MENATAP MASA DEPAN INDONESIA
P IPIT S UPRIHATIN
(Sekretaris Jenderal BEM KM UGM 2013)
Indonesia sebagai salah satu negara yang menerapkan sistem demokrasi. Tak bisa dipungkiri bahwa dengan penerapan sistem ini, maka pergantian pemerintahan mutlak ada sebagaimana sudah tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Masa periode pemerintahan di Indonesia yaitu maksimal menjabat dua kali periode, dengan lima tahun setiap periodenya.
Tahun 2014 merupakan tahun pertarungan politik di kancah pemerintahan Indonesia. Pemilu legislatif dan pemilu Presiden RI akan berlangsung di tahun tersebut. Saat ini aura politis sudah sangat tercium. Kalau kita amati, hampir setiap space iklan baik yang di media cetak maupun elektronik semua mengacu pada pencitraan baik yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat.
Pemilu (Pemilihan Umum), menjadi pembelajaran politik yang efektif, namun jangan sampai terjebak menjadi oportunis. Karena mengejar jabatan akhirnya menggunakan berbagai cara untuk
menempuhnya. Hal ini justru hanya akan mencederai pembelajaran politik itu. Menang dalam medan pemilu seharusnya tidak hanya dinilai dari unggulnya suara saja, melainkan bagaimana dapat melibatkan semua elemen atau calon yang menjadi peserta pemilu atau terlibat di pemilu. Karena sadar tidak sadar mereka yang sudah melibatkan diri di pemilu –baca:calon presiden-, berarti bukan sembarangan orang dan orang tersebut pasti telah menyiapkan mental, jiwa, dan raganya untuk berkontribusi demi kemajuan bangsa ini.
Kondisi bangsa ke depan dapat kita lihat dari kondisi bangsa ini saat ini. Karena para pemegang ranah strategis di pemerintahan ke depannya adalah pemuda saat ini. Lalu pertanyaannya, apakah karakter pemuda saat ini sudah mencerminkan karakter pemimpin unggul masa depan?
“a pai saat i i belu ba yak pe uda ya g au e eburka
diri untuk memperbaiki pemerintahan dengan memasuki ranah-ranah politik. Terbukti calon anggota legislative yang akan mengikuti perhelatan pemilu pada 9 April mendatang masih didominasi orang- orang tua. Bahkan beberapa dari mereka para pemain lama di pemilu lima tahun silam.
Regenerasi bangsa ini terjadi tiap lima tahun sekali. Dalam pergantian pemerintah tersebut berarti terjadi pergantin kepemimpinan nasional. Menjadi pemimpin nasional tidak hanya sebagai jabatan structural, jabatan tertinggi di Negara. Namun yang terpenting adalah jiwa kepemimpinannya mampu membawa martabat bangsa ini ke arah yang lebih baik di segala aspek kehidupannya. Mengoptimalkan segala sector merupakan salah satu upaya untuk memajukan bangsa ini. Karena dengan demikian persoalan satu bidang tidak mempengaruhi bidang yang lain.
Menurut John Kotter , ia berpendapat bahwa Karena manajemen kebanyakan berurusan dengan status quo dan kepemimpinan kebanyakan berurusan dengan perubahan, maka pada abad ke-2 mendatang kita harus lebih mampu mencetak pemimpin-pemimpin. Tanpa pemimpin yang cukup jumlahnya, visi, komunikasi dan pemberdayaan yang menjadi jantung perubahan, secara sederhana dapat dikatakan tidak akan cukup cepat untuk memuaskan kebutuhan dan harapan.
Seorang pemimpin harus memiliki karakter negarawan. Artinya,
Pipit Suprihatin
pada level di bawahnya dalam jumlah yang cukup. Tetapi tidak seperti di perusahaan, di tingkat pemerintahan dalam sistem pemilu sekarang ini,
tidaklah u gki seora g Preside , isal ya, bisa e etak guber ur
dan bupati/walikota yang benar-benar mau dan mampu menjalankan visi misinya.
Selayaknya kendaraan, ada yang namanya spion. Dengan adanya spion ini harapannya bisa melihat dan mengambil hikmah dari yang sudah berlalu. Namun jangan terlena melihat ke belakang terus, karena yang perlu ditatap ke depan jauh lebih panjang. Jangan hanya disibukkan oleh ruang masa lalu –seperti kata Chairil A ar, melap-
lap asa sila -- seraya membiarkan kafilah masa depan berlalu. Tanpa
perlu kehilangan ruh masa lalu, kita harus mengambil bagian dalam kebangkitan masa depan itu, karena kuku jejaringnya sebagian telah menancap di dalam diri, masyarakat, dan tubuh bangsa ini.
Jika kita bisa menemukan seorang pemimpin kuat yang akan memimpin bangsa dan negara ini, niscaya ia akan menjadi orang besar, setelah krisis mampu diatasi ya. Je is ora g kuat i i harus berjodoh dengan impian masyarakat Indonesia sekarang. Kita tidak bisa meniru orang kuat bangsa bangsa lain. Orang kuat itu kontekstual. Orang kuat kita di masa lampau, belum tentu cocok dengan konteks kebutuhan sekarang. Orang kuat yang kita cari kini, belum tentu akan menjadi kuat sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Apalagi menjiplak orang kuat dalam sejarah bangsa-bangsa lain, karena mereka memiliki orang kuatnya masing-masing. Setiap zaman melahirkan dan membutuhkan orang kuatnya sendiri. Karena setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda pula.
Sesungguhnya rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, berani karena benar, benar karena menurut hukum. Rakyat tidak terlalu peduli tentang IQ, yang penting berani bertindak tegas sesuai kontrak sosial, jujur, tanpa pamrih, mengutamakan kepentingan bersama, jauh dari aji mumpung, berani tidak populer demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat. Rakyat tidak menginginkan pemimpin yang hanya peduli pada golongan sendiri, daerah sendiri, kerabat sendiri, pemimpin yang egoistik. Atau pemimpin mabuk kuasa, yang takut kehilangan kursi. Para pemimpin ini berdiri tegak di depan dengan panji-panjinya, dan di belakang, ribuan massa pendukungnya. Sebagaimana pepatah Jawa
e gataka Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut
Namun, suara seorang pemimpin politik sekarang ini, meski jelas-jelas demi kepentingan seluruh bangsa, tetap saja ditafsirkan bagi kepentingan kelompoknya. Mereka ini adalah tokoh-tokoh dengan kepentingan golongan, massa tertentu, demi tujuan tertentu pula. Ia mengabdi untuk masa kini yang dekat dan untuk persoalan-persoalan aktual saja. Karenanya, sulit memperoleh kepercayaan dari massa dan golongan lain. Tokoh pemimpin yang bisa diterima oleh seluruh golongan dan masyarakat bangsa adalah tokoh yang tidak memiliki massa golongan. Massanya adalah seluruh rakyat. Tokoh semacam itu barangkali memang berasal dari suatu golongan massa, tetapi memiliki kualitas di luar massa golongannya. Tokoh ini tidak berbendera, dan dengan demikian justru mewakili semua bendera, karena semua bendera yang ada bisa dikibarkannya. Ia tidak memiliki kepentingan kelompok, dan karenanya ia memenuhi semua kepentingan kelompok. Tokoh yang mungkin bisa dipercaya adalah tokoh yang kepentingannya tidak-berkepentingan, yang massanya tidak-bermassa, yang suaranya bukan suara sekarang ini.
Rakyat umumnya mendambakan pemimpin yang kuat karakternya, yang tidak bermuka banyak, dan tidak ragu untuk membenarkan dan menyalahkan. Pemimpin yang tidak melihat batas- batas golongan dan kepentingan.
Karakter pemimpin yang demikian itu mungkin banyak kita miliki. Ia tidak bisa memunculkan dirinya dengan usahanya sendiri. Orang yang terlalu percaya pada kerja rasionya, bahwa pemimpin itu dapat diperjuangkan, patut dicurigai kejujuran dan otentitas kepemimpinannya. Orang kuat adalah orang panggilan. Siapa yang memanggil? Hati nurani dan jeritan kebutuhan rakyat sendiri. Pemimpin sejati tidak berambisi menjadi pemimpin. Bila kualitas pemimpin yang demikian itu terpilih menjadi orang kuat, maka kebesarannya akan diuji. Menjadi pemimpin itu adalah sebuah amanah, padahal prinsip amanah yaitu bahwa jangan sekali-kali minta amanah, namun jika diamanahi jangan lari. Artinya, kita tidak berambisi untuk menjadi pemimpin, namun jika orang lain memberikan kepercayaan untuk memimpin maka harus siap.
Kualitas pemimpin yang demikian itu akan ada di tengah-tengah
dualis e ya g plural i i. Ia aka terjepit a tara ya g ka a da kiri,
antara mayoritas dan minoritas, antara yang keras dan yang lunak. Kreativitas dan kepekaannya diuji. Di saat-saat inilah keberanian dan
Pipit Suprihatin
ketegasannya terhadap kebenaran mendapatkan tantangannya. Tarik- menarik kepentingan dualistik yang plural inilah ciri khas konteks Indonesia.
Belajar dari pengalaman sejarah, orang Indonesia dasarnya terbuka, toleran, mudah diatur, mudah patuh, tidak banyak menuntut, suka mengakurkan hal-hal dualistik, siap menerima yang asing, tidak menyukai sesuatu yang ekstrem. Orang kuat Indonesia adalah pemimpin
ya g e e uhi kebutuha du ia te gah a usia I do esia. Da itu
hanya dapat dilakukan oleh orang kuat, yang berkarakter sederhana, jujur, tulus, memikirkan rakyat kecil, seperti Bung Hatta. Kharismatik dan patriotik seperti Bung Karno.
Negara Indonesia dibentuk dalam kerangka mencapai tujuan nasional Indonesia Merdeka yakni sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yaitu: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Hal tersebut tentunya harus dimaknai bahwa keberhasilan bangsa Indonesia sebagai suatu negara akan diukur dari seberapa jauh tingkat kemampuan.
Pemerintah bersama rakyatnya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengorganisasian seluruh rakyat dan segala sumber daya yang tersedia amat penting dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal pengelolaan organisasi negara inilah, faktor kepemimpinan nasional amat menentukan.
Rizky Alif Alvian