BATANG TEMBAKAU 9 SENTI YANG MERUSAK SEGALANYA
U LYA A MALIYA
(Wakil Menteri Kajian Strategis BEM KM UGM 2013)
Belum sampai satu pekan, diluar rencana awalnya, rangkaian acara Pekan Kondom Nasional 2013 akhirnya dihentikan.
Kaum agamis dan moralis mengucap syukur setelah beberapa hari ini dibuat mengelus dada dan berduka. Bagi kaum moralis, event PKN menggiring maraknya seks bebas yang merusak moral bangsa, terutama generasi muda. Sedang bagi kaum agamis, PKN seakan menyeru
asyarakat terhadap paktek perzi aha a a ya g sesu gguh ya
merupakan dosa besar. Kaum liberalis pun beristirahat sejenak dari koar-koar pembelaan bahwa PKN ialah sekedar bentuk sosialisasi kesehatan dan upaya menekan jumlah populasi.
Kementerian Kesehatan akhirnya bisa terbebas dari tekanan sana- sini. Setidaknya, dihentikannya program PKN bisa menjadi upaya menyelamatkan nama Menteri Kesehatan yang kadung disalahkan karena turut terlibat dalam program macam itu.
Tapi, diluar sana...para kapitalis berpesta pora. Setidaknya satu pesan mereka dapat tersampaikan kepada masyarakat, meski tidak berjalan mulus.
Dikira, Masalah Kebijakan
Peringatan Hari AIDS yang pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 bertujuan agar warga dunia menyadari bahaya serta dampak dari
Acquired Immuno Deficiency Syndrome, penyakit yang menyerang ketahanan tubuh (imun) manusia. Pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari AIDS mengandung pesan agar orang-orang yang terinfeksi virus HIV, maupun yang sudah menderita AIDS, tidak diperlakukan secara diskriminatif dan terlepas dari stigma negatif yang berkembang di masyarakat.
Di Indonesia, memperingati Hari AIDS dengan menyelenggarakan Pekan Kondom Nasional telah dijalankan sejak tahun 2007. Awalnya saya pikir gelombang protes atas diselenggarakannya Pekan Kondom Nasional di tahun 2013 ini merupakan buah dari kebijakan publik yang tak tepat sasaran. Masalah kesehatan, dalam hal ini penyebaran virus HIV/AIDS, bisa jadi sungguh merupakan masalah publik. Hingga Juni 2013, pengidap HIV dan AIDS yang tercatat oleh KPAN sebanyak 10.210 pengidap HIV dan 780 pengidap AIDS.27 Dalam empat tahun terakhir, jumlah kasus pengidap AIDS ialah sekitar 21.000 kasus per tahun.28 Adanya kalangan yang rentan terjangkit virus HIV/AIDS merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri. Di sejumlah daerah di Indonesia, kalangan yang rentan terhadap HIV/AIDS ialah masyarakat usia produktif.29 Karena itulah Kementerian Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab dalam menanggulangi persebaran HIV/AIDS menyasar kalangan usia produktif, seperti mahasiswa dan pelajar, dalam kegiatan-kegiatan memperingati hari AIDS.
Dalam acara yang diselenggarakan untuk memperingari hari AIDS tersebut, Kemenkes dan KPAN bermitra dengan perusahaan multinasional DKT yang merupakan produsen alat kontrasepsi. Walaupun dinamakan Pekan Kondom Nasional, sejumlah rancangan programnya konon tidak melulu tentang kondom. Memang akan ada bus kondom, susunan produk kondom membentuk kata AIDS yang bisa
27 ‘. Yusti i gsih ed. , HA‘I AID“: Hari I i, Peka Ko do Nasio al Di ulai ,
Solopos News (online), 01 Desember 2013, < http://www.solopos.com/2013/12/01/hari-aids-hari-ini-pekan-kondom-nasional-dimulai- 469969>, diakses 04 Desember 2013.
28 D. Mahardika, Ke e kes Gelar Peka Ko do Nasio al , PortlaKB‘. o o li e , Dese ber ,
<http://www.portalkbr.com/berita/nasional/3043800_4202.html>, diakses 04 Desember 2013.
29 Baca http://daerah.sindonews.com/read/2013/09/26/22/787815/penyebaran-hiv-aids-tak-terkendali;
Ulya Amaliya
diambil secara cuma-cuma dan pembagian kondom gratis, namun kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan akan berisi sosialisasi kesehatan. Belakangan, kontroversi mengenai pelaksanaan Pekan Kondom Nasional 2013 membuat Kemenkes mengungkapkan bahwa perhelatan tersebut bukanlah program pemerintah, melainkan swasta.30 Nah lho!
Dikira, Pekan Kondom Nasional merupakan implementasi dari kebijakan untuk menekan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Meski agak aneh memang. Sulit rasanya menangkap hubungan kausalitas yang jelas bahwa kondom merupakan solusi tepat dalam mengatasi kasus HIV/AIDS. Sudah banyak sekali perbincangan, terutama di sosial media, yang menangkis logika berpikir kementerian kesehatan dalam mendukung program PKN. Terasa ganjil karena yang coba dilakukan ialah mengkampanyekan penggunaan kondom alih-alih mengkampanyakan larangan seks bebas yang merupakan akar utama penyebab HIV/AIDS.31
Ternyata, Orang Jualan
Jadi, mana yang benar: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Kementerian Kesehatan menggaet DKT, perusahaan multinasional yang memproduksi alat kontrasepsi, sebagai mitra dalam PKN....atau justru PKN merupakan program DKT yang menggaet Kemenkes dan KPAN dalam mempromosikan produknya?
Barangkali apa yang menggegerkan masyarakat beberapa hari ini, sumber utamanya sepele. Orang jualan. Hanya berasal dari kreatifitas
business development perusahaan alat kontrasepsi untuk membuat
marketing plan berupa proyek yang melibatkan pemerintah, mengambil momen Hari AIDS, untuk mendongkrak penjualan produknya. Atau mungkin, tujuan pedagang kondom ini bukanlah selling point. Mereka merasa sudah harus meluaskan pasarnya, tak lagi menjual di sekitaran Doli, Taman Lawang, atau Sarkem. Mereka merasa harus memperbesar
target market.
30
Baca http://nasional.sindonews.com/read/2013/12/02/15/812461/kemenkes-pekan-kondom-nasional- bukan-program-pemerintah
31 % pe yebab pe ulara HIV AID“ ialah kasus hubu ga seks tidak a a pada heteroseksual da
sisa ya elalui jaru su tik da hubu ga sesa a je is “.B. Lestari, “eks Bebas ‘oketka Pe derita HIV AID“ , metrotvnews.com (online), 25 November 2013,
<http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/25/3/196856/Seks-Bebas-Roketkan-Penderita- HIVAIDS>, diakses 04 Desember 2013.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu saja pandangan masyarakat tentang kondom harus dirubah terlebih dahulu. Maka, event PKN digunakan sebagai media untuk campaign. Membawa pesan
ulia bah a ko do adalah hero , pe yela at ya g dapat digu aka
untuk menangani penyebaran HIV/AIDS. Kondom adalah barang yang akan membuat hubungan seks menjadi aman. Kondom bukan barang haram yang begitu menakutkan. Yang dikejar oleh para penjual kondom ini ialah perubahan citra.
Selamat!
Tiga hari sudah kaum moralis, agamis, liberalis, kemenkes serta masyarakat luas dihantui masalah kondom. Kata-kata kondom dengan garingnya diucapkan, dengan bebasnya dituliskan. Lugas.
Pun, masyarakat kini telah terbiasa menyaksikan apa itu kondom, bagaimana bentuknya, apa fungsinya, dan bagaimana alat itu bekerja. Tiga hari pelaksanaan Pekan Kondom Nasional telah cukup rasanya
u tuk e bu ika ko do .
Kondom yang selama ini dianggap barang tabu, kini menjadi jauh lebih populer. Di sejumlah minimarket, kita bisa menyaksikan kondom dengan rasa buah-buahan dipajang berjejeran dengan permen warni- warni. Sama menariknya.
Lidah kita tidak lagi kelu e perbi a gka be da khusus ora g de asa tersebut, kita tidak perlu lagi ragu da e bubuhka seju lah
tanda bintang untuk menutupi kata k*nd*m dalam menuliskannya, tidak merasa risih melihat iklannya disiarkan secara bebas, diperjualkan secara luas...
Maka ucapkanlah selamat kepada kapitalis yang menguasai penjualan kondom di negeri ini! Selamat, karena kondom telah berhasil menyapa akrab kalangan urban.
(Esai ini dimuat di http://www.ugeem.com/akhirnya-kita-kian-akrab- dengan-kondom/ pada 04 Desember 2013)
Ulya Amaliya