai Rp 254,41 triliun. Pengeluaran itu antara lain:
1. Pembelian rokok itu sendiri (Rp 138 triliun)
2. Biaya perawatan medis rawat inap dan rawat jalan (Rp 2,11 triliun)
3. Kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan mordibilitas maupun disabilitas (Rp 105,3 triliun).22
Apalagi, mulai tahun 2014 nanti, pemerintah telah menjalankan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Pemerintah akan menanggung seluruh iuran BPJS bagi masyarakat yang tergolong miskin. Jika ternyata dampak negatif rokok pada masyarakat terjadi, pemerintah harus siap menanggungnya. Padahal, penyakit yang diakibatkan oleh rokok tergolong berat, seperti kanker, tumor, serta gangguan janin. Bukan tidak mungkin jika negara akhirnya harus merogoh kocek lebih dalam untuk merehabilitasi dampak negatif dari rokok.
Selain itu, kerugian bagi diri sendiri yang berefek jangka panjang bagi negara adalah berkurangnya kualitas sumber daya manusia. Siapa yang tidak trenyuh melihat anak-anak SD sudah merokok? Bahkan, pernah diunggah sebuah video di Youtube yang memperlihatkan seorang balita memamerkan keahliannya dalam merokok serta berbicara kasar. Dari segi kesehatan, tentu rokok merupakan penyumbang terbesar bagi timbulnya penyakit kanker di hampir semua bagian tubuh, serta gangguan kesehatan lainnya. Asap rokok juga berbahaya bagi orang- orang di sekitar perokok. Dari segi psikologis, kecanduan rokok dapat menyebabkan perokok kehilangan konsentrasi dalam belajar, sukar fokus atau serius, serta mudah emosi. Dari segi sosiologis, perokok diidentikkan dengan perilaku yang tidak sopan. Dari segi ekonomis, merokok merupakan perilaku yang boros sebab harga rokok termasuk mahal jika dibandingkan dengan harga makanan pokok. Sementara itu, 70% perokok di Indonesia tergolong dalam penduduk miskin.
22 Sumber: http://health.detik.com/read/2013/05/30/193036/2260901/763/ini-hitungan-kemenkes-
Dari analisis kerugian akibat rokok tersebut, idealisme kita untuk membangun bangsa yang tengah terpuruk ini tidak akan tercapai jika masyarakatnya masih merokok. Bagaimana mungkin Indonesia menjadi negara maju jika untuk melawan rokok saja tidak sanggup. Tengoklah negara-negara maju, segala hal yang berhubungan dengan rokok dibatasi dengan ketat. Perokok hanya bagian kecil dari seluruh masyarakatnya. Jadi, apakah bisa disimpulkan bahwa rokok itu menguntungkan negara?
Adapun pendapat bahwa jika konsumsi rokok dikurangi, akan mengakibatkan hilangnya mata pencaharian petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Namun, kekhawatiran itu tidak akan terjadi jika pemerintah serius menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi mereka. Pengurangan konsumsi rokok membutuhkan waktu dalam hitungan dekade, bukan sehari semalam. Maka, selama itu pula, pemerintah bisa mempersiapkan lapangan pekerjaan baru.
Para pihak yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembela petani tembakau terus menayangkan ke publik tentang kehidupan para petani tembakau yang berkecukupan. Jika konsumsi rokok dikurangi, mereka akan jatuh miskin. Namun, jika kita lihat fakta tentang petani tembakau di daerah penghasil tembakau terbaik, yaitu Temanggung, keadaannya sungguh memprihatinkan. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang pernah mendokumentasikannya dalam sebuah video
berdurasi e it berjudul Kesaksian dari Temanggung .
Dalam video itu, seorang petani bernama Maryanto menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan selama menjadi petani tembakau. Tanaman tembakau adalah tanaman musiman yang hanya tumbuh pada musim kemarau. Tembakau yang ditanam pun adalah tukulan kedua atau perintilan yang dinamakan sogleng. Selain itu, Bapak Maryanto juga mengeluhkan tindakan para tengkulak yang telah membuatnya merugi. Biasanya, pabrik rokok membeli tembakaunya dengan harga Rp 10.000,00 per kilogram. Namun, tengkulak berdalih bahwa para petani tidak bisa langsung menjualnya ke pabrik, tetapi harus melalui tengkulak dulu. Sialnya, para tengkulak ini membeli tembakaunya dengan harga Rp 5.000,00 sampai Rp 7.000,00 saja. Padahal sebelumnya, pabrik telah menjanjikan akan membeli tembakaunya dengan harga Rp 70.000,00 per kilogram.
Selain itu, timbangan yang digunakan tidak pernah cocok. Timbangan yang dimiliki oleh tengkulak selalu lebih ringan daripada
Cipuk Wulan Adhasari
timbangan yang dimiliki oleh petani. Misalnya, ketika Bapak Maryanto menimbang tembakau seberat 1 kuintal di rumahnya, setelah ditimbang di timbangan tengkulak, hanya sebesar 95 kilogram. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan petani. Bapak Maryanto dan kawan-kawan petani berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib mereka, salah satunya dengan memberikan timbangan dengan standar internasional yang sama.
Adapun nasib para buruh pabrik rokok juga tidak kalah memprihatinkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan rokok bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak karena perusahaan rokok merupakan perusahaan padat karya. Namun, apakah para buruhnya sejahtera? Di kota yang terkenal dengan kreteknya, yaitu Kudus, para buruh pabrik rokok justru mendapatkan upah di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kudus. Mereka digaji dengan sistem jumlah besar. Setiap hari, pekerja dibayar sebesar Rp 54.000,00 untuk 7 jam kerja. Pembayaran itu pun harus dibagi sebesar Rp 32.400,00/hari untuk pekerja di bagian penggilingan dan Rp 21.600,00 per hari untuk pekerja di bagian pelintingan. Jadi, dalam sebulan, upah yang mereka terima masih di bawah UMK Kudus yang sebesar Rp 840.000,00/bulan.23 Di kota lain, Malang, buruh pabrik rokok melakukan demonstrasi karena upahnya hanya Rp 800.000,00 sebulan, sementara UMK Malang sebesar Rp 1,3 juta.24 Sementara di Purworejo, upah buruh pelinting rokok hanya sebesar Rp 17,00 per batang rokok yang dilintingnya. Tentu saja, upah dalam sebulannya masih berada jauh di bawah UMK Purworejo. 25
Sistem kerja seperti itu sama saja bertipe outsourcing. Padahal, sesuai putusan MK Nomor 27/PUU-IX/2011 atas uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sistem outsourcing bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Maka, sistem ini tidak boleh diberlakukan lagi.
Potensi risiko penyakit juga mengancam para buruh pabrik rokok tersebut. Karena seringnya duduk melinting rokok, mereka terancam penyakit wasir. Mereka juga sering mengeluhkan penyakit asma, pusing, hingga vertigo karena seringnya menghirup tembakau, juga sakit
23 Sumber: http://www.gajimu.com/main/gaji/copy_of_kampanye-upah-minimum/industri-tembakau 24 Sumber: http://daerah.sindonews.com/read/2013/02/06/23/714893/ratusan-buruh-rokok-mogok- kerja 25 Sumber: http://krjogja.com/read/159952/upah-buruh-pelinting-rokok-rp-17.kr
punggung karena setiap hari melakukan pekerjaan yang sama dan tidak pernah berolah raga.
Maka, solusi konkret untuk mengadvokasi petani tembakau dan buruh pabrik rokok adalah dengan mengganti pekerjaan mereka dengan jenis pekerjaan yang sama. Sebaiknya petani tembakau mengganti tanaman tembakaunya ke tanaman palawija atau tanaman lain yang lebih bermanfaat bagi siapa saja. Sementara buruh pabrik rokok sebaiknya berpindah ke lapangan pekerjaan baru yang lebih menjamin hak-hak mereka dan bebas dari sistem kerja outsourcing. Pemerintah juga tidak boleh berlepas tangan akan terjaminnya lapangan pekerjaan bagi warga negaranya, seperti yang telah diamanahkan dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Masih seputar kerugian akibat rokok, kita bisa menyaksikan pendapat bahwa rokok menguntungkan negara hanyalah mitos. Faktanya, beberapa perusahaan rokok justru berkhianat menyetorkan keuntungannya kepada pihak asing. Perusahaan rokok yang paling digemari para perokok, yaitu PT HM Sampoerna Tbk., kurang lebih 98% sahamnya dimiliki oleh Philipp Morris, Amerika Serikat. Kemudian, PT Bentoel International Investama diakuisisi British American Tobacco (BAT) dengan kepemilikan saham 85% pada tahun 2009. Pada tahun 2011, BAT menyelesaikan penawarannya membeli saham Bentoel yang dikuasai publik sebanyak 14,87%. Dengan demikian, penguasaan BAT di Bentoel hampir mencapai 100%. BAT kemudian melepas sebagian saham sebesar 13,4% kepada perusahaan investasi UBS AG yang berkantor di London. Sementara PT Trisakti Purwosari Makmur yang terkenal dengan merek Win Mild, telah diakuisisi Korean Tobacco & Ginseng (KT&G) pada tahun 2011. KT&G menguasai kepemilikan sahamnya sebesar 60%.26
Sebuah prestasi menyedihkan, Indonesia merupakan satu- satunya negara di Asia Pasifik yang tidak meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO). Bisa dikatakan, Indonesia adalah negara paling permisif terhadap rokok. Padahal, FCTC bertujuan sangat baik untuk mengatur peredaran rokok dalam sebuah negara. Manfaat jangka panjangnya adalah untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok,
26 Sumber: http://www.tribunnews.com/tribunners/2012/10/30/perebutan-harta-karun-siapa-
Cipuk Wulan Adhasari
agar semua negara menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, demi terciptanya masyarakat dunia yang sehat dan damai.
Dari kerugian-kerugian akibat rokok tersebut, sudah saatnya kita bangkit dari iming-iming perusahaan rokok yang melenakan. Mari kita edukasi para perokok dengan mengajaknya ke rehabilitasi rokok terdekat agar mereka meninggalkan batang racun 9 cm secara perlahan. Kita juga harus mencegah diri sendiri dan orang lain yang bukan perokok agar jangan pernah sekalipun mencoba menyalakan rokok. Meninggalkan rokok, berarti telah ikut menyelamatkan keuangan negara dan generasi penerus bangsa.
Ulya Amaliya