• Tidak ada hasil yang ditemukan

M UHAMMAD F AKHRURRAZ

JALAN KEMBALI MENUJU TIRAN

M UHAMMAD F AKHRURRAZ

(Wakil Menteri Kajian Strategis BEM KM UGM 2013)

Perjuangan dalam terwujudnya sebuah negara yang demokratis di Indonesia, tak lepas dari peran golongan menengah terpelajar yang biasa di sebut mahasiswa. Tak hilang dalam memori sejarah perjuangan bangsa ini, usaha-usaha untuk merdeka, mempertahankan kemerdekaan, maupun usaha-usaha untuk menjatuhkan rezim dzholim

yang menguasai negeri ini, salah satu golongan yang memperjuangkannya adalah mahasiswa. Ya, hal ini mungkin yang melahirkan istilah bahwa mahasiswa adalah agent of changes. Dalam konteks kekinian, peran perjuangan mahasiswa seperti yang dilakukan pada masa lampau ternyata belum usai. Memang, pasca reformasi

, egeri i i kata ya sudah ke bali ke odel de okrasi ya g seu gguh ya setelah puluha tahu di e gkra tira i la a da

baru . Na u , pada realita ya g dihadapi, sisa-sisa tirani yang melukai

negeri ini pada masa lampau ternyata tidak hilang begitu saja dari negeri

masa lalu justru menjadi pemegang kuasa pada masa kini. Lantas, apa bedanya?

Memang benar, setelah masa reformasi, segalanya menjadi

bebas . Mahasis a bebas bersuara, masyarakat bebas untuk protes

kepada pemerintah, gerakan-gerakan yang bergerak di segala aspek menjamur tanpa larangan dan kekangan. Namun, hal itu ternyata belum mampu mengubah negeri ini untuk terbebas dari cengkraman puing puing tirani yang ternyata masih hidup penuh kesejahteraan. Hal ini tentu saja menandakan peran mahasiswa sebagai motor penggerak perjuangan belum selesai. Permasalahan baru muncul ketika kita mengetahui bahwa peran mahasiswa sebagai gerakan penumbang tirani justru ditentang oleh sebuah virus perlawanan yang menggerogoti

ahasis a itu se diri. Virus itu ber a a apatis e ya g e jadi

penyakit endemik mahasiswa. Adanya pengaruh yang mengatakan bahwa mahasiswa hanya berkewajiban untuk mengikuti kegiatan akademik diruang-ruang kelas dan laboraturium demi mendapatkan nilai baik dan anggapan bahwa gerakan perjuangan mahasiswa sudah tidak diperlukan dan harus dihindari, membuat tingkat apatisme mahasiswa meningkat.

Paham seperti ini ditularkan secara turun temurun bahkan lebih ekstrim lagi paham ini ditularkan untuk membunuh yang namanya gerakan mahasiswa. Akibatnya, mahasiswa kehilangan jati dirinya sebagai agen of changes saat negeri ini membutuhkan mereka untuk berjuang melawan tindakan pemerintah yang tidak sesuai. Saat ini, kita sulit menemukan sebuah gerakan aksi besar yang mampu membuat pemerintah takut seperti yang terjadi pada tahun 1965 dan 1998 lalu. Yang kita lihat hanya kelompok kecil mahasiswa yang berteriak menyuarakan aspirasi jutaan orang, dan mahasiswa yang lain hanya sibuk untuk keluar masuk kelas dan tertawa melihat apa yang dilakukan kelompok kecil ini. Kewajiban utama mahasiswa memang belajar, namun bukan berarti peran mahasiswa sebagai pejuang dalam mewujudkan negeri yang lebih baik gugur bersamaan dengan berakhirnya gerakan mahasiswa 1965 dan 1998.

Dimana mahasiswa? Ketika kita menyadari bahwa ketidak adilan negeri ini masih ada dan tumbuh berkembang dalam jiwa penguasa. Dengan hal seperti ini bukannya tidak mungkin dan mustahil ketika tirani yang dulu sempat tumbang dapat muncul dan mencengkram kembali negara yang sudah merdeka sejak 1945 ini. Ketakutan akan

Muhammad Fakhrurrazi

kembalinya tirani mencengkram negeri ini bukan ketakutan prediktif. Namun, hal ini sudah menjadi ketakutan yang nyata. Kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat semakin legal dan sah seakan tanpa perlawanan. Negeri ini, dijual murah ke dunia

I ter asio a dala isi globalisasi justru disa but baik oleh segeli tir

masyarakat, pemuda, dan yang menyedihkannya lagi oleh mahasiswa itu sendiri.

La tas di a a tari g ahasis a ya g dahulu per ah e gusir

penjajah dari negeri ini, yang mampu menumbangkan dua rezim tirani yang meresahkan masyarakat. Apatisme yang menyerang mahasiswa menjadi ancaman menakutkan negeri ini. Lebih mengerikan lagi ketika ancaman yang diakibatkan pengaruh apatisme yang semakin meluas ini justru dapat membunuh semangat perjuangan mahasiswa. Melawan kebijakan pemerintah dianggap durhaka, aksi turun kejalan dianggap

kura g kerjaa , diskusi kajia dia ggap diskusi kepe ti ga , da lai -

lain yang membuat gerakan mahasiswa menjadi tersudutkan keberadaannya.

Saat ini, gerakan raksasa yang sedang berusaha bangun dari tidur

pa ja g ya pas a refor asi ke bali di i a bobokka oleh

pengaruh apatisme yang menggerogoti keberanian gerakan mahasiswa untuk berubah. Lalu, ketika keberanian gerakan mahasiswa telah mati dalam kekalahan melawan apatisme, maka semakin nyata pula jalan menuju tirani akan terbuka lebar.

Namun, bukan berarti akhir dari tulisan ini, menjadi catatan akhir kekalahan gerakan mahasiswa terhadap apatisme. Gerakan mahasiswa masih mempunyai harapan untuk bertahan, bergerak, berjuang, bersuara, bahkan mengubah negeri ini untuk lebih baik. Pint menuju tirani itu belum terbuka lebar karena masih dihambat oleh segerombolan kecil mahasiswa yang masih setia hingga akhir untuk memperjuangkan kebenaran melawan tirani itu sendiri. Apatisme belum menang selama gerakan mahasiswa masih konsisten berjuang dijalan lurus, masih mampu menarik massa walaupun tidak banyak, masih mampu menjalankan misi kebenaran ditengah olokan dan cercaan apatisme di kiri dan kanan, dan masih bertahan pada sikap rela berkorban untuk mewujudkan negeri yang madani.

Mengutip sebuah ikrar penyemangat dari Hassan Al-Banna salah seorang tokoh perjuangan di Mesir Jika ada 1000 orang yang memperjuangkan kebenaran maka saksikan aku satu diantaranya. Jika

ada 100 orang yang memperjuangkan kebenaran maka saksikan aku satu diantaranya. Jika hanya ada satu orang yang memperjuangkan kebenaran maka saksikan itulah aku. Semoga Ikrar ini dapat memberi semangat kepada gerakan mahasiswa yang sedang terhimpit oleh gerakan apatisme untuk segara bangkit dan tetap konsisten memperjuangkan kebenaran walaupun hanya dengan massa yang terbatas.

Muhammad Reksa Pasha Nizahiksan

GLOBALISASIBAGIDINAMIKASOSIAL

MASYARAKATDIKOTA

YOGYAKARTA