• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU KORUPSI DALAM PENDEKATAN TEORI VICTOR VROOM

D ITTA N ISA

(Anggota Kementrian Pengembangan Sumber Daya Manusia BEM KM UGM 2013)

Korupsi, terdengar akrab dan terkadang saking akrabnya ia

e jadi te a bagi ha pir seluruh pejabat di I do esia. Marak ya

korupsi di Indonesia seakan mencermikan legalnya perilaku korupsi. Namun, pada dasarnya hukum Indonesia telah mengatur apa dan bagaimana karakteristik dari tindak pidana korupsi, dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 mendefinisikan korupsi sebagai tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi), yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. Pada tahun 2012, Transparency International meluncurkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) yakni indeks agregat yang dihasilkan

dari penggabungan beberapa indeks yang dihasilkan berbagai lembaga. Indeks ini mengukur tingkat persepsi korupsi sektor publik, yaitu korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan politisi, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki skor CPI 32 dan menempati ranking 118 dari 174 negara, (sumber: Transparency International Corruption Perceptions Index, 2012) hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada situasi korupsi yang sudah mengakar.

Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk memberantas secara total perilaku yang dirasa cukup menguntungkan sebagian pihak dan merugikan sebagian pihak yang lain ini. Namun berbagai usaha tetap dilakukan oleh banyak pihak yang mengharapkan penegakkan hukum di negara kesatuan republik Indonesia, karena bagaimanapun tindak pidana korupsi adalah perilaku yang tidak dibenarkan baik dalam undang-undang, agama, norma sosial maupun nurani manusia. Kerugian

ya g dihasilka dapat e berika efek do i o dimana kerugian yang

muncul akan berkelanjutan terhadap hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi tersebut. Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 mendefinisikan pemberantasan tindak pidana korupsi sebagai serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Walaupun sudah banyak dilakukan namun sejauh ini pemberantasan tindak pidana korupsi menitikberatkan pada perilaku korupsi itu sendiri, bukan meta perilaku korupsi sehingga pemberantasan tindak pidana korupsi berupa solusi pasca korupsi terjadi seperti penjatuhan hukuman menurut undang-undang, pengusutan tindakan korupsi oleh KPK, dll. Hal tersebut bukanlah hal efektif dan tidak akan membuat jera para pejabat untuk berperilaku anti korupsi , yang terpenting adalah mengetahui apa dorongan dan motif dibalik perilaku korupsi sehingga pemberantasan tindak pidana korupsi yang dapat dilakukan berupa pemberantasan terhadap hal-hal yang memicu perilaku korupsi. Untuk itu perlu adanya kajian secara intens dari perspektif bidang keilmuan psikologi yang mana dalam hal ini teori- teori psikologi memberikan penjabaran tentang perilaku manusia, termasuk perilaku korupsi.

Ditta Nisa

Secara khusus, psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental individu. Proses mental atau kognitif adalah segala bentuk aktivitas di dalam pikiran individu seperti kreativitas, intelegensi, persepsi, imagery, memori, perhatian, gagasan, percaya, pengambilan keputusan, motivasi, dll. Sementara perilaku didefinisikan sebagai hal yang nampak, yang muncul dipermukaan/dapat dilihat serta merupakan resultan dari interaksi antara stimulus-stimulus (faktor eksternal) dan respon (faktor internal) pada individu. Perilaku korupsi yang dilakukan oleh individu dapat dijelaskan dalam berbagai teori.

Namun, dalam perspektif psikologi motivasi, faktor-faktor pendorong merupakan hal yang ditekankan dari sebuah perilaku yang muncul. Motivasi adalah power yang dapat menentukan tingkatan intensitas, persistensi dan entusiasme dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), bagaimana bentuk dan seberapa besar motivasi individu akan mempengaruhi performa seseorang. Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (output) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Victor Vroom, dalam teorinya menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kinerja seseorang dengan kemampuan dan motivasi yang dimiliki sebagaimana tertulis dalam fungsi berikut:

Berdasarkan Teori Vroom tersebut, performance dalam hal ini merupakan kinerja para petinggi negara dari waktu ke waktu sejak terpilih selama menjabat wewenang yang merupakan fungsi dari variabel ability dan motivation. Skill dan knowledge merupakan determinan dari ability yang dimiliki individu (dimulai dari angka 0 yang berarti tidak ada) yakni keahlian dapat berupa kemahiran dalam bidang yang dilakoni, misalnya Presiden adalah pemimpin sehingga ia haruslah ahli dalam menentukan arah setiap pengambilan keputusan atas perkara-perkara yang dihadapi, sementara pengetahuan mencakup seberapa luas dan mendalam pemahaman Presiden dalam hal-hal yang harus ia putuskan. Maka, dengan asumsi variabel motivasi tetap, individu dengan skill dan knowledge yang lebih tinggi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Namun motivasi sendiri pada dasarnya berubah dan merupakan interaksi ekspektasi dan valensi yang terkandung dalam setiap pribadi seseorang. Ekspektasi merupakan suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena perilaku . Ekspektasi merupakan propabilitas yang memiliki nilai berkisar nol yang berati tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian, dalam hal ini misalnya Presiden SBY sempat meminta dinaikan gaji, probabilitasnya adalah 0 yakni tidak ada kemungkinan. Kemudian hal ini lah yang berkaitan dengan valensi atau nilai, yakni daya atau nilai motivasi baik positif maupun negatif, jika daya motivasi adalah positif maka perilaku yang muncul adalah cara-cara SBY untuk memperoleh pendapatan tambahan

Ability = Skill + Knowledge P = f (A x M) P = Performance A = Ability M = Motivation M = f (E x V) M = Motivation E = Expectation V = Valance/Value

Ditta Nisa

melalui jalan yang baik misalnya membuka bisnis, investasi, dll tetapi jika daya motivasi negatif maka perilaku yang muncul adalah perilaku buruk yakni korupsi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hal pertama yang merupakan determinan dari performance adalah motivasi yang merupakan gabungan dari ekspektasi dan valensi (+ atau -) yang mana motivasi akan menentukan konotasi performance setelah difungsikan dengan ability.

Apabila terdapat salah satu variabel yang tidak dipenuhi standarnya, sudah dapat dipastikan akan terdapat penyimpangan-penyimpangan salah satunya perilaku korupsi.

Untuk itu, saran penulis adalah diperlukannya seleksi dan analisis psikologi melalui tes-tes psikologi yang memiliki validitas dan reliabilitas terhadap seluruh calon petinggi negara baik DPR, MPR, Presiden, dll dan secara transparan hasil tes dipublikasi, terkait probabilitas kepemimpinan. Hasil tes ini akan memprediksi dan berkaitan langsung dengan kinerja seseorang setelah diberi jabatan, termasuk seberapa besar potensinya untuk melakukan korupsi. Sehingga dengan adanya seleksi melalui analisis psikologi tersebut dapat diukur kelayakan seseorang untuk menempati kursi pemerintah sebelum akhirnya ia akan dipilih secara masal untuk memimpin.

Pipit Suprihatin