KEMENTERIAN KAJIAN STRATEGIS BEMKMUGM2013
Ketahanan pangan mungkin menjadi sebuah cita-cita yang mulia yang dimiliki negara ini. Jelas, karena ketahanan pangan merupakan salah satu tolak ukur kesejahteraan masyarakat. Dalam pembukaan konstitusi negara ini pun telah disebutkan secara gamblang bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tanggung jawab negara. Sampai saat ini, Ketahanan pangan Indonesia masih dinilai baik walau realita dilapangan tragedi kelaparan pada sebagian masyarakat juga masih ada. Namun, titik terpenting yang menjadi pertanyaan dalam benak kita adalah apakah ketahanan pangan yang dialami Indonesia sudah dibarengi dengan kedaulatan pangan?
Hal yang memalukan jika kita membaca data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) tentang jumlah impor makanan pokok yang dilakukan negara ini. Sejak awal tahun 2013 kita sudah mengimpor beras dari luar dengan jumlah 46 ribu ton, jagung dengan jumlah 335 ribu ton, kedelai 54 ribu ton, dan masih banyak lagi. Pertanyaan pun muncul lagi pada benak kita. Mengapa kita harus impor? Apa pertanian dalam negeri tak mampu untuk menopang pangan di negeri sendiri? Masih segar diingatan kita bahwa negeri ini dikatakan sebagai negara agraris. Yaitu negara dengan sektor ekonomi utama di bidang pertanian. Lahan pertanian di Indonesia terbentang luas sehingga menjadi sangat memalukan jika kita tidak mampu berdaulat dari segi pertanian pangan.
Penyebab terpenting jatuhnya pertanian pangan di negeri ini adalah menyerahkan pertanian sepenuhnya pada mekanisme persaingan pasar. Hal ini menyebabkan petani yang dominan berasal dari kalangan kecil dipaksa bersaing namun dengan kondisi tidak siap. Mengapa dikatakan tidak siap? Lahan pertanian di Indonesia memiliki karakter yang berbeda disetiap daerahnya. Namun, hal ini kurang diperhatikan oleh pemerintah terutama permasalahan lahan pertanian, air, dan pupuk yang menjadi hal pokok kekuatan petani. Sehingga ketika hasil pertanian masuk pada mekanisme pasar, terjadi hierarki harga hasil tani berdasarkan kualitas. Akibatnya petani menjadi merugi dan
te tu saja ora g-ora g pasar diu tu gka de ga ko disi seperti i i.
Terlebih lagi Kementerian Perdagangan dengan leluasa membuka jalur impor makanan pokok dari luar negeri yang dipaksa disaingkan dengan hasil tani negeri kita. Siapa yang diuntungkan? Lagi-lagi ora g-orang
atas da ora g-ora g pasar ya g u tu g. “eda gka peta i tetap
pada kemerosotan hingga penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi makan atau subsistance.
Pembaharuan agraria merupakan poin penting yang harus ditekankan menghadapi masalah pertanian pangan di negeri kita ini.
Ada ya kebijaka ya g pro-peta i dirasa pe ti g u tuk dibuat de i
keberla gsu ga jala ya perta ia pa ga di egeri i i. Misalkan
kebijakan konversi lahan, subsidi pupuk, fasilitas pengairan pertanian yang layak, dan lain-lain yang merupakan hal pokok yang dibutuhkan petani. Selain kebijakan yang bersifat teknis tadi perlu pula adanya kebijakan yang dapat melindungi petani dari persaingan tidak sehat yang ada di pasar. Kiranya penetapan harga hasil pertanian oleh pemerintah dapat sangat menguntungkan petani dan tetap menjaga keberlangsungan petanian terutama pertanian pangan. Sedangkan jika diserahkan sutuhnya pada mekanisme pasar, harga hasil tani akan diombang ambingkan di mekanisme yang akhirnya membuat rugi petani terutama petani pangan.
Me ge balika tari g UUPA U da g-Undang Pokok Agraria)
1960. UUPA 1960 merupakan konstitusi pokok yang mengatur tentang garis garis besar agraria di Indonesia. Undang-undang ini merupakan undang-undang yang menjalankan amanat konstitusi UUD 1945 pasal 33 ayat 3 atau yang kita tafsirkan sebagai demokrasi ekonomi. Undang- undang ini merupakan cerminan penting bahwa negeri ini merupakan negeri agraris dan undang-undang inilah yang menjadi aturan penting
Kementerian Kajian Strategis BEM KM UGM 2013
yang melindungi pertanian dalam negeri. Namun, hingga saat ini UUPA tidak diterpkan secara optimal oleh pemerintah. Yang ada pemerintah
alah e ba gu da e garahka perta ia pada sektor
perekonomian kapitalistik pasar sehingga sangat merugikan petani. Semangat demokrasi ekonomi yang diamanatkan pasal 3 ayat 3 UUD 1945 yang diwakili UUPA menjadi diabaikan. Oleh karena itu, UUPA perlu diperjuangkan untuk mengembalikan kedaulatan pertanian pangan dalam negeri.
Pembaruan agraria dirasa akan gagal jika masih ada konversi lahan pertanian. Konversi lahan pertanian yang dilakukan seiring penambahan jumlah penduduk dan makin heterogennya sektor perekonomian teerutama saat memasuki era industri membuat lahan pertanian makin menyempit. Hal ini menyebabkan menurunnya hasil tani dalam negeri walaupun sampai saat ini luas pertanian negeri ini masih terhitung luas, namun mekin lama lahan pertanian makin hilang. Akibatnya jelas, hasil tani terutama pangan makin menurun, kualitas hasil tani juga mengikuti penurunan. Melihat kondisi seperti ini perlu kebijakan pemerintah yang membatasi konversi lahan pertanian sehingga luas daerah pertanian tetap sehingga menjaga stabilitas pertanian terutama pertanian pangan yang menopang pasokan makanan pokok dalam negeri.
Point-point diatas kiranya dapat menjadi rekomendasi strategis dalam menghadapi permasalahan kedaulatan pertanian yang juga berakibat pada kedaulatan pangan dalam negeri. Namun, ada hal yang tidak kalah penting menjadi refleksi kita bersama adalah perlunya edukasi masyarakat tentang pandangan mencintai produk dalam negeri. Ditengah proses globalisasi yang menekankan pada pasar bebas, jika masyarakat terus dicekoki bahwa produk luar adalah lebih baik. Maka, point-point rekomendasi untuk kedaulatan pangan diatas dapat terpatahkan dan sia sia saja. Padahal, jika dinilai dari kualitas, hasil pertanian pangan dalam negeri merupakan hasil terbaik yang tidak kalah saing dengan produk luar negeri. Oleh karena itu yang menjadi rekomendasi terakhir untuk kedulatan pangan Indonesia adalah edukasi masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri. Hidup Mahasiswa, Hidup Pangan Indonesia!
Heroik Mutaqien Pratama dan Kementrian Kajian Strategis