BAB IV TANGGUNG JAWAB HUKUM PELAKU USAHA APOTEK
1. Pengaturan Penjualan Obat yang Mengandung Cacat Tersembunyi
Sampai saat ini belum ada ketentuan yang khusus mengatur mengenai cacat tersembunyi pada obat. Maka pengaturan penjualan obat yang mengandung cacat tersembunyi dapat ditinjau secara umum dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, seperti dalam Pasal Pasal 1504 sampai Pasal 1512 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).88
Pasal 1504 KUH Perdata menentukan bahwa “pelaku usaha/penjual diharuskan untuk bertanggung jawab atas adanya cacat tersembunyi.” Mengenai masalah apakah pelaku usaha mengetahui atau tidak akan adanya cacat tersebut tidak menjadi persoalan. Baik dia mengetahui atau tidak, penjual/atau pelaku usaha harus menjamin atas segala cacat yang tersembunyi pada barang yang dijualnya. Yang dimaksud dengan cacat tersembunyi adalah “cacat yang mengakibatkan kegunaan barang tidak sesuai dengan tujuan pemakaian dari yang semestinya.”89
88 Ibid
89 Adrian Sutedi., Opcit, hal.85.
90 Subekti., Opcit, hal.33.
Dalam Pasal 1505 KUH Perdata dinyatakan bahwa “penjual tidak wajib menjamin barang terhadap cacat yang kelihatan dan dapat diketahui sendiri oleh pembeli.”
Pasal 1506 KUH Perdata menyebutkan bahwa “ia harus menjamin terhadap cacat tersembunyi, meskipun ia sendiri tidak mengetahui tentang adanya cacat itu, kecuali jika dalam hal demikian ia telah meminta diperjanjikan bahwa ia tidak diwajibkan menanggung suatu apapun juga.”70
Selanjutnya, dalam Pasal 1507 KUH Perdata, “dalam hal-hal yang tersebut dalam pasal 1504 dan 1505, pembeli dapat memilih akan mengembalikan barangnya sambil menuntut kembali uang harga pembelian atau akan tetap memiliki barang itu sambal menuntut kembali sebagian dari uang harga pembelian, sebagaimana ditentukan oleh Hakim setelah mendengar ahli tentang itu.”
Kemudian dalam Pasal 1508 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa:
a. Jika cacat tersebut dari semula diketahui oleh pihak pelaku usaha, maka pelaku usaha wajib mengembalikan harga penjualan kepada konsumen dan ditambah dengan pembayaran ganti rugi yang terdiri dari ongkos, kerugian dan bunga;
b. Jika cacat ini benar-benar memang tidak diketahui oleh pelaku usaha, maka pelaku usaha hanya berkewajiban mengembalikan harga penjualan serta biaya-biaya (ongkos) yang dikeluarkan pembeli waktu pembelian dan penyerahan barang;
c. Jika barang yang dibeli musnah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh cacat yang tersembunyi, maka pelaku usaha tetap wajib mengembalikan harga penjualan kepada konsumen.
Dalam Pasal 1509 KUH Perdata dijelaskan bahwa “jika pelaku usaha tidak mengetahui adanya cacat-cacat barang, maka ia hanya wajib mengembalikan uang harga barang pembelian dan mengganti biaya untuk menyelenggarakan pembelian dan penyerahan, sekedar itu dibayar oleh pembeli”.
Apabila barang yang mengandung cacat-cacat tersembunyi itu musnah karena cacat- cacat itu, maka kerugian dipikul oleh penjual yang terhadap pembeli wajib mengembalikan uang harga pembelian dan mengganti segala kerugian lain yang disebut dalam Pasal 1508 dan Pasal 1509 KUH Perdata, tetapi kerugian yang disebabkan kejadian yang tak disengaja, harus dipikul oleh pembeli. Pernyatan ini sesuai dengan Pasal 1510 KUH Perdata.90
Pembatalan pembelian dapat dilakukan dengan batas waktu tertentu, dan juga sesuai dengan sifat cacat tersebut derta kebiasaan yang dilakukan oleh penjual atau didaerah tersebut. Hal ini sesuai dengan Pasal 1511 dan Pasal 1512 KUH Perdata :
“tuntutan yang didasarkan atas cacat yang dapat menyebabkan pembatalan pembelian, harus diajukan oleh pembeli dalam waktu yang pendek, menurut sifat cacat itu dan dengan mengindahkan kebiasaan-kebiasaan di tempat persetujuan pembelian dibuat. Tuntutan itu tidak dapat diajukan dalam hal penjualan-penjualan yang dilakukan atas kuasa Hakim”.
Dalam Pasal 8 ayat 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen diatur bahwa “pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar.”
90 Subekti., Opcit, hal.42.
Pengaturan yang terkait dengan pertanggungjawaban pelaku usaha mengenai obat yang mengandung cacat tersembunyi dapat ditinjau dari Pasal 19 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa “tanggung jawab pelaku usaha meliputi tanggung jawab ganti kerugian atas kerusakan, tanggung jawab ganti kerugian atas pencemaran, dan tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen”. Berdasarkan hal ini, dengan adanya produk barang dan/atau jasa yang cacat bukan merupakan satu-satunya dasar pertanggungjawaban pelaku usaha. Hal ini berarti tanggung jawab pelaku usaha meliputi segala kerugian yang dialami konsumen.
Dari hasil wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Medan diketahui bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam kaitannya dengan pengawasan obat dan makanan digunakan sebagai pelengkap dengan acuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai dasar utama.
Hal ini dikarenakan Undang-Undang Perlindungan Konsumen bersifat delik aduan, dimana harus ada pengaduan terlebih dahulu dari korban agar masalahnya dapat diproses secara hukum, sedangkan BPOM bekerja sesuai salah satu budaya organisasi BPOM, yaitu cepat tanggap (antisipatif dan responsif dalam mengatasi masalah), yang mana artinya BPOM tetap bekerja meskipun tidak ada aduan apapun dari konsumen, sehingga acuan dasar atas obat yang sifatnya sub-standar
lebih didasarkan dahulu pada UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan91.
Disampaikan oleh Sahat bahwa jika adanya aduan dari konsumen ataupun produsen mengenai suatu obat yang diidentifikasi mengandung cacat baik yang terlihat atau tersembunyi akan ditarik secara menyeluruh dari seluruh apotek yang ada di Indonesia atas instruksi BPOM. Lalu setiap obat yang mengandung cacat dan telah ditarik oleh BPOM akan dikembalikan kepada produsen yaitu pabrik agar dapat diuji kembali sesuai dengan sampel obat yang ada dipabrik.
Produsen juga bertanggungjawab untuk mengembalikan dalam bentuk uang ataupun obat yang sama tetapi tidak mengandung cacat.
Mekanisme penjualan obat di apotek juga menjadi peraturan dalam menjual obat yang mengandung cacat tersembunyi. Disampaikan Syamsul bahwa apotek yang mendapat obat yang cacat baik yang dikembalikan oleh konsumen karena tidak sesuai dengan yang dimaksud atau ada yang cacat tidak terlihat ataupun karena apotek yang menemukan adanya cacat tersembunyi pada obat maka obat yang cacat tersebut dapat dikembalikan ke distributor lalu oleh distributor akan dikembalikan ke produsen.92
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.1.23.3516 tentang Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan dan Makanan Yang Bersumber,
91 Wawancara dengan Sahat. Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan, tanggal 27 September 2018, pukul 10.30 WIB
92 Hasil wawancara dengan Syamsul, Penanggung Jawab Apotek Ayah Bunda Binjai pada 11 Agustus 2018.
Mengandung, Dari Bahan Tertentu dan atau Mengandung Alkohol mengatur mengenai Sanksi untuk pelanggaran terhadap obat yang mengandung cacat tersembunyi pada Pasal 7 yaitu :
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam peraturan ini dapat dikenai sanksi administratif berupa :
a. Peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali
b. Penghentian sementara kegiatan produksi dan distribusi c. Pembekuan dan/atau pembatalan Surat Persetujuan d. Penarikan produk dari peredaran dan pemusnahan.
(2) Selain dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat pula dikenai saksi pidana sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pemberantasan Penjualan Obat yang Mengandung Cacat tersembunyi.
Penjualan obat sendiri oleh Pak Sahat dibuat dalam skema sebagai berikut:
Tabel Skema 1. Mekanisme Penjualan Obat
Sumber data : Wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan
Penjelasan mengenai skema diatas awalnya bahan baku pembuatan obat didapat melalui dalam negeri ataupun melalui importir dari luar yang dilakukan oleh pedagang besar farmasi. Setiap bahan baku yang diimpor maka akan disampaikan ke BPOM agar dapat diuji apakah mengandung atau ada kontaminan
Importir
yang berbahaya. Setelah itu dari produsen, pabrik atau pembuat obat akan memberikan dokumen-dokumen mengenai produknya yang akan dianalisa oleh pihak BPOM untuk dinilai apakah telah sesuai dengan peraturan di Indonesia.
Lalu akan diberikan Surat Izin Edar untuk produk tersebut, dan akan diambil oleh distributor untuk diedar ke berbagai apotek, toko obat berizin ataupun secara retail. Penjualan obat sampai ketahap apotek akan diawasi oleh BPOM untuk memastikan kemanan suatu produk obat dan makanan.93
Saat sampai di apotek maka obat yang dijual akan diperiksa dan didata secara manual ataupun sistem komputer. Obat yang dijual di apotek dapat melalui resep ataupun secara bebas sesuai dengan jenis obatnya. Disampaikan oleh Syamsul Penanggung Jawab Apotek Ayah Bunda Binjai dilakukan dengan sistem manual dan data obat hanya ditangani khusus oleh satu Apoteker saja. Hal ini agar memudahkan memilah dalam penyimpanan obat dan juga pengecekan tanggal kadaluwarsa obat yang dilakukan setiap bulannya.94
Jika BPOM menemukan adanya obat yang mengandung cacat tersembunyi dan bahan berbahaya maka pemerintah akan mengeluarkan surat penarikan suatu produk obat dari pasaran kepada seluruh apotek dan distributor.
Hal ini disampaikan oleh Sahat yang mengatakan “setelah terbukti mengandung bahan berbahaya maka BPOM akan menarik seluruh produk dari pasaran dan
93 Hasil wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan tanggal 27 September 2018 pukul 10.30 WIB.
94 Hasil wawancara dengan Syamsul, Penanggungjawab Apotek Ayah Bunda Binjai pada tanggal 11 Agustus 2018
akan mengembalikannya ke pabrik untuk dimusnahkan. Lalu BPOM akan mengawasi agar tidak beredarnya produk tersebut dipasaran.”95
Pemberantasan penjualan obat yang mengandung cacat tersembunyi Syamsul mengatakan bahwa “jika suatu produk obat dikatakan mengandung cacat tersembunyi seperti mengandung bahan berbahaya dan pemerintah telah memberikan surat penarikan produk tersebut maka apotek akan mengikuti sesuai perintah. Obat yang disebutkan agar dikembalikan kepada distributor.”96
Jadi dengan pengawasan pemerintah dan juga sikap korperatif pihak apotek, setiap obat yang terbukti mengandung cacat tersembunyi dapat diminimalisir atau diberantas agar tidak merugikan konsumen.
3. Pengawasan Pemerintah dalam Penjualan Obat yang Mengandung Cacat tersembunyi.
Adanya pengawasan BPOM yang telah memaksimalkan agar tidak terjadinya hal hal yang merugikan konsumen obat termasuk cacat tersembunyi pada obat. Pengawasan BPOM juga dilakukan dengan melaksanakan pengujian dan penilaian mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika zat adiktif, obat tradisional, kosmetik produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya secara mikrobiologi dan pengawasan setempat.97
95 Hasil wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan tanggal 27 September 2018 pukul 10.30 WIB.
96 Hasil wawancara dengan Syamsul, Penanggungjawab Apotek Ayah Bunda Binjai pada tanggal 11 Agustus 2018.
97 Hasil wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan tanggal 27 September 2018 pukul 10.30 WIB.
Meskipun telah dilakukan pengawasan yang ketat oleh BPOM tetapi masih terjadi kasus dimana suatu produk obat mengandung bahan berbahaya ataupun bahan yang tidak sesuai dengan bahan yang tercantum. Seperti kasus Suplemen Viostin DS, Suplemen Enzim Pencernaan ( Enziplex, Enzifort dan lainnya), Vaksin dan juga kasus lainnya.98
Disampaikan oleh Sahat bahwa “kemungkinan kesalahan masih dapat terjadi, salah satu faktor hal ini terjadi karena pada saat suatu pabrik obat mendaftarkan produknya menggunakan bahan-bahan yang berkualitas baik.
Tetapi saat ditengah jalan bahan baku yang disediakan oleh pedagang besar farmasi tidak dapat memenuhi permintaan maka pabrik akan mencari bahan baku ditempat lain. Bahan baku baru inilah yang tidak didaftarkan kembali ke BPOM sehingga tidak dapat diketahui apakah bahan tersebut layak digunakan atau tidak.”99
Terkait dengan pengawasan pemerintah dalam penjulan obat yang mengandung cacat tersembunyi selain BPOM juga didukung dengan adanya lembaga-lembaga yang dibentuk pemeritah, beberapa diantaranya yaitu :
a. Kementrian Perdagangan
Berkaitan dengan pengawasan penjualan obat, Kementrian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan
98 Hasil Wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan pada tanggal 27 September 2018.
99 Hasil Wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan pada tanggal 27 September 2018.
Konsumen bertugas mengkoordinasikan pelaksanaan perlindungan konsumen bersama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan, berserta Kementrian terkait lainnya berdasarkan Undang-Undang tentang perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999. Kemendag juga bertugas mengawasi produk non pangan, sementara BPOM mengawasi produk obat dan pangan olahan.
Tugas pembinaan dan pengawasan perlindungan konsumen dilaksanakan oleh menteri teknisi terkait, sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing dan dalam melaksanakan tugas-tugasnya tersebut menteri teknis terkait dikoordinasikan oleh menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang perdagangan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 Angka 13 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.100
Sebagai badan yang memiliki peranan yang sangat stategis dalam rangka upaya perlindungan konsumen, Departemen Perdagangan memiliki badan khusus yaitu Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen yang membawahi beberapa Sub Direktorat (SubDit) lainnya, yaitu :101
1) Subdit Bimbingan Kelembagaan 2) Subdit Bimbingan Konsumen 3) Subdit Bimbingan Pelaku Usaha 4) Subdit Pengaduan Konsumen 5) Subdit Kerjasama
Penetapan tugas masing-masing Subdit telah mengakomodasi peran dan tugas departemen perdagangan sebagai regulator, fungsi bimbingan dan advokasi
100 Dedi Harianto, Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Tehadap Iklan yang Menyesatkan, cet.1,(Bogor: Ghalia Indonesia, 2010) hal 147.
101 Janizar dkk v. PT Kentanik Super Internasional, Putusan M.A. No.3138/K/Pdt/1994., perkara yang sama pernah diperiksa oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur No.
237/Pdt/G/1992/PN.Jkt. Tanggal 6 April 1993 dan Pengadilan Tinggi Jakarta No.
496/Pdt/G/1993/PT.DKI. tanggal 7 Februari 1994.
konsumen, penyeimbang kedudukan/kepentingan konsumen dan pelaku usaha, fungsi kordinasi antar lembaga, sehingga fungsi pembinaan dan pengawasan dapat berjalan baik.102
b. Kementrian Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan fungsi:
1) Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidang kesehatan
2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawabnya
4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya
5) Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden
Kementrian kesehatan memiliki peran penting dalam pengawasan penjualan obat yang dilakukan di apotek. Salah satu wujud perlindungan konsumen yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan terhadap penjualan obat adalah dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Kefarmasian di Apotek. Pengawasan penjualan obat oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Kefarmasian di Apotek, yaitu “Apotek wajib mengirimkan laporan Pelayanan Kefarmasian secara berjenjang kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas
102 Ibid, hal.148.
Kesehatan Provinsi dan Kementrian Kesehatan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan”
c. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 59 tahun 2001 tentang Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat menyebutkan bahwa
“Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah “Lembaga Non Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen.”
LPKSM merupakan lembaga perlindungan konsumen yang memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.103
Dalam rumusan Pasal 44 angka (3), dikatakan bahwa LPKSM mempunyai tugas yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:104
1) Menyebabkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/jasa.
2) Memberikan nasihat kepada konsumen yang membutuhkannya.
3) Bekerjasama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen.
4) Membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen.
5) Melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen.
103 Gunawan Widjaja dan A. Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2000) hal. 94
104 Ibid
Contoh LPKSM yang ada di Indonesia saat ini yaitu : 1. Yayasan Konsumen Surabaya-Jawa Timur (YKS-Jatim)
2. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat SABDA NUSANTARA
3. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat AL-Badar Perjuangan
B. Hal - Hal yang Termasuk dalam Cacat Tersembunyi dan Kerugian yang Ditimbulkan Oleh Cacat Tersembunyi Pada Obat Bagi Konsumen dan Pelaku Usaha
1. Pembagian Cacat Tersembunyi
Pengertian cacat tersembunyi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) pengertian, yaitu: 105
a. Cacat tersembunyi positif yaitu apabila cacat barang itu tidak diberitahukan oleh penjual kepada pembeli atau pembeli sendiri tidak melihat atau mengetahui bahwa barang tersebut cacat, maka terhadap cacat tersebut penjual berkewajiban untuk menanggungnya. Tentang cacat tersembunyi positif, lebih lanjut diatur dalam Pasal 1504 sampai dengan Pasal 1510 KUHPerdata. Dalam hal ini menu rut Pasal 1504 KUHPerdata bila dikaitkan dengan Pasal 1506 KUHPerdata, dapat dikatakan bahwa penjual harus bertanggungjawab apabila barang tersebut mengandung cacat tersembunyi, terlepas dari penjual mengetahui adanya cacat atau tidak melihat, kecuali jika dalam hal yang sedemikian telah meminta diperjanjiakan bahwa ia tidak diwajibkan menanggung sesuatu apapun.
b. Cacat tersembunyi negatif yaitu apabila cacat terhadap suatu barang sebelumnya sudah diberitahukan oleh penjual kepada pembeli, dan dalam masalah ini pembeli benar-benar sudah melihat adanya cacat terhadap barang tersebut, maka pembeli sendiri yang akan menanggungnya.
Dikenal tiga macam produk yang cacat yaitu :
105 Ibid
a. kesalahan produk, kesalahan produk ini dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu :
1) kesalahan yang meliputi kegagalan proses produksi, pemasangan produk, kegagalan pada sarana inspeksi, apakah karena kelalaian manusia atau ketidakberesan pada mesin dan yang serupa dengan itu;
2) produk-produk yang telah sesuai dengan rancangan dan spesifikasi yang dimaksud oleh pembuat, namun terbukti tidak aman dalam pemakaian.
b. Cacat desain. Pada cacat desain ini cacat terjadi pada tingkat persiapan produk. Hal ini terdiri dari atas, desain, komposisi, atau kontruksi c. Informasi yang catat atau yang tidak memadai, informasi yang tidak
memadai ini berhubungan dengan pemasaran suatu produk, dan dimana keamanan suatu produk ditentukan oleh informasi yang diberikan kepada pemakai yang berupa pemberian label produk, cara penggunaan, peringatan atas risiko tertentu atau hal lainnya sehingga produsen pembuat dan supplier dapat memberikan jaminan bahwa produk-produk mereka itu dapat dipergunakan sebagaimana dimaksud.
Dengan demikian produsen berkewajiban untuk memperhatikan keamanan produknya.106
Dijelaskan oleh Sahat bahwa “cacat tersembunyi ada beberapa macam.
Contoh yang sering terjadi misalnya dalam suatu obat seharusnya komposisi obat di dalam obat tersebut mengandung 500mg amoxicillin, namun jika pada
106 E. Saefullah, Tanggung Jawab Produen (Product Liability) dalam Era Perdagangan Bebas (Hukum Perlindungan Konsumen), (Bandung: Mandar Maju, 2000) hal. 42
kenyataannya hanya 400mg, maka dapat dikategorikan sebagai obat yang bersifat sub-standar (mengandung cacat tersembunyi).”107
2. Kerugian yang Ditimbulkan Cacat Tersebunyi Pada Obat
Secara umum kerugian diartikan sebagai kondisi dimana seseorang tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang telah mereka keluarkan. Kerugian dalam lingkup hukum dapat dipisahkan menjadi dua klasifikasi, yakni “kerugian material dan kerugian immaterial.” Kerugian material, yaitu “kerugian yang diderita oleh pemohon, yaitu kerugian atas manfaat yang kemungkinan akan diterima pemohon dikemudian hari atau kerugian dari kehilangan keuntungan yang mungkin diterima oleh pemohon dikemudian hari.” Kerugian immaterial merupakan “kerugian yang tidak dapat dinilai dalam hukum yang pasti.”108
Kerugian dalam Hukum Perdata dapat bersumber dari wanprestasi dan juga perbuatan melawan hukum. Kerugian karena wanprestasi :
“adalah peristiwa dimana salah satu pihak tidak melaksanakan prestasinya dengan baik, tidak memenuhi prestasinya sama sekali, memenuhi prestasi tapi tidak sebagaimana semestinya, memenuhi prestasi tapi tidak tepat waktu, atau memenuhi prestasi tapi melakukan yang dilarang dalam perjanjian.”109
Kerugian karena perbuatan melawan hukum tercantum dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang mengatur bahwa “tiap perbuatan yang melanggar hukum
107 Hasil wawancara dengan Sahat, Pegawai Seksi Penyidikan BPOM Medan pada tanggal 27 September 2018.
108 Andreta Tumbelaka, Wanprestasi Dalam Jual Beli Barang Yang Mengalami Cacat Tersembunyi, (Fakultas Hukum Unsrat: Vol IV no.5 hal.7) Juni 2016.
109 Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis, (Yogyakarta: Sinar Grafika, 2011) hal.181.
dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.”110
a. Kerugian Bagi Konsumen
Kerugian yang timbul akibat adanya jual beli barang yang mengalami cacat tersembunyi lebih besar dirasakan oleh pembeli. Kerugian barang yang cacat ini bagi pembeli secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :111
1) Kerugian yang menimpa diri yaitu kerugian kesehatan dan keselamatan.
Kerugian yang dapat berakibat bagi kesehatan dan keselamatan, yaitu pembeli terancam atas kesehatannya akibat dari barang yang mengalami cacat, contohnya : barang mobil yang cacat saat digunakan tiba-tiba terbakar maka pembeli berakibat mendapat luka-luka bahkan nyawanya terancam akibat dari barang yang cacat tersebut. Dalam cacat tersembunyi pada obat dapat menimbulkan kerugian yang seharusnya bertujuan untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit malah akan membahayakan kesehatan dan keselamatan konsumen jika adanya cacat tersembunyi karena memungkinkan salahnya penggunaan dan tujuan obat ataupun menjadi masuknya zat-zat berbahaya kedalam tubuh konsumen.
2) Kerugian harta benda yaitu finansial/ekonomi. Dari segi kerugian menimpa harta yaitu kerugian finansial/ekonomi, pembeli dirugikan karena telah mengeluarkan uang untuk membeli barang yang mengalami cacat yang sebenarnya dikirakan atau dimaksudkan barang tersebut akan
110 Yusuf Shofie, Hukum Perlindungan Konsumen, (Bandung: Mandar Maju, 2000), hal.52.
111 Ibid, hal.69.
bermanfaat bagi pembeli namun nyatanya barang tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan manfaat dan tujuan sebenarnya ataupun kerugian yang terjadi akibat perbaikan barang yang cacat tersebut.
Bentuk kerugian konsumen terkait obat yang sub-standar (mengandung cacat tersembunyi) juga dapat berupa pengkonsumsian atas obat tersebut bisa
Bentuk kerugian konsumen terkait obat yang sub-standar (mengandung cacat tersembunyi) juga dapat berupa pengkonsumsian atas obat tersebut bisa